KAHANAN

KAHANAN
CH - 148 PERTEMUAN PART II


__ADS_3

"Siapa namamu, Nduk?" Ucap Muhibbin dengan suara bergetar, matanya mulai mengembun, lidahnya terasa kelu dan degub jantungnya berdebar kencang.


Dengan canggung gadis kecil itu berkata,


"Nama saya Mutiara Rahmani, bunda dan eyang memanggil saya dengan Tiara." Jawabnya dengan lugu.


"Mutiara Rahmani ... nama yang indah." Ucap Muhibbin lirih.


Pandangan Muhibbin tak henti-hentinya menatap gadis kecil di dekatnya.


"Wajahmu cantik seperti ibumu, Nduk."


"Namamu mengingatkanku pada kecintaan ibumu pada salah satu surat didalam Al Quran, dulu Ibumu sangat gemar membaca surat Ar Rahman dan setiap saat melantunkannya ketika masih berada di Surau An Nur." Gumam Muhibbin dalam hati sambil melirik ke arah Sariwati yang tak henti-henti menyeka air matanya.


Tiara hanya tertunduk , gadis kecil itu terlihat kikuk dan bingung apa lagi yang akan dikatakan pada lelaki yang terbaring dihadapannya. Namun tiba-tiba gadis kecil itu berkata,


"Apakah Tiara boleh bertanya sesuatu?" Ucap gadis kecil itu canggung.


Muhibbin hanya tersenyum dan menganggukkan kepala mendapati anak perempuannya gugup didepannya.


Dengan perasaan ragu, Tiara kembali berkata,


"Kata Bunda, ayah telah meninggal sebelum Tiara dilahirkan."


"Benarkah paman ini adalah ayahku?" Tanya gadis kecil itu singkat, wajahnya yang polos dengan tatapan penuh tanya laksana anak panah yang menghujam dada Muhibbin.


Semua yang ada ditempat itu terhenyak mendengar pertanyaan Tiara pada Muhibbin. Pandangan setiap orang kini tertuju pada Sariwati yang masih menunduk dan tengelam dalam tangisannya.


Dengan menghela nafas dalam-dalam, Muhibbin menjawab keraguan putrinya.


"Mungkin maksud bundamu agar dirimu bisa merelakan ayah, Nduk."


"Karena ayah tak pernah ada disisi kalian." Ucapnya pelan.


"Memang tak sepantasnya ayah hadir dalam kehidupan kalian."


"Maafkan ayah, Nduk." Pungkas Muhibbin pada anaknya, ada pergolakan dalam batin Muhibbin tatkala menjawab pertanyaan Tiara, ada rasa kecewa dan sakit mendapati kenyataan bahwa dirinya telah dianggap mati oleh Sariwati dan saat ini berhadapan dengan buah cintanya.


"Mengapa ayah tak pernah mencari Tiara dan Bunda selama ini."


"Apa ayah tak sayang pada Tiara dan Bunda?" Tanya Tiara kembali.


Muhibbin hanya menggeleng dan tak kuasa menjawab pertanyaan anaknya.


"Ayah sangat sayang dengan kalian, Nduk."


"Saat ini mungkin dirimu tak akan mengerti mengapa semua itu terjadi."


"Kelak jika kau sudah besar akan paham bagaimana rumitnya kehidupan orang dewasa."


"Keadaanlah yang menjadi penghalang dan memisahkan kita." Ucap lelaki itu lirih. Disentuhnya pipi Tiara dengan tangan kirinya, ada rasa haru melihat gadis kecil didepannya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.

__ADS_1


"Ayah sangat senang bisa bertemu dengan putri cantik ayah ini."


"Mungkin ayah selama ini tak bisa menjadi orang tua yang baik bagi Tiara,"


"Dan ayah tak apa-apa jika selama ini ayah dianggap sudah tidak ada."


Kini air mata lelaki itu tak tertahankan lagi.


"Semua ini salah ayah, Nak."


"Jika ayahpun setelah ini tiada, ayah tak akan menyesal karena telah bertemu dan tau jika memiliki putri yang baik seperti dirimu, Nduk."


"Ayah harap, Tiara memaafkan kesalahan ayah selama ini." Ucap Muhibbin dengan senyuman pahit. Deraian air mata tak dapat ditahannya lagi.


Setelah menatap dalam-dalam dan menjawab pertanyaan putrinya, Muhibbin membalikkan badannya memunggungi orang-orang yang ada ditempat itu. Perasaannya hancur mendapat pertanyaan dan pengakuan putri semata wayangnya.


"Maafkan aku, Bin."


"Aku tak bermaksud seperti itu." Timpal Sariwati lirih melihat reaksi Muhibbin. Wanita itu terlihat merangsek maju mendekati Tiara.


"Aku bingung harus menjawab apa setiap kali anak kita menanyakan tentang ayahnya." Ucapnya kembali sambil mendekat ke pembaringan.


Sementara Tiara yang belum tahu apa-apa hanya termangu memandang bundanya yang menangis. Langkahnya surut mendekat kearah sang Ibu. Sementara Nyonya Warika pun terlihat mendekat ke arah Sariwati.


"Mami sangat kecewa padamu, Wati."


"Hal sebesar ini tak pernah kau ceritakan pada Mami dan Papi." Ucap nyonya Warika berbisik pada Sariwati namun terdengar jelas oleh orang-orang di ruangan itu.


"Apalagi kau meracuni pikiran Tiara dengan mengatakan bahwa ayahnya telah mati." Pungkas istri tuan Bendowo itu pada anak. Wajah wanita tua itu terlihat kusut memandang putrinya yang terus menangis.


"Wati tak ada jawaban lain untuk menjelaskan pada Tiara tentang siapa ayahnya dan ada dimana saat itu." Ucapnya sambil sesenggukan.


Wanita itu terlihat menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya.


"Hanya ayah Timoti lah yang tau akan semua hal ini."


"Setelah ayah tau kebenarannya, mengakibatkan beliau meninggal karena memikirkan apa yang Wati alami."


"Wati tak ingin membebani Papi dan Mami. Wati khawatir apa yang ayah Timoti alami juga akan di alami oleh Papi dan Mami."


"Wati saat itu dalam posisi sulit, apalagi keadaanku sakit dan lumpuh. Aku tak bisa mengasuh Tiara sepenuhnya." Ujar Sariwati menjawab pertanyaan Ibunya.


"Tapi kau tak harus berbohong seperti itu , Wati."


"Masih ada cara lain yang bisa menjadi jalan keluar dari semua permasalahanmu." Ucap nyonya Warika kembali, sementara wajah tuan Bendowo terlihat merah padam menahan kekecewaan, sementara lainnya hanya terdiam menyaksikan perdebatan keduanya.


"Bukankah Papi dan Mami yang selama ini tak merestui hubungan kami berdua."


"Apakah mungkin aku mengatakan semuanya tatkala penolakan keras akan hubunganku dengan Ibbin hingga perjodohan dengan Seto kalian paksakan." Jawab Sariwati pada sang Ibu.


"Wati ... sadarkah dirimu akan apa yang kau katakan baru saja?"

__ADS_1


"Apa kau tak pertimbangkan perasaan anakmu saat ini." Hardik nyonya Warika. Wanita tua itu tetlihat berang dengan jawaban yang diberikan Sariwati padanya.


"Sudah ... cukup!"


"Kalian tak perlu bertengkar hanya gara-gara iba padaku."


"Tolong tinggalkan aku sediri!" Ujar Muhubbin tersenga-sengal mendengar pertengaran Sariwati dan nyonya Warika. Nafasnya terlihat memburu diselingi batuk yang tak henti-henti.


Melihat gelagat perubahan kondisi Muhibbin, Resi Giri Waja yang sedari tadi mengamati kejadian didepannya mendekat dan memeriksa Muhibbin.


Tangan tuanya terlihat mencengkram lengan pemuda yang terbaring didepannya. Dengan hati-hati disentuhnya nadi dipergelangan Muhibbin.


"Putra, Mirah ... tolong cepat bantu aku."


"Yang lainnya tolong tinggalkan ruangan ini." Seru Resi Giri Waja dengan wajah serius.


Gus Aji Putra dan Gung Niang Mirah nampak mulai memberikan pertolongan pada Muhibbin. Sementara pemuda itu kini terus terbatuk dan nafasnya mulai semakin tersengal. Dari hidungnya keluar cairan merah yang nampaknya darah segar dan mulutnya mulai memuntahkan cairan yang bercampur darah pula.


"Bapa Resi ... apa sebenarnya yang terjadi pada pemuda ini? Tanya tuan Bendowo dengan wajah terkejut mendapati perubahan yang sangat cepat terjadi pada Muhibbin.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya,Tuan."


"Organ tubuh Muhibbin sebagian besar tidak bekerja secara normal."


"Keadaan inilah yang terjadi saat ini."


"Reaksi kejiwaannya pun mempengaruhi kondisi tubuhnya." Jawab Resi Giri Waja.


"Tapi apakah masih bisa tertolong, Bapa Resi." Tanya tuan Bendowo kembali.


Dengan menghela nafas, Sang Resi kembali berkata.


"Kita serahkan semuanya pada Dewata, saya hanya sebatas berusaha. Namun hasilnya yang maha kuasa yang menentukan."


"Untuk saat ini, tolong tuan bawa keluarga tuan keluar dari ruangan ini." Pungkas Resi Giri Waja di balas anggukan kecil tuan Bendowo.


Namun tiba-tiba Sariwati menyela pembicaraan ayahnya dan Resi Giri Waja.


"Bapa Resi ... apakah boleh saya tetap berada diruangan ini?"


"Saya sedikit banyak tau ilmu pengobatan."


"Biarkan saya turut membantu Muhibbin." Ucap Sariwati memohon pada Resi Giri Waja.


Namun dengan senyuman lembut dan gelengan kepala sang Resi menjawab,


"Tidak perlu, Ni Mas."


"Kami bertiga masih bisa menangani Nak Mas Muhibbin."


"Kau tunggulah diluar saja bersama keluargamu." Tolak Resi Giri Waja halus.

__ADS_1


Kini semua orang telah keluar dari ruangan menyisakan Resi Giri Waja, Gus Aji Putra dan Gung Niang Mirah yang terlihat membantu mengobati Muhibbin.


***


__ADS_2