
Tuan Timoti pun beralu meninggalkan Habsari seorang diri, terlihat beberapa pelayan menyiapkan tempat dan membawa barang-barang wanita itu ke sebuah bangunan yang tak kalah megah di samping bangunan utama gubernuran.
Habsari masih tak habis berfikir apa yang membuat tuan Timoti berani melindungi adiknya Sariwati dan dari pernyataannya terakhir seolah menegaskan segala sesuatu yang ada di Negeri Pantai tak seorang pun bisa mencampuri serta bertindak sesuka hati tanpa persetujuan tuan Timoti dan itu pun berlaku pada dirinya.
"Rupanya paman ingin menentang ku, dari yang dikatakannya mempertegas bahwa dia yang memiliki hak mutlak dalam mengatur Negeri ini."
"Ini tak bisa di biarkan, lama-lama paman akan menjadi batu sandungan bagiku dalam mewujudkan segala tujuanku disini." wanita itu bergumam dan beranjak dari ruangan tamu gubernuran
Sang pewaris dinasti Harsuto itupun menuju keluar menemui seseorang yang sedari tadi mengawal dan menjadi supirnya.Terlihat wanita itu memerintahkan sesuatu pada supirnya.
"Sampaikan pada Martin, segera lakukan rencana seperti semula dan nanti sebelum senja temui aku di kedai tepi sawah yang ada di pinggiran Negeri Pantai ini, saat ini aku akan keluar mencari angin sendirian, jangan ikuti aku!" ujar Habsari pada lelaki pengawalnya.
Dia pun keluar mengedarai kereta angin yang terparkir di depan bangunan kediaman tuan Timoti.
***
Di tempat lain di balai pusat pengobatan Negeri Pantai, tuan gubernur bergegas menuju kearah bangunan ber cat putih yang terlihat bersih setelah turun dari kereta kuda yang di kendarainya, Seorang lelaki tua menghampiri sang gubernur.
"Selamat datang tuan, ada gerangan apa tuan datang berkunjung dan tak biasanya tuan datang tiba-tiba?" kata lelaki tua itu.
"Tak perlu sungkan, Jero Balian."
"Aku hanya ingin menemui keponakan ku, Wati. Apakah dia ada?"
Tuan gubernur mulai memasuki balai pengobatan di ikuti Jero Balian di belakangnya.
"Ni Mas WAti ada di belakang tuan, Dia sedang membantu cantrik-cantrik saya meracik beberapa ramuan obat." ujar lelaki tua itu berjalan mengimbangi langkah sang gubernur.
Tak berselang lama, Keduanya pun sampai di bagian belakang balai pengobatan. Terlihat beberapa cantrik sibuk menumbuk beberapa jenis dedaunan obat dan Sariwati berada di antara mereka.
__ADS_1
"Wati!" sapa tuan Timoti pada gadis ayu berkerudung merah jambu didepannya.
"Paman, mengapa paman berada disini? bukankah paman ada kegiatan penting bersama tuan Sirkun hari ini di rumahnya?" Sariwati menatap lelaki yang baru datang bersama Jero Balian di depannya.
"Iya benar, tapi ada hal yang perlu kamu ketahui sebelum paman pergi ke rumah tuan Sirkun, mari ikuti paman?" lelaki paruh baya itu melangkah ke dalam ruangan kerja Jero Balian di ikuti oleh Sariwati dan Jero Balian. Sesampainya dalam ruangan itu tuan gubernur berkata,
"Jero Balian, bagaimana perkembangan kesehatan masyarakat negeri ini, apa kau mengalami kendala selama ini? sang gubernur duduk di kursi yang ada di sudut ruangan.
" Untuk sementara ini belum ada kejadian yang menghawatirkan tuan, sepanjang ini masih wajar dan bisa kami tangani." jawab lelaki tua itu yang masih berdiri di depan sang gubernur.
"Bagus kalau seperti itu, pertahankan kerja baik kalian."
"Jika ada sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan dan penanganan kesehatan warga negeri ini, segera sampaikan dan laporkan padaku." ujar sang gubernur.
"Baik tuan, segala arahan tuan akan kami laksanakan." jawab Jero Balian menjura pada tuan Timoti.
"Baik tuan, Saya undur diri." Jero Balian melangkah keluar ruangan kejanya meninggalkan tuan Timoti dan Sariwati.
"Wati, ada yang perlu paman sampaikan padamu. Duduklah!"
Sariwati mengambil kursi yang tak jauh di sampingnya dan duduk di hadapan sang gubernur.
"Ada apa, Paman?"
"Ku lihat paman sedikit cemas dan kedatangan paman kemari aku rasa tak ada kaitannya dengan kondisi kesehatan warga Negeri Pantai." ujar Sariwati pada pamannya.
"Kau benar, kesehatan warga Negeri Pantai aku rasa sudah cukup baik selama ini. Tapi ada yang perlu kamu ketahui, Wati!"
"Kakak mu, Habsari ada di negeri ini."
__ADS_1
"Tadi pagi dia datang dan sekarang berada di rumah." ujar tuan Timoti.
Wajah Sariwati berubah mendengar apa yang disampaikan sang gubernur.
"Dia berencana menetap di negeri ini. Aku rasa kedatangannya bukan hanya ingin tinggal disini tapi ini ada kaitannya dengan keberadaanmu dan kotak Giok Hujan milikmu." kembali sang gubernur menjelaskan.
"Aku harap dugaan ku benar dan Kau harus mulai berhati-hati, Wati!"
Lelaki itu terlihat melai cemas dengan keberadaan Habsari dan menghawatirkan keadaan Sariwati.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Paman?" tanya Sariwati pada lelaki di hadapannya.
"Untuk sementara, Kau lebih baik tinggal di Villa Sandat milik ku yang berada di Desa Batubulan dan kegiatanmu di balai pengobatan ini untuk sementara kamu tinggalkan sampai paman menemukan cara bagaimana supaya Habsari segera meninggalkan negeri ini, Segala sesuatunya biar anak buah paman yang siapkan dan tentang Habsari biar paman yang urus."
"Baik paman, jika itu keputusan terbaik yang harus aku jalani untuk saat ini, Aku akan selalu ikuti nasehat paman." ujar Sariwati lirih.
"Baiklah, Aku juga tak punya waktu banyak. Aku harus segera menemui tuan Sirkun karena ada pembahasan penting mengenai perkembangan pusat seni budaya Negeri Pantai dan selama ini dukungan serta peran tuan Sirkun sangat besar sekali."
"Paman pergi dulu, tentang barang-barang mu dirumah biar pelayan yang menyiapkannya, kamu tunggu disini saja, nanti anak buah paman akan menjemput mu dan mengantarkan mu ke Villa Sandat. Paman juga akan tempatkan orang-orang terbaik paman untuk menjagamu."
"Terimakasih paman namun bolehkah aku keluar sebentar, karena ada sesuatu yang perlu ku selesaikan juga?" ujar wanita ayu itu.
"Tapi kamu harus tetap berhati-hati, karena kecurigaan paman, Kakakmu tidak sendirian datang ke negeri ini." pungkas sang gubernur.
"Iya paman, Aku akan selalu ingat pesan paman."
Keduanya pun melangkah keluar ruangan kerja Jero Balian, tuan gubernur meninggalkan pusat kesehatan Negeri Banjir diantar oleh Jero Balian dan Sariwati di gerbang bangunan itu.
__ADS_1