KAHANAN

KAHANAN
CH 105 - FATWA PEJUBAH SENJA


__ADS_3

Hari demi hari berganti, bulan demi bulan pun berlalu, genap delapan bulan sejak kejadian tragis yang menimpa banjar Manguntur tepatnya peristiwa pembantaian keluarga besar Muhibbin yang menewaskan Jero Mekel Nengah Wirata, bu Suratmi dan Cahaya menyisakan tanda tanya besar di hati para warga desa Batubulan itu.


Penyelidikan yang dilakukan tuan Timoti beserta para Bhayangkara hanya membongkar pelaku-pelaku lapangan saja, namun aktor utama dibalik kekejaman itu hingga saat ini belum terkuak.


Gubernur Negeri Pantai dan Bhayangkara telah resmi menutup kasus itu dengan dihukumnya Wakil Prawira Utama Bhayangkara sebagai pelaku utama serta salah satu warga Manguntur bernama Sanglir yang terlibat dalam organisasi terlarang dibawah binaan Wakil Prawira Utama Bhayangkara sebagai eksekutor lapangan bersama beberapa orang yang tak jelas asal usulnya.


Hukum seolah-olah menjauh dan memilih siapa yang akan disentuhnya, derita masyarakat kecil dan kaum papa hanya ditakdirkan sebagai pelengkap sebuah skenario yang ditutupi oleh sang penguasa.


Siang itu di sebuah Surau yang nampak lengang, seorang Pemuda dan seorang gadis remaja berkerudung hitam nampak membersihkan dua pusara yang mulai ditumbuhi rumput-rumput liar, keduanya tak lain Muhubbin dan Raya Suci keponakannya.


Dengan tatapan nanar Pemuda itu menatap gadis kecil disebelahnya yang masih asik mencabuti rumput-rumput liar,


"Nduk, istirahatlah dulu."


"Pak Lik rasa, sudah cukup hari ini kita bersihkan makam Mbah Uti dan Bu Lik Cahaya."


"Apa kamu ingin Pak Lik buatkan makanan?"


"Tadi pagi Pak Lik belanja bahan-bahan di pasar." ujar Muhibbin lirih pada keponakannya yang bersimpuh di sebelahnya, tangannya membelai lembut rambut gadis kecil itu.


"Gak usah, Pak Lik."


"Raya belum lapar, tadi sebelum kemari dari rumah, Raya dimasakkan oleh Mbak Yu Sekar." jawab Raya Suci pada sang Paman.


"Oh begitu, ya."


"Ya Sudah, sekarang kau bersihkan badanmu dulu setelah itu kita sembahyang bersama-sama."


"Waktu dzuhur sudah hampir masuk." ujar Muhibbin kembali pada sang Keponakan.


"Nggih, Pak Lik." jawab Raya Suci singkat, gadis kecil itu bangkit dari tempatnya bersimpuh dan melangkah ke arah belakang Surau An Nur.


Pandangan Pemuda itu lekat pada Raya Suci, tak terasa mata Muhibbin berkaca-kaca melihat punggung Keponakannya berlalu dari hadapannya, Gadis kecil itu berjalan terseok-seok dengan bantuan tongkat ditangannya, kerudung hitam yang menutupi kepalanya tersibak tertiup angin dan nampak terlihat kulit mukanya yang putih pucat berkerut bekas luka bakar yang hampir meliputi seluruh wajahnya. Gadis itu berusaha menutup kerudungnya yang tersibak dengan tangan kecilnya.


"Maafkan Pak Lik, Nduk."


"Ini semua akibat kebodohan Pak Lik, sehingga membuat dirimu menderita seperti ini,"


"Duh Gusti, ampunilah segala perbuatan ku ini hingga membuat seluruh keluargaku menerima karma perbuatan ku." gumam Muhibbin dalam hati, diseka air matanya dengan ujung lengan bajunya yang nampak lusuh.


Pemuda itu menghela nafas dalam-dalam dan dia pun bangkit menyusul Raya Suci yang lebih dahulu meninggalkannya.


***


Semilir angin siang itu membelai pepohonan yang mulai tumbuh rindang di Surau An Nur, tanaman aneka bunga tumbuh rapi mengesankan semakin asri.


Sejak keluar dari tahanan pusat komando Bhayangkara delapan bulan lalu, Muhibbin menyibukkan diri merawat Surau peninggalan ayah angkatnya Jero Perbekel Nengah Wirata, karena atas kebaikan dan rasa sayang sang Ayah lah dengan membangun sebuah tempat ibadah untuknya walaupun keduanya berbeda keyakinan.

__ADS_1


Disela-sela kegiatannya meneruskan usaha yang ditinggalkan mendiang Jero Mekel dan merawat adik angkatnya Sekar dan Raya Suci keponakannya, Pemuda itu banyak menghabiskan waktu di Surau An Nur dengan merawat aneka tanaman dan sesekali menjaga kebersihan Surau serta makam dimana pusara sang Ibu dan Kakak perempuannya berada.


Setelah beberapa saat, Muhibbin keluar dari dalam Surau diikuti Keponakannya, keduanya menuju ke sebuah balai bambu yang ada di halaman depan, terlihat Pemuda itu memapah Raya Suci yang ada disampingnya.


Wajah segar bekas air wudhu tersirat di keduanya,


"Nduk, bagaimana dengan kaki dan tangan mu, apakah masih sulit di gerakkan?" tanya Muhibbin pada Raya Suci, tangan lelaki muda itu meriksa kedua tangan dan kaki keponakannya yang duduk disampingnya.


"Sampun Pak Lik."


"Sekarang kedua kakiku sudah sedikit bisa bergerak bebas dan tanganku pun sudah bisa aku gunakan seperti semula." jawab Raya Suci dengan senyuman di bibirnya.


Muhibbin mengangguk, Pemuda itu menatap lembut keponakan semata wayangnya ini, tak terasa air matanya kembali menetes tatkala melihat wajah Raya Suci didepannya, wajah yang nampak tak sempurna dengan kerutan-kerutan kulit bekas melepuh dan kelopak matanya terlihat tertarik menyempit sehingga pandangan Gadis kecil itu sedikit terganggu.


"Pak Lik kenapa menangis?"


"Apa Pak Lik malu punya keponakan cacat seperti diriku ini?" ujar Raya Suci lirih, kini dari sudut mata gadis kecil itu terlihat buliran bening menetes di pipinya. Dengan tangan gemetar Raya Suci menyentuh pipi sang Paman dan menyeka dengan saputangan yang dibawanya.


"Kalau sekiranya aku menjadi beban buat Pak Lik, lebih baik Raya pulang ke rumah mbah Kyai Bashori di kampung." imbuh gadis kecil itu kembali.


Muhibbin yang mendengar penuturan keponakannya itu tak kuasa menahan kesedihannya, Pemuda itu memeluk Raya Suci dan keduanya pun terisak.


"Jangan kau berkata seperti itu, Raya."


"Pak Lik tetap sayang denganmu, Nduk."


"Ini semua kesalahan Pak Lik."


"Hingga dirimu pun menerima akibat perbuatan Pak Lik." ujar Muhibbin masih memeluk Raya Suci, di ciumnya rambut keponakannya dengan penuh kasih.


"Tapi Pak Lik, keadaan Raya seperti ini sekarang."


"Raya tak bisa membantu pekerjaan Pak Lik."


"Aku hanya menjadi beban buat Pak Lik." ujar gadis kecil itu kembali.


"Tidak! tidak, Nduk."


"Pak Lik tidak merasa terbebani dengan keberadaan mu."


"Justru dirimu penguat bagi Pak Lik untuk


bertahan selama ini."


"Raya jangan berfikir seperti itu lagi."


"Pak Lik akan terus menjagamu sampai kapanpun." pungkas Muhibbin tanpa melepas pelukannya pada sang Keponakan.

__ADS_1


Keduanya pun larut dalam haru biru, berteman hembusan angin semilir di Surau An Nur.


Tanpa terasa sang waktu pun bergulir. Banyak hal yang disampaikan Muhibbin pada Raya Suci keponakannya, termasuk pertemuannya dengan keluarga angkatnya Sekar Jempiring dan pak Nengah Wiraya.


Dengan penuh rasa kasih, Muhibbin bercerita pada keponakannya Raya Suci mengenai perjalanan hidupnya pertama kali ke Negeri Pantai. Gadis itu mengulum senyum mendengar penuturan sang Paman, nampak kesedihan yang menghinggapi keduanya pun perlahan sirna.


Raya Suci terlihat berbaring di balai bambu itu diatas pangkuan sang Paman dan Muhibbin pun dengan lembut mengusap kepala sang Keponakan hingga terlelap di pangkuannya, sambil bersenandung pandangan Pemuda itu menerawang menyapu kearah pantai Purnama dan hamparan sawah yang terlihat indah diatas bukit dimana Surau An Nur berada.


"Jabang bayi wodhing ati kinanti


Kinanti kinanten di tuntun kang dadi werdi


Bapa biyung pawitan titi


Ngrekso peparing gusti


Rina dumugeng wengi


Tan pegat piwulang siji


Dupi karso Agomo ageming aji


Dados priyayi ing teladan bumi"


*****


Note Author:


Bagian senandung itu merupakan Syair dari Pupuh Kinanthi yang bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai berikut :


Bayi adalah jembatan hati yang berharap tuntunan


Ditunutun, digandeng itu yang menjadi artinya


Bapak Ibu selalu bermodal teliti (telaten)


Merawat amanah Tuhan Yang Maha Esa


Dari Siang sampai Malam hari


Berharap menjadi manusia yang beragama berakhlak mulia


Berharap menjadi manusia yang dihargai dalam kehidupannya di muka Bumi.


Jangan lupa rate, like, komen untuk para rider dan votenya pula bila memungkinkan, tetap semangat dan jangan lupa jaga kesehatan serta selalu berdoa walaupun kondisi akhir-akhir ini masih belum menentu.


Salam 🙏

__ADS_1


__ADS_2