KAHANAN

KAHANAN
CH 120 - KALAM CINTA SANG KEMBARA


__ADS_3

"Sayang! kenapa kau selalu termenung sejak kita dari kediaman Kak Rizza dan Diera?"


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" ucap Disya merengkuh jemari kekasihnya, kepalanya tersandar di pundak Muhibbin sementara tatapannya jauh memandang ke arah deburan ombak Pantai Purnama.


Jemari lentik Disya memainkan ranting kering yang dipungutnya.


Setelah mengunjungi kediaman Puan Rizza dan Diera sahabatnya, Muhibbin dan Disya menuju Surau An Nur yang ada di pinggiran Banjar Manguntur, sepasang kekasih itu duduk disebuah gubuk diantara padi-padi yang telah dipanen para petani di luar Surau, panorama Pantai Purnama terlihat jelas dari bukit dimana keduanya berada.


"Entahlah, Dis!"


"Serasa aku menelanjangi diriku saat melihat lukisan Puan Rizza tadi."


"Sapuan-sapuan kuas dan warna yang dia tuangkan, seakan-akan membuka tabir masa depan."


"Tak tau mengapa, aku merasa gelisah ketika mataku memandang karya itu." jawab Muhibbin lirih.


Semilir angin di bukit tepian Pantai Purnama menyapu wajah keduanya, rambut Disya yang hitam lembut tersibak bersama angin senja.


"Ah! mungkin itu perasaanmu saja, Bin."


"Tak perlu kau larut dalam kegelisahan yang tak beralasan."


"Kan masih ada diriku disamping mu." ucap Disya dengan senyuman manis tersungging diujung bibirnya.


"Ya, kau benar."


"Tak seharusnya aku merisaukan sesuatu yang tak beralasan."


"Makasih ya, Dis!"


"Kau selalu ada disamping ku di saat-saat kejadian berat menimpaku."


Dengan lembut Muhibbin mencium kening kekasihnya, binar rona memerah nampak di pipi Disya yang halus lembut, gadis itu kembali menyandarkan kepalanya di pundak Muhibbin, keduanya terlihat larut dengan alur pikirannya masing-masing, sementara burung-burung pipit terbang bergerombol di hadapan keduanya diantara pangkal-pangkal tanaman padi yang telah di panen oleh petani.


"Sayang ... " ujar Muhibbin menggantung ucapannya.


"Heemm ..." suara Disya melengkuh ringan dengan pandangan masih terarah ke Pantai Purnama.


"Apakah kau tak menyesal, kelak bersuamikan diriku? ujar Muhibbin lirih.


Seketika Disya mengangkat kepalanya dari bahu Muhibbin, gadis itu menatap wajah sang kekasih.


"Kau aneh, Bin!"


"Tak lama lagi kita akan menikah, jika aku menyesal, tak mungkin diriku mengiyakan pinangan mu pada Ayah."


"Aku tau siapa dirimu."


"Aku tau siapa keluargamu."


"Kita kenal bukan sehari dua hari."


"Apa perlu ku tanggalkan status sosialku agar dirimu merasa nyaman dan tak meragukan rasa cintaku padamu?" ujar Disya masih dengan suara datar menjawab pertanyaan Muhibbin.


"Atau jangan-jangan kau sendiri yang berubah fikiran?" seru Disya kembali, tatapannya tajam menelisik ke arah pemuda disampingnya.


"Bukan itu maksudku, Sayang!"


"Kau jangan salah faham dulu mengartikan ucapan ku." ujar Muhibbin menjelaskan arah pembicaraannya pada Disya.


"Lalu, apa? tanya Disya, wajah gadis itu kini nampak berubah.

__ADS_1


"Apakah mungkin ada sesuatu selama ini yang kau sembunyikan dariku, sehingga kau bertanya seperti itu?" kembali putri pengusaha dermawan itu bertanya.


Nampak keraguan terpancar di wajah Muhibbin. Melihat kekasihnya salah tingkah, Disya kembali bertanya,


"Apakah ucapan mu ini ada kaitannya dengan wanita di masa lalu mu itu?" telisik Disya.


Muhibbin diam tertunduk, jemarinya mencabut sebatang rumput didekatnya, tatapannya masih mengarah ke Pantai Purnama didepannya.


"Aku ragu untuk mengatakan hal ini, apakah setelah ku katakan padamu, penilaian mu terhadapku akan berubah?" kini Muhibbin bertanya pada gadis disampingnya.


"Tergantung!"


"Jika yang kau katakan mengada-ada mungkin aku akan tersinggung."


"Namun jika yang kau katakan adalah kebenaran yang harus ku ketahui, aku akan pertimbangkan." jawab Disya singkat, raut wajah gadis itu semakin terlihat penasaran dengan apa yang akan dikatakan kekasihnya.


"Kak Rizza bertemu We landep, Dis!" ucap Muhibbin bergetar. Pemuda itu semakin gelisah terlihat dari tangannya yang memainkan sebatang rumput yang dijumputnya tadi.


"Apa hubungannya dengan Kak Rizza?"


"Siapa We Landep?" cecar Disya kembali.


Dengan menghela nafas, Muhibbin mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan kabar dari sahabatnya pada sang kekasih.


"Tadi, dikala kau dan Diera sedang melihat gaun pengantin mu, kak Rizza bercerita padaku."


"Sepekan yang lalu dia tanpa sengaja bertemu We Landep di pasar Tenten dekat kediaman tuan Gubernur."


"Saat ini Negeri Pantai memiliki pemimpin baru sejak meninggalnya Tuan Timoti."


"Namun keluarga besar mendiang Tuan Timoti masih menempati rumah gubernuran hingga saat ini." ujar Muhibbin masih terlihat ragu.


"Ya, itu aku pun tau."


"Yang aku tak mengerti, apa hubungannya dengan Kak Rizza dan orang yang bernama We Landep itu?" tanya Disya kembali.


"We Landep menanyakan diriku pada Kak Rizza." ujar Muhibbin singkat.


"Lalu ... " ujar Disya, dengan tatapan tajam gadis itu masih menunggu penjelasan Muhibbin.


"We Landep adalah pelayan di rumah mendiang tuan Timoti, dia bercerita jika Sariwati saat ini sakit, sejak proses persalinannya di Selasar Rumah Budaya tujuh tahun lalu, dia mengalami kelumpuhan permanen."


Wajah Disya memerah menyiratkan rasa cemburu dikala nama Sariwati disebutkan oleh Muhibbin.


"Ya, teruskan!" ujar gadis itu singkat.


"Sariwati sejak melahirkan telah bercerai dengan suaminya dan peristiwa tersebut memukul perasaan Tuan Timoti hingga beliau meninggal karena serangan jantung akibat kejadian itu." ujar Muhibbin sambil menghela nafas.


"Lalu apa hubungannya semua peristiwa itu dengan dirimu?"


"Bukankah saat itu kau berada di penjara pasukan Bhayangkara karena tuduhan keji keluarga wanita itu?" seru Disya dengan menahan rasa geram.


"Suami Sariwati menceraikan dirinya karena mengetahui anak yang dilahirkannya bukan benih keturunan priyayi dari Negeri Tidar itu."


"Anak itu ... " Muhibbin tak meneruskan ucapannya, Kini pemuda itu semakin menekuk wajahnya tak berani menatap Disya disampingnya.


"Kenapa tak kau teruskan!"


"Atau anak itu adalah anakmu?" suara Disya meninggi, gadis ayu itu tak kuasa menahan amarahnya, dia bangkit dari tempat duduknya.


"Katakan!"

__ADS_1


"Apa anak itu darah daging mu, Bin?" kini linangan air mata mengalir di wajah Disya.


"Katakan, Bin!"


"Apa anak itu adalah anakmu!" amarah Disya kini tak bisa ditahannya, sementara Muhibbin hanya tertunduk diam tanpa sepatah katapun.


"Tak kusangka, kalian sebajad itu!"


"Apa kau tak sadar atau pura-pura tak tau, jika darah daging mu itu akan menanggung beban kebodohan kalian seumur hidupnya?"


"Bagaimana tentang Nasap nya, bagaimana tentang perwaliannya jika kelak dia berkeluarga?"


"Kau tak berhak menjadi walinya karena anak itu lahir diluar pernikahan, apa kau tak sadar akan hal itu!"


"Bodoh!" tangan Disya melayang ke arah pipi Muhibbin, tubuh gadis itu bergetar penuh amarah, pipinya kini basah oleh air mata.


Muhibbin hanya tertunduk malu dan merasa bersalah dihadapan kekasihnya, rasa sakit akibat tamparan Disya di pipinya tak dirasakannya.


"Aku khilaf, Dis."


"Semua itu terjadi begitu saja."


"Aku pun tak tau, jika janin yang di kandung Sariwati saat itu adalah darah daging ku."


"Kabar itu ku ketahui dari Kak Rizza tadi itupun karena tak sengaja dia bertemu We Landep."


"Agar kau tau, saat itu aku langsung pulang ke kampung ku, menjemput keluargaku untuk segera melamar Sariwati dan menebus kesalahan yang kami lakukan."


"Kau tau sendiri bagaimana almarhumah Emak tiba di negeri ini dalam keadaan sakit."


"Aku benar-benar tak tau, Dis."


"Dan hal ini yang akan ku jelaskan padamu sebelum pernikahan kita."


"Aku tak ingin kau mengetahui ataupun mendengar dari orang lain." pungkas Muhibbin, pemuda itu bangkit dan mendekati Disya yang menangis tersedu di sampingnya.


"Jangan bawa-bawa nama almarhumah Emak!"


"Jangan kau sentuh aku!"


"Menjauh kau dariku!" pekik Disya diantara isakan tangisnya tatkala Muhibbin hendak memeluknya.


"Dis, dengarkan aku dulu!"


"Semua itu terjadi diluar kesadaran kami."


"Aku sungguh menyesal, Dis!" iba Muhibbin, namun Disya tak bergeming dengan penjelasan Muhibbin.


"Kau jahat, Bin!"


"Kau jahat!" teriak Disya sambil berlari meninggalkan Muhibbin, gadis itu tak menghiraukan panggilan Muhibbin.


"Dis, tunggu Dis!"


"Disya!" pekik Muhibbin sambil ikut berlari mengejar Disya.


*****


Note Author:


Saya ucapkan terimakasih pada para pembaca KAHANAN yang hingga saat ini masih terus mengikuti perjalanan tulisan ini, mohon maaf jika hampir sebulan ini tidak pernah update karena aktivitas dan kesibukan saya di masyarakat dan komunitas saya.

__ADS_1


Masih didalam bulan Syawal ini, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, mohon maaf lahir batin atas kesalahan saya sengaja maupun tidak disengaja. 🙏


__ADS_2