
"Ni Mas ..."
"Cepat pergi dari tempat ini, para Bhayangkara sudah berada di lereng bukit" pekik salah seorang anggota Garuda Merah sambil berlari mendekati tempat dimana Habsari berada.
Semua yang ada ditempat itu menoleh ke arah datangnya suara termasuk Habsari.
Habsari yang baru saja terlelap dikagetkan dengan teriakan anak buahnya, melihat kedatangan salah satu anggota Garuda Merah itu, putri sulung Bendowo itu bangkit dari tempat duduknya.
"Bodoh!"
"Bagaimana bisa?"
"Bukankah sebagian anggota kita menghadang dan membuat jebakan untuk menghalangi pengejaran Bhayangkara?" gumam Habsari gusar.
Dengan bersungut-sungut wanita ayu itu menyambut kedatangan anak buahnya.
Tak selang berapa lama, lelaki yang berteriak itu menghampiri Habsari.
Dengan mengatur nafas yang tersengal, lelaki itu berdiri dihadapan pewaris Dinasti Garuda Emas itu dengan wajah penuh kecemasan.
"Ketiwasan, Ni Mas."
"Para Bhayangkara Negeri Pantai dapat mengalahkan anggota kita,"
"Banyak dari kami yang tewas, sementara sebagian yang selamat ditawan oleh mereka." ucapnya terbata-bata.
"Saya berhasil meloloskan diri setelah mengelabui mereka dengan cara berpura-pura tewas dan saat mereka sibuk dengan jenasah-jenasah di sana, saya melompat ke tepian jurang." kata anggota Garuda Merah itu kembali, nampak bercak darah di pakaian yang dikenakan dengan luka sayatan dibeberapa bagian tubuhnya.
"Cepat, tak ada waktu lagi ... Ni Mas harus segera pergi."
"Kami akan menahan mereka disini." pungkas anggota Garuda Merah itu kembali.
Wajah Habsari nampak semakin kusut mendengar laporan lelaki dihadapannya, wanita itu terdiam sesaat sambil menatap satu persatu sisa-sisa anak buahnya.
"Apa kalian yakin akan menahan pergerakan para Bhayangkara ditempat ini?" tanya Habsari pada para anak buahnya.
Suasana menjadi hening dan tak seorang pun mengangkat suara.
Putri Bendowo tersebut menghela nafas dan kembali berkata,
"Sebaiknya kalian semua ikut pergi dari tempat ini, tenaga kalian masih aku butuhkan untuk membawa lelaki itu." ujarnya sambil mengarahkan tatapannya pada sosok tubuh yang tergeletak pingsan di bawah pohon.
"Baik, Ni Mas."
"Sesuai perintah, kami akan mengawal Ni Mas sampai titik darah penghabisan." jawab lelaki pembawa kabar itu pada majikannya, sementara yang lain pun ikut menganggukkan kepala.
"Apa ada kabar dari ketiga rekan kalian yang sedang memperbaiki jembatan di balik bukit itu?" tanya Habsari kembali pada salah satu anggotanya yang lain.
"Belum ada kabar, Ni Mas."
"Seharusnya mereka sudah menyelesaikannya."
"Namun kita bisa menyusulnya sebelum fajar menyingsing." jawab salah satu anggota Garuda Merah itu sambil melihat ke ufuk timur sejenak.
Setelah beberapa saat mendengarkan penjelasan para anak buahnya, Habsari melangkah ke arah lelaki yang tak lain adalah Muhibbin yang tergeletak pingsan dibawah pohon.
"Ini semua gara-gara dirimu."
"Seandainya kau serahkan barang yang ku inginkan maka tak akan seperti ini akhirnya." gumam Habsari dalam hati, wajahnya masih menyiratkan kegusaran.
"Kalian angkat tubuh orang ini, ayo kita pergi dari tempat ini." perintah Habsari pada anak buahnya.
***
"Arsana ..."
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Gus Aji Putra pada pemuda yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Saya tidak apa-apa, Gus Aji." jawab Arsana sambil mengatur nafas, tangannya terlihat gemetar sambil menyarungkan belati yang dipegangnya.
Gus Aji Putra menghampiri pemuda itu.
"Ini sudah biasa, Ning!"
"Lambat laun perasaan itu akan hilang dengan sendirinya." ucap lelaki tua itu sambil membersihkan noda darah di kerisnya dan menyarungkannya kedalam warangka.
"Seperti yang pernah ku sampaikan."
"Dalam pertempuran hanya ada dua pilihannya, kau yang mati atau lawanmu yang binasa." ujar Gus Aji Putra kembali sambil menepuk pundak Arsana.
Sementara tak jauh dari keduanya berdiri, tiga jasad berpakaian hitam terbujur kaku didekat jembatan bambu yang nampak baru saja di perbaiki, ketiganya adalah anggota Garuda Merah yang ditugaskan memperbaiki jembatan tersebut oleh Habsari.
"Bagaimana dengan jasad ketiga orang itu, Gus Aji?" tanya Arsana bergetar.
"Kita urus mereka nanti, saat ini keselamatan kakakmu lebih utama."
"Aku yakin gerombolan mereka berada tak jauh dari tempat ini,"
"Mari segera kita susul dan bebaskan kakak iparmu." pungkas lelaki tua itu sambil melangkah diikuti Arsana dibelakangnya.
__ADS_1
***
"Hati-hati, Ni Mas!" seru salah seorang anggota Garuda Merah pada Habsari yang terlihat limbung didepannya.
"Sial! ..."
"Seharusnya tak seperti ini situasinya" gerutu Habsari yang hampir terpeleset saat menyusuri setapak di tengah pekatnya hari.
Sementara para pengawalnya masih dengan setia mengikuti dari belakang putri sulung Bendowo itu.
"Bagaimana keadaan pemuda itu" tanya Habsari pada pengawal dibelakangnya.
"Dia masih pingsan, Ni Mas." Jawab sang anak buah pada majikannya.
"Sungguh merepotkan!"
"Andaikan semua ini tak ada kaitannya dengan Kotak Giok Hujan dan Cincin Sulaiman Madu, tak sudi diriku membawa lelaki ini." Kembali Habsari menggerutu dalam hati.
Cahaya keemasan mulai menyembul dibalik cakrawala, kicauan burung dan suara ayam hutan silih berganti bersahutan menandakan fajar segera menyingsing.
Dengan sisa tenaga yang mulai kelelahan, rombongan Habsari terus menyusuri jalanan setapak perbukitan yang masih diselimuti embun pagi, dua orang sisa-sisa kelompok Garuda merah terlihat memanggul tubuh Muhibbin yang masih pingsan di atas sebuah tandu yang terbuat dari batang kayu alakadarnya.
Tiba-tiba salah seorang anggota Garuda Merah yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya dan memberi aba-aba pada rombongannya untuk berhenti.
"Ada apa, kenapa berhenti?" tanya Habsari pada anggotanya.
Dengan meningkatkan kewaspadaan, anggota Garuda Merah itu berbisik pada rekan-rekannya dan mendekat ke arah Habsari sambil berkata,
"Didepan ada dua orang yang sedang menghadang kita, Ni Mas" ucap lelaki itu, terlihat anggota Garuda Merah itu menghunuskan senjata tajam diikuti oleh anggota lainnya.
Pandangan Habsari tertuju ke arah depan dan lamat-lamat terlihat dua orang lelaki mendekat ke arah rombongan mereka.
Tak berapa lama seorang pria paruh baya dan seorang pemuda berdiri didepan menghadang langkah Habsari dan rombongannya.
"Serahkan pemuda itu pada kami dan kalian menyerahlah!" Ujar salah satu dari kedua orang itu pada rombongan Habsari.
Mendengar ucapan orang didepannya, putri Bendowo itu angkat bicara.
"Kurang ajar!"
"Siapa kalian dan dengan mudahnya meminta kami menyerahkan pemuda itu?" balas Habsari pada kedua orang penghadangnya.
Dengan tatapan dingin, orang itu kembali berkata pada Habsari dan rombongannya.
"Nona, kau tak perlu tahu siapa kami."
"Perbuatan kalian ini sudah sangat keterlaluan." jawab lelaki itu dingin.
"Enak saja!"
"Kalian pikir siapa diri kalian ini, hah!"
"Tak ada angin, tak ada hujan kalian memintaku menyerahkan pemuda ini!"
"Dasar, Blandong!"
"Pengawal, bereskan kedua orang tak tau diri ini!" Seru Habsari pada anak buahnya.
Mendapat perintah dari sang majikan, keempat orang sisa-sisa anggota Garuda Merah itu mengepung dua orang yang ada didepannya.
Kedua orang itupun meningkatkan kewaspadaan,
"Arsana, kau selamatkan kakak iparmu."
"Biar aku yang akan menghadapi keempat orang ini" bisik lelaki itu yang tak lain Gus Aji Putra pada Arsana di sampingnya.
"Baik, Gus Aji" jawab Arsana singkat sambil beringsut mendekati tubuh Muhibbin yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Salah seorang anggaota Garuda Merah berusaha menghalangi langkah Arsana namun Gus Aji Putra tak membiarkannya, lelaki paruh baya itu melompat dan tendangannya bersarang pada tubuh anggota Garuda Merah tersebut.
Melihat rekannya tersungkur, ketiga anggota Garuda Merah lainnya mulai menyerang Gus Aji Putra, perkelahian pun tak bisa dihindarkan. Dengan tangkas pria tua itu menghindari serangan para anak buah Habsari.
Kelebat senjata tajam silih berganti datang mengarah ke tubuh Gus Aji Putra, namun dengan pengalamannya, pria paruh baya itu meladeni serangan-serangan keempat lelaki yang mengepungnya dengan mudah.
Sementara Arsana melangkah mendekat ke arah Muhibbin yang tergeletak di tanah, pemuda itu masih meningkatkan kewaspadaannya.
"Berhenti!"
"Jika kau melangkah sejengkal lagi, aku akan habisi pemuda ini!" Seru Habsari pada Arsana sambil menghunus sebuah cundrik dari balik kembennya.
"Cukup, Nona!"
"Apa anda tak memiliki empati sedikitpun pada bli Muhibbin."
"Lihatlah kondisinya yang sangat memprihatinkan itu."
"Sudah banyak kerusakan yang anda timbulkan selama ini."
"Saya tau anda adalah bagian dari semua kekacauan yang timbul selama ini." seru Arsana sambil terus melangkah perlahan kearah Habsasi dan Muhibbin.
__ADS_1
"Lancang!"
"Tau apa dirimu dengan semua kejadian ini."
"Manusia rendahan seperti kalian inilah yang hanya menjadi benalu dan mengambil kesempatan dengan dalih menjual kemiskinan untuk mendapat simpati kaum berada." ujar Habsari tajam.
"Anda salah, Nona."
"Justru kaum berada seperti anda inilah yang selalu menindas kaum lemah dan menghalalkan segala cara demi ***** syahwat serta memuaskan keserakahan kalian." jawab Arsana tak kalah tajam.
Mendengar ucapan pemuda didepannya, putri sulung Bendowo itu semakin naik pitam, tanpa berpikir panjang, Habsari menerjang Arsana didepannya.
"Haram jadah!"
"Manusia rendahan seperti kalian ini memang pantas di injak-injak."
"Mati, kau!" pekik Habsari sambil melompat dan mengarahkan Cundrik yang dipegangnya ke arah Arsana.
Mendapat serangan dari wanita didepannya, Arsana berusaha menghindar dan sesekali memberi balasan. Tak disangka di balik wajah ayunya, Habsari juga terampil dalam ilmu beladiri.
Beberapa saat terjadi pertukaran serangan diantara keduanya, kelebatan Cundrik yang di pegang Habsari kini mulai merobek beberapa bagian tubuh Arsana.
Serangan-serangan Habsari mulai sedikit menyudutkan Arsana, pemuda dari Galuh itu terlihat terdesak dan kewalahan meladeni ketangkasan Habsari, tendangan wanita itu sesekali bersarang di tubuh Arsana, pemuda itu jatuh tersungkur dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Habsari untuk mengarahkan tusukan Cundriknya ke arah Arsana.
Namun sebelum senjata tajam itu menghunjam ke tubuh Arsana, sebuah tendangan ke arah tangan Habasari membelokkan arah senjatanya dan Cundrik yang dipegangnya pun terlepas.
Gus Aji Putra berdiri diantara Habsari dan Arsana yang masih meringis kesakitan akibat serangan putri Bendowo itu.
"Cukup, Nona."
"Menyerahlah!"
"Saat ini dirimu sudah tersudut dan semua anak buahmu tak bisa menolongmu lagi."
"Aku tak ingin melukai dirimu, jadi menyerahlah baik-baik" ujar Gus Aji Putra sambil menunjuk kearah
tak jauh dari tempatnya berada, dimana keempat jasad anggota Garuda Merah tergeletak meregang nyawa setelah melakukan pertarungan dengan lelaki paruh baya itu.
"Tidak!"
"Sampai matipun aku tak akan menyerah pada orang-orang seperti kalian." pekik Habsari semakin naik pitam melihat keempat anak buahnya binasa. Kini wanita itu tinggal seorang diri sementara seluruh pengawalnya dapat dilumpuhkan oleh Gus Aji Putra.
Wanita itu mundur dari tempatnya berdiri, dengan tatapan tajam penuh kebencian Habsarib kembali mendekat ke tempat Muhibbin tergeletak. Cundrik yang terjatuh dipungutnya kembali, kini benda tajam di tangannya mulai menempel di leher Muhibbin yang masih pingsan tak sadarkan diri.
"Tunggu, Nona!"
"Apakah sedikitpun dirimu tak memiliki rasa welas asih pada pemuda itu."
"Kau lihat keadaannya!"
"Lagi pula saat ini dirimu hanya seorang diri dan percuma kau melawan."
"Jangan memperumit keadaan yang sudah kacau ini." bujuk Gus Aji Putra sambil menyarungkan keris ditangannya, lelaki paruh baya itu berusaha membujuk Habsari yang telah tersudut.
"Tidak!"
"Semua gara-gara pemuda tak tau diri ini!"
"Andaikan dirinya memberikan apa yang kuinginkan maka kejadiannya tidak akan seperti ini."
"Mundur kalian!"
"Atau Cundrikku ini akan menembus tenggorokannya." ancam Habsari.
"Baik ... baik lah!"
"Aku akan mundur tapi jangan kau sakiti pemuda itu."
"Arsana, kita mundur!" ujar Gus Aji Putra menarik lengan Arsana untuk menjauh.
Tanpa sepengetahuan Habsari dan Arsana, Gus Aji Putra dengan diam-diam mengambil belati yang terselip di pinggang Arsana tatkala menarik lengan pemuda itu.
Secepat kilat lelaki paruh baya itu melempar belati ditangannya dan mengarah ke tangan Habsari yang memegang Cundrik.
Putri sulung Bendowo itu menjerit dengan belati tertancap ditangannya, kejadian itu tak di sia-siakan oleh Gus Aji Putra, dia melompat dan dengan gerakan cepat pukulannya bersarang ditubuh Habsari, wanita itu terjengkang beberapa depa dari tempatnya berada.
"Arsana, cepat kau tolong kakakmu!"
teriak Gus Aji Putra pada Arsana, kini lelaki paruh baya itu mendekap tubuh Habsari , sedangkan Arsana yang masih termangu dengan kejadian cepat itu, segera pemuda itu berlari ke arah Muhibbin.
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan!"
"Bajingan kalian!" teriak Habsari sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Gus Aji Putra, terlihat darah segar mengucur deras dengan belati masih menacap ditangannya. Kini air matanya tak tertahankan lagi, pewaris dinasti Garuda Emas itu terus meronta sambil melontarkan sumpah serapah pada Gus Aji Putra.
Lamat-lamat mulai terdengar riuh rombongan dari bawah bukit mendekat kearah dimana keempat orang itu berada, sebagian para Bhayangkara Negeri Pantai nampak di kejauhan dibalik embun pagi dan cahaya langit yang mulai bersinar terang.
***
__ADS_1