KAHANAN

KAHANAN
CH 85 - PRALAYA PART III


__ADS_3

Jero Balian Kanta segera memeriksa keadaan Cahaya yang tergeletak di atas tandu.


"Bawa gadis ini ke dalam ruangan pengobatan."


"Ayo cepat!" seru Balian Kanta dengan wajah kembali menegang.


Beberapa Bhayangkara di bantu para Pecalang membawa tubuh Cahaya ke dalam ruangan pengobatan. Balian Kanta masuk dan Prawira Utama, tuan Sirkun serta Jero Pecalang mengikuti dari belakang.


Wajah Balian Kanta semakin kusut,


dahinya mengernyit dan gerahamnya gemeretak menahan kegeraman.


"Siapa yang melakukan ini semua? sungguh keterlaluan!" pekik Balian Kanta tak kuasa menahan amarahnya.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Jero?" tanya tuan Sirkun mendekat.


"Bagaimana keadaan wanita ini?" imbunya kembali. Pria itu beringsut mendekati Balian Kanta.


Wajah Balian Kanta semakin terlihat tegang, matanya meremang dan suaranya bergetar,


"Gadis ini sudah meninggal, tuan." ujarnya lirih pada tuan Sirkun. Semua orang diruangan pengobatan itu terkesiap dengan yang dikatakan Balian Kanta, tak sepatah katapun keluar dari orang-orang itu.


"Sungguh biadab, mereka tak punya perasaan dan pri kemanusiaan."


"Siapa yang melakukan ini semua, bagaimana bisa seluruh keluarga Jero Nengah Wirata dan Muhibbin diperlakukan seperti ini?" tuan Sirkun pun tak bisa menutupi rasa geramnya.


"Tuan Prawira Utama, kau harus segera menemukan pelaku kekejaman ini, saya pun tak akan tinggal diam dengan kejadian ini."


"Ini sungguh diluar batas kemanusiaan!" imbuh tuan Sirkun kembali sambil menatap Prawira Utama Bhayangkara di sebelahnya.


Wajah Prawira Bhayangkara pun memerah melihat pemandangan di depannya, tubuh Cahaya yang penuh luka dan wajah lebam kebiruan dan di sela-sela pahanya terlihat darah mengering membuat lelaki itu bergetar geram,


"Saya akan pastikan pelaku kejahatan ini akan menerima hukuman setimpal dengan perbuatannya, tuan." ujar Prawira Utama pada orang-orang yang hadir di tempat itu.


Lelaki itu terlihat memberi arahan dan memerintahkan pada salah satu anak buahnya.


Balian Kanta sekali lagi memeriksa keadaan tubuh di depannya, lelaki tua itupun berkata pada murid-muridnya,


"Cantrik, persiapkan dan rawat jenazah Ni Mas Cahaya, berikan penghormatan yang layak baginya." ujar Balian Kanta kembali.


"Dimana Nak Bagus Muhibbin? hingga detik ini pemuda itu belum terlihat."


"Kau segera susul pemuda itu, Jero!" ujar Balian Kanta pada Jero Pecalang yang sedari tadi berada disampingnya. Pimpinan keamanan desa Batubulan itu menganggukkan kepala dan dia memanggil salah seorang pecalang untuk segera menyusul Muhibbin di surau An Nur.


***


Sementara di surau An Nur, terlihat seorang pemuda duduk bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih basah. Tiga orang gadis dan seorang pemuda terlihat masih menemaninya.


"Kau harus tabah, Bin."


"Memang ini tak mudah, aku tau bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang kita cintai."


"Aku yakin kau bisa melewatinya." ujar Disya terisak pada sahabatnya yang masih terduduk didepan pusara bu Suratmi.

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke Manguntur, kita lihat keadaan Sekar dan Raya." imbuh gadis itu pada Muhibbin.


"Iya Bin, lebih baik saat ini kita fokus pada kondisi Sekar dan Raya,"


"Kakak tau kau sangat terpukul dan kejadian ini sangat menyakitkan bukan padamu saja, kamipun merasakannya."


"Ayo bangkitlah adik aka ini." ujar puan Rizza menghibur Muhibbin yang masih terdiam dengan mata berkaca-kaca.


Para sahabat Muhibbin terus membujuk dan menghibur pemuda yang masih terduduk sedih di depan pusara ibunya. Tiba-tiba pintu sengker surau An Nur berderik dan terbuka, seorang lelaki berpakaian Adat Madya dengan kain poleng hitam putih melingkar diantara pinggang dan lututnya menyeruak ke arah mereka.


"Nak Bagus, saya di utus Jero Pecalang menjemput andika untuk segera kembali ke Manguntur." ujar lelaki itu pada Muhibbin yang masih duduk bersimpuh.


"Ni Mas Sekar sudah mulai sadarkan diri." imbuh lelaki itu.


Muhibbin menoleh dan memandang lekat anggota Pecalang itu.


"Bagaimana dengan keponakanku, paman?" ujar pemuda itu,


"Dan apakah sudah ada kabar tentang keberadaan kakakku?" imbuhnya kembali.


Anggota Pecalang itu menghela nafas dan diapun berkata pada pemuda di hadapannya,


"Untuk hal itu saya diutus menjemput Nak Bagus, kakak Nak Bagus sudah di temukan." ujar anggota Pecalang itu kembali.


"Benarkah paman?"


"Bagaimana keadaan kakakku, paman?" tanya Muhibbin sambil bangkit dari tempatnya bersimpuh.


"Untuk hal itu lebih baik Nak Mas lihat sendiri, paman secara pribadi turut berduka atas semua yang menimpa Nak Bagus." jawab anggota Pecalang itu.


Seolah tau yang di rasakan Muhibbin, Disya berkata,


"Betul Bin, sebaiknya kita segera kembali ke Manguntur."


"Kita lihat dulu keadaan mbak yu Cahaya, Sekar dan Raya." imbuh gadis itu pada sahabatnya.


Muhibbin menganggukkan kepalanya kembali dan tak berapa lama berlalu meninggalkan pusara sang ibu mengikuti anggota Pecalang dan kawan-kawannya.


Orang-orang itu meninggalkan surau An Nur membelah jalanan tanah dengan kereta anginnya menuju Manguntur.


***


"Ajik!"


"Ajik!"


"Aku dimana?"


"Aduhh, sakit!"


Suara lirih terdengar di ruangan pengobatan banjar Manguntur.


"Ni Mas!"

__ADS_1


"Ni Mas sudah sadar?" ujar Balian Kanta yang berada tak jauh dari suara itu. Lelaki tua itu mendekat ke arah tubuh yang berbaring di depannya, tuan Sirkun, Jero Pecalang dan Prawira Utama pun mengikutinya.


"Ajik dimana, paman?" tanya suara itu kembali, terdengar tarikan nafas yang berat dihela gadis itu. Tetesan air mata mengalir di wajah pucat gadis itu.


"Lebih baik kau pulihkan dirimu, Ning."


"Kau tak perlu merisaukan Jero Mekel." ujar Balian Kanta lirih, mata lelaki tua itu terlihat berkaca-kaca mandang gadis yang berbaring di depannya.


"Tidak, paman."


"Aku melihat, Ajik dikeroyok oleh pasukan Bhayangkara dan salah satu diantara mereka menusukkan belati di dada Ajik."


"Bagaimana keadaan beliau, paman?" ujar gadis itu yang tak lain adalah Sekar dan berusaha bangkit dari tempatnya berbaring, terlihat perban yang membalut lukanya kembali berwarna merah dan darah merembes dari luka yang belum kering itu.


Melihat hal itu Balian Kanta menahan Sekar agar tak bangkit dari tempatnya berbaring.


"Kau jangan terlalu banyak bergerak dulu, Ning!"


"Lukamu masih belum sembuh." ujar lelaki tua itu pada gadis didepannya.


"Apa paman tak salah dengar, kau tadi bilang para Bhayangkara yang menyerang Jero Mekel?" imbuh Balian Kanta sambil membantu membaringkan sekar kembali.


"Iya, paman."


"Para Bhayangkara datang ke rumah mencari Bli Ibbin dan Ajik memberitahu kalau Bli Ibbin tak ada di rumah karena disuruh mengantar sesuatu ke saudara Ajik di lain desa."


"Namun para Bhayangkara itu tak percaya dan terus menggeledah rumah kami, hingga terjadi penyerangan dan pengeroyokan pada Ajik oleh mereka" ujar Sekar terisak.


Gadis itu sesenggukan dan menceritakan kejadian pada malam itu, dimana sang ayah bertarung dengan para Bhayangkara dan pada saat yang sama sebelum kehilangan kesadaran akibat tusukan tombak salah seorang Bhayangkara, dirinya melihat Cahaya di bawa paksa oleh orang-orang itu dan rumahnya mulai di bakar.


Mendengar penuturan Sekar, wajah orang-orang diruangan itu merah padam dan sorot mata mereka tertuju pada Prawira Utama Bhayangkara.


"Kurang ajar! Serigala berbulu domba!"


"Katakan, apa benar yang disampaikan Ni Mas Sekar itu, tuan?" kini Jero Pecalang menghunus keris dan mengarahkan pada Prawira Utama Bhayangkara. Lelaki itu terlihat begitu geram dengan amarah yang tak dapat ditahannya lagi.


Melihat reaksi Jero Pecalang, Prawira Utama berkata dengan nada geram pula,


"Kau jangan sembarangan, Jero!"


"Aku tak mengerti yang gadis itu sampaikan." ujar Prawira Utama Bhayangkara membela diri.


Melihat ketegangan diruangan itu, tuan Sirkun menyela.


"Tak mungkin Sekar berbohong, sebaiknya kalian jelaskan sebelum amarah para warga semakin tak terkendali jika mengetahui hal ini!" ujar tuan Sirkun pada Prawira Utama Bhayangkara.


"Dan kau Jero Pecalang, tahan dirimu, turunkan senjatamu!"


"Kita bicarakan dengan kepala dingin walau hati kita panas!" imbuh pengusaha Negeri Pantai itu kembali menenangkan situasi.


*****


Note :

__ADS_1


Pakaian Adat Madya : pakaian resmi dengan udeng di kepala, kain selempot atau selendang mengikat dipinggang dan kain bawahan layaknya sarong dikenakan di bawah.


__ADS_2