KAHANAN

KAHANAN
CH 25 - KEGADUHAN NEGERI PANTAI PART VIII ( DALANG KEGADUHAN )


__ADS_3

"Kau! Ternyata kau biang fitnah dan kegaduhan ini," tuding Sariwati pada pria yang ada dihadapannya.


Dia terlihat berang melihat lelaki yang diapit dua Bhayangkara itu. Dari mulutnya terlontar sumpah serapah dan kegeraman yang tak tertahan lagi.


Melihat kegaduhan itu, tuan Timoti segera memerintahkan beberapa Bhayangkara untuk mengamankan Sariwati yang meronta penuh amarah.


"Diam!"


Kembali tuan Timoti menggebrak meja.


"Beraninya kau buat kegaduhan di negeri ini! Apa yang kau lakukan ini sangat tabu dan membuat kedamaian Negeri Pantai ini terganggu." ujar tuan Timoti pada Sariwati.


"Tapi saya tak melakukan apa-apa tuan," jawab Sariwati membela diri.


"Justru lelaki ini biang keonaran dan perusak lingkungan pantai Purnama, Tuan," kembali Sariwati berkata.


"Bohong tuan, Saya melihat sendiri bagaimana dia ngereh dan dari buntalannya mengeluarkan cahaya hijau kebiruan," kilah si Pemancing itu.


"Jangan berbohong kau! akibat bumbung peledak mu itu ikan-ikan dan terumbu karang di pantai Purnama rusak," debat Sariwati pada Pemancing didepannya.


"Bohong tuan, jangan percaya perkataan iblis betina ini!" Pemancing itu berkilah.


"Sudah cukup! hentikan perdebatan ini, kalian berdua jangan berkomentar sebelum saya tanya!" hardik tuan Timoti.


Namun tiba-tiba beberapa Bhayangkara mendekat, terjadi diskusi serius antara Prawira Utama Bhayangkara dan anggotanya. Tak berapa lama Prawira Utama menghampiri tuan Timoti dan membisikkan sesuatu. Raut wajah tuan Timoti berubah memerah dam bertambah dingin. Pandangam mata tuan Timoti menghujam kearah Pemancing didepannya. Tuam Timoti melangkah mendekati Pemancing itu dan,


"PLAAAAKKK"


Tangan tuan Timoti menampar Pemancing itu hingga lelaki dihadapannya itu tersurut beberapa langkah akibat tamparan sang gubernur.


"Kurang ajar, berani kau berbohong dan membuat kesaksian palsu!" suara tuan Timoti meninggi.


"Pasukanku telah melakukan penyelidikan, ternyata kau yang selama ini kami buru!" ujar tuan Timoti kembali.


"Ampun tuan, ampun."


Suara Pemancing itu bergetar ketakutan.


" Bhayangkara, bawa kemari semua yang kalian temukan di lokasi kejadian!" perintah tuan Timoti.


Beberapa Bhayangkara bergegas keluar mengambil bukti-bukti yang ditemukan di lokasi Surau dan pantai Purnama. Ternyata sebelum menuju ke Balai Banjar Manguntur, setelah tuan Timoti mendapat laporan dari utusan Jero Pecalang di gubernuran telah membagi pasukan Bhayangkara untuk menangani dan menyelidiki masalah yang terjadi.


Beberapa Bhayangkara kembali memasuki ruangan dengan membawa bukti-bukti yang di dapatkan dari lokasi kejadian. Terlihat dua bumbung besar terbuat dari bambu yang penuh terisi ikan dan beberapa selongsong bom ikan yang lebih dikenal dengan sebutan bondet yang belum di gunakan serta kantong berisi serpihan kayu yang terlihat gosong bekas terbakar.


"Seret Pemancing itu mendekat kemari!" perintah tuan Timoti.


Pemancing itu diseret mendekat ke arah sang gubernur yang berdiri di dekat barang bukti ditemani tuan Sirkum dan pak Nengah, sedangkan Prawira Utama Bhayangkara menjelaskan apa yang ditemukan anak buahnya.


"Ternyata lelaki ini yang kita buru tuan, dia adalah sindikat penjarah ikan dan perusak lingkungan yang mengakibatkan pantai Purnama rusak dan hasil tangkapan nelayan beberapa bulan ini menurun," jelas Prawira Utama Bhayangkara pada tuan Timoti.


"Dia melakukan penangkapan ikan menggunakan bondet sehingga terumbu karang dan ikan-ikan sulit berkembang biak," lanjut Prawira Utama Bhayangkara.


Mendengar uraian kepala Bhayangkara, tuan Timoti semakin berang, dia kembali menghampiri si Pemancing.


"Siapa yang menyuruhmu menangkap ikan dengan cara itu, pasti ada orang yang menampung semua hasil kerjamu ini?" selidik tuan Timoti.


Awalnya Pemancing itu tetap bungkam dan tak mengakui perbuatannya, namun setelah pukulan demi pukulan diterimanya dari beberapa Bhayangkara akhirnya si Pemancing itu mengaku.


"Ampun tuan, Saya hanya suruhan tuan," rintih Pemancing itu setelah tubuhnya babak belur dihajar pasukan Bhayangkara.


"Katakan, Siapa yang menyuruhmu?" kata tuan Timoti kembali.


"Ada seorang saudagar baru dari Dauh Tukat yang menyuruh saya, Tuan," jawab Pemancing itu ketakutan.


"Katakan, Siapa dan dimana alamatnya?" kembali sang gubernur bertanya.


Pemancing itu menceritakan siapa yang menyuruhnya dan dimana alamat saudagar yang dimaksud. Setelah mendengar pengakuan lelaki didepannya sang gubernur memerintahkan beberapa pasukan Bhayangkara menciduk saudagar itu.


"Amankan dan ikat lelaki ini di tiang," perintah tuan Timoti.


Dengan sigap dua orang Bhayangkara mengikat Pemancing itu di Saka Balai Banjar Manguntur.


Kini sang gubernur melangkah mendekati Sariwati yang masih terduduk lemas di lantai Balai Banjar dengan kondisi tangan masih terikat.


"Lepaskan ikatan wanita ini dan panggilkan tabib kemari untuk mengobati luka-lukanya!" perintah sang gubernur.


Tak menunggu waktu lama, Seorang lelaki tua yang tak lain adalah tabib gubernuran menyeruak masuk mendekati Sariwati. Dengan cekatan tangan rentanya melepaskan ikatan tali di tangan Sariwati dan mengambil beberapa tabung kecil terbuat dari bambu wuluh di dalam buntalan yang dibawanya. Tabib itupun mulai membersihkan dan mengobati luka-luka di sekujur tubuh Sariwati, Gadis itu hanya mengerang menahan nyeri di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Kembalikan barang-barang saya," suara Sariwati terdengar lirih.


Mendengar itu, tuan gubernur memerintahkan Prawira Utama mengambilkan barang yang dimaksud wanita didepannya. Sejurus kemudian sang pimpinan Bhayangkara menyerahkan buntalan kain dan kotak kecil kehitaman pada tuan Timoti.


Tuan Timoti menerimanya, namun alangkah terkejutnya dia setelah melihat kotak hitam yang terukir dua ekor ikan mas saling berlawanan membentuk lingkaran di bagian atas dan disekelilingnya terukir simbol kepala garuda berwarna emas itu.


"Kotak ini?"


Dengan mata terbelalak sang gubernur tak percaya melihat benda yang ada ditangannya.


"Dari mana kamu dapatkan kotak ini?" tanya tuan Timoti pada Sariwati, pandangannya tajam lekat kearah gadis itu.


"Siapa kamu sebenarnya?" lanjut tuan Timoti kembali.


Sariwati diam seribu bahasa tak menjawab pertanyaan tuan gubernur, kepalanya hanya tertunduk.


"Jawab! Siapa kamu dan darimana kamu dapatkan kotak ini?" suara tuan Timoti mulai meninggi.


"Ada apa tuan?" pak Nengah dan tuan Sirkum mendekat ke arah sang gubernur.


"Iya, apa gerangan yang tuan maksud?" tanya tuan Sirkum.


Tuan Timoti menunjukkan kotak hitam pada kedua orang didepannya, dia menjelaskan dengan rinci apa makna ukiran yang terdapat pada kotak itu.


"Ukiran ini hanya dimiliki oleh keluarga besar Garuda Emas seperti simbol ini," tuan Timoti menunjukkan ukiran di sekeliling kotak itu dan merogoh sesuatu di dari balik pakaiannya. Kalung dengan liontin bersimbol kepala garuda berwarna keemasan menyembul dari balik pakaian tuan Timoti.


"Sebaiknya hal ini kita bahas dalam ruang keamanan Balai Banjar tuan, Saya khawatir hal ini akan menjadi kehebohan di desa ini utamanya di Negeri Pantai." usul pak Nengah pada tuan gubernur.


"Baiklah," ujar tuan Timoti.


"Prawira Utama, kamu bubarkan para warga dan pasukanmu siagakan di sekeliling Balai Banjar, sementara tuan Sirkum, Jero Mekel dan gadis ini ikut saya ke dalam ruangan!" perintah tuan Timoti sambil menunjuk ke arah Sariwati.


"Siap, Tuan" jawab pimpinan Bhayangkara.


Sang gubernur melangkah kedalam ruang keamanan ditemani oleh tuan Sirkun, Jero Mekel dan Sariwati. Sebelum kedalam pak Nengah dan tuan Sirkun menghampiri Muhibbin, Disya dan Sekar.


"Gus, Kamu pulang saja dengan adikmu dan juga tolong hantarkan putri tuan Sirkun ke rumahnya," pinta pak Nengah pada Muhibbin yang sedari tadi berdiri tak jauh dari ruangan Balai Banjar Manguntur.


"Untuk sementara , Ajik akan menemani tuan gubernur dan tuan Sirkun disini," ujar pak Nengah kembali.


"Tolong antar anak saya pulang, lebih baik kalian tidak disini karena kemungkinan penyelidikan ini akan memakan waktu lama," tuan Sirkun juga meminta pada Muhibbin.


"Aku gak mau pulang dengan lelaki ini ayah!" jawab Disya ketus.


Lelaki yang dimaksud Disya adalah Muhibbin dan sejak kejadian di Surau tadi kejengkelan Disya pada sahabatnya ini masih belum hilang.


"Ya sudah, biar Bhayangkara yang akan mengantar mu," ujar tuan Sirkun pada putrinya.


Para warga mulai meninggalkan Balai Banjar Manguntur dan situasi sudah dikendalikan oleh pasukan Bhayangkara.


********


Sementara ditempat lain, sepasukan Bhayangkara mengepung sebuah bangunan besar memanjang dengan tembok tinggi mengitarinya. Terlihat dua orang didepan pintu itu dan yang lainnya menyebar mengamankan keadaan.


"Tolong keluar!" ujar salah seorang itu menggedor pintu.


Tak selang berapa lama pintu terbuka, seorang lelaki keluar dari dalam rumah.


"Selamat malam, apa benar ini rumah tuan Yanto?" tanya lelaki yang tak lain adalah Wakil Prawira Utama Bhayangkara.


"Betul tuan, Saya Yanto. Ada yang bisa saya bantu?" jawab lelaki yang baru keluar dari dalam rumah.


"Tuan mari ikut kami ke Balai Banjar Manguntur, kami memerlukan keterangan tuan disana" ujar Wakil Prawira Utama.


"Keterangan apa tuan, mengapa ada banyak pasukan Bhayangkara mengepung rumah saya?" tanya Yanto pada kembali.


"Nanti tuan akan tau sendiri, sekarang tuan ikut kami!" ujar Wakil Prawira Utama tegas.


"Pasukan, bawa tuan Yanto!" perintah Wakil Prawira Utama pada anggotanya.


Beberapa anggota Bhayangkara maju dan menggelandang Yanto.


"Apa-apaan ini! salah saya apa?" Yanto meronta ketika tangannya di apit oleh dua orang Bhayangkara.


"Kami minta kerjasamanya, nanti tuan akan tau sendiri apa kesalahan tuan!" pungkas Wakil Prawira Utama.


"Pasukan, segera bawa orang ini ke Balai Banjar Manguntur!" perintahnya pada anggota Bhayangkara.

__ADS_1


"Siap!" jawab para anggota Bhayangkara.


********


Sementara di dalam ruangan keamanan Banjar Manguntur, tuan Timoti masih menginterogasi Sariwati perihal kotak hitam yang di milikinya.


"Tolong jelaskan secara gamblang, dari mana kamu mendapatkan kotak ini?" suara tuan gubernur mulai meninggi karena sedari tadi Sariwati hanya diam seribu bahasa.


"Tolong jawab!" hardik tuan Timoti semakin berang.


"Apa hubunganmu dengan keluarga mendiang raja Harsuto penguasa Nengeri Zamrud?" imbuh sang gubernur mulai tersulut emosinya karena sikap Sariwati.


Mendengar nama raja Harsuto disebut oleh tuan Timoti, pak Nengah dan tuan Sirkum kaget.


"Maaf tuan, apa saya tak salah dengar dengan yang tuan katakan baru saja?" tanya tuan Sirkun pada sang gubernur.


"Betul tuan, mengapa tuan menyebut nama mendiang paduka raja Harsuto?" pak Nengah pun tak kalah penasaran.


" Perlu kalian tau, simbol Garuda Emas itu hanya dimiliki oleh keluarga dekat raja Harsuto dan kalung yang aku pakai adalah bukti bahwa aku salah satu keturunan raja Harsuto. Sedangkan kotak hitam ini hanya dimiliki oleh keturunan langsung mendiang raja karena ada empat ukiran kepala garuda berwarna emas yang mengelilingi sebagai tandanya," jelas tuan Timoti pada tuan Sirkun dan pak Nengah.


Mata kedua orang itu memandang Sariwati yang tertunduk dengan perasaan tak percaya.


"Apa hubungan mu dengan keluarga tuan Bendowo?" kembali tuan Timoti bertanya pada Sariwati.


Namun Sariwati tetap diam tak bergeming dengan posisi kepala masih tertunduk.


Kemarahan tuan gubernur tak tertahan, di gebraknya meja yang ada di depannya.


"Kurang ajar, cepat jawab! atau kau mencuri kotak ini dari keluarga tuan Bendowo?" kata tuan Timoti.


"Saya tak mencurinya," kini Sariwati mulai membuka suara.


"Kotak itu adalah kotak kutukan yang membuat saya seperti sekarang ini dan layaknya manusia setengah ikan." jawab Sariwati lirih, air matanya mulai berlinang.


Mendengar jawaban Sariwati, kini sang gubernur yang dibuat terkejut.


"Jangan-jangan kamu ini putri kang mas Bendowo dan yunda Warika?" tanya tuan Timoti.


"Apa kamu Dyah Pramodya Sariwati, putri ke empat mereka?"


Kini Sariwati mengangkat wajahnya dan menatap tuan Timoti.


"Bagaimana tuan tau keluarga kami?" tanya Sariwati pada lelaki yang berdiri di depannya.


"Aku adalah salah satu saudara misan dari ibumu," jawab tuan Timoti.


" Berarti benar kabar angin itu, bahwa kang mas Bendowo menjatuhkan hukuman pada salah satu putrinya," gumam tuan Timoti dalam hati.


"Baiklah, sekarang sudah jelas duduk permasalahannya dan kegaduhan yang terjadi di Surau tadi jangan sampai terdengar oleh kangmas Bendowo khususnya status siapa gadis didepan kita ini," pinta sang gubernur pada tuan Sirkun dan pak Nengah.


"Karena aku mendapatkan edaran surat bahwa tak seorang pun pejabat di koloni Negeri Zamrud yang boleh membantu dan memberikan fasilitas pada salah satu anaknya yang sedang menjalani hukuman." pungkas gubernur Negeri Pantai ini pada dua orang lelaki didepannya.


Kedua lelaki itu masih kebingungan mencerna apa yang dikatakan tuang Timoti, yang mereka tau bahwa tuan Bendowo adalah salah seorang penguasa Negeri Zamrud yang sangat kejam dan tak segan-segan bertindak keras dan kasar pada orang yang menyinggung kepentingannya, Kebengisan keluarga Bendowo sudah terkenal di seluruh pelosok Negeri Zamrud dan tak ada yang berani menentangnya.


Dalam benak tuan Sirkun teringat akan kejadian yang menimpa adiknya Samarta, yang tak lain adalah ayah kandung Disya. Kecelakaan kereta kuda hingga menyebabkan semua keluarga adiknya itu meninggal dunia kecuali Disya, disebabkan oleh salah seorang anak tuan Bendowo yang ugal-ugalan membawa Otto menyebabkan kuda-kuda yang menarik kereta rombongan adiknya beringas dan mengarah ke jurang.


Tiba-tiba pintu ruang keamanan di ketuk dan Prawira Utama Bhayangkara memasuki ruangan. Dia mendekat ke arah tuan Timoti dan membisikkan sesuatu.


Wajah sang gubernur terlihat memerah dan dia berkata,


"Biang keladi kegaduhan tadi sudah ditangkap pasukan Bhayangkara, mari kita keluar tuan-tuan!" ajak tuan Timoti pada tuan Sirkun dan pak Nengah.


"Dan kau ikut pula, nanti setelah semua ini tertangani kau ikut aku ke kota Negeri Pantai dan tinggal disana," ujar tuan gubernur pada Sariwati pula.


"Bagaimana pun aku adalah keluargamu walau terkadang sikap ayahmu tak sejalan dengan diriku." pungkas tuan Timoti pada Sariwati.


Ketiga orang itu mengikuti langkah tuan Timoti menuju keluar.


Di luar ruangan terlihat pasukan Bhayangkara bersiaga mengamankan keadaan. Terlihat Prawira Utama sedang menginterogasi seseorang yang di apit oleh beberapa Bhayangkara disampingnya.


Tuan gubernur dan kedua orang laki-laki dibelakangnya mulai mendekat tak terkecuali Sariwati.


Alangkah terkejutnya Sariwati setelah melihat siapa yang duduk diinterogasi pasukan Bhayangkara.


"Setyanto!" pekik Sariwati dalam hati.


------------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2