KAHANAN

KAHANAN
CH 49 - PULANG


__ADS_3

Sebuah kapal tongkang membelah ombak selat Negeri Pantai yang berdebur sedang, matahari siang itu terasa terik dan gerombolan burung camar sesekali menukik disela-sela ombak mengincar ikan buruannya, waktu berlalu begitu cepat, setelah kejadian di Villa Sandat dan perbincangannya dengan ayah angkatnya, Muhibbin berencana mengunjungi keluarganya di Negeri Batu Ular.


Terlihat Muhibbin menuruni kapal tongkang yang ditumpanginya menuju jembatan dermaga pelabuhan Sritanjung. Sudah dua hari pemuda itu melakukan perjalanannya menuju tanah kelahirannya, jarak yang ditempuh untuk sampai ke Negeri Batu Ular memakan waktu tiga hari perjalanan dan jika tanpa halangan, esok menjelang fajar dia akan sampai ke kampung halamannya.


Dalam benak lelaki itu masih terbayang kejadian yang tak seharusnya dia lakukan pada Sariwati serta semua wejangan pak Nengah Wirata tentang rencana melamar dan menikahi sang pujaan hatinya.


"Apa yang harus aku katakan pada emak dan mbak yu Cahaya? apakah aku harus berterus terang tentang siapa Sariwati dan bagaimana seandainya niatan baikku melamarnya akan bertepuk sebelah tangan seperti yang ajik khawatirkan?" gumam Muhibbin dalam hati, lamunannya buyar ketika tiba-tiba sebuah delman berhenti tepat didepannya.


"Nak Mas hendak kemana, apakah akan ke tapsiun?" tanya sais delman itu. Warga sekitar menyebut stasiun dengan kata tapsiun.


"Betul, paman. Saya hendak ke stasiun yang menuju Negeri Batu Ular. Apa delman paman juga menuju ke arah sana, kalau benar dan masih ada tempat duduk saya hendak menumpang." jawabnya basa-basi.


"Oh masih, Nak mas! mari silahkan naik Nak Mas." ujar sais delman itu pada Muhibbin.


Tak berapa lama, stasiun Kalipuro mulai terlihat dari kejauhan. Lalu lalang orang di siang itu terlihat ramai. Sebagaimana diketahui setiap sepekan sekali, sebuah sepur selalu datang dan digunakan sebagai transportasi untuk menghubungkan bagian barat hingga bagian timur pulau Jelai yang masih merupakan wilayah kerajaan Zamrud.


Masyarakat kerajaan Zamrud selain menggunakan kereta angin dan delman juga menggunakan otto dan sepur walaupun keberadaan kedua moda transportasi itu masih sangat terbatas dan otto sendiri hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dari kalangan keluarga ningrat utamanya kerajaan Zamrud.


Muhibbin melangkah kedalam stasiun setelah membayar ongkos delman yang di naikinya. Kakinya melangkah ke salah satu ruangan untuk mendapatkan tiket menuju Negeri Batu Ular.


Setelah menunggu beberapa saat dan mendapatkan sebuah tiket, Muhibbin segera menaiki sepur yang sudah siap-siap berangkat mengantarkannya menuju kampung halamannya yang telah lama di tinggalkan. Asap putih mengepul dari ruang pembakaran, derik roda besi dan raungan terompet menandakan sepur mulai bergerak.


***


Semburat merah menyeruak disela-sela mega di ufuk timur, canda dan siulan burung-burung liar seolah paduan suara menyambut datangnya mentari pagi walaupun sedikit tertutup mendung.


Muhibbin menghela nafas dalam-dalam menikmati udara pagi Negeri Batu Ular. Kakinya bergegas tak sabar menahan kerinduan akan keluarganya yang lama dia tinggalkan.


Disepanjang jalan dijumpainya orang-orang yang hendak menuju ke sawah maupun ke pasar, sapaan-sapaan ramah selalu terlontar ketika mereka berpapasan. Muhibbin segera mempercepat langkahnya ketika dari jarak yang tak begitu jauh mulai terlihat rumah joglonya yang masih tak banyak berubah.


"Assalamualaikum!" serunya ketika berada di depan rumahnya, diketuknya pelan pintu yang terbuat dari papan yang mulai keropos dimakan usia dihadapannya.


"Assalamualaikum!" serunya kembali.


Namun tak ada jawaban dari dalam rumah.


"Tumben kok sepi, kemana emak dan mbak yu Cahaya?" gumamnya dalam hati.


"Assalamualaikum," kembali Muhibbin berseru dan mengetuk pintu.


"Cari siapa Nak Mas?" tiba-tiba dari arah belakang seseorang menyapa Muhibbin.


Pemuda itu menoleh ke arah suara yang menyapanya,


"Emak dan mbak yu kemana ya, Pak Lik?" tanya Muhibbin pada lelaki paruh baya di hadapannya.


"Nak Mas siapa? sudah beberapa hari ini mbak Suratmi, Cahaya dan keponakannya gak ada di rumah." jawab lelaki itu kembali.


"Pak Lik lupa dengan saya? saya Muhibbin, Pak Lik!" seru pemuda itu pada lelaki paruh baya didepannya.


"Ya Allah, Kau Muhibbin? pangling aku le." ujar lelaki itu pada Muhibbin.


"Nggih ini saya, pak lik." jawab Muhibbin sambil menjabat tangan lelaki dihadapannya.


"Kalau boleh tau kemana ya emak, mbak yu dan keponakan saya, pak lik?" ujarnya kembali.


"hemmm," lelaki paruh baya itu menghela nafas dalam-dalam.


"Mereka ada di pesantren


kyai Basori, le!"

__ADS_1


"Sudah beberapa hari mereka ada di sana." jawab lelaki itu.


"Kenapa pak lik, apa mbah kyai ada acara sehingga emak dan mbak yu rewang di sana?" tanya Muhibbin.


"Bukan, le." jawab lelaki itu kembali.


Lelaki paruh baya itu mengajak Muhibbin duduk di balai bambu yang ada di depan rumahnya kemudian menceritakan apa yang terjadi pada keluarga pemuda itu beberapa hari yang lalu.


"Jadi begitu ceritanya, le."


"Emak, kakak, serta keponakanmu di selamatkan dan di bawa ke pesantren kyai Basori oleh mbah kyai sendiri, kebetulan pada saat itu mbah kyai sedang mengisi pengajian di masjid kampung ini dan keponakanmu, Raya Suci berteriak minta tolong ke tempat pengajian ketika gerombolan itu mencoba mencelakai keluargamu."


Wajah cemas terpancar pada Muhibbin saat mendengar cerita itu. Pemuda itu terlihat gelisah kemudian dia kembali bertanya,


"Tapi mereka tidak apa-apa kan, pak lik?"


"Emak mu saja yang terluka di kepala karena didorong oleh salah seorang gerombolan itu."


"Dan untungnya kyai Basori beserta beberapa santrinya dan para warga segera datang dan berhasil mengusir para perusuh itu." pungkas lelaki


paruh baya itu.


Muhibbin semakin cemas mendengar penuturan lelaki dihadapannya.


"Kalau begitu aku pamit dulu, pak lik!"


"Aku harus segera ke pesantren." pamitnya.


Dia buru-buru menuju desa Kemuning tempat pesantren kyai Basori berada.


*****


Beberapa hari sebelumnya,


"Saya sudah tawarkan harga yang bagus untuk mahar Batu Sulaiman Madu itu, jangan buat kami menunggu lama dan berubah pikiran!" ujar seorang lelaki berperawakan tinggi besar pada Suratmi dan Cahaya.


Kedua wanita itu tetap dengan pendiriannya tak memperjual belikan Batu Sulaiman Madu yang mereka miliki.


"Maaf tuan, berapapun harta yang akan tuan berikan, Kami tetap tidak menjualnya karena itu adalah benda warisan keluarga kami." jawab Suratmi.


"Ibu jangan memaksa kami melakukan tindakan kasar, Kami bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan benda itu."


"Juragan kami sudah menawarkan harga yang pantas, apalagi kalau melihat kondisi rumah dan keadaan ibu, harta sebanyak itu bisa membuat kalian hidup enak!" ujar lelaki itu mengintimidasi.


"Maaf tuan, apa tuan tak mendengar yang dikatakan ibu saya! benda itu tak akan kami lepas pada siapapun." kini Cahaya ikut angkat bicara.


"Apalagi kami tak mengenal tuan dan siapa juragan tuan yang tiba-tiba datang ke rumah kami dan menginginkan benda warisan leluhur kami."


"Kami tak tergiur dengan harta yang tuan tawarkan dan kehidupan kami sudah cukup bahagia walaupun seperti sekarang ini." pungkas Cahaya pada lelaki dihadapannya.


Lelaki berperawakan besar itu terlihat gusar mendengar jawaban kedua wanita dihadapannya, wajahnya yang dingin semakin garang memandang keduanya.


"Dasar manusia tak tau di untung, sudah bersyukur kami tawarkan harta berlimpah dan memperlakukan kalian baik-baik."


"Sekarang serahkan benda itu pada kami!" kini lelaki itu mencengkram keras pundak Suratmi dengan kedua tangannya yang kekar. Wanita tua itu meringis kesakitan.


"Lepaskan aku!" ronta Suratmi, namun tenaganya yang lemah tak bisa melawan dan melepaskan diri dari cengkraman tangan lelaki itu.


"Lepaskan ibuku!" teriak Cahaya sambil menarik lengan lelaki yang mencengkram ibunya.


Salah seorang teman dari lelaki berperawakan kekar itu berusaha menyeret Cahaya menjauh dari Suratmi yang masih dalam cengkraman kawannya.

__ADS_1


"Lepaskan aku!"


" Lepaskan, bajing*an!" teriak Cahaya histeris.


Mendengar teriakan anaknya, Suratmi meronta dan menggigit lengan lelaki yang mencengkramnya.


"Aaahhhh!" teriak lelaki itu kesakitan.


"Kurang ajar!"


'plakkk'


Lelaki itu mengumpat dan dengan refleks menampar wajah renta Suratmi.


"Aahh" teriak Suratmi dan tubuh renta itu tersungkur jatuh tak sadarkan diri.


"Kurang ajar, Biad*ab kalian semua!" teriak Cahaya meronta dan berusaha melepaskan diri dari dekapan salah satu kawan lelaki berperawakan kekar itu.


Raya Suci yang sedari tadi terdiam melihat nenek serta bibinya dianiaya oleh orang tak dikenal, langsung berlari keluar rumah dan berteriak,


"Tolong!"


"Tolong, ada rampok!"


"Ada rampok!"


Dia terus berlari dan tak terasa sampai di masjid tak jauh dari rumahnya yang pada saat itu sedang mengadakan pengajian. Orang-orang yang berada di dalam masjid terkesiap mendengar teriakan seseorang yang tak lain Raya Suci, mereka segera bergegas keluar menuju rumah Suratmi.


Terlihat kyai Basori beserta para santri dan warga berlari mengikuti Raya Suci dari belakang. Tak berapa lama rombongan para warga dan kyai Basori telah sampai di rumah Suratmi.


Dilihatnya beberapa orang lelaki berperawakan kekar berada didalam rumah Suratmi, terlihat Cahaya meronta diantara lelaki yang menyekapnya sedangkan tubuh tua Suratmi masih tak sadarkan diri tergeletak di tanah.


"Lepaskan mereka!" teriak kyai Basori pada beberapa lelaki kekar didalam rumah.


Pimpinan kelima lelaki kekar itu keluar di ikuti oleh anggotanya, terlihat salah satu dari orang itu masih menyekap Cahaya.


"Kalian tak perlu ikut campur urusan kami! kalian tak tau sedang berhadapan dengan siapa?" ujar lelaki kekar itu jumawa. Matanya tajam menatap ke arah kyai Basori dan para warga.


"Tak ada urusan dengan kelompok mana dan suruhan siapa kalian ini, yang jelas lepaskan Cahaya dan ibunya!" seru kyai Basori tak kalah garang.


Mendengar seruan kyai Basori pimpinan orang tak dikenal itu tanpa basi menyerang para warga, keempat anggotanya pun turut melakukan serangan.


Perkelahian tak terelakkan, walaupun kalah jumlah dengan para warga, gerombolan lelaki kekar dan anak buahnya itu bisa mengimbangi serangan, rupanya mereka adalah orang-orang terlatih yang sudah terbiasa dengan perkelahian.


Warga dukuh karanganyar pun mulai terdesak, namun kyai Basori dan berapa santrinya membantu para warga dan mulai bisa mengatasi keadaan.


Pimpinan gerombolan itu terlihat berhadapan dengan kyai Basori. Lelaki itu menyerang dengan garang namun semua serangan dapat dipatahkan dengan mudah oleh kyai Basori. Tiba-tiba lelaki kekar itu tersungkur ketika kyai Basori mengangkat telapak tangannya dengan melakukan dorongan lembut ke depan dan dari mulutnya mengeluarkan darah segar, rupanya orang itu terkena pukulan jarak jauh yang di lambari tenaga dalam yang di lakukan oleh kyai Basori.


Melihat pimpinannya terkapar dengan mulut mengeluarkan darah, keempat anggota gerombolan itu segera membopong pimpinannya dan kabur melarikan diri.


Para Warga yang melihat gerombolan itu melarikan diri hendak menyusulnya namun di larang oleh kyai Basori.


"Biarkan, tak perlu di kejar! mereka tak akan berani lagi datang dan membuat keonaran di sini." seru kyai Basori pada para warga dan santrinya.


Pria berwibawa itu segera masuk kedalam rumah di ikuti oleh Cahaya dan Raya Suci membantu mengangkat tubuh Suratmi keatas tempat tidur yang hanya beralaskan tikar, wanita renta itu masih tak sadarkan diri di apit oleh Cahaya dan Raya Suci yang menangis sesenggukan.


"Sebaiknya kalian tinggal di pesantren untuk sementara waktu, akan lebih baik di sana sambil merawat mbak yu Suratmi." ujar sang kyai penuh prihatin.


Cahaya hanya mengangguk pelan sambil memeluk Raya Suci, wajah keduanya sembab dan terus menangis melihat keadaan Suratmi.


"Firasat ku mengatakan tak lama lagi akan ada kejadian besar pada keluarga kalian dan ini ada kaitannya dengan adikmu yang akan pulang." pungkas kyai Basori pada Cahaya.

__ADS_1


 


__ADS_2