
Sejurus kemudian Muhibbin pun mengikuti langkah Disya, Sekar dan Raya yang telah mendahuluinya.
Terlihat beberapa kursi tepat di muka panggung masih dalam keadaan kosong sementara beberapa lainnya mulai terisi oleh tamu-tamu dari manca negeri.
Sementara tampilan dari para penari negeri koloni Kerajaan Zamrud yang diundang untuk menyemarakkan pesta seni tahunan Negeri Pantai silih berganti unjuk kebolehan.
Di tengah antusias para warga Negeri Pantai menikmati acara pagelaran seni itu, beberapa orang menyeruak menuju kursi di depan tepatnya di bawah balkon Selasar Rumah Budaya yang berhadapan langsung dengan panggung.
"Kita duduk disebelah sini saja, ya!" ujar Disya pada Sekar dan Raya, sementara Muhibbin mendekat kearah ketiganya dan masih berdiri canggung sambil melihat para undangan yang sudah menempati kursi masing-masing didepannya.
"Ayo Bin, duduk!"
"Jangan berdiri saja seperti patung." seru Disya pada Pemuda dihadapannya.
Dengan ragu-ragu Muhibbin pun duduk di sebelah Sekar, sementara Raya duduk didekat Disya seolah-olah tak ingin lepas dari Gadis pemilik Selasar Rumah Budaya itu.
Kursi para tamu undangan di tempatkan sedikit melingkar dengan panggung berada ditengahnya, sementara para tamu penting dan berpengaruh ditempatkan di balkon lantai dua bangunan itu, sehingga sudut pandang lebih nampak jelas ke arah panggung dan sekitarnya.
Tak selang berapa lama, seorang lelaki paruh baya dengan pakaian rapi dan wajah berkharisma menghampiri mereka berempat,
"Rupanya anak ayah ada sini!"
"Ayah tadi mencari mu kemana-mana, Nak." sapa Lelaki paruh baya itu pada Disya dan gadis itu bangkit mencium tangan kemudian memeluk Lelaki yang baru datang itu.
"Aku juga dari siang tadi mencari ayah." ujar Disya melepaskan pelukannya pada orang yang baru datang, lelaki itu tak lain adalah tuan Sirkun sang pengusaha dermawan Negeri Pantai.
"Iya, ayah tadi menemani tuan Gubernur melihat tempat pengolahan kayu."
"Bagaimana pun beliau adalah salah satu penanam modal di usaha yang baru ayah rintis itu, Nak." jawab tuan Sirkun lembut pada anak gadisnya, di belainya lembut rambut gadis ayu itu.
Beberapa saat setelah menyapa putrinya, pandangan Pengusaha itu tertuju pada Raya, Sekar dan Muhibbin yang masih terdiam,
"Siapa mereka ini, Dis?" tanya tuan Sirkun lembut sambil menyapu pandangannya pada ketiga orang yang duduk di kursi bersebelahan dengan kursi para tamu undangan.
"Masak ayah lupa pada mereka?" ujar Disya sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Tuan Sirkun terlihat mengernyitkan dahi dan mengamati ketiga orang yang bersama anaknya itu.
"Kalau tak salah, kamu putri mendiang Jero Perbekel desa Batubulan, kan?" ujar tuan Sirkun pada Sekar dan gadis itu mengangguk hormat pada ayah Disya.
"Dan ini kalau tak salah adalah keluarga angkat mendiang Jero Nengah Wirata." imbuh tuan Sirkun yang kini pandangannya tertuju pada Muhibbin dan Raya Suci.
Dengan mengangguk ringan, Muhibbin pun menjawab.
"Benar tuan."
"Saya Muhibbin dan ini keponakan saya Raya Suci." ujar Pemuda itu sopan sambil memperkenalkan keponakannya yang duduk disebelah Disya.
"Ah, iya betul."
"Bapak ingat sekarang." ujar tuan Sirkun tersenyum lebar pada ketiganya.
"Bapak turut berduka cita atas apa yang telah kalian alami."
"Bersabarlah dan semoga mendiang keluarga kalian ditempatkan ditempat yang terbaik di sisi sang Pencipta." imbuh tuan Sirkun sambil menjabat tangan Muhibbin, Sekar dan Raya satu persatu.
Pengusaha dermawan Negeri Pantai itu kembali berkata dengan ramah,
__ADS_1
"Jika ada apa-apa, kalian jangan sungkan-sungkan menghubungi Bapak."
"Bagaimanapun, mendiang Jero Mekel adalah sahabat baik Bapak."
"Dan kamu anak muda!"
"Bapak dengan tangan terbuka akan selalu membantu mu, ini semua tak lepas hubungan baik mendiang ayah mu dan adikku Samarta, yang tak lain ayah kandung Disya selama diperkebunan tempat kalian tinggal dulu." pungkas tuan Sirkun pada Muhibbin.
Dengan penuh hormat, pemuda itu menangkupkan kedua telapak tangannya di dada dan berkata,
"Terimakasih, Tuan."
"Saya tak ingin merepotkan Tuan."
"Disya selama ini telah banyak membantu kami selama berada di Negeri Pantai ini." jawab Muhibbin pada tuan Sirkun.
Lelaki paruh baya itu tersenyum pada ketiganya, Disya terus mengamati sambil sesekali ikut tersenyum melihat obrolan sang Ayah dan para sahabatnya.
"Ya sudah, kalian nikmati pertunjukan malam ini, Bapak akan menyapa para tamu undangan dari manca negeri."
"Dan kamu, Nak!"
"Jangan lupa nanti memberikan sambutan mewakili ayah di panggung, saat semua undangan telah datang, terutama keluarga besar tuan Gubernur."
"Karena ini adalah acara perdana yang kamu tangani."
"Ayah tinggal dulu." ujar tuan Sirkun pada sang putri. Disya pun menganggukkan kepala pada sang Ayah yang berlalu dari hadapannya.
Suasana semakin semarak dengan beberapa pagelaran yang ditunjukkan oleh para seniman dari seluruh penjuru Negeri Pantai dan negeri-negeri lain koloni Kerajaan Zamrud.
***
"Beri jalan untuk tuan Gubernur!" teriak beberapa lelaki berbadan kekar sambil mendorong kerumunan warga yang tengah asyik menyaksikan penampilan tari-tarian di atas panggung yang tak jauh dari pintu masuk Selasar Rumah Budaya itu.
Beberapa warga terlihat jatuh terjerembab akibat dorongan dari orang-orang berbadan kekar itu, sehingga menimbulkan sedikit keributan yang membuat semua pandangan mata tertuju ke arah pintu masuk bangunan tersebut.
Begitu pun dengan Disya dan ketiga sahabatnya itu, dengan sedikit isyarat, putri tuan Sirkun itu meminta beberapa keamanan untuk membantu menenangkan suasana.
"Kalian tunggu disini sebentar."
"Aku akan ke depan memastikan apa yang sedang terjadi." ujar Disya pada sahabat-sahabatnya.
Muhibbin, Sekar dan Raya Suci hanya diam termangu, sementara
Disya beranjak dari tempatnya duduk dan melangkah pergi di temani beberapa panitia keamanan Selasar Rumah Budaya.
Keributan antara pengawal tuan Gubernur dan beberapa warga sudah dapat diatasi dan suasana kembali tenang.
Tak selang berapa lama, rombongan Gubernur Negeri Pantai beserta keluarga besarnya memasuki bangunan megah itu di kawal oleh pasukan Bhayangkara dan beberapa orang berperawakan kekar berpakaian serba hitam.
Terlihat tuan Sirkun dan Disya menyambut kedatangan tuan Timoti dengan senyuman ceria.
Iring-iringan keluarga penting Negeri Pantai itu diarahkan ke balkon lantai dua Selasar Rumah Budaya melewati bagian samping panggung, sehingga para tamu dan orang-orang di depan panggung nampak jelas melihat kehadiran rombongan sang Gubernur Negeri Pantai tersebut.
Semua mata lekat tertuju pada iring-iringan tuan Gubernur, nampak tuan Timoti berjalan berdampingan dengan seorang pria tua dengan wajah berwibawa diikuti oleh wanita paruh baya dan wanita muda berkerudung jingga disampingnya serta seorang pemuda berperawakan maskulin menggandeng wanita berkerudung merah jambu dengan perut yang terlihat membesar. Wajah-wajah mereka nampak ceria malam ini dan tuan Sirkun serta Disya terus mendampingi pejabat utama Negeri pantai itu.
***
__ADS_1
"Bli, Perempuan itu bukannya-" ujar Sekar tak melanjutkan perkataannya tatkala rombongan tuan Timoti melintas dihadapannya.
"Ya, aku tau Gek." ujar Muhibbin setengah berbisik pada adik angkatnya sementara Raya Suci yang ada di sampingnya terlihat terkejut melihat sosok perempuan yang berada diantara keluarga tuan Gubernur Negeri Pantai.
"Pak Lik, bukannya itu Bu Lik Wati?" seru Raya Suci pada sang Paman.
"Bu Lik Wati!" teriak Raya Suci pada rombongan tuan Gubernur.
Sontak teriakan gadis kecil itu mencuri perhatian rombongan yang melintas dihadapan mereka, orang-orang yang ada di rombongan itu menoleh dan memperhatikan datangnya suara namun keriuhan penonton dan tetabuhan alat-alat musik di panggung mengalihkan perhatian rombongan itu dan tak berapa lama mereka melanjutkan langkahnya ke arah balkon Selasar Rumah Budaya.
Sepasang mata wanita berkerudung merah jambu dengan perut membesar yang berada di rombongan tuan Gubernur melirik ke arah Raya Suci, ada rasa terkejut terpancar di wajah ayu wanita itu.
Sementara mata Muhibbin melotot ke arah keponakannya dan memberi isyarat agar gadis kecil itu untuk diam tak bersuara.
Raya Suci tertunduk melihat reaksi tak suka dari sang Paman. Muhibbin memalingkan tatapannya ke arah rombongan tuan Gubernur.
Pandangan Muhibbin dan Wanita berkerudung merah jambu itu bertemu, sesaat sorot mata keduanya menampakkan binar yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata, ada gejolak yang dirasakan di hati masing-masing.
Setelah beberpa saat, Muhibbin memalingkan mukanya dari pandangan wanita berkerudung merah jambu itu, ada rasa geram terpancar di wajah pemuda bersahaja itu, sementara sorot kesedihan terpancar di wajah wanita berkerudung merah jambu tersebut.
Lelaki maskulin yang ada di sampingnya terus menggandeng wanita berkerudung merah jambu dan berlalu dari tempat itu.
***
"Raya, lain kali kamu tak boleh seperti itu , Nduk."
"Itu tak sopan!"
"Pak Lik tak pernah mengajarkan mu seperti itu." ujar Muhibbin sedikit menaikkan suaranya pada sang keponakan yang terlihat salah tingkah.
"Maafkan aku, Pak Lik."
"Tadi tak sengaja."
"Karena sudah lama aku tak melihat Bu Lik Wati."
"Kenapa Bu Lik Wati seolah-olah tak mengenal kita, Pak Lik?" ujar Raya sedikit bersalah atas sikapnya.
Muhibbin hanya terdiam mendapat pertanyaan keponakannya itu, wajahnya terlihat kusut dan geram.
"Sudahlah, Bli."
"Raya tak salah,"
"Kita semua tak menyangka perempuan itu juga hadir ditempat ini."
"Bli jangan terlalu keras pada Raya." seru Sekar pada Kakak angkatnya, gadis itu terlihat mendekap Raya Suci yang mulai terisak.
Muhibbin tak bergeming dengan sorot mata menahan amarah, Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya,
"Kalian di sini saja dulu."
"Aku akan keluar sebentar mencari udara segar." ujar Muhibbin sambil berlalu.
Sementara itu, sepasang mata terus mengamati dari atas balkon ke arah Muhibbin, Sekar dan Raya.
*****
__ADS_1