
Darah mengucur deras dari luka di perut pak Nengah, nafasnya memburu tersengal akibat pertarungannya dengan pimpinan Bhayangkara, sementara Cahaya dan Sekar masih dibawah todongan belati anggota Bhayangkara yang lain. Dengan wajah pucat pasi kedua gadis itu menangis ketakutan dibawah intimidasi para penyerang.
Senyuman sinis tersungging di wajah pimpinan Bhayangkara,
"Menyerahlah, Tuan!"
"Katakan dimana Ni Mas Sariwati dan pemuda itu." hardiknya menekan mental Jero Perbekel.
"Aku tak tau yang kalian maksudkan, jika kalian menganggap Ni Mas Wati ada disini, kalian salah besar."
"Tentang keberadaan Muhibbin sudah aku katakan dengan jelas, anak itu aku suruh menemui saudaraku di lain desa." balas pak Nengah dengan nafas masih tersengal, lelaki tua itu terlihat mendekap luka diperutnya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya gemetar memegang erat keris yang terlihat berlumuran darah.
Pandangan pimpinan Bhayangkara semakin dingin mengintimidasi,
"Sekali lagi aku tanya padamu, orang tua!"
"Dimana keberadaan orang-orang yang aku cari!"
"Jangan uji kesabaran ku atau kedua gadis itu akan celaka!" hardik pimpinan Bhayangkara itu, matanya melirik ke arah dua gadis yang sedang di gelandang oleh anak buahnya.
"Sudah ku katakan, aku tak tau yang kalian maksud,"
"Lepaskan keluargaku!" seru pak Nengah dengan muka menahan kegeraman, sorot matanya tajam memandang ke arah pimpinan Bhayangkara.
Lelaki paruh baya itu bangkit dan mengikat luka di perutnya dengan Kain Anteng yang melilit di pinggangnya.
"Siapa kalian sebenarnya? karena aku tau jelas bagaimana cara kerja para Bhayangkara."
"Pasukan Bhayangkara adalah pasukan yang menjunjung tinggi nilai kebenaran dan jiwa kesatria."
"Kalian bukan anggota Bhayangkara, karena pasukan itu tak pernah bertindak sewenang-wenang dalam menyelesaikan suatu masalah." ujar pak Nengah pada sepasukan yang beratribut Bhayangkara di depannya.
"Jangan banyak bicara, Tuan." ujar pimpinan Bhayangkara itu, lelaki berwajah garang itu terdengar memberikan perintah kembali kepada anak buahnya,
"Pasukan, ringkus orang tua itu dan geledah rumah ini!"
"Temukan benda itu dan Ni Mas Sariwati."
"Selesaikan seperti biasa!" ujar pimpinan Bhayangkara itu dingin pada anak buahnya.
Beberapa orang menyebar ke dalam rumah pak Nengah, setiap kamar diperiksa kembali dan beberapa yang lain orang mendekat ke arah Perbekel desa Batubulan itu.
Pak Nengah yang terluka tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa terdiam ketika dua orang Bhayangkara mengikat kedua tangannya.
Lelaki paruh baya itu mengkhawatirkan Cahaya dan Sekar yang masih di todong belati oleh beberapa orang yang menyekapnya.
__ADS_1
Tak selang berapa lama salah seorang Bhayangkara kembali melapor pada pimpinannya.
"Tidak ada, Ketua."
"Kemungkinan mereka sudah kabur."
"Di dalam kamar hanya ada wanita tua yang sedang sakit dan seorang anak kecil." lapor salah seorang anggota Bhayangkara itu pada pimpinannya.
Pimpinan Bhayangkara mendengus kesal, kesabarannya mulai menguap, tangannya mengambil obor yang ada di dinding angkul-angkul, lelaki itu menyalakan api di obor yang dipegangnya.
Beberapa anggotanya terlihat menuangkan cairan minyak ke arah dinding-dinding kamar dan lantai rumah itu.
Melihat hal itu pak Nengah meronta dan berteriak lantang,
"Apa yang akan kalian lakukan pada rumahku?"
"Apa kalian sudah gila! ada orang sakit di dalam kamar, apa kalian akan membakar rumahku?" teriak pak Nengah.
Pimpinan Bhayangkara tak menghiraukan teriakan pak Nengah, tangannya melempar obor yang menyala ke arah salah satu bangunan, api pun mulai menjalar.
"Biad*ab kalian semua, Bajing*an!" pekik pak Nengah kembali, wajahnya terlihat memerah tak bisa menahan kemarahannya, dengan sekuat tenaga lelaki tua itu meronta dan melepaskan ikatan di tangannya, tali yang mengikat kedua tangannya terputus dan pak Nengah melompat menerjang kembali ke arah pimpinan Bhayangkara.
Namun kondisinya yang terluka dan kehilangan banyak darah membuat gerakannya melambat, dengan mudah pimpinan Bhayangkara menghindari serangan Perbekel desa Batubulan itu dan tak selang berapa lama hunjaman belati menembus dada pak Nengah dan lelaki paruh baya itu roboh ke tanah dengan nafas tersengal-sengal dan sebuah belati menancap didadanya.
"Ajik!"
Pekik gadis itu sambil hendak memeluk tubuh pak Nengah, namun pimpinan Bhayangkara tak membiarkan gadis itu mendekat. Di raihnya tombak yang dipegang anak buahnya dan di hunjamkan ke arah Sekar, gadis itu menjerit dan roboh sebelum mendekat ke arah ayahnya yang terkulai di tanah dengan kondisi tombak menembus tubuhnya.
Sorot mata penuh kepuasan dan senyuman sinis tanpa belas kasihan nampak di wajah pimpinan Bhayangkara setelah membuat pak Nengah dan Sekar roboh tak berdaya dengan luka senjata tajam di tubuhnya.
"Kita tinggalkan tempat ini dan kembali ke markas, bawa gadis itu!" ujar pimpinan Bhayangkara itu dingin sambil memandang ke arah Cahaya yang semakin histeris karena melihat pak Nengah dan Sekar terkulai tak bergerak.
"Bakar dan hanguskan rumah ini!"
"Dan jangan biarkan seorang pun keluar dari rumah ini." pekiknya kembali.
Berapa orang bergegas mengunci setiap kamar yang ada di rumah itu dari luar, sebelum membakar dinding dan kayu bangunan rumah itu yang telah di sirami minyak.
Terdengar dari balai Dauh teriakan dan tangisan anak kecil meminta tolong namun suara itu tak dihiraukan oleh para Bhayangkara itu. Mereka tetap menutup rapat setiap kamar dan membakarnya.
Melihat hal itu Cahaya semakin histeris dan meronta sekuat tenaga, gadis itu melepaskan diri dari dekapan kedua Bhayangkara yang menggelandangnya. Gadis itu berlari ke arah bangunan balai Dauh yang mulai terbakar dimana terdapat ibunya yang terbaring sakit dan Raya Suci keponakannya, beberapa orang menahan dan memukul Cahaya, gadis itupun roboh dan pingsan diantara para Bhayangkara yang semakin beringas membakar kediaman pak Nengah.
Bangunan yang terbuat dari kayu dan beratapkan ijuk serta siraman minyak pada kayu dan dinding rumah membuat api berkobar semakin besar walaupun beberapa waktu yang lalu di guyur hujan.
Suara Kulkul bulus bersahutan di banjar Manguntur menandakan sebuah peristiwa genting telah terjadi, suasana semakin mencekam dan terlihat warga keluar rumah membawa berbagai senjata tajam menuju ke rumah Jero Perbekel yang terlihat terbakar, asap mengepul dan kobaran api semakin membesar.
__ADS_1
***
Sementara di tempat lain, tepatnya di batas dusun Galuh terlihat dua orang menyusuri pematang sawah terakhir dan mulai mendaki sebuah bukit dengan jalan setapak yang licin akibat guyuran hujan.
Tiba-tiba salah satu dari kedua orang itu menghentikan langkah kakinya dan terlihat gelisah,
"Kenapa berhenti, Bin?"
"Bukannya kediaman Resi Giri waja sudah dekat."
"Itu sudah mulai terlihat angkul-angkul kediaman beliau." tunjuk salah seorang itu yang tak lain Sariwati pada bangunan tak jauh di depannya.
Sebuah Bangunan megah khas Negeri pantai terlihat gagah berdiri di atas bukit yang di lalui Muhibbin dan Sariwati.
"Entahlah, Wati."
"Hatiku berdegup kencang tanpa sebab."
jawab Muhibbin pada Sariwati kekasihnya, kecemasan terlihat di wajah pemuda itu, matanya nanar dan tak disadarinya buliran air mata menetes di pipinya.
"Hai, kenapa kau menangis."
"Ada apa, Bin?" tanya Sariwati keheranan, gadis itu menggenggam tangan Muhibbin.
"Entahlah, Wati."
"Perasaanku tiba-tiba tak enak."
"Emak?"
"Ya Allah, semoga tak ada apa-apa di Manguntur." jawab Muhibbin singkat, dibenaknya tiba-tiba terlintas wajah ibu, kakak dan keponakannya. Pemuda itu terlihat menyeka air matanya dengan kain surban yang selalu melingkar dilehernya.
"Semoga tak terjadi apa-apa dengan Emak, Bin." hibur Sariwati pada kekasihnya.
"Ayo kita lanjutkan lagi, kediaman Sang Resi sudah terlihat didepan kita." imbuhnya kembali.
Muhibbin menganggukkan kepalanya dan keduanya pun kembali melangkah menyusuri jalan setapak menuju Griya Manuaba kediaman Resi Giri Waja yang tak jauh dihadapannya walaupun hatinya masih gundah gulana tanpa sebab.
*******
Note :
**Kain Anteng : kain selendang
*Kulkul Bulus : suara kentongan tanda bahaya*
__ADS_1