KAHANAN

KAHANAN
CH 111 - BARA DALAM SEKAM PART V


__ADS_3

"Bagaimana menurut pendapat Kang Mas, tentang pertunjukan malam ini?" tanya tuan Timoti pada tuan Bendowo yang duduk di sebelah kanannya, sementara tuan Sirkun yang berada di sebelah kiri sang Gubernur hanya tersenyum melihat kedua orang didekatnya itu takjub dengan pagelaran seni yang di adakan ditempatnya.


"Luar biasa, Tim."


"Sangat memukau dan mengagumkan ketrampilan seniman-seniman kita."


"Ternyata negeri kita kaya akan budaya." jawab tuan Bendowo takjub, pandangannya terus mengarah ke panggung yang ada di bawahnya dengan tampilan seniman-seniman yang ada.


Tuan Timoti menganggukkan kepala mengamini perkataan pewaris Dinasti Garuda Emas itu.


"Betul Kang Mas."


"Aku pun tak mengira hari jadi Negeri Pantai semeriah ini dan semua penduduknya bersuka cita." ucap tuan Timoti, tokoh penting Negeri Pantai itu kemudian berpaling pada tuan Sirkun di sebelah kirinya.


"Selamat tuan Sirkun, anda memang bertangan dingin."


"Semua yang anda sentuh dan tangani pasti sukses dan selalu membuatku angkat topi." ujar tuan Timoti pada tuan Sirkun setelah mendengar kekaguman tuan Bendowo kakaknya.


Pengusaha Negeri Pantai itu pun tersenyum,


"Ini bukan hasil kerja saya, Tuan."


"Yang patut di apresiasi atas kesuksesan pagelaran ini lebih tepatnya di tujukan pada anak gadis saya."


"Karena hasil kerja kerasnya beberapa bulan ini bersama rekan se timnya, membuat acara malam hari ini berjalan meriah." jawab tuan Sirkun sambil terus tersenyum pada Gubernur Negeri Pantai itu.


"Luar biasa, buah tak akan jauh jatuh dari pohonnya." seru tuan Timoti penuh kekaguman.


"Dimana putri anda saat ini, Tuan?"


"Aku ingin mengucapkan selamat secara langsung atas kesuksesan terselenggaranya perhelatan ini."


"Bagaimana pun juga ini acara hari jadi Negeri Pantai yang paling meriah yang pernah ada." imbuh sang Gubernur pada tuan Sirkun.


"Tadi dia berada di sekitar sini bersama saya, Tuan."


"Tapi entahlah di mana dia saat ini." ujar tuan Sirkun menghentikan penjelasannya pada sang Gubernur, tatkala pembawa acara menyebut sebuah nama untuk naik keatas panggung memberi sambutan, semua mata tertuju ke arah panggung dimana seorang gadis melangkah naik.


Seorang gadis ayu berdiri di tengah panggung megah dan semua mata lekat mandang padanya, tak terkecuali rombongan sang Gubernur yang duduk di tempat tamu utama di balkon lantai dua bangunan Selasar Rumah Budaya.


"Itu putri saya, Tuan." ujar tuan Sirkun sambil mengarahkan pandangannya pada Disya yang sedang memberi sambutan.


Nampak rasa bangga di hati tuan Sirkun pada putri semata wayangnya itu.


Setelah beberapa saat sambutan selaku ketua panitia yang dilakukan oleh Disya selesai, tepuk tangan riuh menggema di Selasar Rumah Budaya, semua mata terkesima melihat dan mendengar kata sambutan putri pengusaha dermawan Negeri Pantai tersebut.


"Hebat!"


"Salut!"


"Anak semuda itu memiliki visi


dan cara pandang yang jenius untuk memajukan seni budaya negeri kita."


"Andaikan ada sepuluh pemuda dan pemudi sepertinya, maka kejayaan Kerajaan Zamrud akan menggoncangkan dunia." ujar tuan Bendowo sambil berdiri dan bertepuk tangan.


Lelaki paruh baya itu sedari tadi tak bisa menyembunyikan rasa kekaguman dan menikmati pagelaran seni budaya khas Kerajaan Zamrud dan negeri-negeri koloninya, sesekali pria paruh baya itu berbincang dengan tuan Gubernur yang tak lain adiknya yang berada di sampingnya.


"Hebat, Tim!"


"Luar biasa!" ujar pewaris dinasti Garuda Emas itu kembali sambil menyalami tuan Timoti dan tuan Sirkun.


"Selamat, Tuan."


"Putri anda luar biasa."


"Tuan harus berbangga padanya."


"Dia adalah aset berharga sebagai generasi penerus pengganti kita-kita ini." imbuh tuan Bendowo sambil berjabat tangan dengan tuan Sirkun yang terus menyunggingkan senyumannya.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan."


"Mohon bimbingannya untuk putri saya." jawab tuan Sirkun merendah.


Sementara di barisan kursi yang lain, Nyonya Warika dan Habsari terlihat menikmati penampilan seniman-seniman Negeri Pantai.


Tak jauh dari nyonya Warika berada, Seto merangkul pundak Sariwati istrinya, pemuda itu sengaja menampakkan kemesraan dan perhatiannya kepada sang istri dihadapan mertuanya yang ada didekatnya.


Pemuda itu sesekali mencium kepala sang istri yang berada diantara rangkulannya, Sariwati yang tau bahwa Seto mencari kesempatan berusaha menghindar, namun lagi-lagi pemuda itu menunjukkan sikap mesranya sehingga Sariwati pun akhirnya tak kuasa menolak disebabkan orangtuanya berada didekatnya.


***


Kesemarakan terasa di Selasar Rumah Budaya dan kini acara kembali di gelar dengan penampilan Drama Gong yang dibawakan oleh Teruna Teruni Negeri Pantai, alunan Gong gebyar membahana seiring para pemeran menaiki panggung.


Malam ini seniman-seniman Negeri Kepingan Surga itu menampilkan lakon 'Sampik Ingtai ' yang sangat populer sebagai cerita rakyat Negeri Pantai.


Kisah ini menceritakan tentang sepasang sahabat yang awalnya sama-sama masuk disebuah tempat pendidikan dimana tempat itu hanya di khususkan bagi kaum pria saja.


Sampik adalah seorang pemuda bersahaja yang baru menuntut ilmu di sebuah pusat pendidikan dan pemuda ini memiliki sahabat karib bernama Ingtai dari golongan orang berada.


Setelah sekian lama berteman dan menuntut ilmu, Ingtai membuka penyamarannya, dia mengakui pada sahabatnya bahwa dirinya sebetulnya seorang wanita namun karena keinginannya menuntut ilmu sangat besar dan tempat pendidikan itu hanya diperuntukkan bagi kaum lelaki saja, Ingtai menyamar menjadi seorang pria.


Mengetahui karibnya seorang wanita, Sampik pun jatuh hati. Gayung pun bersambut, demikian pula Ingtai menyukai sahabatnya itu.


Keduanya menjalin asmara dan saling berjanji sehidup semati, namun hubungan Sampik dan Ingtai tak direstui oleh keluarga Ingtai yang berasal dari golongan kaya raya.


Ingtai dipingit dan dilarang menuntut ilmu di tempat dimana Sampik pun belajar disana dan Ingtai di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang juga berasal dari keluarga berada bernama Mencu.


Mengetahui perjodohan itu, Ingtai tak kuasa menolak keinginan kedua orang tuanya, gadis itu akhirnya jatuh sakit karena memendam rindu pada Sampik sang kekasih.


Sakit yang diderita oleh Ingtai membuatnya semakin hari semakin tak berdaya, gadis itu meninggal dunia karena tekanan jiwa dan membawa janji setianya terhadap sang kekasih hingga di ujung usianya.


Mengetahui Ingtai meninggal dunia, Sampik merasa sedih dan terpukul, atas masukan dari sahabatnya, Sampik disarankan bersembahyang di pusara Ingtai.


Sampik yang sangat kehilangan kekasihnya, meratap diatas gundukan tanah dimana jenazah Ingtai dikebumikan, berhari-hari pemuda itu meratap kepergian sang kekasih.


Hingga suatu hari dimana Sampik masih meratap di pusara Ingtai, sebuah keajaiban dari sang Pencipta terjadi, guncangan bumi dimana pusara Ingtai berada membuat tanah disekitarnya terkuak, demikian juga pusara Ingtai pun terbelah dan terlihatlah jazad sang gadis.


Bumi pun kembali berguncang, dan rengkahan tanah yang terkuak tiba-tiba menutup kembali. Sampik yang berada di liang lahat sang kekasih tak menghiraukannya, rasa cinta yang mendalam terhadap Ingtai membuatnya tak bergeming, pemuda itu akhirnya tertimbun tanah dan mati bersama jazad kekasihnya yang telah mendahuluinya.


Gemuruh tetabuhan Gong gebyar mengakhiri penampilan Drama gong yang membawakan kisah Sampik dan Ingtai.


Semua mata para penonton meremang dan menitikkan airmata menyaksikan pementasan seniman-seniman Negeri Pantai yang mengangkat kisah asmara yang melegenda tersebut, tepuk tangan membahana kembali menggema di Selasar Rumah Budaya.


Tak terkecuali tamu-tamu yang ada di balkon lantai dua, semua terkesima dan haru melihat pertunjukan tampilan Drama Gong yang dibawakan oleh Teruna Teruni Negeri Pantai tersebut.


"Kenapa kau, Sayang!" ujar Seto melihat istrinya menyeka airmata dengan ujung kerudungnya.


Sariwati hanya terdiam tak menjawab pertanyaan sang suami, wanita ayu itu bangkit dari tempatnya duduk dan mendekati ibu serta kakak sulungnya.


"Mi, Aku kebelakang dulu, ya!" ujar wanita berbadan dua itu pada sang ibu.


Nyonya Warika memalingkan wajahnya ke arah Sariwati, senyim lembut wanita paruh baya itu tersungging,


"Ya sudah, biar suamimu yang menemanimu, Nak." ujar nyonya Warika singkat, tatapannya lembali mengarah ke atas panggung dimana para seniman masih berdiri memberi penghormatan kepada para penonton.


"Tak usah, Mi."


"Aku hanya ingin ke kamar kecil saja." imbuh Sariwati pada sang ibu.


Mendengar percakapan istri dan mertuanya, Seto menimpali.


"Iya sayang, biar ku temani dirimu, ya!" ucap pemuda itu pada Sariwati.


"Tak perlu, aku hanya sebentar saja." jawab Sariwati.


Seto yang tau sifat keras kepala sang istri hanya terdiam dan nyonya Warika yang sesekali menoleh ke arah Sariwati kembali berkata,


"Ya sudah, tapi kamu harus hati-hati, Nak."

__ADS_1


"Mintalah pelayan untuk mengantarkan mu." pungkas wanita paruh baya itu, sementara Habsari yang berada didekatnya tak menghiraukan percakapan antara nyonya Warika, Sariwati dan Seto.


Sariwati melangkah meninggalkan keluarganya berada menuju ke arah belakang Selasar Rumah Budaya di antar oleh salah satu pelayan yang kebetulan lewat ditempat mereka berada.


***


Sementara di tempat di depan panggung, diantara kursi para tamu undangan, Disya menghampiri sahabat-sahabatnya,


"Hai, Kar?" ujar Disya pada Sekar.


Gadis itu mengambil tempat duduk di antara Sekar dan Raya. pandangannya beralih pada gadis kecil didekatnya yang terlihat murung.


"Kamu kenapa, Raya?"


"Kok wajahnya ditekuk seperti itu?" ujar Disya sambil tersenyum.


"Dimana Pak Lik mu, Nduk?"


"Kemana Muhibbin, Kar? tanya Disya kembali pada kedua orang didekatnya.


Sekar hanya mengangkat bahunya dan memberi isyarat dengan menggelengkan kepala, sementara Raya Suci masih terdiam tertunduk.


"Ada apa ini?" tanya Disya penasaran.


Dengan singkat, Sekar menceritakan apa yang terjadi disaat rombongan tuan Gubernur datang dan reaksi Muhibbin yang menegur Raya karena gadis kecil itu menyapa salah seorang dari rombongan sang Gubernur.


Mendengar penjelasan Sekar, Disya tersenyum walau dalam hatinya juga merasakan apa yang Muhibbin rasakan.


"Oh, jadi itu masalahnya."


"Ya sudah, biarkan Pak Lik mu menenangkan diri dulu, Raya."


"Bibi tau, Raya pasti merasa bersalah."


"Tapi Raya tak perlu khawatir, biar bibi yang akan bicara dengan Pak Lik mu nanti." ujar Disya sambil membelai rambut gadis kecil yang masih tertunduk disampingnya.


Dalam hati, Disya pun tak menyangka bahwa malam ini Sariwati juga hadir di Selasar Rumah Budaya, wajah Disya terlihat tak suka bila mengingat nama Sariwati namun gadis itu tak menampakkan rasa geramnya pada kedua orang didekatnya.


"Ayo kita ke tenda perjamuan,"


"Kita cari makanan disana dari pada kalian diam disini saja." ujar Disya kembali pada Sekar dan Raya, gadis itu berdiri dan menggandeng tangan kedua orang didekatnya.


Mereka pun bangkit dan berjalan menuju sebuah tenda yang terbuat dari anyaman daun kelapa yang terpasang rapi dimana aneka makanan tersaji di atas meja panjang yang di jaga beberapa pelayan wanita.


***


Sayup-sayup riuh tetabuhan dan kegembiraan para penonton terdengar hingga ke taman yang berada di bagian belakang Selasar Rumah Budaya.


Tumbuhan bonsai tertata rapi di taman yang diterangi oleh beberapa obor di setiap sudutnya.


Terlihat seorang pemuda duduk disebuah bangku yang berada ditengah-tengah taman diantara kolam ikan dengan gemericik air yang mengalirinya.


Pemuda itu terlihat menghisap sebatang rokok ditangannya, matanya menerawang ke arah tanaman-tanaman bonsai di taman tersebut.


"Mengapa dia hadir lagi dihadapan ku,"


"Lelaki itu pasti suaminya dan yang bersama nyonya Warika itu adalah wanita yang menemuiku di Surau.." gumam pemuda itu dalam hati yang tak lain adalah Muhibbin.


Tangannya terlihat mengepal dan bayangan Sariwati yang berbadan dua bersama lelaki yang menggandengnya membuat darahnya mendidih.


"Apa dia sengaja ingin membuatku benar-benar hancur? "


"Dengan rasa tak bersalah dia meninggalkanku setalah semua musibah menimpa keluaga ku."


"Dan malam ini dia kembali lagi menampakkan dirinya dan bersikap mesra di depan mataku."


"Bajingan! "


Gumam Muhibbin sambil memukulkan buku jemarinya ke bangku yang didudukinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2