
Sudah beberapa bulan Sariwati menempati Surau putih itu dan setiap hari Muhibbin mengirim segala sesuatu yang dibutuhkannya baik bahan makanan maupun pakaian karena selama ini Sariwati hanya menggunakan gamis lusuh yang sudah tak layak disebut pakaian.
Sore itu udara terasa lembab, serasa akan turun hujan. Terlihat Sariwati menyirami bunga-bunga gumitir yang tertanam di samping Surau. Warna kekuningan gumitir terlihat indah, di sela-selanya tertanam mawar mereksi pula dengan warna pink kemerahan, kelopaknya kecil namun terlihat indah di baluti duri-duri tajam pada batangnya.
Tanaman itu hasil jerih payah Sariwati selama mendiami Surau itu. Untuk mengisi waktunya, dia menanam tumbuhan-tumbuhan itu. Dengan sentuhannya Surau putih terlihat semakin asri, halaman yang awalnya hanya tanah kosong berubah ditumbuhi rumput-rumput yang tertanam rapi. Di sela-sela pohon jepun dan sandat di buatnya gantungan yang ditempeli aneka catalia dan anggrek bulan serta aneka tanaman obat di tanam di Surau itu.
Dari kejauhan Surau An Nur terlihat menawan, warna putih pada dinding kayunya terlihat menawan dipadu gradasi kuning dari bunga gumitir dan atap Meru tingkat lima yang terbuat dari ijuk warna hitam menambah kesan berwibawa.
"Wati, kamu yakin gak mau ikut nanti malam nonton Joget Bumbung di Balai Banjar?" tanya Muhibbin pada Wati.
"Gak lah tuan, biar saya disini saja. Saya gak mau orang-orang terkejut dan takut dengan penampilan saya," jawab Wati lirih.
Muhibbin paham apa yang dimaksud Sariwati, gadis didepannya itu merasa malu dan tak percaya diri dengan separuh wajah dan semua kulitnya dipenuhi sisik seperti ikan yang terlihat keriput serta rambutnya yang panjang sepinggang berwarna keperakan.
"Jangan panggil aku tuan, sudah berulang kali ku bilang," ujar Muhibbin
"Panggil aku Ibbin saja," pungkasnya.
Jika ditelisik sebenarnya usia Sariwati tak jauh beda dengan Muhibbin namun karena penampilannya yang unik wanita itu terlihat lebih tua dari Muhibbin. Dia pun tak pernah menceritakan kehidupan pribadinya lebih dalam, hanya negeri asalnya dan namanya saja yang diketahui Muhibbin serta keahliannya di bidang Alkimia.
Muhibbin pun tak pernah memaksa agar Wati bercerita tentang kehidupan masa lalunya sebelum terdampar Negeri Pantai, yang dia tau bahwa Sariwati seorang pekerja keras dan rajin.
******
Malam itu suasana didepan Balai Banjar Manguntur Desa Batubulan sangat ramai. Teruna teruni Banjar Manguntur sedang mengadakan acara malam penggalangan dana dan bazar murah. Para warga antusias berbondong-bondong datang menyaksikan pagelaran tarian Joget Bumbung yang di iringi oleh Rindik dan suling.
"kamu terlihat anggun Dis...?" ujar Muhibbin pada gadis ayu berkebaya merah jambu disebelahnya yang tak lain adalah Disya.
"Ya iya lah cewek, kalau ada yang bilang aku jelek aku colok matanya," jawab Disya sambil tertawa renyah.
"Ah kamu bisa aja," jawab Muhibbin tertawa pula.
Sejak masih di Sektor tujuh perkebunan kopi di lereng Ijen keduanya memang terlihat dekat dan akrab, apalagi saat dipertemukan kembali tanpa sengaja di Negeri Pantai keduanya semakin dekat.
DUUUAAARRR...
Suara memekakkan telinga terdengar dari arah bukit dipinggir pantai Purnama. Cahaya hijau kebiruan nampak di kejauhan terlihat jelas dari Balai Banjar Manguntur.
Semua orang terlihat panik dan menatap ke arah bukit, tak terkecuali Muhibbin dan Disya.
Mata Muhibbin penuh kecemasan karena bukit itu adalah tempat Suraunya berdiri dan Sariwati ada disana.
Tiba-tiba dari balik baju Muhibbin terlihat cahaya kuning keemasan namun hanya beberapa saat.
"Bin, kenapa dibalik kemejamu ada cahaya barusan, apa yang kamu simpan?" tanya Disya terkejut melihat cahaya keemasan yang terlihat sebentar namun jelas sekali.
Muhibbin meraba sesuatu di balik kemejanya, di pegangnya sebuah cincin kuning kecoklatan yang diikat dengan benang hitam pada lehernya. Dalam benaknya bertanya-tanya mengapa cincin pemberian ibunya bercahaya walaupun sebentar.
"Oh, ini cincin Emakku Dis," jawab Muhibbin masih kebingungan.
Dari kejauhan terlihat seseorang mengayuh kereta anginnya dengan kencang menuju kearah kerumunan orang di Balai Banjar Manguntur, di hempaskan kereta angin yang dinaikinya.
__ADS_1
Nafasnya terengah dengan ekspresi wajah panik.
"LEAK... LEAK....ada Leak!" ujar seseorang yang baru datang itu masih ketakutan. Tubuhnya gemetar terduduk lemas dikelilingi orang-orang yang menyaksikannya penuh tanya.
"Pukul Kulkul Bulus....pukul Kulkul Bulus," Teriak salah seorang dari kerumunan.
TUUNGG... TUUNGG.. TUUNG.... TUUNNGG...... TUUUNG.
Suara kentongan bertalu-talu dipukul, tak berapa lama seluruh warga mulai berkumpul di Balai Banjar Manguntur. Ada yang membawa parang, golok, sabit dan beraneka senjata tajam menandakan situasi gawat sedang terjadi.
Tiba-tiba seorang lelaki menyeruak kerumunan di ikuti beberapa lelaki lainnya, lelaki itu tak lain pak Nengah Wirata ayah Sekar dan Muhibbin.
"Ada apa ini," tanya pak Nengah pada kerumunan orang-orang.
"Ada Leak Jero Mekel, ada Leak," sahut orang-orang silih berganti.
"Tolong satu persatu yang bicara, jangan semua!" imbuh pak Nengah Tegas.
"Kamu, ceritakan apa yang terjadi?" tanya pak Nengah pada lelaki yang turduduk ditengah kerumunan warga.
"Le... Le...Leak Jero Mekel," kata lelaki itu terbata-bata.
"Tak mungkin, mana ada Leak?" jawab pak Nengah dengan suara sedikit keras.
"Be.. be.. betul Jero," ucap lelaki itu terbata-bata.
"Dimana Ada Leak," pak Nengah bertanya pada pemuda didepannya.
Dengan menghela nafas lelaki itupun bercerita.
"Di Surau Jero...," kata lelaki itu.
"Saya tadi selepas Sandikala pergi memancing di pinggir pantai Purnama tak jauh dari Surau, tiba-tiba dari arah Surau saya melihat cahaya hijau kebiruan," imbuh lelaki itu.
"Karena penasaran, saya naik ke bukit dimana sinar itu datang dan ternyata dari Surau, terlihat wanita yang biasa disana memakai kain putih sedang duduk di depan sebuah buntalan kain tepat di depan pintu Surau," lanjut lelaki itu.
"Setelah itu saya lari kebawah bukit dan buri-buru ke mari dengan kereta angin," pungkas lelaki itu masih dengan suara berat bergetar menahan ketakutan.
Semua yang ada ditempat itu bergidik mendengar penuturan lelaki di depannya, tak satupun dari kerumunan itu berani berkomentar.
Dalam batin pak Nengah berguman,
"Siapa yang masih mengamalkan ilmu hitam itu?"
Masih teringat kejadian lima belas tahun lalu di desanya, dimana saat itu ada seorang wanita tua yang memiliki ilmu pengleakan melakukan teror di desanya.
Saat itu masih di pimpin perbekel lama yang tak lain ayah pak Nengah sendiri. Dari kejadian itu ayah pak Nengah meninggal setelah bertarung dengan wanita pengamal ilmu pengleakan itu dan wanita tua itu pun terbunuh oleh keris Jero Mekel Lingsir ayah pak nengah sebelumnya Jero Mekel Lingsir juga terkena tusuk konde beracun milik wanita tua itu dan jasad wanita itu dibakar dan abunya di buang di kawah Gunung Tohlangkir.
"Kamu yakin orang di Surau itu ngereh ilmu pengleakannya?" selidik pak Nengah.
"Nggih yakin Jero," jawab lelaki itu singkat.
__ADS_1
tengkuk pak Nengah meremang,
"Panggil anakku Ibbin ke mari," teriak pak Nengah.
Tak berapa lama Muhibbin di dampingi Disya dan Sekar menghampiri pak Nengah.
"Gus, kamu sudah dengar perkataan lelaki ini?" tanya pak Nengah pada Muhibbin
"Nggih Jik," jawab Muhibbin singkat.
"Jangan-jangan kawanmu itu memiliki ilmu pengleakan," kata pak Nengah pada Muhibbin.
Muhibbin terdiam dengan pikiran berkecamuk di kepalanya. Para warga yang berkumpul mengerumuni Balai Banjar Manguntur mulai kasak kusuk dengan pandangan melekat pada Muhibbin seolah-olah sebagai pesakitan.
"Tenang saudara-saudara!" suara pak Nengah berusaha menenangkan suasana.
"Bakar saja orang di Surau itu Jero," teriakan salah seorang dari kerumunan.
"Ya bakar saja,"
"Kita cacah saja tubuhnya,"
Teriakan demi teriakan warga Banjar Manguntur mulai tersulut emosi.
"Tenang, tenang saudara-saudara," kita pastikan dahulu ke sana," jawab pak Nengah kembali
"Seret saja Jero,"
"Ya, Seret saja dan kita habisi wanita terkutuk itu,"
Suasana makin tak terkendali, teriakan warga yang tersulut mulai beringas.
Para warga dipimpin pak Nengah dan Pecalang desa bergegas menuju Surau diikuti ratusan warga dibelakangnya.
******
* ***Jero : Panggilan kehormatan bagi seseorang pejabat ataupun orang yang baru dikenal
* Leak : perwujudan dari pengamal pengleakan
* Ilmu Pengleakan : Ilmu hitam yang dikenal di Negeri Pantai
* Ngereh : Istilah perubahan wujud dari pengamal ilmu pengleakan
* Kulkul Bulus : Kentongan yang dipukul berulang-ulang sebagai tanda bahaya
* Pecalang : keamanan desa atau dusun
* Banjar : Dusun
Mohon maaf untuk beberapa hari kedepan karena kesibukan untuk up agak terlambat. Mohon terus dukungannya, Maturnuwun***
__ADS_1