
...CATATAN SANG KEMBARA....
***************
Benar saat ini bukan waktunya meratap.
Maju-Bangkit-Tegar.
Seiring detik - detik pun berlalu.
Malam demi malam silih berganti.
Tanpa keluhan, angin pun semakin letih membelai dedaunan .
Tegaklah.
Angkatlah wajah menatap esok.
Tanggalkan lusuh beban diantara bebatuan pualam.
Teguk lah kepahitan pelepas dahaga.
Kunyahlah semua empedu kepedihan.
Ini bukan tentang aku.
Bukan tentang engkau.
Bukan pula tentang sakit menyakiti yang tak berujung.
Namun ini kasih ilahi robbi.
Tersebab rintihan dini hari.
**********
Cinta itu seperti angin.
Engkau tidak mampu melihat.
Tetapi engkau mampu merasakannya.
Mungkin saja kau bisa temukan wajah seperti wajahku, bahkan lebih baik.
Tapi kau tak akan pernah menemukan hati seperti hatiku dalam mencintaimu.
Jangan tanyai mengapa ku mencintaimu, sebab aku tak punya pilihan.
Dalam kerinduan, tiadalah obatnya.
Dan engkaulah satu-satunya penyembuhnya.
Aku bukan tak kangen, kekasih.
Tapi telah lama rasa itu kutenggelamkan dilaut air mataku. Agar lekas kau berlayar menujuku.
Dalam jeda antara tiada dan hadirmu, ada yang retak yang tak akan kembali seperti semula.
Patah, sebelum pernah
adalah aku.
Yang fana adalah waktu
Kita abadi.
***********
Bacalah....
saat alam mengisyaratkan Cinta-Nya, pada hujan, pada awan, pada langit mendung, dan pada Hatimu.
Jangan biarkan mereka berpikir, bahwa kita telah runtuh atau pecah.
Kita hanya menjalani fase menggugurkan daun-daun kering untuk musim semi.
Kita bagaikan pohon dalam kebersamaan.
Lalu bagaimana engkau mengharapkan bunga bisa mekar diantara kedua tanganmu.
Kalau saja bumi dan gunung itu bukan pencinta, tentu rumput tak akan tumbuh dari dada mereka.
Cinta tidaklah buta, sebab sorot mata tak bisa menyembunyikan rahasia.
Wahai cinta, bagi setiap orang kau punya nama dan julukan.
Aku semalam memberimu nama, luka dan nestapa.
***********
Tersibak padang ilalang.
Oleh desiran angin kota pantai
Seiring lantunan bait- bait surga dan genta para resi.
Terlihat sorot mata nanar dan pergolakan batin sang gembala hati
Di padang tandus tak bertepi.
Kehilangan dan sendiri.
Sepi-Sunyi.
Menatap mentari membakar langit
Perlahan pekatnya malam membunuh jingga kemerahan di angkasa.
Seolah menasbihkan bahwa tak pernah ada kata dusta tentang arti cinta.
Ya cinta dan mencinta bak rayuan para pujangga.
Wahai jiwa - jiwa gelisah.
Taukah dikau remuk redam para pecinta.
Pecinta,pecinta dan pecinta.
Ya ... roh jiwa pecinta yang didalamnya ada Buana.
Sadarkah kau.
Cakrawala tak lagi sama.
Gelayut awan jingga birahi sukma.
Menelan mentari kehampaan.
Bergelora menghunus pedang-pedang kelam.
Bertempur dengan sisa-sisa digdaya.
Mengertikah kau.
Sudah tunai hutang semesta raya.
Tak ada lagi tali kekang berontak jiwa ****** pujangga.
Tinggal tulang belulang jasad kegalauan dan siap terluka.
Kuru setra terhampar angkuh di bumi batin penuh bercak darah,bangkai dan panah-panah kegeraman.
Sais itupun selalu kembali pulang dengan kekalahan dan kegetiran amarah dendam.
************
Kenanglah gumam pertama.
Pertemuan tak terduga.
Di suatu kota pantai.
Di suatu hari kemarau.
Di suatu keasingan rindu.
Di suatu perjalanan biru.
Kenanglah bisikan pertama.
Risau pertarungan kembara.
Duka percintaan sukma.
Rahasia perjanjian sunyi.
Kenanglah percakapan pertama.
Gugusan waktu,nafas dan peristiwa.
Mungkin hanya angin,daun dan debu.
Pesona terakhir nyanyian sajak ku.
*********
Aku pernah memiliki mimpi cinta dikala senja.
Cinta kala senja itu sederhana, melihat diriku menggunakan sarung dan kaos oblong sambil menguras genangan air di parit depan rumah kita sore hari dan dirimu memakai daster dengan rol di rambut sambil memegang gunting tanaman di taman.
Piring berisi sejumput pisang goreng dan Teh hangat menemani di meja depan beranda.
Sambil menunggu buah cinta berlari2 menjinjing kitab tilawati dengan ingus dan belepotan es krim berlari dan memanggil, "Abah-Umi, Adik pulang!"
Itulah cinta kala senja tanpa bara api didada, yg ada hanya ingin melihat buah cinta tumbuh dan mekar sebagai layaknya kodrad sang kuasa
Cinta kala senja menautkan jemari keriput dan renta, yang akhirnya terlihat hanya gundukan tanah bergores sebuah nama, dimana di surga akan kembali bersama.
*********
Bukalah jendela, di luar angin
menyiapkan pelaminan kemarau.
Sebelum burung-burung dan daunan
luput dari nyalang pandang dukaku.
__ADS_1
Catatan-catatan mengubur segala kecewa.
Upacara kecil hari-hari kelampauanku.
bukalah kerudung jiwa di sini.
Gemakan kenangan pengembaraan sunyi.
Jauh atau dekat, dari ruang ini.
Sebelum sayap-sayap derita dan kerja
pergi berlaga mendarahi bumi
dan dengan gemas menyerbu kaki langit itu.
Di mana mengkristal rindu dendamku abadi.
**********
Sabana.
Memburu fajar.
Yang mengusir bayang-bayangku.
Menghadang senja.
Yang memanggil petualang.
Sabana sunyi.
Di sini hidupku.
Sebuah kecapi tua.
Seorang lelaki berkuda.
Sabana tandus mainkan laguku.
Harum napas bunda.
seorang gembala berpacu.
Lapar dan dahaga.
Kemarau yang kurindu dibakar matahari.
Hela jiwaku risau.
Karena kumau lebih cinta.
Hunjam aku ke bibir cakrawala.
**************
Ketika Aku bermain dengan-Mu, cintaku.
Aku mengerti mengapa ada permainan seperti
warna pada awan, di atas air,
dan mengapa bunga yang berwarna tints.
Ketika Aku bernyanyi untuk membuat Engkau menari.
Aku tahu mengapa ada musik dalam daun,
dan mengapa gelombang mengirim paduan suara mereka
ke jantung pendengar bumi.
ketika Engkau berbisik hal-hal yang manis untuk ku,
Aku tahu mengapa ada madu di cangkir bunga.
Dan mengapa buah secara diam-diam diisi dengan jus manis.
ketika Aku mencium wajah-Mu untuk membuat Engkau tersenyum.
Aku mengerti apa kesenangan menerus dari langit dalam cahaya pagi.
Dan apa yang menyenangkan angin musim panas membawa ke tubuhku
dan Aku mencium untuk membuat Engkau tersenyum.
*************
Di bawah matahari yang meledak-ledak
Keringat begitu keras melumuri tangan malaikat
Dan aku yang terpingsan-pingsan dekat jendela
Memandang wajahmu dengan gaib asmaradana
Tuhan, beri aku ciuman sebelum nyawa merenggang
Meninggalkan tanah surga yang ****** rupawan
Dan matahari mulai lingsir kesebelah wuwung
Tangis begitu mengharap hingga ini kamar bagai debur gelombang
Tangan menggapai meraih-raih alam lain yang penuh camar
Tuhan, beri aku ciuman biar segera melesat ini sukma dan terlemparlah bangkai badan dari biru semesta
**************
Setiap bentuk yang engkau ketahui,
mempunyai 'mata air tetap' di alam tak bertempat.
Tiada mengapa apabila bentuk musnah,
karena aslinya kekal.
Setiap wajah indah yang pernah kau ketahui, semua Perkataan penuh-makna yang pernah kau dengar.
Janganlah bersedih apabila semua itu hilang, karena ia sesungguhnya tidaklah begitu.
Apabila mata-air-sumber tak berhenti,
cabangnya terus mengalirkan air.
Karena itu, apa yang engkau keluhkan?
Pandanglah jiwa seperti hulu,
dan semua ciptaan ini seperti sungai,
ketika hulu mengucur,
sungai mengalir dari situ.
Letakkan kesedihanmu
dan teruslah minum air-sungai ini,
jangan fikirkan kapan surutnya,
aliran ini tiada henti.
Dari semasa pertama engkau masuki alam wujud ini,
Dengan tangga ditaruh di hadapanmu,
supaya engkau dapat menapak naik.
Pertama engkau merupakan mineral,
dan engkau berubah menjadi tumbuhan,
kemudian engkau menjadi hewan,
Bagaimana hingga perkara ini
sempat menjadi rahasia bagimu?
Kemudiannya engkau menjadi insan,
dengan pengetahuan, akal dan kepercayaan.
Pandanglah raga ini,
yang tersusun dari tanah liat kering,
pandanglah bagaimana dia sudah berkembang
dengan sempurna.
Apabila engkau berjalan terus dari insan,
tiada keraguan lagi engkau akan menjadi malaikat.
Apabila engkau sudah meninggalkan bumi ini,
kedudukanmu di langit.
Lewatilah ke-malaikat-anmu:
masukilah samudera itu.
Supaya tetesanmu menjadi laut
yang tidak terhingga luasnya.
Tinggalkanlah kata 'putra'
katakan “yang Maha Esa”
dengan seluruh jiwamu.
Tiada jadi soal jika raga menjadi tua,
lemah dan lusuh,
__ADS_1
ketika jiwa senantiasa muda.
**************
Menangislah dengan suara yang keras dan menangis adalah sumber kekuatan yang besar.
Seorang ibu, semua yang Ia lakukan adalah menunggu untuk mendengar anaknya menangis.
Hanya sedikit rengekan awal dan Ia ada di sana.
Menangislah,
jangan menjadi pendiam dan senyap
dengan rasa sakitmu.
Merataplah,
dan biarkan susu kasih sayang mengalir ke dalam dirimu.
Hujan deras dan angin,
cara awan mengurus kita
*************
Tahun lalu aku mengagumi anggur.
Tahun ini aku berkelana di dalam dunia merah.
Tahun lalu aku menatap api.
Tahun ini aku bakar kebab.
Dahaga mendorongku ke air,
di mana aku meminum refleksi bulan. Sekarang aku adalah singa yang menatap penuh kehilangan cinta.
Jangan bertanya tentang kerinduan.
Lihat di wajahku.
Jiwa-mabuk, tubuh-hancur, keduanya duduk tak berdaya di sebuah gerobak rusak.
Tak tahu bagaimana memperbaikinya.
Dan hatiku, akan mengatakan itu lebih seperti keledai tenggelam dalam kubangan yang sama,
Berusaha keras dan miring lebih dalam.
Tapi dengarkan aku.
Untuk suatu saat berhentilah sedih.
Dengarkan sebuah berkah jatuhkan bunga mereka di sekitar mu.
*************
Sekali lagi, ungu menundukkan kepalanya ke lily itu.
Sekali lagi, mawar itu
mengoyak-mati gaunnya sendiri.
Hijau-hijauan datang dari dunia lain, yang memabukkan seperti angin-segar, sehingga muncul beberapa kebodohan baru.
Sekali lagi, di dekat puncak gunung
Fitur manis anemon itu muncul.
Eceng gondok berbicara khusus kepada melati.
Damai sejahtera bagimu dan damai sejahtera juga, teman.
Ayo berjalan denganku ke padang rumput.
Teman yang ada di sini seperti air di sungai, seperti teratai di atas air.
Burung Ringdove datang bertanya, di mana? dimana Teman itu?
Dengan satu tanda bulbul menunjuk ke mawar.
Banyak hal yang harus dibiarkan tak terkatakan karena terlambat,
tapi percakapan apa pun yang kita tidak punya malam ini,
kita akan memilikinya besok
**************
Dengan mata pena kugali gali seluruh diriku.
Dengan helai-helai kertas kututup nganga luka lukaku.
Kupancing udara di dalam dengan angin di tanganku.
Begitulah, kutulis nyawaMu senyawa dengan nyawaku.
***************
Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan.
Karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.
Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana.
Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.
Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara.
Dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya.
Membukakan diri, bergumul dan merayu hari-hari tergesa berlalu.
Meniup seluruh usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu.
Takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka duka. Hikmah pengertian melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan.
Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana.
Di ruang kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa.
Kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian.
Yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan.
****************
Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
sepi yang lalu dingin gumam terpantun di buritan
juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
di mana-mana, di mana-mana menghadang cakrawala
Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
di mana-mana, di mana-mana, mengepung dendam rindu
Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu
namun membujuk jua langkah, pantai, mega, lalu burung-burung
Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu
saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang
saat pulau-pulau lengkap berbisik, saat haru mutlak biru
******************
Disebuah bukit diantara eidelwais nan mewangi, putih semerbak merayu senja, tak peduli kumbang cemburu merana, tertiup angin seiring geliat daun dan ranting angsana. Sepasang insan menatap cakrawala.
"Kau nampak tampan." Ucap sang wanita
"Kau pun juga nampak jelita." Puji sang pria pula.
"Sudah lama kita tak bertemu, aku sangat merindumu." Ujarnya kembali, gelinjang rindu termaktub diujung mata teduhnya.
"Bukan hanya dirimu, demikian pun aku." Rayu sang wanita pula.
"Lihatlah diujung cakrawala itu, sepasang kepodang diatas pohon cemara, mereka bagaikan kita." Tunjuknya dengan senyuman.
"Kau benar, keduanya terlihat tak mau berpisah."jawab sang pria terpesona.
"Ya, pasti ... akupun tak ingin kita terpisah kembali setelah dikeabadian ini." Kerlingan binal sang wanita sambil menggelayut mesra.
"Ibbin, aku sangat mencintaimu." Bisiknya manja.
Dengan kecupan laksana dahaga, sang pria yang tak lain Muhibbin berkata,
"Demikian pula aku, Disya."
"Kita akan selalu bersama." Ucap dia pada akhirnya.
Keduanya tenggelam dalam asmara dahana.
Tak ada lagi duka maupun air mata, lepas bebas layaknya kodrad sang kuasa.
~TAMAT~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Note Author
__ADS_1
Terimakasih pada semua para pembaca KAHANAN atas suport dan dukungannya selama ini. Tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun dari tulisan ini saya pribadi banyak mengambil khikmah dan pelajaran selama ini. Tak ada kesempurnaan yang tersemat pada Mahluk, hanya Allah lah tempat kesempurnaan itu sendiri.
Kisah ini saya tutup sampai disini, kurang dan lebihnya mohon maaf untuk selama ini. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih ...Salam