
Sementara itu di kediaman gubernuran,
"Wati, bagaimana keadaan Papi mu saat ini?" tanya nyonya Warika pada Sariwati yang masih disibukkan dengan beberapa alat medisnya. Gadis itu terlihat serius hingga tak menghiraukan pertanyaan sang Ibu.
"Wati, tolong selamatkan Papimu!" seru nyonya Warika kembali sambil terisak.
Sariwati meletakkan alat-alat medisnya, gadis itu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan sang Ibu.
"Alhamdulillah Mi, keadaan Papi sudah mulai stabil."
"Saat ini Papi perlu istirahat cukup dan jangan sampai kondisi psikisnya terbebani,"
"Akibat serangan jantung tadi, kondisi Papi sangat lemah." ujar Sariwati pada Ibunya, gadis itu terlihat merapikan alat-alat medisnya yang digunakan untuk menolong tuan Bendowo.
"Syukurlah, Nak!"
"Entah apa jadinya jika Papi mu tak tertolong," gumam nyonya Warika lirih sambil menyeka air matanya.
Kini tuan Bendowo terlihat lebih tenang, nafasnya pun tak lagi memburu. Lelaki tua itu terlelap bersama belaian lembut nyonya Warika yang terus berada di sampingnya.
"Mami tak perlu khawatir, Insya Allah Papi akan pulih seperti sedia kala, Mi." ujar Sariwati lembut sambil menggenggam jemari renta wanita dihadapannya dengan senyuman menghibur dan menguatkan sang Ibu.
"Wati, maafkan Papi dan Mami ya, Nak!" isak nyonya Warika pada anak gadisnya, wanita tua itu memeluk Sariwati dan merengkuhnya erat-erat.
"Sudah Mi, Mami jangan bersedih."
"Dan tak ada yang perlu dimaafkan dari Papi dan Mami."
"Justru Wati yang seharusnya meminta pengampunan dari Papi dan Mami." kini Sariwati turut terisak mendengar ucapan sang Ibu, gadis itu sesenggukan di rengkuhan nyonya Warika.
Keduanya larut dalam suasana haru dengan pikiran di benak masing-masing, sementara tuan Bendowo masih terlelap di pembaringan setelah mendapat pertolongan medis dari Sariwati.
"Wati, dari mana saja kau beberapa hari ini, Nak?"
"Kami semua mengkhawatirkan mu, terutama Papi mu." tanya nyonya Warika lirih, tangan rentanya mengelus rambut putri kesayangannya itu.
Sariwati hanya terisak dalam pelukan Ibunya.
"Apakah kau mencintai Pemuda itu, Wati?" kembali nyonya Warika bertanya pada sang Anak. Mata perempuan tua itu menelisik wajah Sariwati.
Kembali Sariwati hanya terisak, kini gadis itu melepaskan pelukannya dari sang Ibu, wajahnya tertunduk dengan buliran air mata yang terus menetes di pipi putihnya.
"Tidak, Wati tak mencintainya, Mi."
"Wati tak memiliki perasaan apapun pada Muhibbin."
"Ini semua hanya kebodohan Wati yang tak pernah mengindahkan nasehat Papi dan Mami." ujar Sariwati dengan air mata dan tangisan yang semakin menjadi, tubuhnya terguncang sesenggukan.
"Maafkan aku, Bin." gumamnya dalam hati tatkala menjawab pertanyaan nyonya Warika. Ada rasa sakit di ulu hatinya tatkala menjawab pertanyaan sang Ibu.
Nyonya Warika membelai lembut rambut Sariwati, wanita ningrat itu kembali berkata,
"Mami tau yang ada di hatimu, Nak."
"Pemuda itu memang anak yang baik."
"Namun bagi keluarga kita bukan hanya baik yang jadi tolak ukur, Bibit, Bobot dan Bebet pun sangat penting."
"Seiring waktu, lambat laun kau akan bisa melupakan Pemuda itu."
"Semua yang Papi dan Mami lakukan itu demi masa depanmu."
"Papi dam Mami ingin melihat hidupmu bahagia bersama dengan pasangan yang sederajad dengan kita."
"Seto itu pemuda baik, dari keturunan yang baik pula."
"Paman mu Haryo dan Bibi mu Dewi adalah keturunan darah biru yang memiliki pengaruh di negeri ini."
"Perjodohan kalian akan menjadi pelestari darah keturunan mendiang raja Harsuto, kakek mu." ujar nyonya Warika pada Sariwati.
Sariwati kini tertunduk dan isakan tangisnya masih terdengar, tangan lentiknya memainkan ujung kerudungnya yang yang menjuntai dari bahunya.
__ADS_1
Tiba-tiba dari luar kamar, pintu terdengar ada yang mengetuk, suara seorang lelaki meminta ijin untuk masuk kedalam ruangan.
"Mbak Yu! ini Tim."
"Bolehkah aku masuk kedalam?" tanya suara itu pelan yang tak lain adalah tuan Timoti sang gubernur Negeri Pantai sekaligus kerabat inti Dinasti Garuda Emas.
"Masuklah, Tim!"
"Pintunya tak terkunci." sahut nyonya Warika pada tuan Timoti yang ada di luar kamar.
Sejurus kemudian, seorang pria gagah yang tak lain tuan Timoti melangkah masuk dengan wajah yang terlihat cemas.
"Bagaimana keadaan Kang Mas Bendowo, Mbak Yu?"
"Wati, bagaimana kondisi Papi mu saat ini?" tanya tuan Timoti pada nyonya Warika dan Sariwati yang terlihat duduk di tepi ranjang dimana tuan Bendowo masih terbaring. Pimpinan Negeri Pantai itu mendekat dan mengamati tubuh tuan Bendowo yang masih terlelap.
"Keadaan Kang Mas mu sudah membaik, Tim."
"Tadi Wati sudah memberikan perawatan pada Papinya." jawab nyonya Warika pada adik misannya yang sekaligus ayah biologis Sariwati.
"Syukurlah Mbak Yu, aku tadi sangat khawatir dengan kondisi Kang Mas Bendowo saat salah seorang pengawal menjemput ku di pusat komando Bhayangkara."
"Lalu apa sakit yang menimpa Papi mu, Wati?" kini tuan Timoti bertanya pada Sariwati yang masih terisak di samping nyonya Warika.
Gadis itu menyeka air matanya dan sesaat kemudian berkata,
"Papi terkena serangan jantung, Yah."
"Namun kondisi tubuhnya sekarang sudah stabil dan untuk beberapa saat kita harus menjaga kondisi psikis Papi agar tak terlalu terbebani dengan hal-hal yang dapat memicu sakitnya kembali." ujar Sariwati memberi penjelasan pada Ayahnya.
Tuan Timoti menghembuskan nafas pelan dan merasa lega dengan apa yang didengarnya dari putri semata wayangnya.
"Syukurlah kalau begitu, semoga Kang Mas Bendowo segera kembali pulih." jawab tuan Timoti lirih. Lelaki paruh itu kemudian melangkah ke sudut kamar mengambil sebuah kursi dan dibawanya di tepian ranjang dimana ketiga kerabatnya berada.
"Wati, kapan kau kembali?"
"Kemana saja kau beberapa waktu ini? Ayah sangat mengkhawatirkan mu."
Sariwati tak menjawab pertanyaan sang Ayah, gadis itu kembali menundukkan wajahnya sambil menyeka sisa-sisa air matanya.
"Baiklah, ayah tak akan memaksa dirimu untuk menjawab."
"Kepulangan mu kembali ke rumah sudah cukup membuat ayah senang." ujar tuan Timoti kembali, terlihat senyum teduh dari lelaki paruh baya itu.
Suasana kamar kembali hening, ketiga orang itu terus memantau perkembangan kondisi tuan Bendowo yang masih terlelap.
Setelah beberapa saat kembali suara tuan Timoti memecah keheningan kamar itu,
"Sebenarnya apa yang terjadi, Mbak Yu? sehingga Kang Mas Bendowo bisa terkena serangan jantung." tanya tuan Timoti pada nyonya Warika.
Wanita paruh baya itu menghela nafas, wajah ayunya terlihat menyiratkan kesedihan.
"Ini semua bermula saat Kang Mas mu menegur dan berdebat dengan Habsari."
"Entah kenapa anak itu hingga saat ini tak bisa menerima dan memahami keputusan Papinya mengirimnya ke Negeri Angin."
"Padahal kejadian itu sudah lebih dari dua dasa warsa."
"Kenapa Habsari tak bisa memaafkan keputusan yang Papinya ambil?"
"Mbak Yu bingung, Tim."
"Satu sisi Kang Mas mu adalah suami Mbak Yu, disisi lain Habsari darah daging kami." ujar nyonya Warika kembali terisak.
"Mengapa serasa tak ada kedamaian di keluarga besar kita, Tim?"
"Mbak Yu bingung mau berpihak ke siapa, kedua duanya orang yang sangat Mbak Yu sayangi." imbuh nyonya Warika kembali, wanita paruh baya itu menangis sesenggukan. Sariwati yang melihat sang Ibu menangis segera beringsut mendekat dan memeluk tubuh Ibunya. Tumpah ruah air mata anak beranak itu memecah keheningan.
"Sabar, Mbak Yu!"
"Aku yakin suatu saat Habsari akan sadar." ujar tuan Timoti.
__ADS_1
Suasana kembali hening, tuan Timoti hanya terdiam melihat apa yang ada di hadapannya, lelaki itu tau arah pembicaraan yang disampaikan kakak misannya itu. Lelaki paruh baya itu termenung sambil memandang nyonya Warika yang sedang menangis, pikirannya melayang ke masa dimana saat itu keluarga besarnya dipuncak kejayaan.
Saat itu dirinya masih aktif bertugas di kesatuan Bhayangkara, sedangkan Bendowo juga aktif di kesatuan Darmayudha, keduanya waktu itu bertugas menumpas para pemberontak yang ingin menggulingkan kekuasaan raja Harsuto dimana salah satu penyandang dana pemberontakan itu adalah seorang pengusaha dari Negeri Kelapa yang tak lain orang tua dari kekasih Habsari.
Demi menjaga kewibawaan dan kekuasaan Dinasti Garuda Emas yang saat itu masih berada dibawah kendali mendiang raja Harsuto, semua pemberontak itu di tumpas dan dieksekusi tanpa pandang bulu, termasuk keluarga Angga kekasih Habsari dan untuk menyelamatkan muka keluarga besar Dinasti Harsuto dimana Habsari memiliki hubungan asmara dengan salah satu keluarga pemberontak, di kirimlah Habsari remaja ke Negeri Angin dengan alasan mengelola aset keluarga Dinasti Garuda Emas itu.
Tiba-tiba lamunan tuan Timoti buyar oleh erangan dan suara tuan Bendowo.
"Dimana aku?"
"Mami, Wati, Tim!"
"Apa yang terjadi padaku?"
"Kemana Habsari?" ujar tuan Bendowo dengan suara lirih, penerus Dinasti Garuda Emas itu terlihat memandang satu persatu pada ketiga orang di dekatnya, wajahnya masih terlihat pucat pasi.
"Papi istirahat dulu, jangan banyak bergerak."
"Tak usah memikirkan hal-hal lain, kesehatan Papi lebih utama." ujar nyonya Warika lembut pada sang Suami, wanita itu menyeka buliran keringat di dahi suaminya.
"Betul yang Mbak Yu katakan, Kang Mas."
"Kang Mas istirahat saja, biar semuanya aku yang tangani." timpal tuan Timoti pada tuan Bendowo, lelaki itu terlihat bangkit dari tempatnya duduk dan menggenggam tangan kakak misannya itu.
"Terimakasih, Tim."
"Aku minta bantuan mu,"
"Tolong kau nasehati keponakanmu itu, aku tak ingin Habsari salah jalan, Tim." ujar tuan Bendowo lirih pada tuan Timoti.
"Kang Mas jangan khawatir, nanti aku akan nasehati Habsari." jawab tuan Timoti kembali.
Untuk beberapa saat suasana kembali hening, kini pandangan tuan Bendowo mengarah pada Sariwati, gadis itu pun memandang iba orang tua yang telah membesarkannya itu yang saat ini terbaring lemah.
"Anak Papi jangan menangis!"
"Papi hanya ingin melihat dirimu bahagia, Wati." ujar tuan Bendowo dengan senyuman tipis di bibirnya.
Sariwati tak kuasa menahan linangan air matanya, kembali bulir-bulir bening merembes dari sudut mata indahnya.
"Maafkan Wati, Pi."
"Wati selama ini banyak salah pada Papi."
"Wati janji akan menjadi anak yang berbakti dan mematuhi Papi dan Mami." ujar Sariwati sambil terisak.
Gadis itu memeluk pria tua yang terbaring di hadapannya.
Tuan Bendowo tersenyum pada anak gadisnya.
"Kau memang anak yang baik walaupun kadang kala susah di atur." ujar lelaki tua itu sambil mencubit hidung Sariwati yang tak jauh dari jangkauan tempatnya berbaring.
"Maukah kau mengabulkan permintaan papi, Nak?" tanya tuan Bendowo pada Sariwati, tatapannya terlihat mengiba memandang wajah ayu putrinya.
Sariwati hanya menganggukkan kepala mendengar permintaan Papinya.
"Maukah kau papi jodohkan dan kawinkan dengan anak paman mu Haryo?" tanya tuan Bendowo kembali, lelaki tua itu dengan mata sayu memandang lekat wajah Sariwati.
Sariwati tak menjawab permintaan sang Papi, gadis itu kembali memeluk tubuh tuan Bendowo yang terbaring sambil menangis.
Tuan Bendowo membelai rambut putrinya yang menangis di dadanya.
"Diam mu papi anggap kau menyetujuinya." ujar tuan Bendowo pada Sariwati, gadis itu melepas pelukan di tubuh Papinya dan kini memeluk nyonya Warika sambil masih terisak.
"Tim, siapkan segala sesuatunya untuk pernikahan anak kita dan segera hubungi Haryo serta dewi."
"Katakan pada mereka, pernikahan Wati dan Seto akan segera kita laksanakan." kembali tuan Bendowo berkata dengan lirih.
"Baik, Kang Mas."
"Aku akan segera hubungi mereka dan mempersiapkan segala sesuatunya." jawab tuan Timoti singkat.
__ADS_1
*****