
Siang semakin terik, cahaya matahari menyeruak diantara pepohonan jepun dan sandat yang tertanam rapi di areal Surau An Nur.
Muhibbin masih terlihat bersenandung dimana Raya Suci keponakannya terlelap di atas pangkuannya, dibelainya lembut rambut gadis kecil itu.
Pandangan Pemuda itu menerawang jauh memandang hamparan padi yang mulai menguning disekitar Surau dan deburan ombak pantai Purnama terdengar jelas seiring hembusan angin yang bertiup semilir.
Mata Muhibbin terus lekat memandang ke arah pantai, pikirannya mengembara mengingat berbagai kejadian dimana deburan ombak dan karang di pantai Purnama menjadi saksi bisu pertemuannya kembali dengan sang Kekasih Sariwati kala itu.
Pertemuan yang menasbihkan hubungan keduanya, saling mengikat janji untuk sehidup semati dan selalu ada untuk menguatkan satu dengan lainnya dalam sebuah bahtera kasih yang kini tak bersisa.
Rasa pedih dan remuk redam hinggap di hati Muhibbin tatkala mengingat semuanya, wanita yang sangat dicintainya kini telah pergi dan menemukan labuhan hatinya. Diantara peristiwa yang telah keduanya lalui seolah sirna tanpa makna. Kehilangan Ibu, Kakak serta Ayah angkatnya membuat Pemuda itu menjadi sosok pendiam dan menutup diri dari kehidupan di lingkungannya.
Hari-hari Muhibbin sepeninggal orang-orang terkasihnya banyak di habiskan untuk mengurus Sekar adik angkatnya dan Raya Suci sang keponakan. Wajah Pemuda itu terlihat lebih tua dari usianya, gurat-gurat kesedihan terlihat dari pancaran matanya yang tak lagi ceria, walau sesekali senyumnya tersungging hanya untuk menutupi apa yang sedang dirasakannya.
Derik pintu kayu Surau An Nur menyadarkan Muhibbin dari lamunannya. Seorang yang sangat dikenalnya menghampiri Pemuda itu yang masih bersila di balai bambu, dimana sang keponakan masih terlelap dalam tidurnya.
Langkah ringan orang yang baru datang mendekat dan duduk di samping Muhibbin. Dengan isyarat tangan, orang yang baru datang itu meminta Muhibbin untuk tetap duduk ditempatnya.
"Nak Mas tak perlu terkejut, aku datang kemari sengaja ingin bertemu dengan dirimu, Nak Mas."
"Sudah beberapa hari ini aku berada di banjar Galuh mengunjungi Resi Giri waja."
"Dari Beliaulah, aku mendengar berita pralaya itu."
"Aku turut berduka atas semua yang telah menimpamu, Nak Mas."
ujar orang itu pada Muhibbin.
Muhibbin mengangkat kepala Raya Suci dari pangkuannya, Gadis kecil itu masih terlihat lelap dalam tidurnya, Pemuda itupun menjura mencium tangan orang yang ada di depannya.
"Maafkan saya, Tuan."
"Saya belum sempat berkunjung kembali ke banjar Gelumpang untuk menemui Tuan."
"Bahkan ke Griya Manuaba pun saya hanya bisa sowan saat setelah keluar dari tahanan."
"Mohon maafkan ketidak sopanan saya selama ini." ucap Muhibbin lirih sambil menangkupkan telapak tangannya didepan dada.
Orang itu hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Pemuda dihadapannya, sosok di depan Muhibbin itu tak lain adalah Ida Bagus Putra Narayana balian tua dari banjar Gelumpang yang telah menolong dan mengobati mendiang bu Suratmi tatkala pertama kali berkunjung ke Negeri Pantai.
"Kau tak perlu sungkan dan merasa tak enak hati."
"Aku maklum dengan keadaan dan situasi mu, Nak Mas." ujar Gus Aji Putra pada Muhibbin sambil menepuk pundak Pemuda itu.
"Sang Resi telah bercerita semua pada ku,"
"Itulah yang ditakdirkan Sang Hyang Penguasa Jagad dalam perjalanan hidupmu."
"Kau harus tetap tabah menjalani karma mu, Nak Mas."
"Yang perlu kau pikirkan saat ini adalah bagaimana merawat dan mengasuh Keponakan mu serta adik mu."
"Kau jangan terlalu larut dalam rasa bersalah karena Dewata pasti akan memberikan Asung Kerta Wara Nugraha Nya, jika dirimu tabah dan menerima yang di takdirkan dalam hidupmu." ujar Gus Aji Putra kembali.
Muhibbin hanya terdiam dengan kepala tertunduk dihadapan lelaki paruh baya berjubah putih itu, dalam benaknya kembali tersirat semua peristiwa yang dialaminya, tak terasa air mata menetes di pipinya.
Melihat hal itu, kembali Gus Aji Putra mengusap dan menepuk lembut pundak Muhibbin.
"Lima dasar kebenaran adalah Pengetahuan, Cinta, Keadilan, Pengabdian dan Kesabaran."
"Ketakutan selalu ada dalam hati manusia."
"Terkadang rasa takut kehilangan yang dimiliki, takut akan penghinaan, takut dipisahkan dengan orang yang dicintai."
"Karenanya, adanya ketakutan tampak normal untuk semua."
__ADS_1
"Apakah kamu pernah berpikir, apakah itu situasi atau hal yang menyebabkan rasa takut? juga darimana asal kesedihan?"
"Tidak ada yang memikirkan itu."
"Pengalaman semua orang, sebenarnya dapat memberitahu."
"Yang merasa takut tidak memecahkan masalah di masa depan, ketakutannya hanyalah imajinasi dari kesedihan yang akan datang, tidak memiliki hubungan dengan kenyataan apapun,"
"Meskipun mengetahui bahwa takut tidak lain hanyalah imajinasi,
bukankah sulit untuk bebas darinya dan hidup tanpa rasa takut?"
"Pikirkanlah itu, Nak Mas." pungkas Gus Aji Putra pada Muhibbin, pandangan matanya teduh menatap Pemuda yang masih terisak didepannya.
Dengan sesenggukan Muhibbin berkata,
"Mengapa semua ini menimpa saya, Tuan?"
"Saya bukanlah seorang suci yang akan kuat dengan ujian dan cobaan seperti ini."
"Saya tak siap kehilangan semuanya."
"Jika boleh memilih, lebih baik saya mendahului menghadap Sang Pencipta dari pada saya melihat orang-orang terkasih saya berkalang tanah dan pergi akibat sesuatu yang hingga saat ini dalam pemahaman saya pun tak dapat mencernanya." ujar Pemuda itu pada lelaki tua dihadapannya.
"Kau tak boleh berkata seperti itu, Nak Mas."
"Sama saja dirimu berharap menjadi Tuhan yang setiap saat bisa mengatur sesuai kehendak mu."
"Keputusasaan dalam hidup karena sebab kurangnya bersyukur atas segala rahmatNya."
"Jangan pernah berburuk sangka atas takdir Sang Maha Pencipta."
"Di dunia ini setiap orang memiliki beberapa kelemahan,"
"Sebagai contoh, seseorang tidak dapat berjalan sangat cepat, sementara yang lain tidak bisa mengangkat beban berat,
"Ada banyak contoh seperti itu."
"Apakah kamu tahu seseorang yang memiliki segalanya?"
"Dari kelemahan tunggal kita, dianggap pusat guncangan dari kehidupan kita, yang melahirkan kesedihan dan ketidakpuasan dalam hati."
"Kelemahan adalah sebuah cacat bawaan yang diberikan oleh nasib,"
"Tetapi kelemahan dalam pikiran seseorang, diasumsikan 'Batas' tidak dapat dilewati."
"Tapi ada beberapa orang yang sanggup kerja keras mengalahkan kelemahan mereka,"
"Apa perbedaan antara orang orang seperti itu dengan yang lain?"
"Apakah kau pernah berpikir tentang hal itu?"
"Ada sebuah jawaban yang sangat sederhana untuk itu."
"Seseorang yang tidak membiarkan kelemahannya mengalahkannya, yang yakin dengan kemampuannya, yang mampu bergerak melewati kelemahannya."
"Dengan kata lain, Dewata mungkin memberikan satu kelemahan."
"Tapi batas, batas hanya ditentukan oleh pikiran dan keyakinan."
"Jadi janganlah kelemahan mu akan keputusasaan membuatmu larut hingga kau melupakan kodrad darma mu sebagai manusia." seru Gus Aji Putra kembali, senyum dan pandangan lembut terus menghiasi wajah teduhnya.
Terlihat lelaki tua itu menghela nafas sebelum kembali berkata,
"Setiap saat dalam kehidupan adalah saat pengambilan keputusan."
__ADS_1
"Pada setiap langkah kita harus memutuskan tentang langkah berikutnya, karenanya daun keputusan terkesan abadi."
"Keputusan yang diambil di masa kini membawa kebahagiaan atau kesedihan di masa depan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk keluarga, seseorang dan generasi masa depan juga."
"Ketika seseorang dihadapkan dengan dilema, hatinya menjadi bimbang dan diisi dengan keragu-raguan."
"Saat pengambilan keputusan menjadi pertempuran dan hati menjadi medan perang,"
"Sebagian besar dari kita mengambil keputusan bukan untuk mencari solusi untuk masalah melainkan untuk menenangkan hati seseorang."
"Tapi pantaskah seseorang makan sambil berjalan? tidak!"
"Kemudian, bila hati dalam keadaan berperang, bisakah mengambil keputusan yang benar?"
"Pada kenyataannya ketika seseorang mengambil keputusan dengan pikiran tenang, ia memastikan senang di masa depan untuk dirinya sendiri."
"Tapi ketika seseorang mengambil keputusan untuk menenangkan hatinya, itu selalu akan menyebabkan rasa sakit dan penderitaan di masa depan."
"Apakah kau mengerti sekarang, Nak Mas." pungkas Gus Aji Putra pada Muhibbin.
Pemuda itu menganggukkan kepala dengan tatapan mata yang sembab ke arah Gus Aji Putra.
"Terimakasih atas nasehat Tuan, kini perasaan saya lebih tenang dan saya akan selalu mengingat pesan Tuan." ujar Muhibbin sambil menyeka air matanya.
Tanpa terasa hari pun semakin senja, matahari mulai condong kearah peraduannya, Gus Aji Putra beranjak dari tempatnya dan berpamitan untuk kembali ke banjar Galuh ke kediaman Resi Giri Waja.
"Nak Mas, aku pamit dulu."
"Jika kau ada waktu, datanglah ke Griya Manuaba."
"Karena untuk beberapa purnama aku berada disana."
"Ajaklah Adik dan Keponakanmu."
"Setyowati pasti akan senang jika kalian semua bertemu kembali."
ujar lelaki tua itu.
Muhibbin menganggukkan kepala dan mengantarkan Balian tua itu sampai didepan pintu Surau An Nur. Pandangannya lekat melihat punggung lelaki tua berjubah putih itu hingga hilang di kejauhan.
"Pak Lik! siapa tadi itu?" tiba-tiba suara Raya Suci menyadarkan Muhibbin dari lamunannya, Pemuda itu melangkah mendekati sang Keponakan.
"Tadi ada Gus Aji Putra, Nduk." jawab Muhibbin lembut pada Raya Suci, tangannya membelai rambut gadis kecil itu.
Dengan mengusap wajah dan mengerjapkan matanya, Raya Suci kembali berkata,
"Kenapa Pak Lik tak membangunkan ku, apa Kakiang tadi lama disini?" tanya gadis kecil itu kembali.
"Ya lumayan, Raya."
"Pak Lik gak tega membangunkan mu,"
"Pak Lik lihat kau lelap sekali dalam tidur mu." jawab Muhibbin sambil tersenyum.
"Ayo kita pulang ke Manguntur, Nduk."
"Mbak Yu mu Sekar pasti sudah menunggumu disana." imbuh Muhibbin pada Raya Suci.
Raya Suci menganggukkan kepala dan bangkit dari balai bambu tempatnya berada.
Dengan perlahan Muhibbin memapah Keponakannya dan keduanya pun meninggalkan Surau An Nur mengendarai kereta angin menuju Manguntur.
******
Note Author:
__ADS_1
*Asung Kerta Wara Nugraha: atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa.
*Kakiang: Kakek