KAHANAN

KAHANAN
CH 14 - EXOTIKA NEGERI PANTAI


__ADS_3

Hembusan semilir membelai pepohonan, rimbun daun-daunnya pun mengelinjang dan meronta seirama cumbuan angin. Berbagai tumbuhan subur tertanam di atas tanah yang memerah.


Pohon-pohon kelapa berjajar rapi di sepanjang jalan Negeri Pantai yang dikenal sebagai kepingan Nirwana yang jatuh ke bumi.


Ombak berlari berkejaran silih berganti berkeringat dengan buih-buih menyentuh bibir pantai nan asri.


Hangatnya mentari menyapa seiring nyanyian burung-burung liar memadu kasih.


Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata.


Persawahan berteras-teras terbentang rapi seolah liukan naga terhampar menguning dengan gerombolan burung pipit hinggap di antara batang-batang padi.


'SUBAK' demikian masyarakat Negeri Pantai menyebutnya. Dengan tehnologi pertanian yang terlihat maju, aliran air dari lembah menaiki ngarai yang digunakan para petani untuk mengairi persawahan mereka.


Perahu Badik yang disebut jukung digunakan para nelayan Negeri Pantai.

__ADS_1


Ya, sebuah Negeri yang damai dan indah dengan kekayaan alam dan keramahan masyarakatnya sehingga banyak pelancong datang dari penjuru berbagai benua hidup dan tinggal disana.


Selain keindahan alamnya, Negeri Pantai dikenal dengan adat budayanya yang unik. Ritual-ritual keagamaan dipadukan dengan kearifan lokal sehingga tercipta harmoni yang saling mengisi dan melengkapi mengesankan ciri khas tersendiri yang tak dapat ditemui di negeri manapun.


Tatanan kehidupan sosial masyarakatnya di bedakan menjadi empat tingkatan yaitu Brahmana, Kesatria, Waisya dan Sudra. Keempat golongan ini saling mengisi dan melengkapi.


Brahmana adalah kasta atau golongan para Resi dan pemangku agama dengan gelar Ida Bagus bagi pria dan Ida Ayu bagi wanita, sedangkan Ida Pedanda adalah sebutan bagi seorang Resi yang dijadikan panutan dan tokoh utama keagamaan serta Griya adalah rumah yang ditempati oleh para Brahmana.


Kesatria adalah kasta bagi para pemimpin yang biasanya digunakan oleh orang-orang atau tokoh-tokoh pemerintahan dengan gelar I Gusti, Cokorda, Anak Agung bagi para pria dan I Gusti Ayu, Cokorda Estri, Anak Agung Estri bagi para wanita. Mereka menenpati rumah yang disebut Puri dengan panjak-panjak atau abdinya.


Waisya adalah kasta menengah dari golongan saudagar, pedagang dan pebisnis yang mengatur roda perekonomian dibawah arahan kaum Kesatria. Ngakan, Dewa, Sang adalah sebutan bagi para lelaki dan Dewa ayu ataupun Desak Ayu adalah sebutan bagi kaum wanita dan menempati rumah yang disebut Jero.


Bagi praktisi spiritual ataupun dukun pengobatan Negeri Pantai disebut Balian yang biasa di panggil Jero Balian.


Anggota masyarakat asli Negeri Pantai disebut Krama Adat dan anggota masyarakat pendatang disebut Krama Tamu.

__ADS_1


Sedangkan kuil peribadatan Negeri pantai di bagi menjadi beberpa bagian atara lain Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem.


Pura Puseh dan Pura Desa berada di tengah-tengah komunitas masyarakat itu sendiri dengan berbagai perayaan upacara keagaaman sesuai dengan penanggalan saka dan hari-hari tertentu, Sedangkan Pura Dalem yang hampir mirip dengan pura-pura sebelumnya lebih bersifat khusus untuk ritual-ritual kematian seperti acara pemakaman, kremasi atau dikenal dengan nama Pengabenan. Letak Pura Dalem itu sendiri berada di pinggiran desa atau pinggiran pemukiman masyarakat yang disebelahnya ada tanah lapang tempat mengubur jenazah atau disebut juga Setra.


Pada setiap keluarga ada persembahyangan tersendiri pula yang disebut Pura Ibu yang di empon atau dirawat oleh anggota trah keluarga itu sendiri dan bisa disebut pula Pura Kawitan. Sedangkan pura kecil yang dipakai setiap rumah para penduduk Negeri Pantai disebut Sanggah atau Merajan yang terletak antara posisi tenggara sesuai dengan kiblatnya yaitu Gunung Tohlangkir.


Kegiatan sosial kemasyarakatan Negeri Pantai juga memiliki ritual Pitra Yadna dan Munusia Yadna.


Pitra Yadna adalah ritual atau upacara kematian, Manusia Yadna adalah ritual perkawinan dan Jatakarma Samkara adalah ritual kelahiran.


Hari raya keagamaan Negeri Pantai terdiri dari Hari Raya nyepi, Hari Raya galungan dan Hari Raya kuningan. sedangkan setiap malam bulan purnama dan bulan tua atau tak ada bulan disebut upacara Purnama Tilem.


Sekelumit tentang topografi dan tatanan sosial Negeri Pantai yang banyak mengundang kekaguman negeri-negeri lain dan kebanggaan Negeri Zamrud sebagai pusat Koloni pemerintahan dimana Negeri Pantai sendiri ada didalamnya.


 *******

__ADS_1


Di chapter ini sengaja penulis menjelaskan sekelumit tentang tatanan sosial adat istiadat dan keseharian untuk mempermudah di chapter-chapter berikutnya bagi para pembaca.


Terimakasih atas dukungan para sahabat dan pembaca budiman, tulisani ni masih jauh dari kata bagus karena sejujurnya penulis bukanlah seorang sastrawan namun hanya reader yang ketiban pulung ikut-ikutan nulis. Dan khusus utk para sahabat penulis mohon maaf jika selama ini dalam tutur bahasa dan tulisan menyakiti ataupun menyinggung kalian karena tak ada gading yang tak retak kecuali gisel dan gading martin 😀.. Buah duku buah kedondong...maafkan daku dong..Salam


__ADS_2