
Setelah para warga membubarkan diri, Jero Perbekel pun meninggalkan balai banjar Manguntur. Di sepanjang perjalanan lelaki paruh baya itu tak henti memikirkan ancaman yang di lontarkan oleh Sanglir mengenai siapa di balik perampasan sepihak tanah-tanah warga yang melibatkan keluarga dinasti Garuda Emas.
Tak selang berapa lama pria tua itu memasuki halaman rumahnya, di parkirnya kereta angin yang di kendarainya di sebelah angkul-angkul rumah dan dilihatnya di dalam rumah ada keramaian banyak orang yang tak seperti biasanya. Melihat kedatangan pak Nengah orang-orang yang bercengkrama di serambi balai Dangin bangkit menghampiri lelaki paruh baya itu.
"Ajik!" sapa Muhibbin pada pak Nengah.
Pak Nengah yang melihat kehadiran pemuda yang menyambut di hadapannya tersenyum sumringah.
"Nak Bagus! kapan kau datang, Gus?
"Rupanya ada banyak tamu!" ujar lelaki tua itu melihat kearah orang-orang disekitarnya, senyum ramah pak Nengah tersungging.
Muhibbin mencium tangan pak Nengah di ikuti oleh Cahaya dan raya suci.
"Tadi sebelum sandikala kami tiba, Jik." ujar pemuda itu.
"Perkenalkan jik, ini kakak dan keponakan saya dan ini ibu saya." imbuh Muhibbin memperkenalkan satu-persatu anggota keluarganya. Suratmi menangkupkan tangannya menyapa pak Nengah, sedangkan Pasek hanya tersenyum pada pak Nengah.
"Gadis cantik ini pasti Raya suci?" ujar pak Nengah tersenyum.
"Dan ini pasti Ni Mas Cahaya, kakak Nak Bagus." imbuh pria tua itu.
Cahaya dan Raya Suci menganggukkan kepala sambil membalas senyuman pak Nengah.
"Selamat datang Bu, di gubuk saya yang sederhana ini." ujar pak Nengah kembali pada Suratmi. Lelaki tua itu duduk diantara para tamunya.
"Saya sangat berterimakasih sekali atas pertolongan dan bimbingan Bapak selama ini pada putra saya," ujar Suratmi pada pak Nengah, Wanita tua itu terlihat menitikkan air mata haru atas segala pertolongan pak Nengah pada Muhibbin putranya.
__ADS_1
"Ibu tak perlu sungkan, saya sudah menganggap Nak Bagus seperti anak saya sendiri dan dengan kehadiran Nak Bagus disini bersama saya dan Sekar, mengobati kerinduan kami pada almarhumah kakaknya Sekar. Jadi semua itu tak perlu menjadi beban dan hutang budi pada Ibu. ujar pak Nengah pada Suratmi. Sekar yang duduk di sebelah pak Nengah hanya tersenyum tipis.
"Oh ya Gus, siapa pria ini? sedari tadi dia hanya tersenyum tanpa sepatah kata pun." tanya pak Nengah pada Muhibbin dan pandangan matanya tertuju pada Pasek yang ada di sebelah Muhibbin. Lelaki bisu itu hanya menganggukkan kepa ke arah pak Nengah,
"Dia ini Bli Pasek, Jik." jawab Muhibbin pada pak Nengah
"Bli pasek ini adalah parek dari Gus Aji Putra dari banjar Gelumpang dan dia yang mengantar kami hingga sampai di Manguntur." imbuh pemuda itu pada pak Nengah.
Muhibbin menceritakan semua yang terjadi selama dalam perjalan menuju ke Negeri Pantai, dia menceritakan bagaimana kebaikan Gus Aji Putra dan cucunya yang telah merawat sakit ibunya dan memberi tumpangan menginap pada dirinya sekeluarga. Pak Nengah manggut-manggut mendengar cerita Muhibin, kemudian lelaki tua itu berkata pada putrinya Sekar,
"Ning, apa kamu sudah persiapkan perjamuan untuk pra tamu kita ini?"
"Dan kamu siapkan balai Dauh untuk tempat mereka beristirahat." ujar pak Nengah pada Sekar. Gadis itu berkata pada ayahnya,
"Sampun jik, semua sudah siap."
"Ya sudah, tolong kamu siapkan makan malam untuk kita semua." pungkas pak Nengah.
Sekar dibantu Cahaya dan raya Suci mempersiapkan hidangan makan malam sementara Pasek keluar rumah untuk mengurus kereta kudanya. Di balai dangin itu hanya menyisakan pak Nengah, Muhibbin dan ibunya.
"Nak Mas, apakah telah kau ceritakan semua pada ibumu tentang rencana mu melamar Ni Mas Sariwati?" tanya pak Nengah memulai pembicaraan.
"Sampun jik, makanya beliau ikut datang kemari walaupun sebenarnya kondisi kesehatan beliau masih belum pulih akibat musibah yang di alami sebelum kedatangan saya di kampung halaman," Muhibbin menceritakan semua yang terjadi yang menimpa ibu dan kakaknya sebelum kedatangannya di Negeri Batu Ular termasuk tentang gerombolan suruhan keluarga dinasti Garuda Emas sebagaimana ciri-ciri yang diketahuinya dari Gus Aji Putra sang Balian tua dari banjar Gelumpang.
Mendengar penuturan anak angkatnya, pak Nengah terkesiap apalagi mendengar nama dinasti Garuda Emas di sebut-sebut pula dihadapannya. Pria paruh baya itu tak bisa menutupi kecemasannya yang terpancar di wajahnya dan dia pun berkata,
"Hal ini harus segera aku laporkan pada tuan gubernur, apalagi tadi di paruman dengan para warga kita juga menghadapi masalah yang di sebabkan oleh keluarga Garuda Emas."
__ADS_1
Perasaan Muhibbin ikut berkecamuk setelah mendengar penuturan pak Nengah, pemuda itu ikut merasa geram atas kesewenang-wenangan yang dilakukan keluarga besar Garuda Emas. Suratmi yang berada di samping Muhibbin terdiam seribu bahasa namun dalam benak wanita tua itu ada rasa kekhawatiran pada putra bungsunya setelah mengetahui bahwa orang-orang yang menyerangnya waktu itu adalah orang suruhan keluarga Garuda Emas.
Pembicaraan mereka terhenti tatkala Sekar yang di bantu oleh Cahaya dan Raya Suci datang menghampiri ketiganya dengan membawa nampan berisi hidangan makan malam. Di tatanya hidangan itu di balai Dangin tempat mereka berkumpul. perbincangan ringan diselingi tingkah lucu Raya Suci menghiasi acara makan malam itu.
***
Waktu tak terasa berlalu, hampir sepekan Muhibbin dan keluarganya berada di Negeri Pantai, sejak kedatangannya Muhibbin dan keluarganya tinggal di rumah pak Nengah. Rumah yang biasanya sepi itu kini mulai berwarna sejak kedatangan keluarga besar Muhibbin.
Siang itu udara cerah menggelayuti banjar Manguntur, terlihat pak Nengah sedang berbicara serius di hadapan Muhibbin dan keluarganya tak luput pula Sekar ikut dalam pembicaraan itu. Lelaki tua berkata pada Muhibbin.
"Gus, Ajik tadi pagi telah menghadap tuan Timoti di kediamannya. Sebagaimana yang kamu ketahui, tuan gubernur adalah salah satu wali dari Ni Mas Sariwati dan ajik telah utarakan niatan mu untuk meminang Ni Mas Sariwati pada tuan gubernur." ujar pak Nengah, lelaki tua menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Pada intinya beliau tak mengatakan ya atau tidak tentang niatan mu itu, namun beliau berpesan agar kau dan keluargamu datang ke kediaman beliau dan menyampaikan apa yang menjadi tujuanmu sekaligus ingin mengetahui serta mengenal dirimu dan seluruh keluargamu secara langsung, Ajik sudah sampaikan semuanya pada tuan Timoti dan beliau mengundang kalian datang nanti sore selepas sandikala, karena nanti itu ayah dan ibu dari Ni Mas Sariwati beserta beberapa keluarganya akan mengadakan pertemuan di kediaman beliau."
"aku tak tau apa yang akan mereka sampaikan pada mu namun yang pasti kau harus persiapkan segalanya sebelum menemui beliau." ujar pak Nengah pada Muhibbin dan orang-orang di depannya.
"Benar itu Le, apa yang di sampaikan pak Nengah itu adalah Tembung Tutur dan Congkog dari pihak laki-laki ke pihak wanita. Hal itu wajar,karena secara etika dan unggah-ungguh kita harus Nontoni calon mu dan bagaimana keberadaan keluarganya sebagai itikad baik kita untuk melangkah meminang anak gadis mereka." ujar Suratmi menimpali pada anak lelakinya.
"Bagaimana Gus, apa kamu sudah siap?" tanya pak Nengah pada Muhibbin.
Pemuda itu dengan lirih berkata, "Kalau saya terserah bagaimana baiknya menurut ajik dan emak. Insya Allah saya sudah siap dengan segala sesuatunya." ujar Muhibbin.
-------------------------------
*Tembung tutur : mengutarakan maksud
*Congkog : keluarga laki-laki mengutus duta atau perwakilan untuk menanyakan dan mendapatkan informasi mengenai calon pengantin wanita yang akan dilamar.
__ADS_1
*Nontoni : memperkenalkan kedua calon mempelai dan keluarga masing-masing sebelum melakukan acara pinangan