KAHANAN

KAHANAN
CH 126 - DENDAM MASA LALU PART II


__ADS_3

Sehari sebelumnya disebuah kedai yang cukup terkenal di kota Negeri Pantai, nampak dua orang lelaki berbincang disudut ruangan sambil menikmati hidangan diatas meja.


Salah seorang dari keduanya pun berkata,


"Bagaimana kesiapan andika dalam misi ini?" tanya seorang lelaki berpakaian mewah layaknya priyayi Kerajaan Zamrud pada orang dihadapannya.


Dengan wajah datar dan senyum sinis salah satunya pun menjawab,


"Semua sudah saya atur, anak buah saya saat ini telah menjalankan aksinya."


"Saya pastikan kepada andika bahwa lelaki kampungan itu akan menerima pembalasan atas sakit hati andika." jawab orang berpakaian serba hitam pada priyayi dihadapannya dengan ekspresi dingin sambil meneguk arak yang ada di meja.


"Bagus!"


"Aku ingin melihat lelaki itu menderita seperti yang ku alami selama ini."


"Buat dia meratapi kesalahan yang dilakukannya pada mantan istriku seumur hidupnya."


"Andika juga hubungi kak Habsari, dia pasti akan membantu andika dalam misi ini."


"Kepentingan dia dan kepentingan kita hampir sama, ini semua kaitannya dengan lelaki penjaga Surau itu." ujar sang priyayi sambil tersenyum, dibenaknya sebuah siasat telah disusun untuk memuluskan rencananya.


"Satu windu aku memendam dendam ini, kedatanganku ke Negeri Pantai saat ini ingin memastikan bahwa tidak ada yang bisa melecehkan trah Garuda Emas." ujarnya kembali.


"Lelaki itu masih bisa hidup tenang selama ini karena secara tidak langsung dilindungi oleh mendiang ayah Timoti dan Mami Warika serta pengusaha dari Negeri Kelapa itu."


"Namun jangan harap dia bisa menghirup udara dengan tenang setelah ini."


"Dan tentang kekasih lelaki itu, aku serahkan sepenuhnya pada andika, terserah mau andika apakan wanita itu." pungkas lelaki priyayi tersebut menyeringai sinis, sementara pria berpakaian serba hitam hanya tertawa lebar sambil terus meneguk arak dihadapannya.


****


Serombongan kereta kuda dengan pengawalan beberapa orang berpakaian serba hitam terlihat mendekati sebuah bangunan dipinggiran kota Negeri Pantai.


Rimbunnya pepohonan di kanan-kiri dengan rumput yang meninggi liar di jalanan menandakan lokasi itu jarang di lewati oleh para penduduk.


Seorang wanita dengan kerudung lebar turun dari kereta kuda yang membawanya. Nampak setiap orang menunduk hormat setiap dilalui oleh sang wanita berkerudung, dengan langkah pelan wanita berkerudung itu mendekat ke arah pintu bangunan yang dijaga beberapa orang pria berbadan tegap.


Tak berapa lama sang wanita berada didepan pintu dan berkata pada para penjaga.


"Dimana ketua mu?" ujar sang wanita dengan suara dingin pada salah seorang penjaga dihadapannya.


Nampak seorang penjaga mendekat dan memberi hormat pada orang yang baru tiba dihadapannya,


"Beliau ada didalam, Ni Mas." jawab lelaki itu dengan wajah masih tertunduk memberi hormat.


"Antarkan aku padanya!" seru wanita itu kembali.


Pria penjaga terlihat salah tingkah dan memberanikan diri berkata,


"Tapi Ni Mas ..." ujar sang penjaga itu terlihat ragu.


"Ada apa lagi?"


"Cepat buka pintu dan antarkan aku menemui ketua mu!" perintah sang wanita dengan suara meninggi, pandangannya tajam mengarah pada sang penjaga.


Dengan terbata-bata sang penjaga kembali berkata,


"Ketua memerintahkan untuk tidak diganggu, Ni Mas." jawab penjaga itu, wajahnya semakin tertunduk ciut dihadapan wanita berkerudung.


Mendengar jawaban sang penjaga, wanita itu terlihat meradang.


"Kurang ajar!"

__ADS_1


"Kalian pikir siapa diri kalian bisa menyuruhku menunggu!" hardik wanita itu pada lelaki didepannya.


Kini pandangan wanita itu mengarah pada pengawal yang selalu setia berdiri disampingnya, dengan sedikit isyarat sang wanita memberi perintah pada sang pengawal.


Pria berbadan tegap dengan luka melintang diwajahnya itu pun maju dan mencengkeram leher penjaga rumah tua itu. Dengan suara lirih dan bisikan mengancam di telinga sang penjaga, pria itu berkata,


"Kau jangan main-main dengan Ni Mas Habsari!"


"Cepat buka pintu dan bawa kami menemui ketua mu!" seru pengawal wanita berkerudung yang tak lain adalah Habsari Bonawati dengan tatapan mengintimidasi.


Sang penjaga mengangguk ketakutan dan memberi isyarat pada rekannya untuk membukakan pintu. Pada saat pintu terbuka, beberapa orang pengawal Habsari berhamburan memeriksa dan memastikan keadaan di dalam rumah sebelum majikannya masuk melangkah mengikuti dibelakangnya.


"Dimana ketua mu?" tanya Habsari kembali dengan tatapan dingin pada pengawal yang menghalanginya tadi.


Dengan wajah pucat, sang penjaga melangkah didepan diikuti oleh rombongan Habsari di belakangnya,


"Beliau didalam, Ni Mas." ujar penjaga itu sambil menunjuk sebuah pintu yang tertutup rapat didepannya.


"Martin!" ujar Habsari dengan sedikit isyarat anggukan kepala memberi perintah pada pengawalnya.


"Baik, Ni Mas." jawab sang pengawal sambil melangkah ke depan pintu dan mengetuknya.


Namun sekian saat diketuk tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.


Martin menoleh ke arah Habsari meminta persetujuan dan wanita itu kembali menganggukkan kepala. Martin nampak mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar dihadapannya.


Bruuakkk!


Terjangan Martin membuat pintu kayu itu pecah dan didalam kamar nampak seorang lelaki dengan wajah sedikit pucat sedang terburu-buru merapikan sebagian pakaiannya, nampak lelaki itu masih telanjang dada dan dengan wajah ketakutan mendekat ke arah Habsari yang mulai melangkah ke dalam kamar diikuti Martin dan beberapa pengawalnya.


Tatapan tajam Habsari menyapu ke dalam ruangan kamar, nampak seorang gadis tergeletak pingsan dilantai dengan sebagian pakaiannya terbuka memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya, tangan gadis itu terikat dan sebagian ikatan dikakinya terlepas dengan percikan darah meleleh disela-sela pahanya.


"Bajingan!"


"Bajingan, kau!"


"Bejad!" kembali tamparan Habsari mendarat keras di wajah lelaki yang dipanggilnya Yanto.


Tubuh Yanto terhuyung mendapat tamparan keras putri pewaris Garuda Emas itu, sambil meringis kesakitan pria itu dengan punggung tangannya mengusap darah yang menetes disela bibirnya.


"Maafkan saya Kak." ujar Yanto terbata-bata sambil menahan sakit, namun Habsari tak memperdulikannya.


Mata Habsari menyalang menahan rasa geramnya,


"Martin, seret dan beri pelajaran lelaki mesum ini!"


"Bajingan ini tak pantas hidup!" perintah Habsari dengan wajah merah padam pada pengawalnya.


Tak menunggu waktu lama, Martin dan beberapa anak buahnya meringkus Yanto, namun lelaki itu meronta berupaya melepaskan diri.


"Kakak, tolong dengarkan penjelasan ku!"


"Itu tak seperti yang kakak lihat!" ujar Yanto pada Habsari.


"Bajingan!"


"Jangan panggil aku kakak!"


"Kau bukan lagi iparku dan Mecha sudah menceraikanmu!"


"Kau adalah aib bagi kesatuan Darmayudha dan keluarga besar Garuda Emas!" hardik Habsari pada Yanto yang tak lain adalah Setyanto mantan suami Mecha adiknya.


"Aku mohon kak, lepaskan aku!"

__ADS_1


"Aku lakukan semua ini demi kepentingan keluarga Dinasti Harsuto."


"Selama ini aku sudah banyak berkorban dan memberikan kontribusi pada keluarga kakak." ujar Yanto kembali.


"Hanya karena pemuda kampungan itu semua usahaku di Negeri Pantai ini hancur."


"Dan karena dia pula lah Sariwati menjanda dan menderita seperti sekarang ini." pungkasnya.


"Tutup mulutmu!"


"Kelakuan bejadmu lah yang membuat keluarga besar Garuda Emas tak mempercayaimu lagi." hardik Hapsari pada bekas iparnya tersebut, wajah wanita itu semakin kusut dan merah padam mengingat perbuatan Setyanto yang hampir memperkosa Sariwati dan mengkhianati perkawinan adik ketiganya Mecha.


"Cepat seret lelaki mesum ini keluar, beri dia pelajaran, Martin!" seru Habsari pada Martin pengawalnya.


Dengan sigap Martin menyeret Setyanto keluar dari kamar tersebut.


Beberapa pengikut Yanto yang melihat ketuanya diringkus berusaha memberikan perlawanan untuk melepaskan pimpinannya, perkelahian pun tak terelakkan.


Baku hantam di dalam ruangan itu berlangsung, pengikut Yanto yang tak terlalu banyak segera dapat ditaklukkan oleh anak buah Martin yang merupakan bekas pasukan khusus Darmayudha dan memiliki kemampuan diatas rata-rata.


Tak berapa lama situasi dapat dikendalikan oleh Martin beserta anggotanya. Beberapa anggota kelompok Yanto terlihat tergeletak bersimbah darah dengan leher dan dada tertebas senjata tajam, sementara Yanto sendiri dengan wajah babak belur dan tubuh penuh luka diseret oleh Martin dan di ikat disebuah tiang di tengah ruangan.


Suasana kembali sepi, para anggota Garuda Merah terlihat memindahkan jasad anggota kelompok Setyanto, sementara Habsari melangkah mendekati gadis yang tergeletak dilantai. Wanita itu merapikan pakaian sang gadis, pandangan Habsari berpaling ke arah Martin yang melangkah mendekatinya.


"Apa kau sudah urus Bajingan itu?"


Martin yang telah berada disampingnya pun menjawab,


"Sudah, Ni Mas."


"Kami menunggu perintah Ni Mas berikutnya." jawabnya singkat.


"Habisi dia!"


"Bajingan itu hanya menjadi aib dengan perbuatan bejadnya."


"Setelah itu kau urus gadis ini, jangan sampai keteledoran Yanto membuat rencana kita berantakan."


"Beritahu pemuda itu dan tekan dia agar menukar benda yang ku inginkan dengan gadis ini."


"Aku juga akan tekan ayah gadis ini agar semua aset usahanya berpindah ke tangan ku." pungkas Habsari.


Martin mengangguk dan nampak memerintahkan beberapa anggotanya untuk mengangkat tubuh gadis yang terikat itu menuju ke kamar lain sementara dirinya melangkah ke arah dimana Setyanto terikat.


Dengan wajah dingin Martin menghunus belati di pinggangnya dan lelaki itu mendekati Setyanto yang setengah tersadar dengan tatapan haus darah, di tikamnya dada lelaki yang terikat itu berkali-kali.


Aaaahhhh!


jerit suara Setyanto tatkala belati di tangan Martin menghujam tubuhnya, tubuhnya meronta menahan sakit dan akhirnya meregang nyawa sementara Martin dengan wajah datar membersihkan darah di belatinya dengan baju Setyanto yang tak sempat dikenakan.


*****


Note Author:


Terimakasih kepada para pembaca KAHANAN yang hingga saat ini terus mengikuti perjalanan tulisan ini.


KAHANAN adalah murni karya imajinasi dan tak ada maksud untuk mendiskreditkan sebuah keluarga atau pun trah siapa saja, tulisan ini murni karya fiksi namun bukan fiktif karena inti dan dasar dari ide penggarapan tulisan ini adalah kegelisahan, kemarahan dan kekecewaan pada sebuah kenyataan (KAHANAN) yang tidak semua harus sesuai harapan dengan dinamika dan kejadian-kejadian diluar kendali manusia. Manusia hanya bisa berusaha namun Allah yang menentukan segalanya walaupun hasilnya belum bisa dibaca apakah dapat memuaskan keinginan atau sebaliknya.


Dan tak ada niatan ataupun terbersit dalam pikiran, hati penulis untuk mengumbar aib sebuah dinasti, karena kita tau aib yang diumbar bagaikan memakan bangkai diri sendiri.


'Aib mu adalah aib ku juga dan Kehormatan mu adalah kehormatan ku pula' #Quote Lik Paimo.


Salam🙏

__ADS_1


__ADS_2