
Terlihat Bajang Anom meringkuk di atas batu, tangannya terus mendekap lidi janur dan mangkuk tempurung kelapa yang menjadi harta satu-satunya. Kicauan burung kedasih seolah suara sang ibu yang mengantarkannya menuju peraduannya.
Hembusan angin malam laksana selimut bangsawan yang menghangatkannya dan malam seolah tau apa yang dirasakan sang buruk rupa setiap harinya.
Muhibbin hanya diam terpaku melihat Bajang Anom terlelap didekatnya, pemuda itu masih belum sepenuhnya memahami alam apa yang sedang dilaluinya, namun seiring tarikan nafas sosok hitam legam yang kini terbuai dalam mimpi, Muhibbin merasakan kesedihan dalam kesendiriannya kali ini, sama seperti kesedihan Bajang Anon ketika malam menghinggapi marcapada dan sama kesedihan yang selalu dilantunkan oleh burung kedasih tatkala menanti cahaya rembulan.
"Dimana aku ini sebenarnya?"
"Mengapa aku bisa berada ditempat seperti ini, apa yang diinginkan sang pencipta hingga diriku berada bersama Bajang Anom yang jika dilihat layaknya seorang raksasa namun berhati dewa." gumam Muhibbin kembali, kini airmata tak kuasa di tahannya. Buliran-buliran bening merembes disudut-sudut kelopaknya.
Pandangannya pun tertuju pada angkasa, tak nampak satupun bintang dilihatnya. Berbeda dikala siang, dikala pertama berjumpa dengan Bajang Anom, nampak bintang gemintang berderet diatas cakrawala dan awan-awanpun serasa menari bersuka ria.
Diulasnya kembali perjalanan hidupnya, masa kecil di negeri Batu Ular bersama kawan-kawannya, kehangatan sang ibunya Suratmi tatkala menyambut kedatangannya, senyum kedamaain sang kakak Cahaya yang cantik terlihat saat dirinya dalam suasana gundah gulana, wajah teduh sang guru Kyai Bashori sebagai pengganti sosok ayahnya Ahmad yang lamat-lamat masih diingatnya.
Muhibbin menelungkupkan wajahnya diantara kedua tangannya, kekosongan batin yang dirasakannya kali ini benar-benar membawanya dalam ketakutan layaknya Bajang Anom takut ketika malam menghampirinya.
Tanpa terasa terdengar kokok ayam hutan dikejauhan dan membuyarkan lamunan Muhibbin, dilihatnya Bajang Anom disampingnya menggeliat dan bangun dari tidurnya. Sementara burung kedasih pun mulai pergi meninggalkannya.
Bajang Anom beranjak dari tempatnya berbaring dengan wajah riang gembira karena sang surya akan segera menyapa dan kawan-kawannya telah menunggunya, untuk sementara tak ada lagi malam yang ditakutinya berganti siang yang ditunggunya.
Bajang Anom berlari menuruni puncak bukit kediamannya, tak lupa dirinya selalu menyapa tumbuhan dan hewan yang ditemuinya. Cahaya matahari bak surai-surai kuda, lembut menerobos dedaunan hutan jatirasa, ranting-ranting pohon menggeliyat dibelai hembusan angin.
Dirinya terus berlari menuju tanah lapang dimana kawanan anak-anak hewan hutan telah menunggunya bermain. Sesekali Bajang Anom berhenti tatkala tumbuhan membungkuk dan memberikan buahnya untuk dirinya dan begitupun tatkala induk harimau dengan penuh kasih membiarkan Bajang Anom menghisap air susunya sebagai pelepas dahaga. Alam seakan menjadi pengasuh dan orang tua bagi sosok hitam legam itu. Kegembiraan dikala terang seolah milik Bajang Anom, semuanya mencurahkan kasih sayangnya pada dirinya.
Kembali Muhibbin dibuat takjub melihat Bajang Anom dan penghuni hutan jatirasa, kini dirinya turut bergembira menyambut datangnya terang. Kakinya mengimbangi langkah Bajang Anom yang terlihat tertawa sambil mengayunkan lidi janur ditangannya, seolah-olah sang buruk rupa menggiring angin disekitarnya.
__ADS_1
Nampak di depan seekor burung gagak terbaring dengan kaki dan cakar menghadap ke langit, suaranya seolah-olah sosok digdaya yang akan menyangga semesta.
Bajang Anom berhenti dan menghampiri sang gagak, sementara Muhibbin hanya diam memperhatikan apa yang ada didepannya.
"Wahai Gagak, mengapa kau terlentang dengan kedua cakar seolah ingin menyangga angkasa?" tanya Bajang Anom pada burung gagak.
"Ku sangga angkasa dengan cakarku, kalau tidak langit akan runtuh menimpaku." jawab sang gagak pada Bajang Anom.
Sang buruk rupa heran melihat tingkah Gagak demikian pula Muhibbin yang tak jauh dari dirinya.
Namun tiba-tiba sebatang ranting jatuh diantara Bajang Anom dan Gagak, sontak hal itu membuat Gagak kaget dan bergerak menyisihkan dahan yang jatuh didekatnya, cakarnya sejenak tak menyangga langit dan langit tetap ada diatasnya tak ambruk seperti yang dibayangkannya.
"Kau lihat, tanpa cakarmu langit tetap menggantung diatasmu, Gagak." ujar Bajang Anom pada hewan didekatnya dan Gagak pun terbang menjauh tanpa sepatah katapun meninggalkan Bajang Anom.
Bajang Anom pun melangkah kembali dengan berlari kecil sambil memainkan lidi janur ditangannya.
Belum tentu ada yang harus dikhawatirkan. Jika ada, itu adalah buah dari kekhawatiran yang diciptakannya sendiri.
Muhibbin duduk mengamati ranting yang jatuh itu, dirinya berfikir banyak hal yang akan berjatuhan seperti dahan yang jatuh itu. Jika suatu saat dirinya harus menyangga kekhawatirannya dan mengira bahwa langit akan runtuh betapa banyak hal disekitarnya yang tak bisa diperhatikannya dan mungkin harus ditolongnya.
Alam diam-diam mengajarkan kebijaksanaan pada dirinya, ia lega alam akan menyangganya, bukan dia yang harus menyangga alam seperti yang dibayangkan sang gagak.
Muhibbin beranjak dan berlari menyusul Bajang Anom yang telah jauh didepannya.
Nampak Bajang Anom menghampiri dahan pohon yang diatasnya bertengger burung Cekakak yang nampak murung. Mata burung itu meredup, sayapnya menutup kehilangan daya. Bajang Anom hendak memungutnya namun diurungkan niatnya, kembali Muhibbin memperhatikan tingkah polah Bajang Anom didepannya.
__ADS_1
"Mengapa engkau bersedih, Cekakak?"
"Sementara burung lain beterbangan riang gembira." tanya Bajang Anom pada burung Cekakak.
"Kumencintai hujan, kunantikan hujan datang dengan sabar walau aku harus berada dalam kesedihan penantian." jawab burung Cekakak pada Bajang Anom.
"Mengapa kau begitu menantikan hujan?" tanya sang buruk rupa kembali.
"Kau tak akan bertanya demikian jika kau sudah mengalami betapa indahnya harapan."
Bajang Anam terdiam, demikian pun dengan Muhibbin yang terus mengamatinya.
Ditatapnya lagi burung Cekakak itu dalam-dalam. Dalam redup matanya terbersit seberkas terang, terang yang membuat dirinya bertanya. Adakah perjalanan hidup ini adalah sebuah harapan?
Seketika dilihatnya langit mulai mendung berselendangkan arak-arakan awan hitam dan kelam pun menyelimuti marcapada.
"Sungguhkan sekarang akan turun hujan?" tanya Bajang Anom dalam hati demikian pun dengan Muhibbin didekatnya.
"Hujan pasti akan datang bila padanya kau letakkan harapan." sahut burung Cekakak seolah tau apa yang dipikirkan Bajang Anom dan Muhibbin.
"Apakah harapan itu adalah terang yang memancar dari sorot matamu?" tanya Bajang Anom ingin lebih tau.
"Ya, itu seperti hujan yang tersimpan dalam mendung. Aku sangat mengharapkan hujan karena itu aku sangat pula mencintai mendung." jawab Cekakak.
"Jadi, mendung itu adalah redup matamu?" kembali Bajang Anom bertanya.
__ADS_1
"Ya, mendung itu menyimpan harapan akan datangnya hujan dan hujan adalah kekasihku. Makin mendung itu kelam, makin melonjak harapanku dalam kegirangan karena sebentar lagi kekasihku akan datang."
***