
Dinginnya malam semakin menusuk tulang, kokok ayam jantan bersahutan dari kejauhan menandakan sang fajar akan segera terbit.
"Wati, Bangunlah! hari sudah pagi." Muhibbin menggoyang-goyangkan tubuh polos kekasihnya yang sedang tertidur lelap di sampingnya.
"Eeemm, Aku masih ngantuk, Bin!" lengkuh Sariwati masih dengan mata terpejam, tangannya menggelayut di tubuh Muhibbin sedangkan kepalanya masih terkulai di dada pemuda itu.
"Bangun Wati, Aku harus segera balik ke An Nur, takutnya nanti aku sampai sana kesiangan dan apa kata orang nanti jika kita terlihat seperti ini." ujar Muhibbin kembali, Dia menatap gadis yang masih tertidur pulas dipelukannya itu.
Terlihat Sariwati masih terlelap dalam mimpinya, tubuh indahnya masih menyatu dalam dekapan Muhibbin. Dada kenyal gadis itu terhimpit dan terasa hangat oleh Muhibbin ketika kulit keduanya masih bertemu. Nafasnya yang lembut lirih menandakan kelelahan setelah apa yang terjadi semalam.
Muhibbin bangkit dari tempatnya berbaring, dikenakannya pakaian yang berserakan dilantai. Rupanya pemuda itu sepanjang malam tak bisa memejamkan mata setelah apa yang mereka lakukan. Muhibbin memungut pakaian Sariwati yang berserakan dilantai, di angkatnya tubuh dara itu yang masih terlelap dan dibawanya ke dalam kamar.
Muhibbin melangkah ke arah kamar mandi yang berada di bagian belakang Villa Sandat dan membersihkan tubuhnya,
"Apa yang telah aku lakukan ini? tak seharusnya semua ini terjadi." gumam pemuda itu penuh penyesalan. Guyuran air menyejukkan badannya yang terasa lengket dengan peluh.
Sejurus kemudian dia keluar dari kamar mandi dan bergegas ke ruangan tengah memadamkan lampu minyak yang tergantung tepat ditengah ruangan. Diliriknya kamar Sariwati yang masih terbuka dan pemuda itu bergegas menuju ke dalam kamar.
"Wati, Aku pulang dulu ya!" di sentuhnya pundak gadis itu dengan lembut.
"Hemm" lengkuh Sariwati tetap tak bergeming dan masih terbuai dalam mimpinya, lelaki itu pun melangkah keluar rumah.
Muhibbin mengayuh kereta anginnya meninggalkan Villa Sandat dengan isi kepalanya yang masih berkecamuk memikirkan kejadian bersama Sariwati semalam. Udara pagi yang dingin dan temaram fajar masih pekat menyelimuti Negeri Pantai.
**
Terdengar percakapan seseorang di luar kamar, membangunkan Sariwati yamg setengah terjaga, Dia bangkit dari tempat tidurnya. Gadis itu memandangi tubuhnya yang polos di depan cermin yang tak jauh dari tempatnya berbaring.
Kulitnya yang putih bersih berkilau dengan tonjolan sempurna di dada dan kaki jenjangnya menambah kemolekan tubuh sintal dara ayu itu, pikirannya melayang mengingat kejadian semalam yang tak akan pernah terlupakan. Tersungging senyum tipis dibibir merahnya.
"Kenapa aku bisa berada didalam kamar, bukannya semalam aku diruang tengah bersama Muhibbin, apakah Dia yang bawaku kemari semalam, kemana Muhibbin?" Sariwati bergumam sendiri, dikenakannya pakaiannya yang tergeletak di bibir ranjang dan dia pun keluar kamarnya.
Diruang tengah terlihat seorang wanita ayu duduk di kursi dan mek Iluh berdiri disampingnya. Rupanya percakapan yang membangunkannya itu berasal dari kedua orang yang berada di depannya.
__ADS_1
"Oh rupanya tuan putri kesayangan tuan Bendowo baru bangun, enak sekali hidupmu disini!" ujar wanita itu pada Sariwati. Dara itu terlihat kaget dengan kehadiran seseorang yang berada didepannya.
"Kakak?"
"Kenapa kakak kemari?" ujar Sariwati pada wanita ayu yang duduk di depannya.
"Sepertinya kau tak senang dengan kedatangan ku, Wati?" wanita itu terlihat memandang tajam ke arah Sariwati.
"Sebaiknya kau bersihkan dulu badanmu, setelah ini kita bicara!" ujar wanita itu lugas, wanita itu tak lain adalah Habsari Bonawati, kakak sulung Sariwati.
"Dan kau pelayan, tolong siapkan sarapan untuk kami!" serunya kembali.
"Baik non." mek Iluh berlalu menuju dapur Villa Sandat yang berada dibelakang bangunan itu.
Sariwati pun berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Habsari seorang diri di ruangan tengah Villa Sandat.
Tak selang berapa lama terlihat mek Iluh masuki ruangan tengah.
"Sarapan sudah siap non." ujar wanita tua itu pada Habsari.
"Tapi tunggu dulu! aku ingin bertanya sesuatu padamu, pelayan." seru Habsari menahan mek Iluh yang akan beranjak dari hadapannya.
"Inggih non, apa yang akan non ayu tanyakan pada bibi?" jawab wanita tua itu kembali.
"Sudah berapa lama kau kerja disini?" tanya Habsari pada mek Iluh, wajah wanita ayu itu masih terlihat dingin.
"Saya bekerja disini sudah hampir lima belas tahun non, bersama suami saya." jawab mek Iluh, wanita tua itu menunduk hormat pada Habsari.
"Kau tau siapa aku?" tanya Habsari kembali, mek Iluh hanya mengangguk dengan sikap masih tertunduk hormat.
"Apa kau tau dengan siapa saja adikku bergaul di negeri ini?" ujar Habsari.
"Tidak non, setau saya non Wati tak pernah keluar dari Villa ini, kesehariannya hanya disibukkan dengan mengobati para warga sekitar sini yang berobat kamari, non."
__ADS_1
"Apa tak ada kawannya atau siapa saja yang datang kemari, bi?" kembali Habsari bertanya pada mek Iluh.
"Setau saya tak ada non, kecuali tuan gubernur yang sesekali berkunjung kemari dan putra angkat Perbekel desa Batu bulan yang kadang-kadang datang."
"Siapa pemuda itu, bi?" kini mata Habsari semakin tajam memandang mek Iluh.
"Itu non, nak bagus Muhibbin namanya, Dia satu-satunya teman non Wati selama ini, non." ujar mek Iluh.
"Ya sudah, kau boleh pergi dan lanjutkan pekerjaanmu sekarang." pungkas Habsari.
Mek Iluh berlalu dari hadapan wanita ayu itu. Tak selang berapa lama Satiwati keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi, rambutnya yang hitam panjang terlihat masih basah di balik kerudung merah jambu kesukaannya.
Sariwati menghapiri kakaknya yang masih duduk tenang di kursi sofa ruang tengah bangunan itu.
"Kapan kakak datang ke negeri ini dan dari mana kakak tau aku berada di negeri ini?" tanya Sariwati basa-basi, gadis itu sebenarnya sudah tau maksud kedatangan Habsari dari tuan Timoti pamannya.
"Kau tak perlu basa-basi, pasti paman sudah memberi tau mu dan tentang bagaimana aku tau keberadaanmu kau pun tak perlu tau!" jawab Habsari lugas.
Terlihat wanita ayu itu beranjak dari tempat duduknya menuju ruangan makan di ikuti oleh Sariwati, keduanya terlihat menikmati sarapan yang di siap oleh mek Iluh tadi.
"Bagaimana kakak tau aku berada disini?"
"Apa papi tau juga?" tanya Sariwati pada kakaknya.
"Sudah ku bilang, Kau tau perlu tau."
"Dan tentang papi, beliau belum tau bila kau ada di negeri ini." ujar Habsari.
"Lalu apa sebenarnya yang kakak cari di negeri ini?
" Aku tau, Kakak tak akan datang cuma-cuma tanpa maksud dan tujuan di negeri ini." tanya Sariwati pada Habsari yang sedari tadi tetap bersikap dingin.
"Sudah ku bilang, itu bukan urusanmu!" ujar Habsari.
__ADS_1