
Sariwati merasakan badannya lemas dan nyeri, dari kepalanya masih bercucuran darah segar membasahi rambut keperakannya, sedangkan tubuhnya serasa dihantam palu godam. Terlihat pakaiannya penuh bercak darah, cadar yang menutupinya terbuka sehingga wajahnya yang ditumbuhi sisik membuat orang-orang yang melihatnya bergidik ngeri.
"Saya dimana?" ujar Sariwati lirih.
Matanya menyapu ke segala arah dengan pandangan yang masih meremang dan samar-samar terlihat wajah-wajah asing dan garang di depannya.
"Kau ada di Balai Banjar Manguntur," jawab seseorang singkat, orang itu tak lain tuan Timoti gubernur Negeri Pantai yang mengambil alih proses interogasi pada Sariwati.
"Sekarang jawab dengan jujur, siapa kamu dan dari mana asal mu?" tanya tuan Timoti.
Dengan terbata-bata Sariwati menjawab pertanyaan tuan Timoti.
"Saya Wati tuan," jawab Sariwati bergetar.
"Saya hanya pengembara tuan yang kebetulan berada di negeri ini dan ditolong oleh tuan Muhibbin," jawabnya kembali.
Tatapan mata tuan Timoti dingin menelisik kearah Sariwati.
"Siapa Muhibbin, Prawira Utama tolong hadirkan dia ke sini!" perintah tuan Timoti pada kepala Bhayangkara.
"Siap, Tuan!" jawab pimpinan Bhayangkara.
Tak selang beberapa saat seorang pemuda berambut sebahu didampingi dua orang gadis menyeruak masuk ke dalam Balai Banjar Manguntur ditemani kepala Bhayangkara.
Semua mata tertuju pada ketiga orang yang baru saja masuk.
"Kamu yang bernama Muhibbin?" tanya tuan Timoti setelah pemuda itu berada dihadapannya.
"Betul tuan," jawab Muhibbin singkat, pandangannya tertuju pada tuan Timoti dan kemudian beralih pada Sariwati yang sedang duduk bersimpuh dengan tangan masih terikat kebelakang yang sekarang menjadi pesakitan di depannya.
"Kamu kenal dengan wanita ini dan apa hubunganmu dengannya?" tanya tuan Timoti kembali.
"Kenal tuan, dia kawan saya yang biasa membantu saya di Surau," jawab Muhibbin.
Terlihat tuan Timoti menarik nafas sebelum bertanya kembali.
"Tolong ceritakan dimana dan kapan kamu mengenal wanita ini!" perintah tuan Timoti masih dengan tatapan dingin.
Dengan runut Muhibbin menceritakan pertemuan dan perkenalannya dengan Wati hingga gadis itu berada di Suraunya dan menetap di sana.
"Seperti itulah tuan, perkenalan saya dan Wati. Jika tuan masih meragukan, adik saya Sekar dan ayah saya pak Nengah jadi saksinya," pungkas Muhibbin pada tuan Timoti.
Tuan Timoti menayakan apa yang dikatakan Muhibbin pada pak Nengah dan Sekar, keduanya mengamini apa yang dikatakan Muhibbin. Pandangan tuan Timoti kembali mengarah pada Muhibbin dan Sariwati.
"Apakah kamu tau, Wanita ini seorang pengamal pengleakan?" tanya tuan Timoti kembali pada Muhibbin.
"Kalau tentang hal itu saya tak tau tuan, yang saya tau Wati berasal dari Negeri Banjir sebagaimana pengakuannya pada saya dan juga seorang Alkimia, karena pada suatu hari dia pernah menolong saya saat keracunan makanan dan dia cukup terampil dalam bidang pengobatan. Terbukti ada beberapa warga yang sempat ditolongnya di Surau."
Panjang lebar Muhibbin menceritakan identitas Sariwati yang diketahuinya. Tuan Tomoti memastikan jawaban Muhibbin pada pak Nengah dan Sekar kembali, keduanya pun mengiyakan apa yang disampaikan Muhibbin dan hal itu bukan rahasia lagi sebab sudah diketahui oleh warga bahwa Sariwati memiliki keahlian pengobatan dengan beberapa warganya yang pernah ditolong oleh wanita itu.
Tuan Timoti kembali bertanya pada Muhibbin,
__ADS_1
"Pada saat kejadian, Kamu berada dimana?"
Masih dengan tenang Muhibbin menjawab pertanyaan tuan Timoti.
"Saya disini tuan bersama adik saya dan sahabat saya, karena sejak sore tadi kami dan Teruna Teruni disini mengadakan kegiatan amal dan bazar murah untuk warga.
Tuan Timoti merasa cukup mendengar keterangan Muhibbin kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Sariwati.
"Apa benar yang dikatakan Pemancing itu bahwa kamu sedang melakukan proses ngereh dan menyembah buntalan yang kamu miliki didepan Surau itu?" tanya sang gubernur kembali pada Sariwati.
"Semua itu tak benar, Tuan!" jawab Sariwati dengan perasaan geram karena merasa di fitnah.
"Kamu jangan mengelak, ada saksi dan bukti yang memperkuat apa yang kamu lakukan di Surau itu!" hardik tuan Timoti.
"Tidak benar tuan, Saya berani bersumpah," jawab Wati kembali dengan linangan air mata.
"Kembalikan buntalan saya!" pinta Wati sedikit berteriak.
"Diam kamu! Kamu tau apa konsekwensi pengamal ilmu pengleakan di negeri ini?" hardik tuan Timoti melihat reaksi gadis didepannya.
"Tolong tuan, kembalikan buntalan itu pada saya," kembali Wati memohon.
"Diam! sebelum kamu jujur maka hukuman berat akan menunggumu dan barang-barang mu akan kami sita sebagai barang bukti," kemarahan tuan Timoti tersulut.
Sariwati terisak sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang penuh dengan luka.
********
Saat itu hari sudah petang, dia baru saja menyalakan obor di setiap penjuru Surau dan bergegas akan melaksanakan sembahyang Magrib. Lampu teplok didalam Surau pun dia hidupkan. Sariwati tau jika Muhibbin petang ini tak datang ke Surau karena di Balai Banjar Manguntur ada acara penggalangan dana dan bazar murah, dia segera melaksanakan Sembahyang Magrib sebagai mana biasanya.
Tiba-tiba dari arah pantai terdengar ledakan keras sehingga suaranya menyebar ke segala penjuru termasuk ke dalam Surau, Sariwati yang masih mengenakan mukena setelah Sholat Magrib bergegas dari tempatnya bersimpuh memastikan apa gerangan yang terjadi.
Dengan tangan memegang obor dia bergegas menuju arah suara ledakan yang berada di pantai Purnama tak jauh dari Surau An Nur berada. Dilihatnya seseorang berbadan tegap melempar beberapa bumbung yang ujungnya terdapat sumbu yang menyala dan di lemparkannya ke arah laut.
Ledakan besar terjadi, dari bekas lemparan itu terlihat ikan-ikan mengambang dan orang itu mengambilnya dan dimasukkan kedalam bumbung-bumbung besar yang terbuat dari anyaman bambu.Ternyata ledakan besar itu berasal dari bom ikan yang dikenal dengan nama 'Bondet' yang sering digunakan oleh penjarah ikan di Negeri Garam dan daerah Tapal Kuda.
Melihat hal itu Sariwati menghampiri bibir pantai dan berteriak pada orang bertopeng itu.
"Hentikan! Ki Sanak hanya akan merusak terumbu karang yang ada di pantai ini."
orang bertopeng itu terkejut, matanya beringas karena aksinya dilihat oleh orang lain, dia bergegas ke tepi pantai dimana Sariwati berada. Namun setelah mendekat alangkah terkejutnya orang itu melihat wajah Sariwati yang tak tertutup cadar dan mengenakan pakaian panjang putih menutupi ujung rambut hingga ujung kakinya, wajah itu dipenuhi sisik layaknya sisik ikan.
"Siapa kau, jangan campuri urusan ku!" teriak orang bertopeng itu penuh amarah pada Sariwati.
"Seharusnya yang bertanya itu saya, kenapa Ki Sanak mencari ikan seperti itu caranya. Apakah Ki Sanak tak tau jika cara itu dapat merusak terumbu karang dan ikan-ikan akan sulit berkembang biak?" jawab Wati tegas tanpa rasa takut.
"Itu urusanku, Kamu jangan ikut campur atau kamu akan menyesal!" jawab orang itu dengan nada marah.
"Saya akan melaporkan perbuatanmu itu pada Jero Mekel!" hardik wati tak kalah garang.
"Coba saja kau laporkan, sebelum kau bertemu Jero Mekel, maka temui dulu Malaikat Maut!" teriak orang itu sambil berlari ke arah wati mengacungkan golok yang diambil dari pinggangnya.
__ADS_1
Melihat situasi yang berbahaya dan tak sesuai dengan yang ada dibenaknya, nyali Sariwati ciut dan berlari menjauh dari orang itu. Namun orang itu terus mengejar Sariwati. Gadis itu berlari sekuat tenaga menuju Surau An Nur dan sesampainya di Surau dia segera mengunci gerbang Surau yang terbuat dari papan kayu.
Lelaki bertopeng itu tetap mengejar Sariwati sampai ke Surau, lelaki itu berteriak sambil menggedor pintu Surau. Sariwati yang berada di dalam Surau merasa ketakutan, dia bergegas kedalam Surau mengambil buntalan kain yang tertinggal didalam dan tak pernah lepas dari tangannya. Sariwati menuju kamar dibelakang Surau.
Namun tiba-tiba ledakan terjadi di depan gerbang Surau, pintu yang terbuat dari kayu hancur berkeping-keping, terlihat seorang lelaki dengan penuh amarah masuk ke halaman Surau. Lelaki itu ternyata si Pemancing yang dari tadi mengejar Sariwati. Dia bergegas ke kamar belakang Surau setelah sebelumnya memeriksa kedalam Surau yang tak didapatinya satu orang pun.
Pintu kamar di dobraknya dan terlihat Sariwati meringkuk di sudut kamar dengan ketakutan.Terjadi pergumulan didalam kamar, tangan Sariwati menarik tudung yang menutupi wajah lelaki itu dan mencakarnya. Lelaki itu terlihat meringis dan amarahnya semakin menjadi, tangan kekarnya menyeret Sariwati ke halaman depan Surau sambil berkata,
"Sekarang tamat riwayatmu perempuan setan!" kata lelaki itu penuh amarah.
Sariwati yang ketakutan terus meronta dan memberi perlawanan sebisanya. Tangan sebelahnya tetap mendekap buntalan yang sedari tadi dipegangnya.
Lelaki itu semakin menjadi-jadi, ditendangnya Sariwati hingga terpental, tangan kekarnya terus menghujani wanita itu dengan pukulan. Sariwati hanya bisa tertelungkup sambil menahan kesakitan akibat pukulan Pemancing itu.
Pemancing itu menghunuskan goloknya kembali dan diarahkan ke punggung Sariwati
"Mati kau, Betina busuk!"
Di ayunkannya golok itu, namun tiba-tiba sesuatu terjadi. Dari dalam buntalan yang didekap Sariwati muncul cahaya hijau kebiruan yang menyilaukan mata dan lelaki pemancing itu terpental sejauh dua tombak setelah ayunan goloknya seperti menghantam batu besar. Cahaya itu terus bersinar menyelimuti tubuh Sariwati yang setengah pingsan.
" Leak... Leak!"
Teriak pancing itu ketakutan, dia bergegas lari tunggang langgang dari arah Surau menuruni bukit.
********
"Hai jawab, kenapa malah bengong!" hardik tuan Timoti pada Sariwati.
Sariwati terkejut dan lamunannya buyar mendengar hardikan tuan Timoti.
"Maaf tuan, Saya tak bersalah," ujar Sariwati penuh ketakutan.
"Kamu berbelit-belit, jawab dengan gamblang!" kembali tuan Timoti berteriak penuh amarah.
"Semua ini tak seperti yang kalian lihat, saya berani bertanggung jawab bila benar-benar salah," jawab Sariwati berusaha membela diri.
Kamarahan tuan Timoti tidak tertahan lagi, di gebraknya meja yang ada disebelahnya.
"BRUUUUAAAKK"
"Bawa Pemancing itu kemari!" perintah tuan Timoti.
"Kamu tak akan bisa mengelak, karena ada saksi yang melihatmu!" kembali tuan Timoti menghardik Sariwati.
Sejurus kemudian seorang lelaki di apit oleh dua Bhayangkara memasuki ruangan Balai Banjar Manguntur.
"Saya akan diapakan?" teriak Pemancing itu pada pasukan Bhayangkara.
"KAU!"
Mata Sariwati terbelalak dan telunjuknya menunjuk ke arah wajah Pemancing itu setelah terlihat dihadapannya.
__ADS_1
*******