KAHANAN

KAHANAN
CH 66 - PERTUNANGAN PART X


__ADS_3

"Aku telah memutuskan bahwa Sariwati akan menikah dengan Raden Mas Seto Nugroho putra Kanjeng Gusti Pangeran Haryo wibowo dan Raden ayu Kumala Dewi dari Negeri Tidar  yang memiliki latar belakang jelas dan masa depan cerah dari pada dengan anak seorang janda miskin yang tak jelas asal usulnya."


ujar Bendowo sambil menunjuk ke arah seorang pemuda yang diapit oleh lelaki dan wanita paruh baya berpakaian mewah di ujung meja. Pemuda yang bernama Seto dengan senyum jumawa membusungkan dadanya tatkala semua tatapan mata mengarah padanya.


Dengan berapi-api tuan Bendowo melampiaskan kegeramannya pada Muhibbin dan keluarganya.


Mendengar perkataan tuan Bendowo semua terperangah dan suasana kediaman sang gubernur kian menegang. Pandangan orang-orang diruangan itu tertuju pada tuan Bendowo tak terkecuali Muhibbin yang sedari tadi tertunduk, kini wajah sang pemuda terangkat dengan tatapan tajam ke arah tuan Bendowo,


"Cukup tuan! anda boleh mempermalukan saya dan menolak niatan baik saya beserta keluarga ataupun menjodohkan Sariwati dengan lelaki lain tapi jangan pernah tuan hina ibu saya dengan kata-kata tuan yang sangat menyakitkan perasaan kami." dengan wajah merah padam Muhibbin mulai tersulut emosinya ketika sang ibu di rendahkan di depannya. Perkataan tuan Bendowo memantik rasa keberaniannya,


"Kami memang orang tak mampu namun  tak seharusnya tuan merendahkan ibu saya seperti itu dan perkataan tuan berbanding terbalik  tak mencerminkan ketinggian derajad maupun status tuan."


"Jika memang anda tak menyetujui hubungan saya dan Sariwati, itu tak menjadi masalah."


"Masih banyak wanita lain yang lebih layak untuk saya perjuangkan tanpa menggadaikan kehormatan ibu saya!" ujar pemuda itu kembali, entah darimana datangnya keberanian itu yang jelas Muhibbin tak terima harga diri keluarganya dai injak-injak dan ibunya dipermalukan.


Semua tersontak tak menyangka, pemuda yang dikenal kesehariannya sangat lugu dan pendiam berani menyanggah salah satu orang berpengaruh di kerajaan Zamrud tak terkecuali Suratmi sang ibu.


Wanita itu hafal bagaimana sifat putra bungsunya dan selama ini tak pernah Muhibbin berlaku kasar ataupun keras pada orang lain apalagi orang yang lebih tua.


"Le, jaga sikap mu! almarhum abah dan emak mu ini tak pernah mengajarimu bersikap kurang ajar pada orang tua."


"Mungkin jodohmu bukan Sariwati!"


"Lupakan gadis itu!"


"Biarlah mereka memperlakukan kita semaunya, 'Gusti Allah boten sare' semua akan menuai karmanya."


"Termasuk perlakuan mereka pada kita hari ini." Suratmi meremas lengan tangan Muhibbin yang duduk di sampingnya, ada rasa geram yang ditahannya. Serak suara Suratmi menahan tangisnya dan wanita itu berkata pada putranya,


"Lebih baik kita pulang, Bin!"


"Mari pak Nengah, kita pulang saja."


"Cahaya, ayo nduk!"


Suratmi beranjak bangkit dari tempat duduknya di papah oleh Cahaya meninggalkan ruangan tamu kediaman tuan Timoti. Muhibbin dan pak Nengah pun ikut beranjak dari tempat duduknya,


"Saya benar-benar kecewa dengan perlakuan yang kami terima hari ini, tuan gubernur." ujar pak Nengah membalikkan badan, menyusul Muhibbin dan keluarganya. Tuan Timoti hanya tertegun tak menyangka kejadiannya akan seperti ini, sementara tuan Bendowo masih dengan sikap angkuh bangkit dari duduknya dan berkata kembali,


"Pergilah dan jangan jejakkan kaki kalian lagi di tempat ini!" pekik pria paruh baya itu.


"Papi, hentikan!"


"Seharusnya papi bisa lebih lembut dalam menolak niatan mereka." nyonya Warika angkat suara menyaksikan sikap suaminya yang terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Sikap papi sama halnya mempermalukan kita semua sebagai keluarga terpandang." imbuh wanita itu kembali.


"Mami kecewa dengan yang papi lakukan pada mereka!" pungkasnya.


Nyonya Warika tergopoh-gopoh menyusul keluarga Muhibbin yang keluar meninggalkan kediaman tuan Timoti, wanita ningrat itupun menyampaikan rasa penyesalannya atas sikap sang suami pada Suratmi tatkala berada didepannya,


"Maafkan sikap suami saya, ibu dan pak Jero."


"Dan kau cah bagus, semoga kau menemukan wanita yang lebih cocok untukmu." ujar nyonya Warika setelah berada di hadapan orang-orang di depannya.


Suratmi hanya menggelengkan kepala tanpa sepatah katapun terlontar dari bibirnya tatkala nyoya Warika berkata padanya. Muhibbin yang melihat raut kesedihan pada wajah ibunya berkata,


"Monggo mak, kita tinggalkan tempat ini." ujar pemuda itu sambil memapah ibunya dibantu sang kakak Cahaya menaiki kereta kuda didepannya sedangkan Jero Mekel berada di depan bersama sang kusir.


"Terima kasih nyoya atas perlakuan keluarga nyonya pada kami." pungkas Muhibbin pada nyonya Warika sebelum menaiki kereta kuda dan meninggalkan kediaman tuan gubernur.


Wanita paruh baya itu terpaku memandang kepergian rombongan keluarga Muhibbin dengan perasaan bersalah atas kejadian tadi.


***


Sementara di dalam ruangan tamu kediaman sang gubernur, terjadi perdebatan antara Bendowo dan Sariwati. Gadis itu yang sedari tadi hanya mendengarkan dan menyaksikan semua yang terjadi diruangan tamu itu dari balik kamarnya merasa sikap yang di tunjukkan tuan Bendowo pada Muhibbin dan keluarganya sangat berlebihan.


Dengan perasaan kecewa Sariwati terus menyanggah alasan yang disampaikan papinya dan mengabaikan keberadaan tuan Haryo sekeluarga yang masih ada di ruangan itu.


"Aku kecewa dengan sikap dan perlakuan papi pada Muhibbin terutama pada ibunya."


"Apa salah mereka hingga papi mempermalukan sedemikian rupa?" ujar Sariwati pada tuan Bendowo.


Lelaki paruh baya itu menatap tajam pada Sariwati yang tiba-tiba muncul di ruangan tamu, ada aura kemarahan yang terpancar dari tuan Bendowo.


"Siapa yang menyuruhmu keluar kamar."


"Dan tentang keputusan papi itu tak bisa kau tawar-tawar."


"Jauhi pemuda miskin itu atau ku buat dia dan keluarganya menderita!" sungut Bendowo pada Sariwati, sang pewaris kekuasaan dinasti Harsuto tak dapat menutupi amarahnya. Tuan Timoti yang berada di dekatnya tak bisa berbuat banyak, bagaimanapun dia sangat hafal karakter Bendowo yang temperamental dan jika tak menyukai sesuatu maka siapapun tak bisa merubah sudut pandangnya.


"Tapi apakah papi tak memikirkan perasaan mereka?'


"Biarpun papi tak menyukainya, apakah patut papi menghina Muhibbin dan keluarganya seperti itu?"


"Apa tak ada cara lain yang lebih terhormat menyampaikan penolakan tanpa melukai perasaan orang lain?"


"Walau bagaimanapun, Muhibbin telah menyelamatkan nyawaku dari kekacauan yang di sebabkan oleh Setyanto menantu papi yang bajinga*an itu." cecar Sariwati berapi-api.


"Karena pemuda yang papi bilang kampungan dan miskin itu, aku bisa selamat dalam kondisi terbuang dimana semua orang tak mau menerimakaku saat kutukan dan hukuman itu ku terima."

__ADS_1


"Apa salah mereka!" pekik Sariwati sambil terisak.


"Di sini ada ayah Timoti yang jadi saksi, bagaimana pemuda yang papi anggap hina itu memperlakukan ku dengan baik dan rela membahayakan keselamatannya tatkala warga Manguntur menganggapku pengamal ilmu hitam dan nyaris di hakimi oleh mereka."


"Seharusnya papi bisa lebih bijaksana dan memberikan penghargaan padanya karena telah melindungiku selama ini, bukan malah hinaan yang dia dapatkan dari papi." pungkas Sariwati.


Semua yang ada diruangan itu terdiam termasuk tuan Timoti, dalam benak sang gubernur membenarkan apa yang disampaikan putrinya itu, bagaimanapun lelaki itu tau benar apa yang di alami putrinya dan bagaimana pemuda itu menolong Sariwati selama ini, dia tidak sependapat dengan perlakuan tuan Bendowo pada rombongan Muhibbin dan Jero Mekel namun apa daya di satu sisi lelaki itu tak menyetujui hubungan sang anak dengan pemuda itu serta tak ada keberanian dirinya untuk menentang kehendak tuan Bendowo.


"Seharusnya papi bisa lebih menahan diri." tiba-tiba nyonya Warika memecahkan keheningan ruangan itu, wanita paruh baya itu melangkah masuk dan duduk di sebelah tuan Bendowo yang sebelumnya keluar mengejar dan meminta maaf pada rombongan Muhibbin.


"Pemuda itu tak salah apa-apa terhadap keluarga kita, walaupun kita tak menginginkannya menjadi bagian dari keluarga besar dinasti Harsuto namun tak sepantasnya mereka kita perlakukan seperti tadi." ujar nyonya Warika pada suaminya. Sorot mata wanita itu tertuju pada sang suami.


Tuan Bendowo terdiam mendengar apa yang dikatakan istrinya, lelaki paruh baya itu tersadar dan mengingat-ingat akan apa yang diucapkannya pada Muhibbin dan keluarganya, tatkala melihat wajah Muhibbin tadi, sontak emosinya meninggi dan terngiang akan apa yang disampaikan Habsari beberapa hari sebelumnya ketika dia dan istrinya baru tiba di Negeri Pantai.


Putri sulungnya menceritakan bahwa selama ini Sariwati dimanfaatkan oleh Muhibbin dan Habsari menyampaikan pada Bendowo bahwa keluarga Muhibbin yang kekurangan hanya ingin menaikkan status dan derajad keluarganya dengan mendompleng kebesaran nama dinasti Harsuto dengan menikahkan Muhibbin dan Sariwati.


Tuan Bendowo menghela nafas, ada rasa penyesalan terbersit dihatinya namun karena ke egoisannya sebagai orang besar dan penentangan yang di ucapkan Jero Mekel serta Muhibbin padanya, lelaki itu tak ingin wibawanya runtuh apalagi ucapan Jero Mekel dan Muhibbin di dengar oleh  tuan Haryo dan keluarganya yang sedari awal sudah berada di tempat itu menyasikan semua yang terjadi.


"Sudahlah, mereka memang seharusnya tau diri."


"Dan keputusanku tak ada seorangpun yang bisa ganggu gugat."


"Sariwati tetap akan menikah dengan Seto."


"Semuanya harus kita laksanakan sesegera mungkin." ujar Bendowo pada yang hadir di ruangan itu.


Tuan Haryo dan istrinya tersenyum mendengar keputusan tuan Bendowo, Seto tak kalah kegirangan mendengar apa yang disampaikan penerus dinasti Harsuto itu, matanya lekat memandang Sariwati yang tak jauh dari tempatnya duduk dengan senyum penuh kemenangan.


Sariwati tak percaya dengan apa yang dikatakan papinya baru saja, gadis itu dengan terisak menyela,


"Tapi pi! aku tak mengenal dan mencintai Seto."


"Cintaku hanya untuk Muhibbin seorang."


"Sampai matipun aku tak akan menjadi milik siapa-siapa." pekik Sariwati pada papinya.


Semua orang yang ada diruangan itu terperangah mendengar reaksi Sariwati tak terkecuali tuan Bendowo. Lelaki itu berkata dengan nada tinggi,


"Terserah kau mau terima atau tidak, keputusan papi telah bulat."


"Kau sekarang resmi menjadi tunangan Seto dan dalam sepekan kedepan papi akan menikahkan kalian."


"Dan ayahmu Timoti akan mempersiapkan semuanya." pungkas tuan Bendowo.


"Papi kembali berlaku semena-mena padaku,"

__ADS_1


"Keputusan papi ini sama tak adilnya seperti saat mengasingkan ku sepuluh tahun lalu."


Setelah berkata, gadis itu berlari menuju kedalam kamarnya meninggalkan orang-orang di ruangan itu.


__ADS_2