
Sariwati meninggalkan kedai tepi sawah diantar oleh Lanus ajudan tuan Timoti kembali ke Villa Sandat. tatapan mata Seto lekat memandang kepergian gadis itu, tuan Haryo dan nyonya Dewi melihat perubahan sikap yang di tunjukkan oleh putranya.
"Ni Mas, sepertinya anak kita menyukai putri Timoti." bisik tuan Haryo pada istrinya.
"Betul Kang Mas, tak biasanya anak bandel itu bersikap demikian pada lawan jenis."
"Tak ada salahnya kita bicarakan hal ini dengan Timoti." jawab nyonya Dewi masih berbisik pada suaminya.
Kedua suami istri itu pun terdiam kembali setelah melihat Timoti dan Seto menghampiri meja tempat mereka berada.
"Har, Dewi! aku tau kedatangan mu ke Negeri Pantai bukan sekedar berlibur atau mengunjungi ku, kan?"
"Apa gerangan yang membawamu kemari setelah dua puluh tahun kita tak bertemu?" ujar sang gubernur Negeri Pantai pada kedua tamunya.
"Insting mu sebagai mantan Bhayangkara tak pernah luntur,Tim!"
"Itu yang membuatmu mencapai posisi dan kedudukan seperti sekarang ini, tak salah Kang Mas Bendowo merekomendasikan mu sebagai gubernur di negeri yang sangat indah ini." ujar tuan Haryo sambil tersenyum.
"Sebenarnya kedatangan kita kemari selain ingin melepas rindu dan reuni kembali denganmu, kami ingin membuka cabang usaha tenun dan batik kami di sini yang akan di kelola oleh Seto. Karena kita tau Negeri pantai ini sangat maju dan banyak pelancong dari manca negeri berkunjung kemari." timpal nyonya Dewi pula.
"Wah, itu sebuah rencana bagus, Har!" seru tuan Timoti.
"Tapi aku belum siap mengemban tanggung jawab itu , Ayah!" kini Seto ikut angkat bicara.
"Aku masih ingin menikmati masa-masa mudaku tanpa dibebani sebuah pekerjaan." imbuhnya kembali.
"Lalu kapan kau akan bersikap dewasa, usiamu sudah cukup untuk sebuah tanggung jawab semacam ini."
"Jangan hanya taunya berhura-hura saja dan disibukkan oleh hobi mu yang tak menghasilkan itu!" seru nyonya Dewi pada anaknya.
"Tapi suatu saat aku akan jadi seorang pemusik besar, Ibu."
"Dan aku tak memiliki jiwa seorang pedagang atau pun saudagar." sanggah Seto pada ibunya.
"Hai kalian ini, tak di rumah atau pun disini selalu berdebat tentang hal-hal itu saja."
__ADS_1
Sela tuan Haryo pada anak dan istrinya.
"Tapi yang di ucapkan ibumu itu benar, Seto."
"Kau ini seorang lelaki, yang suatu saat harus memikul tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga."
"Apalagi disini ada paman Timoti yang nanti akan membimbing mu, walaupun beliau adalah mantan Bhayangkara tapi insting berniaganya tak kalah jago pula dari ayah." ujar tuan Haryo pada Seto yang ada disampingnya.
Pemuda itu terdiam saat sang ayah mulai ikut angkat bicara, tuan Timoti hanya tersenyum melihat anak beranak itu saling sangah dan berdebat tentang hal yang belum sepenuhnya dipahaminya namun sang gubernur mengetahui arah pembicaraan para tamunya.
"Ya sudah, kalau Seto ingin belajar berniaga, paman akan bimbing kamu, Nak!"
"Dan tentang menjalankan hobi mu, kamu tak perlu khawatir. Di Negeri Pantai ini ada sebuah pusat seni dan budaya yang bisa kau manfaatkan disela-sela kau jalankan usaha keluargamu."
"Kebetulan sekali pemilik pusat kesenian yang bernama Selasar rumah Budaya itu adalah sahabat dekat paman dan beliau juga seorang pengusaha sukses di negeri ini."
"Wah kebetulan sekali, Tim." seru nyonya Dewi dengan senyum antusias.
"Ya sudah, untuk kali ini aku akan jalankan kemauan ayah dan ibu, tapi dengan syarat jangan halangi hobi ku."
Ujar pemuda itu pada ayah ibunya.
"Paman, aku mohon undur diri dulu." ujar Seto.
"Kamu jangan pulang malam-malam, setelah ini ayah dan ibu akan kembali ke penginapan." nyonya Dewi kembali menimpali putranya.
"Iya, Ibu!" jawab Seto bersungut-sungut mendengar perkataan ibunya yang selalu memperlakukannya seperti bocah.
Pemuda itu meninggalkan orang tuanya dan sang gubernur menuruni ruangan lantai tiga kedai tepi sawah.
"Maafkan sikap kekanak-kanakan putraku,Tim." ujar nyonya Dewi kembali, tuan Timoti hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lelaki paruh baya itu teringat akan masa mudanya dengan sikap yang di tunjukan Seto putra sahabatnya.
"Kau tak perlu terlalu keras pada putramu, Dewi!"
"jika melihat Seto, aku teringat dengan masa mudaku dulu."
__ADS_1
"Waktu itu kanjeng ibu sangat menginginkan aku menjadi seorang sarjana, tapi aku lebih tertarik pada dunia keprajuritan dan memilih bergabung dengan pasukan Bhayangkara."
"Sama halnya dengan suamimu, kurang bandel gimana dia dulu sewaktu bujangnya, tapi akhirnya dia jadi orang sukses juga, kan?" ujar tuan Timoti sambil tertawa dan melirik ke arah tuan Haryo yang ikut tertawa pula.
Nyonya Dewi pun ikut tertawa mendengar perkataan sahabatnya. Timoti, Haryo dan Dewi sejak kecil tumbuh bersama di Negeri Tidar dan keakraban mereka telah terjalin lama.
"Tim, ada satu hal lagi yang ingin ku sampaikan padamu." ujar tuan Haryo.
Sang gubernur menyimak dengan seksama hal yang akan disampaikan oleh sahabatnya.
"Apakah Wati sudah memiliki calon pendamping atau kau sudah ada pandangan untuk calon suami putrimu, Tim?" ujar tuan Haryo kembali. Terlihat Tuan Timoti menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Sebetulnya hal itu yang ingin aku bicarakan dengan kalian, makanya aku ajak anakku tadi agar bisa bertemu dengan putramu." jawab tuan Timoti.
"Maksudmu, Tim?" nyonya Dewi ikut bertanya dengan tatapan lekat ke arah sang gubernur Negeri Pantai.
"Aku pun awalnya ingin menanyakan juga pada kalian, apakah Seto juga sudah memiliki calon?"
"Tapi kalian sudah bertanya duluan, maka tak perlu ada rasa sungkan lagi dalam pembahasan hal ini." imbuh tuan Timoti.
Mendengar penuturan tuan Timoti, tuan Haryo tersenyum menangkap arah pembicaraan karibnya ini.
"Jadi kau tak keberatan bila kita jodohkan Seto dengan Wati, Tim?" tanya tuan Haryo memastikan.
"Aku tak keberatan, Har." jawab tuan Timoti sambil tersenyum.
"wah pas sekali, Tim. Aku lihat Seto pun juga tertarik dengan putrimu, bukan begitu yah?" senyum merekah nyonya Dewi tersungging sambil melihat ke arah suaminya.
"Tapi hal ini harus aku bicarakan dengan Kang Mas Bendowo dan Mbak yu Warika dulu, kebetulan mereka tak lama lagi akan berkunjung juga ke negeri ini." ujar tuan Timoti.
"Dan satu lagi, sebenarnya aku mendapat informasi dari anak buah ku kalau wati sedang dekat dengan seorang pemuda dari luar negeri ini namun aku belum tau asal usul pemuda itu dan siapa keluarganya,"
"Yang jelas aku tak menyetujuinya." pungkasnya kembali.
"Kau betul Tim, kita harus tau latar belakang calon dari anak-anak kita. Bibit, bebet dan bobot dari seseorang harus jelas, apalagi bagi kita keluarga ningrat dan juga merupakan keturunan dinasti Harsuto." timpal nyonya Dewi pada tuan Timoti.
__ADS_1
"Tentang siapa yang dekat dengan putriku, kalian tak perlu khawatir. Serahkan semua urusan itu padaku." pungkas sang gubernur Negeri pantai pada tamunya.
------------------------------------------------