KAHANAN

KAHANAN
CH 45 - DI MABUK ASMARA


__ADS_3

Malam semakin larut, angin dingin mulai menusuk tulang. Kedua muda mudi itu masih terlihat duduk di teras Villa Sandat.


"Wati, sudah larut malam. Kau sebaiknya istirahat dan aku harus kembali ke Surau An Nur, mungkin pas waktu senggang aku akan berkunjung kemari lagi." ujar Muhibbin pada gadis disampingnya.


"Sudah petang, Bin! apa tak sebaiknya kau bermalam saja di sini."


"Pastinya jalanan sudah gelap gulita, besok setelah subuh kamu bisa balik ke surau." ujar wati menyeka air matanya.


"Tapi bagaimana pandangan orang, Wati. Tak elok rasanya aku bermalam disini, sedangkan kita tak ada hubungan apa-apa." kata Muhibbin kembali.


"Kau terlalu memikirkan pandangan orang, Bin. Toh juga kita tak melakukan hal-hal yang tabu, Kau bisa tidur di kamar tamu."


"Ini sudah petang, jarak dari sini ke Surau An Nur lumayan jauh. Apalagi ku lihat kereta anginmu tak ada penerangannya, kalau terjadi apa-apa dijalan bagaimana?" sungut gadis ayu itu.


"Tapi Wati?"


"Gak usah tapi-tapian, turuti saja atau sekalian kau tak usah temui aku lagi jika tak mengindahkan perkataanku!" Gadis itu memasang wajah cemberut dihadapan Muhibbin.


"Kok jadi melebar gini, Wati? Aku hanya tak ingin kita jadi gunjingan orang-orang. Apa kata orang nanti jika melihat kita berdua disini?" Muhibbiin menatap gadis disebelahnya.


"Apa perkataanmu itu serius, Wati? ujarnya kembali.


Sariwati terlihat kesal dengan jawaban Muhibbin.


" Ya, Aku serius! lalu apa bedanya ketika kita hidup berdua di Surau An Nur dulu? kita sama-sama tinggal satu rumah dan tak ada orang yang mempermasalahkan keberadaan kita."


"Ya itu beda, Wati. Dulu di An Nur kau jadi tanggung jawabku dan ayah angkatku mengijinkan dirimu tinggal disana bersamaku."


"Sedangkan sekarang kau sudah bisa hidup sendiri, apalagi ini adalah kediaman pribadimu." ujar Muhibbin.


"Rumah ini bukan milikku, ini rumah pamanku!" jawab Sariwati ketus.


"Ya itu maksudku, Aku gak enak jika ketahuan tuan Timoti menginap disini." kata lelaki itu kembali.


"Kau ini, selalu bilang gak enak lah! yang ini lah! yang itu lah! terlalu banyak alasan."


"Kalau orang menggunjingkan kita atau pamanku tau kau menginap disini, memangnya kenapa? biar sekalian kita di nikahkan oleh mereka! atau kau sendiri yang tak mau menikah denganku? kini suara Sariwati mulai meninggi.


" Kau kenapa sih, Wati? sedari tadi bawaannya marah dan ketus melulu, beda dengan Wati yang aku kenal selama ini!" kini Muhibbin mulai terpancing dengan perkataan kekasihnya.

__ADS_1


"Kau yang membuatku kesal! sedari tadi dirimu hanya mementingkan etika, moral dan pandangan orang saja! Kau tak pernah tau bagaimana perasaanku! bebanku!" ujar Sariwati sambil berlalu dari hadapan Muhibbin.


"Hai, salah lagi!" gumam Muhibbin dalam hati. Dia tak mau melayani kekesalan Sariwati.


"Pulang saja, jika kau mau pulang!" teriak Sariwati dari dalam rumah.


Muhibbin hanya diam termangu melihat kekasihnya tak seperti biasanya. Lelaki itu masih duduk di serambi depan Villa Sandat dan tak berapa lama dia bangkit dan berkata,


"Baiklah, Aku bermalam disini. Aku tidur di kursi ruang tengah saja." ujar Muhibbin sambil memasukkan kereta anginnya ke dalam rumah dan tak ada jawaban dari Sariwati.


Terlihat lelaki itu merapatkan pintu angkul-angkul dan setelah itu pintu serta jendela Villa Sandat ditutupnya.


**


Detik pun berlalu, suara binatang malam bersahutan menambah suasana Villa Sandat semakin temaram yang hanya diterangi oleh lampu minyak yang tergantung di tengah ruangan.


Muhibbin merebahkan badannya dikursi ruangan tengah dengan pikiran yang mengembara tak tentu arah, sedangkan Sariwati setelah pertengkaran dan memasuki kamar tadi tak terdengar suaranya.


Pemuda itu terus memikirkan perkataan Sariwati yang tak seperti biasanya, dalam hatinya masgul mungkin telah terjadi sesuatu dengan gadis itu, melihat perubahan sikapnya yang mudah uring-uringan atau mungkin karena kehadiran kakak sulungnya di Negeri Pantai ini yang membuatnya gampang emosi.


Tanpa terasa malam semakin larut dengan hembusan angin yang semakin dingin, Muhibbin mulai terlelap dalam tidurnya, namun tiba-tiba dia terbangun dan terlihat Sariwati duduk disampingnya dengan membawakan sebuah selimut.


Muhibbin bangkit dari tempatnya berbaring,


"Kau belum tidur, Wati?


Gadis ayu itu hanya menggeleng, diserahkannya selimut itu pada pemuda dihadapannya.


" Maafkan aku, Bin! Aku tadi tak bisa mengendalikan diri." kini gadis itu terisak kembali.


Muhibbin yang melihat kekasihnya menangis berusaha menenangkannya,


"Sudahlah, Wati! jangan kau risaukan kejadian tadi. Aku tau masalah yang kau hadapi pelik, sabar! pasti nanti akan ada jalan keluarnya."


"Tapi aku gak kuat, Bin! mengapa ujian ini aku alami?" kini gadis itu semakin terisak.


"Tuhan tak akan memberi cobaan melebihi kemampuan ummatnya, jadi sabarlah dan belajarlah ikhlas menghadapi semua ini."


"Aku janji akan selalu ada disampingmu." pungkas Muhibbin.

__ADS_1


Gadis itu memeluk pemuda didepannya, tangisannya semakin menjadi, wanita itu sesenggukan dalam rengkuhan Muhibbin.


Pemuda itu terlihat salah tingkah namun dia membiarkan Sariwati menumpahkan semua beban yang di alaminya.


Entah Iblis atau malaikat mana yang meracuni kesadaran mereka tiba-tiba bibir keduanya saling berpagut. Ciuman panjang keduanya melupakan segalanya, semua teori tentang moral dan ketabuan layaknya menguap tanpa bekas.


Keduanya bergumul di atas kursi menanggalkan pakaian yang melekat tak menyisakan benang yang menempel ditubuh mereka. Erangan lirih Sariwati dan Muhibbin terdengar tatkala tubuh keduanya menyatu dalam pelukan yang memabukkan. Nafas mereka memburu seolah berpacu dengan waktu dengan sentuhan-sentuhan lembut di sekujur tubuh dua insan yang dimabuk asmara itu. Sariwati mengelinjang laksana kuda liar tatkala kecupan lembut Muhibbin menyapu seluruh tubuhnya. Tubuh sintal dan putihnya bak pualam Negeri Janisari meronta tak kuasa menahan hasrat yang membuncah.


Lengkuhan nafas keduanya bagaikan lembu pembajak sawah, keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh keduanya mengakhiri petualangan surgawi yang Nabi Adam pun sekiranya tak kuasa menolak keindahan Ibu Hawa.


"Maafkan aku, Wati! tak seharusnya ini terjadi." ujar Muhibbin gemetar memegang jari kekasihnya.


Sariwati hanya terisak diam tak menjawab. Pemuda itu mengambil selimut yang tergeletak di lantai dan menutupi tubuh polos Sariwati.


"Maafkan aku, Wati! Aku menyesal telah menyakitimu dengan perbuatanku ini."


"Entah apa yang merasuki kepalaku, sehingga yang seharuanya belum boleh kita lakukan telah terjadi." wajah pemuda itu pucat pasi dengan embun menggelayut di kedua matanya.


"Aku sudah tak memiliki apa-apa,Bin! sudah kuserahkan yang paling berharga padamu." isak Sariwati.


"Namun aku tak menyesalinya, karena itu bukti cintaku pada mu." ujar gadis itu kembali. wajahnya ditekuk dalam-dalam seolah tak kuasa memandang pemuda dihadapannya.


"Ini yang aku takutkan, Wati. Kejadian seperti ini yang tak seorangpun dapat menghindarinya, namun nasi telah menjadi bubur, Wati!"


"Aku tak akan lari dari tanggung jawab atas semua yang telah kulakukan padamu." dengan terbata-bata Muhibbin menggenggam erat jemari Sariwati.


"Itu berarti kau akan menikahiku, Bin?" ujar Sariwati.


"Ya" jawab Muhibbin singkat, air matanya masih menetes di pipinya, Dia tak bisa membayangkan betapa kecewanya ibu, kakak dan gurunya bila mengetahui perbuatan yang dilakukannya pada Sariwati.


Muhibbin yang seorang santri dan keturunan pemuka agama telah melakukan dosa besar merusak pagar ayu seorang gadis terhormat.


"Kenapa kau menangis, Bin! apakah kau tak mau hidup denganku? seharusnya diriku yang paling dirugikan dengan kejadian ini." ujar Sariwati pada Muhibbin.


"Tidak Wati, Aku gak apa-apa. Aku merasa berdosa telah menyakitimu dengan perbuatanku ini." mata pemuda itu lekat memandamg gadis di hadapannya.


"Kau lelaki baik, Bin. Aku tau kau tak akan lari dari tanggung jawab dan karena itulah aku tak menyesal menyerahkan hal paling berharga


yang kumiliki padamu." gadis itu memeluk pemuda dihadapannya, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


 


__ADS_2