
Bruuuaakk!
"Kurang ajar!"
"Tua bangka tak tau diri!"
"Dia berani menentang dan menelikung ku dari belakang!" pekik penuh amarah seorang wanita sambil menggebrak meja pada pria berbadan tegap dihadapannya.
"Apa perlu saya beri pelajaran, Ni Mas?"
"Agar Pengusaha dari Negeri Kelapa itu tau sendang bermain api dengan siapa?" ujar pria berbadan tegap itu pada wanita di hadapannya.
Wanita yang dipanggil dengan sebutan Ni Mas itu hanya mendengus kesal, wajahnya terlihat meradang.
"Sirkun telah berani menabuh genderang perang dengan keluarga Garuda Emas."
"Tanpa meminta pendapatku sebagai salah satu pihak penanam modal, dia menunjuk pemuda kampungan itu mengelola usaha kayu yang dirintisnya bersama mendiang paman Timoti."
"Kau bereskan semua ini seperti biasanya."
"Apalagi hingga saat ini aku belum mendapatkan cincin sulaiman madu itu."
"Paksa pemuda itu, bagai manapun caranya cincin itu harus ku miliki!" seru wanita itu pada lelaki berbadan tegap.
"Baik, Ni Mas."
"Kali ini pemuda itu pun akan menerima akibatnya." jawab lelaki itu sambil membungkukkan badannya.
"Kerjakan sebagaimana biasanya,"
"Jangan sampai gagal dan tercium lagi pergerakan kita seperti sewindu yang lalu!"
"Saat ini posisi kita tidak menguntungkan dengan ditunjuknya gubernur baru pengganti mendiang paman oleh pemerintah pusat."
"Kali ini kau harus berhasil, Martin!" pungkas wanita itu yang tak lain adalah Habsari putri sulung tuan Bendowo, wanita itu terlihat melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan wajah masih penuh amarah.
***
Sementara di kediaman tuan Sirkun,
"Bagaimana Disya bisa menghilang, Bin?"
"Bukankah kalian pergi bersama dari tadi siang?" ujar tuan Sirkun dengan wajah penuh kekhawatiran,
sementara Muhibbin hanya diam tertunduk dengan perasaan bersalah.
"Tadi saat sepulang dari kediaman kawan kami, saya dan Disya sempat mampir sebentar di Surau, Ayah."
"Sejak dari Surau, saya tak mendapati Disya kembali." ucap Muhibbin lirih.
"Bagaimana bisa?"
"Apa kalian bertengkar?" tanya tuan Sirkun, kini wajah pengusaha dermawan itu menelisik kearah pemuda dihadapannya.
Dengan ragu-ragu Muhibbin hanya mengangguk pelan tanpa sepatah katapun.
Tuan Sirkun terlihat menghela nafas,
"Bagaimana kalian ini!"
"Pernikahan kalian tinggal menghitung hari."
__ADS_1
"Tapi masih saja kalian bertengkar, apa yang kalian ributkan?" tanya tuan Sirkun.
Namun Muhibbin kembali terdiam dengan wajah tertunduk, melihat hal itu tuan Sirkun kembali berkata,
"Apa kau sudah cari keberadaan Disya ke tempat sahabat-sahabat kalian?" ucap tuan Sirkun masih dengan wajah penuh kecemasan.
"Sudah, Ayah."
"Namun Disya tak ada dan kawan-kawan kami pun tak tau keberadaan Disya." jawab Muhibbin.
"Ceroboh kamu, Bin."
"Disaat menjelang pernikahan, seharusnya kalian tak pergi kemana-mana."
"Jika seperti ini kejadiannya, pernikahan kalian bisa terhambat." ucap tuan Sirkun dingin.
"Ya sudahlah, semua terlanjur terjadi."
"Sekarang kau ikut aku ke markas Bhayangkara untuk melaporkan kejadian ini, sambil kita mencari informasi ke tempat dimana Disya sering kunjungi." pungkas tuan Sirkun pada Muhibbin, pria paruh baya itu sesaat memasuki kamarnya dan tak berapa lama keluar kembali dengan pakaian rapi.
Muhibbin masih dengan wajah tertunduk mengekor langkah tuan Sirkun dibelakangnya.
Keduanya bergegas menuju keluar rumah, dimana sebuah kereta kuda telah menunggu di halaman bangunan megah itu.
"Kau ikut ayah atau berangkat sendiri?" tanya tuan Sirkun pada Muhibbin.
"Sebaiknya saya naik kereta angin saja, Yah."
"Setelah dari markas Bhayangkara, saya nanti juga akan mencari Disya kembali." jawab Muhibbin dengan lirih.
"Ya sudah! kita bertemu di markas Bhayangkara."
***
Malam kian larut, suasana sepi menyelimuti seantero Negeri Pantai, rintik hujan semakin membuat sunyi pulau kepingan nirwana tersebut.
Disebuah bangunan tua di pingiran Banjar Manguntur, beberapa lelaki menggunakan tudung penutup wajah bersiaga diluar rumah, sementara didalam rumah seorang pria dengan penutup wajah pula tengah mengamati seorang wanita yang terikat di salah satu tiang rumah tersebut.
Wanita itu terus meronta disertai deraian air mata di pipinya.
"Lepaskan!"
"Siapa kalian?"
"Apa yang kalian inginkan dariku?" pekik wanita itu dengan suara parau.
Lelaki bertudung yang berdiri dihadapan sang wanita diam tak bergeming tanpa suara sepatah katapun, dia hanya mengamati tingkah wanita yang terikat di tiang rumah itu.
"Tolong, lepaskan aku!"
"Aku ingin pulang." kini suara wanita itu semakin lirih diantara isak tangisnya, namun sang lelaki tetap tak bergeming di tempatnya berdiri.
Tiba-tiba derik suara pintu terdengar dibuka dan seorang berjubah dengan caping lebar di kepalanya menyeruak masuk kedalam ruangan, temaramnya penerangan di bangunan tersebut membuat wajah orang yang baru saja masuk itu tak nampak jelas.
Lelaki bercaping itu terlihat mendekati rekannya yang sedari tadi berdiri menjaga wanita yang terikat di tiang.
"Bagaimana, apa semua aman?"
"Apakah ada orang yang melihat kerja kalian ini?" tanya lelaki bercaping pada rekannya.
"Tak ada, hanya saja apakah tindakan kita ini tidak berlebihan, We?" tanya lelaki bertudung pada orang yang baru datang itu.
__ADS_1
Sejenak lelaki bercaping yang di sapa 'We' itu menghela nafas dalam-dalam, sesaat kemudian dia berkata pada rekannya,
"Semoga Dewata mengampuni perbuatan kita ini."
"Semua yang kita ini lakukan demi masa depan seorang anak."
"Dan sebelum wanita itu menjadi penghalang di masa depan, kita singkirkan dia." ujar lelaki bercaping itu lirih pada rekannya.
"Maksudmu apa, We?"
"Kau ingin membunuh gadis itu?" tanya lelaki bertedung terkejut dengan ucapan rekannya.
"Aku tak mau, We."
"Yang kita lakukan ini sudah keterlaluan, apalagi kau menginginkan gadis itu untuk disingkirkan."
"Aku tak setuju, aku tak ingin terlibat terlalu jauh dalam hal ini."
"Kita hanya petani, We."
"Aku tak ingin karma buruk akan menimpaku dan keluargaku." ujar pria bertudung itu kembali pada rekannya.
Lelaki bercaping itu terlihat mendengus kesal dengan jawaban rekannya.
"Sudah kukatakan, ini demi masa depan seorang anak, Lanus!"
"Kau masih ingin bergabung atau keluar dari rencana ini?" tanya pria bercaping itu berbisik pada rekannya.
"Sadar, We!"
"Yang kita lakukan ini salah."
"Bukan seperti ini caranya untuk membantu majikan kita!" jawab pria bertudung yang dipanggil 'Lanus' itu.
"Baiklah!"
"Jika itu keputusan mu." ujar pria bercaping berbisik kembali pada rekannya,
Namun tiba-tiba tanpa disadari oleh Lanus, pria bercaping itu menghunus sebilah keris dan menghujamkan ke dada Lanus, pria itu mengerang kesakitan sambil mencengkram wajah pria bercaping.
Penutup kepala dari anyaman bambu itupun terjatuh dan samar-samar nampak wajah pria bercaping itu.
"We! apa yang kau lakukan ini"
"Kenapa kau tega?" erang Lanus dengan dada bersimbah darah dan nafas yang mulai tersengal.
"Ini demi sumpahku pada tuanku, Lanus!"
"Maafkan aku!" ucap pria bercaping itu sambil menghujamkan kembali senjata tajam yang dipegangnya pada rekannya yang telah limbung bersimbah darah.
Lelaki bertudung yang disapa 'Lanus' itu kini terkulai di lantai, sementara pria bercaping itu berdiri terpaku memandang mayat rekannya dengan keris yang masih bersimbah darah ditangannya.
Sontak kejadian itu mengagetkan wanita yang terikat di tiang bangunan, tanpa sengaja wanita itu berteriak hingga membuat para penjaga diluar berhamburan masuk kedalam bangunan.
"Kau ... "
"Ternyata, kau ... "
"Aaaahhhhh!"
*****
__ADS_1