KAHANAN

KAHANAN
CH 28 - KEGADUHAN NEGERI PANTAI PART XI ( JURUS RAHASIA PARA DARMAYUDHA )


__ADS_3

"Diam kau!" kembali saudagar Yanto menghardik Sariwati yang terus meronta.


"Seno cepat, sebelum Bhayangkara menyusul kita." kembali Yanto memberi perintah pada anak buahnya.


Terlihat dengan susah payah Seno mendorong sebuah jukung menuju pinggiran pantai dan tangan Yanto terlihat mendekap leher Sariwati yang sedari tadi terus memberontak melepaskan diri.


"Aaackkkhhh!"


"Kurang ajar, dasar wanita siluman!" Pekik Yanto.


Lelaki itu terlihat kesakitan ketika Sariwati menggigit tangannya dan spontan melepaskan dekapan pada leher wanita itu.


Mendapat kesempatan itu Sariwati berusaha melepaskan diri dan kabur, namun Yanto yang masih meringis kesakitan mengejar Sariwati dan menjambak rambut wanita itu serta menyeretnya mendekati jukung yang disiapkan oleh Seno. Sariwati terlihat kesakitan dan terus meronta namun Yanto tak menghiraukan erangan dan tangisan wanita itu.


"Mau lari kemana kau, Sundel! pekik Yanto semakin emosi.


"Kumohon lepaskan aku, Setyanto!" Sariwati mengiba karena sakit ditubuhnya akibat rajaman batu para warga ketika di Surau masih terasa.


Mendengar namanya disebut oleh wanita itu, saudagar Yanto terhenyak,


"Siapa kamu, darimana kamu tau namaku?" kini saudagar Yanto semakin mempererat cengkeraman tangannya pada rambut Sariwati.


"Lepaskan aku, Ku mohon!" iba Sariwati kembali.


"Tak akan ku lepaskan kau begitu saja, Siapa kamu?" kembali Yanto menghardik Sariwati.


Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seseorang berlari sambil berteriak,


"Lepaskan wanita itu!"


Sontak mendengar teriakan itu, Yanto menoleh dan didapatinya seorang lelaki sudah berada di depannya dan Sariwati mengenal sosok yang berdiri dihadapannya.


"Siapa kamu? jangan ikut campur urusanku kalau kau masih sayang nyawamu!' hardik Yanto pada lelaki didepannya yang tak lain adalah Muhibbin.


"Kau tak perlu tau siapa aku, lepaskan wanita itu!" ujar Muhibbin dingin.


Lelaki itu terlihat menahan kemarahannya setelah menyaksikan perlakuan Yanto pada Sariwati sahabatnya.


Awalnya Muhibbin yang sedari tadi duduk di tepian pantai Purnama dan lamunannya buyar setelah mendengar lamat-lamat sebuah keributan. Di lihatnya dua orang lelaki menyeret seorang wanita, Dia segera mendekat untuk memastikan dan ternyata wanita yang diseret oleh dua lelaki itu adalah Sariwati.


"Rupanya kau tak sayang dengan nyawamu!" ujar Yanto pada Muhibbin.


"Hahahaa, apa yang harus ku takutkan dari lelaki pengecut macam kalian ini, yang hanya bisa menyiksa dan memperlakukan wanita seperti hewan," balas Muhibbin tertawa sinis.


Emosi Yanto merasa tersulut dan segera memerintahkan Seno menyelesaikan penghalang didepannya ini.


"Seno, bereskan lelaki tak tau di untung ini!" ujar Yanto pada Seno.


Seno yang sebelumnya mempersiapkan jukung untuk pelarian keduanya bergegas mendekat dan tanpa menunggu lama tiba-tiba lelaki itu melompat dan menerjang Muhibbin didepannya.


Dengan tenang Muhibbin memiringkan badan dan menarik kakinya ke belakang menghindari terjangan Seno. Lelaki itu terlihat semakin geram karena serangannya dengan mudah dihindari Muhibbin.


Pukulan dan tendangan kembali dilancarkan Seno, namun kembali serangannya mengenai angin.


Muhibbin melompat memutar badannya dan kakinya diangkat membentuk tendangan melingkar mengenai rahang Seno.


"Bruaakkk"


"Acckkhh" pekik Seno tersungkur, dari mulutnya merembes darah segar akibat tendangan Muhibbin, lelaki itu berusaha bangkit namun Muhibbin tak memberi kesempatan, disarangkannya kembali sebuah pukulan lurus mengenai dada Seno dan ditutup dengan tendangan rendah ke arah ******** lelaki itu hingga Seno terpental kebelakang dan mengerang kesakitan.


Melihat kawannya jadi bulan-bulanan, Yanto segera melompat turun gelanggang. Muhibbin terlihat mundur beberapa langkah membuat jarak.

__ADS_1


Yanto menyarangkan tendangan ke arah Muhibbin, namun dengan sigap Muhibbin menjatuhkan diri dan memutar badannya dengan kaki melakukan sapuan menyusur tanah, serangan balik yang dilakukan Muhibbin tak diduga oleh lawannya, tubuh Yanto terjengkang jatuh akibat sapuan kaki Muhibbin namun dengan cepat dia bangkit dan melakukan serangan kembali.


Tukar menukar serangan terjadi, terlihat perkelahian keduanya masih seimbang. Jurus demi jurus dikeluarkan oleh keduanya. Namun akhirnya Muhibbin melihat celah pada lawannya, dengan sedikit pancingan kaki kiri Muhibbin berpijak pada paha lawannya dan melakukan lompatan salto kebelakang dibarengi tendangan kaki kanannya mengenai dagu Yanto.


"Bruaak"


"Aaackkhh" Yanto terhempas setelah ujung kaki kanan Muhibbin mengenai dagunya.


"Kurang ajar, Cuiih!" lelaki itu bangkit kembali sambil melontarkan sumpah serapah.


Lelaki itu semakin beringas menyerang Muhibbin, kini dia menggunakan celurit yang tergeletak didekat jukung. Sabetan demi sabetan dilakukannya ke arah Muhibbin, melihat lawannya yang bersenjata, Muhibbin semakin waspada. Dia terlihat melepas sarong yang sedari tadi terikat di pinggangnya.


"****** kau sekarang, Bedeb*ah!" teriak Yanto semakin beringas.


Di ayunkannya celurit itu kembali, gerakannya semakin cepat namun lelaki yang dilawannya pun tak kalah gesit dan cekatan.


Muhibbin memukulkan sarong ditangannya pada Yanto, ujung kain sarong mengenai muka lelaki itu,


"Plaakk"


"Aaacckk" Yanto meringis kesakitan


Kesempatan itu tak di sia-siakan Muhibbin. Dengan cepat dia menendang tangan Yanto dan senjata yang dipegang lawannya terlepas.


"Ciaatt"


"Buuukkk"


Muhibbin tak memberi kesempatan pada lawannya untuk bernafas, tendangan dan pukulan bersarang ditubuh Yanto. Terlihat Yanto terhuyung-huyung menerima pukulan dan tendangan Muhibbin. Tubuhnya tersungkur ke tanah.


Melihat lawannya sudah tak berdaya, Muhibbin melangkah mendekat. Namun tiba-tiba Yanto bangkit dan melemparkan pasir yang digenggamnya ke arah wajah Muhibbin. Lelaki segera melakukan serangan pada Muhibbin.


Muhibbin yang tak menduga lawannya masih bisa bertahan hanya tersurut mundur sambil menahan rasa perih pada matanya.


"Rasakan ini baji*ngan!" teriak Yanto terus menyerang.


"Buuukkk"


"Aacchhhkk"


Tubuh Mihibbin tersungkur, dia merasakan ulu hatinya sakit akibat tendangan Yanto.


Pukulan dan tendangan demi tendangan kembali diterimanya. Dari sudut bibir Muhibbin merembes darah segar.


Melihat lawannya tak berdaya Yanto tertawa jumawa,


"Hahahaha, sekarang kau rasakan akibat mencampuri urusanku!"


Lelaki itu melangkah memungut celurit yang tergeletak di dekatnya. Perlahan dia melangkah mendekati Muhibbin yang masih tersungkur tak berdaya.


Namun tiba-tiba dari arah belakang, Sariwati berlari ke arah Yanto dengan sebatang kayu ditangannya.


"Dasar bedebah!" teriak Sariwati


"Praaakkk" kayu itu mengenai punggung Yanto.


"Aacchhkkk" pekik kesakitan Yanto.


Lelaki itu menyurutkan langkahnya dan berbalik arah menuju Sariwati.


"Dasar wanita sialan!"

__ADS_1


"Plaaakk"


Tangan Yanto bersarang di wajah Sariwati. Wanita itu terpelanting mendapatkan tamparan Yanto. Lelaki itu semakin beringas memukul Sariwati.


Jeritan kesakitan Sariwati tak dihiraukan Yanto.


"HENTIKAN!"


"Hadapi aku, Bedeb*ah!" tiba-tiba teriakan


Muhibbin menghentikan aksi Yanto.


Terlihat lelaki itu berdiri kembali dengan mata masih terpejam akibat pasir yang dilemparkan Yanto padanya.


Melihat lawannya masih bisa bangkit kembali, Yanto melepaskan Sariwati dan melangkah menuju Muhibbin, ditangannya masih terlihat memegang celurit. Pandangan matanya terlihat beringas dan penuh kegeraman.


Muhibbin berusaha mengatur nafasnya dan menutup panca inderanya. Helaan nafas teratur dihirup dan di hembuskan perlahan melalui mulutnya. Di hentakkan kakinya membentuk sebuah kuda-kuda dengan tangan kiri mengepal di pinggang sedangkan tangan kanan terbuka menyilang di dadanya. Muhibbin mengandalkan instingnya mendeteksi gerakan lawannya. Gerakan yang dilakukannya ini adalah salah satu jurus yang biasa digunakan oleh para Darmayudha dengan mengandalkan pancaran energi disekitar.


"Kini tamat riwayatmu, Baji*ngan!" pekik Yanto sambil menyabetkan celuritnya ke arah Muhibbin.


"Ciaattt"


"Wuuusssss"


Ayunan celurit mengarah pada Muhibbin, namun tak disangka lelaki itu bisa menghindar walaupun matanya tertutup. Di miringkan badannya dan kaki kanan ditariknya kesamping sedangkan tangannya dengan lembut menangkis ayunan tangan lawan.


Melihat gerakan itu, Yanto tercekat dan keheranan karena sepengetahuannya gerakan itu hanya dikuasai oleh prajurit khusus Darmayudha yang merupakan beladiri wajib para telik sandi Darmayudha. Namun keheranannya dibuyarkan oleh sebuah pukulan dari Muhibbin yang mengenai rusuk kirinya.


"Aacckkhhhh" teriakan Yanto terdengar dan terasa tulang-tulangnya gemeretak patah. Dia tersurut beberapa langkah kebelakang setelah menerima satu pukulan Muhibbin, lelaki itu terlihat mengerang dan mendekap rusuknya. Tubuhnya terasa lemas setelah satu pukulan Muhibbin itu bersarang. Yanto tersurut beberapa langkah kebelakang.


Dari hidung dan mulut Yanto mengeluarkan darah segar akibat pukulan Muhibbin.


Dari kejauhan terdengar teriakan orang-orang yang semakin mendekat ke arah pantai Purnama, puluhan orang memegang obor terlihat semakin mendekat.


Melihat hal itu, wajah Yanto yang kesakitan semakin pucat, dia tau rombongan siapa yang datang.


"Gawat, Bhayangkara!" gumamnya lirih.


Dengan sisa tenaga, Dia bergegas menarik Seno yang masih tergeletak pingsan menuju ke jukung yang ada didekatnya dan meninggalkan Muhibbin yang masih berdiri dengan mata tertutup.


"Ayo Seno, cepat kita pergi!" pekiknya pada Seno yang masih setengah pingsan. Yanto bergegas membopong Seno menaiki jukung dan dengan segera dia mendayung perahu badik itu menjauh menuju ke tengah laut.


"Tunggu pembalasanku, Bangs*at!" teriak Yanto pada Muhibbin sambil mendayung jukung semakin menjauh dari pantai.


Sementara Sariwati yang sedari tadi melihat perkelahian itu segera berlari ke arah Muhibbin.


"Ibbin, bagaimana keadaanmu?" tanya Sariwati


"Mataku perih, Wati."


"Aacckhhh"


Muhibbin terlihat meringis kesakitan, tubuhnya limbung dan terjatuh didepan Sariwati.


"Tahan Bin, sebentar lagi para Bhayangkara akan segera datang!" bisik Sariwati terisak sambil mendekap tubuh Muhibbin.


"Sakit!" erang Muhibbin menahan perih dimatanya.


Terlihat Muhibbin tergeletak di pangkuan Sariwati dan wanita itu menangis menyaksikan sahabatnya yang kesakitan.


Beberapa Bhayangkara telah sampai di pantai Purnama dan menghampiri Sariwati serta Muhibbin.

__ADS_1


"Segera tolong mereka!" perintah salah seorang Bhayangkara pada rekan-rekannya.


 


__ADS_2