KAHANAN

KAHANAN
CH 56 - KEMBALI KE NEGERI PANTAI PART IV


__ADS_3

Sariwati masih terlihat berbaring di atas ranjangnya, matanya tak bisa di pejamkan dan kepalanya masih terasa pusing, tiba-tiba suara ketukan di pintu kembali terdengar dari luar.


"Ni Mas!" suara mek Iluh terdengar memanggil dari luar.


"Ada apa, Mek?


" Masuklah!" jawab gadis itu masih dengan posisi berbaring.


Terlihat mek Iluh membuka pintu dan melangkah ke dalam kamar.


"Ada tuan gubernur! apakah saya persilahkan masuk ke kamar, Ni Mas?"


"Beliau sedang menunggu diruang tamu." ujar mek Iluh lirih di sebelah Sariwati yang masih berbaring.


"Gak usah, Mek!"


"Biar aku keluar temui ayah!" seru gadis itu sambil bangkit dari pembaringannya.


"Apa Ni Mas baik-baik saja?"


"Wajah Ni Mas pucat sekali!" seru mek Iluh kembali mengkhawatirkan kondisi juragannya.


"Aku gak apa , Mek!" jawab gadis itu kemudian melangkah keluar kamarnya, sang pembantu mengikutinya dari belakang.


"Mek, tolong buatkan minuman untuk ayah!" pinta Sariwati pada mek Iluh.


"Baik, Ni Mas." wanita paruh baya itu melangkah meninggalkan Sariwati menuju ke dapur.


Melihat punggung pembantunya menghilang di balik pintu ruangan tengah, Sariwati bergegas melangkah menemui tuan Timoti.


"Selamat pagi, Ayah!"


"Tumben ayah pagi-pagi kemari?" tanya gadis itu pada lelaki yang memunggunginya.


Tuan Timoti yang sedang menikmati indahnya anggrek bulan yang tergantung di selasar ruangan tamu Villa Sandat menoleh kearah datangnya suara,


"Selamat pagi juga!"


"Apa kabar anak ayah yang cantik ini?" ujar tuan Timoti sambil melangkah mendekati Sariwati dan memeluknya.


"Aku baik-baik saja, Yah." ujar gadis itu sambil tersenyum.


"Hai, badan mu panas, Nak!"


"Wajah mu pun pucat, apakah kau sakit, Wati?" ujar tuan Timoti melepaskan pelukannya pada Sariwati.


Kini punggung telapak tangan sang gubernur ditempelkannya di dahi Sariwati.


"Kamu demam, Nak!"


"Apa kamu sudah minum obat?" tanya tuan Timoti kembali.


"Aku gak apa-apa, Yah." jawab gadis itu singkat.


"Apanya yang gak apa-apa!"


"Kamu ini seorang Alkimia, seharusnya tau kondisi badanmu!" ujar tuan Timoti sambil menggandeng Sariwati untuk duduk di kursi sofa yang ada diruang tamu Villa Sandat.


Tak selang berapa lama, mek Iluh masuk ke ruang tamu membawa nampan berisi segelas kopi panas, wanita tua itu dengan hormat menaruh gelas di atas meja.


"Terimakasih ya, Mek!" seru Sariwati.

__ADS_1


"Makasih, Luh!" ujar tuan Timoti pula.


"Sama-sama tuan, Ni Mas. Silahkan di minum kopinya, saya tinggal kebelakang dulu." jawab mek Iluh pada majikannya.


Terlihat tuan gubernur tersenyum dan mengangguk ke arah mek Iluh, tangannya memberikan isyarat agar sang pembantu segera pergi. Wanita tua itu pun melangkah ke arah dapur meninggalkan tuan gubernur dan Sariwati.


"Apa gerangan yang membawa ayah pagi-pagi datang ke mari? tanya Sariwati setelah duduk di sebelah ayahnya.


"Apa ayah tak boleh berkunjung melihat anak semata wayang ayah yang cantik ini?" jawab tuan Timoti sambil mencubit hidung anaknya.


"Ya boleh, tapi biasanya gak sepagi ini." seru Sariwati sambil tersenyum kembali.


"Kau benar! selain ayah rindu padamu, ada yang perlu ayah sampaikan padamu, Nak."


Sariwati terdiam dan hanya memandang wajah sang ayah dengan sesekali senyuman tersungging di bibir merahnya.


"Sebenarnya ayah ingin mengundang mu makan malam di kedai tepi sawah nanti, sekalian temani ayah menyambut dan menjamu kolega ayah dari Negeri Tidar."


"Tapi melihat kondisimu sekarang, ayah ragu kau bisa temani ayah nanti." sorot mata teduh terpancar dari mata sang gubernur sambil menyeruput kopi panas yang ada di depannya.


"Aku gak apa-apa kok, Yah!"


"Aku juga merasa bosan di rumah terus, beberapa hari ini kegiatanku sangat padat disini dan tak ada salahnya sesekali aku keluar mencari angin, kan?" jawab Sariwati.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu dan jangan lupa minum obat."


"Biar ajudan ayah yang menjemputmu ke mari nanti sore."


"Kamu bisa, kan? ujar tuan Timoti pada putrinya.


" Aku usahakan, Yah! semoga nanti sore kondisiku sudah membaik." jawab Sariwati.


"Bagus, itu baru anak ayah." senyum tuan Timoti sumringah.


"Dua hari lalu ayah mendapat kiriman surat dari papi mu di Negeri Banjir." ujar tuan Timoti dan lelaki itu melanjutkan perkataannya kembali,


"Papi mu sudah tau tentang keberadaan mu disini dan kondisi tubuhmu yang telah terbebas dari kutukan Kotak Giok Hujan warisan dinasti Harsuto."


Sariwati yang mendengar kabar itu terperangah, mata indahnya memandang lekat wajah sang ayah.


"Bagaimana papi bisa tau keberadaan ku dan kondisi terakhirku, Yah?" tanya gadis itu.


"Ayah yang mengabarinya lewat surat."


"Dan ayah juga sampaikan pada Kang Mas Bendowo dan Mbak yu Warika bahwa kau sudah tau siapa dirimu sebenarnya." jelas tuan Timoti pada putrinya.


"Apa saja yang papi dan mami katakan, Yah?" tanya Sariwati penasaran.


"Apa mereka tak merindukanku, Yah?" imbuhnya kembali.


"Mereka sangat menyayangimu, Nak."


"Mereka akan berkunjung kemari setelah mendapat kabar dariku, kalau tak ada halangan pekan depan mereka sudah sampai disini." ujar sang gubernur sambil membelai rambut sariwati yang tertutup kerudung.


Panjang lebar sang gubernur menceritakan semuanya pada Sariwati.


"Benarkah mereka merindukan dan menyayangiku, Yah?" ujar Sariwati lirih, air bening meleleh diantara sudut kelopak matanya.


"Hai! seharusnya kau senang, bukan malah menangis." seru tuan Timoti sambil memeluk anak gadisnya yang mulai sesenggukan.


"Aku rindu mereka, Yah!"

__ADS_1


"Sudah satu dasawarsa sejak kejadian itu, Aku memendam rasa ini." ujar gadis itu tersedu di pelukan sang gubernur.


"Sudahlah, kau harus gembira karena masa hukuman mu telah usai dan papi serta mami mu akan menjenguk mu disini."


Gadis itu mengangguk pelan, di seka air matanya dengan ujung kerudung yang dipakainya.


"Ayah harus kembali ke kota untuk mempersiapkan pertemuan nanti malam dengan kolega ayah."


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, nanti sore kita ketemu lagi." pungkas tuan Timoti.


Gadis itu hanya mengangguk dan tuan Timoti bangkit dari duduknya. Lelaki itu melangkah keluar di ikuti Sariwati di belakangnya.


"Nanti sore ajudan ayah akan datang menjemputmu, ayah pergi dulu." ujar sang gubernur.


"Iya, Yah." jawab Sariwati lirih.


Sebelum meninggalkan Villa Sandat, sang gubernur mencium kening putrinya. Dia melangkah menuju kereta kudanya meninggalkan Sariwati.


***


Di lain tempat, terlihat Muhibbin dan keluarganya terus melangkah menapaki jalanan Banjar Gelumpang mengikuti Balian tua yang menolong ibunya.


"Mari silahkan masuk, Nak Bagus!" seru Balian tua setelah sampai disebuah rumah yang cukup asri.


Tangan rentanya mendorong pintu kayu angkul-angkul rumahnya.


"Tut, Ketut! sini dulu, Ning!" seru Balian tua pada seorang gadis berwajah manis dengan rambut panjang yang disanggul rapi dan sebagian ujung rambut di biarkan tergerai dipundaknya. Terlihat gadis itu sedang menjahit canang sari di balai dangin rumahnya.


"Nggih , Yah!" jawab gadis yang dipanggil Ketut itu sambil mendekat kearah sang kakek dan beberapa orang yang bersamanya.


Balian tua memperkenalkan cucunya pada Muhibbin dan keluarganya.


"Ini cucu saya , Nak Bagus!"


"Namanya Ni Ketut Setyawati," ujar Balian tua pada Muhubbin.


"Tut! ini tamu Wayah, Ning."


"Nak Bagus Muhibbin dan keluarganya ini sementara biar bermalam di rumah kita."


"Kasihan mereka, Ning. Kamu siapkan kamar tamu di balai dauh untuk tempat mereka menginap. Ibu Nak Bagus ini sedang sakit, nanti Wayah akan mengobatinya." jelas Balian tua pada cucunya.


Gadis itu mengulurkan tangannya pada Muhibbin dan keluarganya.


"Oh ya, Tut! tolong kamu siapkan makanan untuk mereka sarapan." seru Balian tua itu pada cucunya.


"Tak usah repot-repot tuan, kami sudah membawa bekal." ujar Cahaya menimpali.


"Gak apa-apa, Ning. biar cucu saya siapkan semuanya." ujar Balian tua itu.


"Terimakasih tuan, kehadiran kami malah merepotkan tuan sekeluarga." kini Suratmi dengan suara lirih ikut angkat bicara.


"Tak apa-apa, Ni Sanak. Sudah kewajiban kita saling tolong menolong." pungkas sang Balian.


Tuan Balian mempersilahkan para tamunya untuk beristirahat di balai dauh rumahnya. Ketut Setyawati mengantarkan Muhibbin dan keluarganya disebuah kamar, gadis manis itu dengan cekatan membantu memapah Suratmi, sesekali dia terlihat mencuri pandang pada Muhibbin di sampingnya.


"Silahkan Ki Sanak dan Ni Sanak istirahat, saya tinggal ke belakang dulu." ujar Setyawati pada Muhibbin dan keluarganya.


"Terimakasih ya, Gek." ujar Muhibbin pada Setyawati.


Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum dan tak lama kemudian dia meninggalkan para tamunya itu.

__ADS_1


 


*Wayah / Pekak : kakek atau panggilan pada lelaki tua


__ADS_2