
"Pak Jero, Aku juga mohon ijin keluar sebentar. Ada yang harus segera ku selesaikan." ujar Sariwati pada Jero Balian.
"Ni Mas mau kemana?" kata lelaki tua itu.
"Aku hendak berkunjung ke kawanku di manguntur, pak Jero."
"Nanti jika ada orang suruhan pamanku datang, bilang saja aku ke Surau An Nur dan mereka tak perlu menunggu ku, karena aku akan langsung menuju kediaman paman ku di Villa Sandat di desa Batubulan."
"Baik, Ni Mas. Nanti akan saya sampaikan pesan Ni Mas Wati." jawab lelaki tua itu sambil mengangguk.
Tak selang berapa lama, Sariwati menaiki kereta anginnya menuju Surau An Nur tempat Muhibbin. Di jalanan kota Negeri Pantai Masih terlihat ramai siang itu, lalu lalang warga masih hilir mudik menuju pura untuk melaksanakan persembahyangan Kajeng Kliwon.
Hampir satu jam Sariwati mengayuh kereta anginnya, terlihat di ujung bukit yang tak jauh dari tempatnya berada Surau An Nur berdiri anggun. Kiri kanannya di kelilingi persawahan yng menghijau, air yang mengalir di subak terlihat jernih.
Sariwati menuntun kereta anginnya melalui jalanan yang menanjak menuju Surau An Nur. Dia terlihat menyandarkan tunggangannya di sebelah angkul-angkul, tangan lentiknya mendorong pintu kayu Surau dan melangkah memasukinya.
"Assalamualaikum, Bin! Muhibbin!" gadis itu melangkah ke belakang Surau. Di bagian belakang tak dijumpainya seorang pun.
"Kemana anak itu?" gumam Sariwati.
Suasana sunyi Surau An Nur masih terasa.
"Bin, Mihibbin!" ujar Sariwati kembali.
"Kemana sih anak itu, tumben sepi sekali?"
Lamat-lamat terdengar suara seruling merdu dari kejauhan, mata Sariwati menyapu mencari datangnya suara itu.
Tak jauh dari Surau An Nur ditengah sawah terlihat sebuah pondok beratapkan ilalang dan seorang lelaki duduk sambil mainkan serulingnya.
Mata Sariwati mengamati lekat pada seseorang yang ada di pondok itu.
"Oh ternyata kau di sana, Bin." gumam gadis itu kembali.
Di melangkahkan kaki jenjangnya diantara pematang sawah dan tak berapa lama dia sudah berada di dekat Muhibbin.
"Bin, disini kau rupanya!"
"Aku mencarimu di Surau gak ada."
Ujar Sariwati pada pemuda yang duduk di balai bambu pondok itu.
"Eh kamu, Wati!"
"Sudah tadi atau baru sampai?"
Muhibbin mempersilahkan gadis didepannya duduk di dekatnya. Mulutnya masih sibuk meniup alat musik yang dipegangnya. Sariwati tertegun mendengar alunan seruling yang dimainkan Muhibbin. Alunan merdu dari alat tiup itu membiusnya seolah merasakan apa yang dirasakan oleh peniupnya.
"Sudah sebulan kita tak bertemu, Wati!"
"Bagaimana kabar mu?" kini Muhibbin menghentikan permainan alat musiknya.
"Aku baik-baik saja, Bin! Kamu sendiri bagaimana?" jawab gadis itu sambil memandang lelaki yang ada di dekatnya, ada rasa kerinduan terpancar dari bola mata keduanya ketika saling bertatapan.
"Aku juga baik, Wati. Cuma di rumah ayah angkatku beberapa hari kemarin sedikit sibuk karena aku harus bantu-bantu disana menyiapkan haul meninggalnya ibu Sekar, tapi syukurlah semua berjalan lancar." ujar Muhibbin.
"Tumben siang-siang terik gini kamu datang ke mari?" tanyanya lagi.
"Iya nih Bin, Aku ingin ngasih kabar bahwa aku akan diam di sini juga, tepatnya di rumah tuan gubernur yang ada di ujung desa Batubulan berbatas langsung dengan Banjar Manguntur." Sariwati menceritakan rencana kepindahannya dari kota Negeri Pantai pada sahabatnya.
"Tuan gubernur sangat baik dan perhatian padamu, Wati. Kulihat beliau memperlakukan dirimu layaknya putrinya sendiri." ujar Muhibbin.
"Ya Bin, Kau benar. Beliau sangat baik padaku, di negeri ini hanya beliaulah dan dirimu yang sangat memperhatikan ku." pungkas gadis itu, hingga saat ini Sariwati belum pernah bercerita siapa dirinya dan hubungannya dengan tuan gubernur pada sahabatnya ini.
"Bin, aku ingin cerita ke kamu tentang aku dan keluarga ku."
__ADS_1
"Aku harap cukup dirimu saja yang tau siapa aku dan latar belakangku." kata gadis ayu itu pada Muhibbin.
Lelaki itu menganggukkan kepala dan hanya terdiam mendengarkan apa yang diucapkan sahabatnya.
"Sebenarnya tuan Timoti itu paman ku, Bin. Aku pun awalnya tak mengetahuinya, tapi sejak kejadian penyerangan itu baru aku tau kalau beliau adalah pamanku." ujar Sariwati kembali.
Muhibbin masih terdiam menyimak cerita sahabatnya.
"Aku ini adalah keturunan dari dinasti Garuda Emas dan ibuku serta tuan Timoti itu masih ada hubungan saudara walaupun saudara jauh."
"Lalu mengapa kau bisa menjadi seperti itu Wati, mohon maaf layaknya gelandangan?" tanya Muhibbin hati-hati.
Gadis itupun mulai menjelaskan pada Muhibbin,
"Tentang itu karena kesalah pahaman yang terjadi di keluargaku dan diriku dihukum serta diusir oleh ayahku."
"Bagaimana bisa?" ujar Muhibbin kembali.
"Baiklah, mungkin saat ini aku ceritakan semuanya padamu tapi aku mohon padamu ini hanya kita berdua yang tau!" Sariwati memastikan pada lelaki didepannya sebelum bercerita lebih jauh.
"Kau bisa mempercayai ku, Wati." ujar Muhibbin.
"Semua berawal dari lelaki bajing*an itu, Dia telah membuat kehidupanku seperti saat ini." ada kegeraman terlihat di wajah gadis itu, Sariwati mulai bercerita latar belakangnya hingga sampai ke Negeri Pantai. Bagaimana Setyanto mencoba memperkosanya dan membuat cerita yang diluar kendalinya dan kutukan dari sang ayah hingga dirinya bisa sembuh seperti semula serta tentang bagaimana dia bisa berpenampilan layaknya gelandangan yang berjalan tak tentu arah dari negeri satu ke negeri yang lainnya hingga bertemu Muhibbin di Negeri Pantai ini.
"Semua ini tak lepas dari perbuatan juragan Yanto ternyata?" gumam Muhibbin.
"Sudahlah Bin, Aku tak mau mendengar nama itu lagi disebut-sebut di depan ku."
"Aku ingin memulai hal yang baru, kehidupan baru layaknya manusia normal dan di negeri ini semua ku temukan apa yang kucari selama ini." ujar Sariwati kembali.
"Jadi kau berniat menetap disini, Wati? dan tak akan kembali ke Negeri Banjir menemui orang tuamu?"
"Suatu saat aku akan kembali menemui orang tua ku, namun aku lebih memilih menetap disini karena ada orang-orang yang benar-benar peduli pada ku." jawab Sariwati.
"Oh ya Bin, tentang perasaan ku pada mu itu benar. Aku menyukaimu Bin, perasaanku tak bisa ku tahan bila bersama dirimu." kini Sariwati menatap lekat mata Muhibbin.
"Apa kau tak menyukaiku, Bin?" kembali gadis itu bertanya pada pemuda didepannya.
"Bukan begitu, Wati. Kamu gadis yang cantik dan menarik apalagi setelah kau ceritakan siapa dirimu serta latar belakangmu, Aku serasa tak ada arti di depan mu." ujar Muhibbin lirih dan terlihat keringat bercucuran di keningnya.
"Apakah itu alasanmu saja menolakku, Bin."
"Atau kau sudah memiliki orang lain di hatimu?" tanya gadis itu mulai tertunduk.
"Bukan itu, Wati. Sejak kejadian dipantai itu aku juga selalu memikirkan apa yang kau katakan saat itu."
"Tapi kau tau sendiri siapa aku, Wati. Lelaki tak punya yang masih menanggung beban sebuah keluarga. Apakah kau akan menerimaku apa adanya, menerima keadaan keluarga ku? karena dalam prinsip hidupku aku tak mau main-main apalagi dalam sebuh hubungan." jelas Muhibbin.
Sariwati hanya tertunduk, terlihat di sudut matanya menetes air bening yang meleh di pipinya ynag sehalus pualam.
"Aku bisa menerimamu apa adanya, Bin! tapi apakah perasaanku ini bertepuk sebelah tangan?" ujar gadis itu kembali.
kini dia mulai terisak.
"Tidak Wati, perasaan kita sama. Namun diriku tak punya apa-apa yang bisa ku berikan padamu."
"Cintamu saja sudah cukup bagiku, Bin! Aku tak mengharapkan yang lainnya, kita bisa berjuang bersama saling isi dan melengkapi." kini wajah tertunduk itu mulai berani menatap pria didepannya.
"Aku mencintai mu, Bin!" ujar Sariwati.
Nafas Muhubbin berat, di helanya dalam-dalam udara yang terasa sesak di dadanya dan dengan terbata Muhibbin berkata,
"Aku juga dan tolong ajari aku mencintai, Wati!"
direngkuhnya jari jemari sariwati .
__ADS_1
Binar netra pasangan muda mudi ini menggambarkan suasana perasaan satu dengan lainnya.
Muhibbin mengambil kertas yang tergelak disampingnya dan menyerahkannya pada Sariwati.
"Itu kutulis saat setelah kita bertemu dipantai waktu lalu, Wati."
"Khusus ku buatkan untukmu."
"Apa ini, Bin?" ujar gadis itu.
"Bacalah, Kau akan tau setelah membacanya." jawab Muhibbin.
Sariwati membaca bait demi baik untaian kata yang ditulis Muhibbin untuknya,
Senja hitam ditengah ladang
Dihujung permatang engkau berdiri
Putih diantara ribuan kembang
Langit diatas rambutmu
Merah tembaga
Engkau memandangku
Bergetar bibirmu memanggilku
Basah dipipimu air mata
Kerinduan dan kedamaian
Pagi, engkau berangkat hati mulai membatu
Malam, kupetik gitar dan terdengar
Senandung ombak dilautan
Menambah rindu dan gelisah
Adakah angin gunung, adakah angin padang
Mendengar keluhanku, mendengar jeritanku
Dan membebaskan nasibku
Dari belenggu sepi
Sang bayu sampaikanlah salamku padanya
Salam penuh kerinduan
Karena kata telah kehilangan rasa
Bait-baik kehilangan makna
Yang tersisa hanya doa
Bahwa disini masih ada penantian jiwa yang setia
Setelah membacanya, Sariwati tersenyum penuh makna ke arah Muhibbin.
"Terimakasih, Bin."
"Kita akan selalu bersama dan aku akan abdikan sisa umur ku bersama mu dan tak akan ada yang bisa pisahkan kita selain kematian." pungkas dara ayu itu.
__ADS_1