KAHANAN

KAHANAN
135 - LARA MANAH PART VI


__ADS_3

"Katakan, siapa dalang semua ini?" hardik Cokro pada lelaki yang terikat di tiang rumah dihadapannya.


"Selain menyekap Muhibbin, apa kalian juga terlibat dalam penculikan nona Disya?" ujar lelaki itu kembali.


Dengan sedikit menyeringai, pria pesakitan itu meludahi wajah pimpinan Bhayangkara yang menginterogasinya.


"Cuiihh!"


"Dasar anjing-anjing penjilat."


"Sampai matipun, kalian tak akan mendapat informasi apapun dariku."


jawab pria itu yang tak lain salah satu anggota Garuda Merah dengan tertawa lepas.


"Kurang ajar!"


"Bajingan!" teriak Cokro menghujani pria dihadapannya dengan pukulan, dari bibir dan hidung lelaki pesakitan itu mengucur darah segar, namun pimpinan Bhayangkara itu tak menghiraukannya.


"Kau ingin bermain-main dengan kesabaran ku?" seru Cokro dengan muka merah padam.


"Tuan Cokro!"


"Tahan, Tuan!"


"Ada hal penting yang perlu saya sampaikan." seru tuan Sirkun menahan Cokro.


"Anggota anda menemukan pembantu saya di dalam salah satu kamar." ujar pengusaha itu kembali sambil mendekat ke arah pimpinan Bhayangkara yang hendak menghajar tawanannya.


Pimpinan Bhayangkara itu menghentikan pukulannya.


Dengan wajah yang masih menyisakan kegusaran, lelaki itu berkata.


"Dimana dia sekarang, Tuan?" tanya Cokro pada tuan Sirkun, sejenak pandangannya beralih ke arah tawanannya


"Aku belum selesai denganmu!" ujar Cokro dingin pada lelaki yang terikat di tiang rumah. Pria itu kemudian menjauh dari tawanan yang dihajarnya,


Anggota Garuda Merah itu hanya menyeringai sambil meringis melihat Cokro berlalu.


Nampak tuan Sirkun menarik lengan Cokro, dengan sedikit berbisik, pengusaha flamboyan itu berkata,


"Mari ikut saya, Tuan." ujarnya sambil melangkah diikuti oleh pimpinan Bhayangkara tersebut dibelakangnya.


Sesampainya disebuah kamar yang hanya diterangi oleh cahaya Ublik, nampak sesosok tubuh terbaring di atas balai bambu dengan kepala diikat perban yang terluka akibat pukulan benda tumpul.


Cokro mendekat ke arah tubuh yang tergeletak diranjang. Pandangannya menatap tajam lelaki tua yang masih tak sadarkan diri itu, tuan Sirkun pun ikut duduk disebelah Cokro.


"Namanya pak Min, Tuan."


"Dia adalah salah satu pembantu di rumah saya."


"Yang saya herankan, mengapa dia bisa berada ditempat ini."


"Pantas saja sejak tiga hari yang lalu, saat saya menyuruhnya mencari Disya, dia tak pernah kembali."


"Rupanya dia berada ditempat ini." pungkas tuan Sirkun memberi penjelasan.


Dengan tatapan tajam Cokro masih terdiam, lelaki itu merasakan ada hal yang janggal terjadi sehingga membuat pembantu tuan Sirkun itu berada ditempat tersebut dengan keadaan terluka parah.


"Apakah sejak tiga hari yang lalu pembantu Tuan tak pernah berkabar?" ucap Cokro pada tuan Sirkun.


"Tidak, Tuan."


"Dia saya minta mencari Disya ke tempat kawan-kawannya."


"Sedangkan saya langsung menuju ke markas Bhayangkara untuk melaporkan perihal kehilangan anak saya pada Tuan." jawab pengusaha dermawan itu.


Cokro terlihat mengernyitkan dahi,


"Baiklah, kita tunggu saja sampai dia tersadar."


"Saya yakin dia mempunyai informasi penting untuk kita."


"Untuk saat ini, biarkan dia dirawat oleh anak buah saya." ujar Cokro lirih, tuan Sirkun terlihat menganggukkan kepala.


Keduanya pun bangkit dan hendak keluar dari ruangan itu, namun salah seorang Bhayangkara dengan tergesa-gesa berlari menghampiri keduanya.


"Lapor, Pimpinan."


"Diluar ada tuan Gubernur bersama rombongannya menanyakan Pimpinan."


"Tuan Gubernur kau bilang?" tanya Cokro pada anak buahnya dan anggotanya itu hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan pimpinannya.


"Mengapa tuan Gubernur datang ketempat ini, bukannya beliau sedang menghadap yang mulya raja di Kerajaan Zamrud?"


"Kapan beliau tiba?" gumam Cokro dalam hati.


"Baiklah!"


"Ayo ..."


"Jangan biarkan tuan Gubernur menunggu,"


"Mari Tuan, kita temui beliau." ajak Cokro pada tuan Sirkun, keduanya melangkah meninggalkan pak Min yang masih tak sadarkan diri.


***


Tiga hari sebelumnya,


"Kurang ajar! bagaimana gadis itu bisa melarikan diri?"


"Bagaimana bisa terjadi, pak Min?" tanya seto pada pengasuhnya.


"Gadis itu memukul saya dengan balok kayu, Den Mas." ujar lelaki tua itu terbata-bata menahan kesakitan.


"Kurang ajar! jika sampai semua ini gagal, bisa habis kita!" gerutu Seto.


"Kau harus menjalankan rencana cadangan, pak Min."


"Aku tak mau rencana yang ku susun sekian lama gagal karena kecerobohan mu." seru seto berbisik pada pak Min, lelaki tua yang terbaring di ranjang bambu itu hanya terdiam merintih kesakitan dan dengan isyarat matanya dia mengiyakan apa yang dikatakan momongannya.


"Kau istirahatlah, nanti anggota lainnya akan merawat mu." ujar seto melihat pak Min yang mulai kehilangan kesadaran, pemuda itu kemudian melangkah keluar ruangan.


"Kalian ikut denganku untuk mencarinya, pasti gadis itu tak akan pergi jauh dari tempat ini." seru Seto pada beberapa anak buahnya, wajah priyayi Negeri Tidar itu terlihat kusut. Masih terbayang bagaimana Habsari menekan dan menyalahkannya didepan para anak buahnya.


Sesampai diluar ruangan dimana pak Min berada, Seto mendekati Martin pengawal setia Habsari.


"Martin ..."


"Nanti sampaikan pada Kak Habsari, aku akan mencari gadis itu." ujar Seto pada Martin yang sedari tadi berada di ruangan tengah sejak keluar dari salah satu kamar dimana Habsari saat ini sedang menginterogasi Muhibbin.


Pria berwajah garang itu hanya diam dan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Pimpinan utama Garuda Merah itu memandang kepergian Seto bersama anak buahnya dengan tatapan sinis.


Priyayi Negeri Tidar itu melangkah meninggalkan rumah tua tersebut membawa beberapa anak buah kepercayaannya.


Setelah beberapa saat menyusuri semak-semak dan melintasi sebuah sungai, Seto beserta para pengawalnya menghentikan langkahnya.


"Aku rasa gadis itu melewati tempat ini." ujar Seto pada para pengawalnya sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, wajahnya nampak terlihat gusar.


Tiba-tiba dari kejauhan seorang pengawal Seto yang ditugaskan untuk mengawasi keadaan sekeliling rumah tua berlari mendekat,


"Den Mas ... "


"Den Mas, ada berita penting yang harus Den Mas ketahui." ujar pengintai itu .


"Ada apa, apa yang terjadi?" tanya Seto dengan wajah masih bersungut-sungut.


"Keberadaan rumah tua tempat kita sudah diketahui oleh pihak Bhayangkara, Den Mas."


"Rekan kami yang bertugas menyusup sebagai mata-mata di kesatuan itu menyampaikan kabar bahwa malam ini para Bhayangkara akan melakukan penyergapan besar-besaran." ucap pengintai itu kembali.


"Kurang ajar!"


"Jika sampai semua ini terbongkar dan kita berurusan dengan prajurit Bhayangkara, bisa gawat!" ucap Seto mendengus kesal. Pria itu terlihat berfikir keras mendengar berita dari anak buahnya.


"Sialan ..."


"Bangsat ..." umpat Seto melampiaskan kemarahannya.


"Kita harus segera pergi dari tempat ini."


"Aku tak mau berurusan dengan para Bhayangkara Negeri Pantai."


"Sialan ..." ujarnya kembali.


"Tapi bagaimana dengan rekan-rekan kita, Den Mas."


"Apakah kita perlu memberitahu nona Habsari dan kelompok Garuda Merah?" tanya salah satu pengawal Seto.


"Tak perlu!"


"Kita tinggalkan saja mereka."


"Kita tak perlu ikut terlibat jauh dalam rencana mereka."


"Biarkan semua dihadapi Hansari si wanita sombong itu."

__ADS_1


"Ini kesempatanku melampiaskan sakit hatiku pada keluarga Garuda Emas yang telah menipuku dengan perjodohan itu."


"Kita lakukan rencana cadangan, biarkan kekacauan ini ditanggung oleh Habsari dan keluarganya." ujar seto sambil menyeringai licik.


"Baik, Den Mas." jawab para pengawal Seto.


"Ayo kita pergi dari tempat ini." pungkas priyayi Negeri Tidar itu sambil melangkah pergi diikuti para pengawalnya.


***


"Cokro!"


"Apa-apaan ini ..."


"Mengapa peristiwa ini bisa terjadi?" sungut Gubernur Negeri Pantai tatkala melihat Cokro dan beberapa orang mendekat padanya.


Pengganti tuan Timoti itu terlihat kesal pada pimpinan Bhayangkara dihadapannya, alisnya bertautan dengan kerutan-kerutan di dahinya.


"Jika sampai kekacauan ini terdengar oleh pemerintah pusat, mau ditaruh dimana mukaku!" hardik sang Gubernur pada bawahannya itu.


Dengan menunduk hormat, Cokro berkata.


"Ini semua ulah gerombolan Garuda Merah, tuan Gubernur." jawab Cokro sambil sedikit membungkukkan badannya.


Sejak menggantikan mendiang tuan Timoti sebagai gubernur baru Negeri Pantai, pimpinan Bhayangkara itu merasa gerah dengan sikap arogan dan kebijakan yang kadang kala tak sesuai prosedur yang berlaku oleh pimpinan barunya tersebut.


"Bagaimana bisa?"


"Bukannya Kesatuan itu telah dibubarkan oleh pemerintah pusat sejak mangkatnya mendiang raja Harsuto?" tanya Gubernur Negeri Pantai itu kembali.


"Entahlah, Tuan."


"Yang jelas kerusuhan ini disebabkan oleh mereka."


"Mereka telah melakukan kejahatan penculikan pada menantu tuan Sirkun dan diduga pula menculik putri beliau, sebagian dari pasukan Bhayangkara telah saya tugaskan untuk melakukan pengejaran pada sebagian kelompok yang melarikan diri." jawab Cokro.


"Apa benar yang dikatakan Cokro, tuan Sirkun?"


"Apa benar putri dan menantumu menghilang?" kini sang Gubernur bertanya pada tuan Sirkun yang berada di samping Cokro.


"Benar, Tuan."


"Sejak empat hari yang lalu putri saya menghilang dan kami berusaha mencarinya. Sementara pada saat beberapa hari lalu ikut mencari, menantu saya pun ikut disekap oleh gerombolan itu."


"Saat ini mereka tengah membawa Muhibbin sebagai tawanan dalam melarikan diri." ujar tuan Sirkun menjelaskan.


Gubernur Negeri Pantai terlihat terdiam dengan tatapan dingin mengarah pada orang-orang dihadapannya.


Dengan menelisik tajam, Gubernur Negeri Pantai yang baru itu bertanya kembali,


"Aku mendengar desas-desus bahwa anda sedang bermasalah dengan salah seorang putri Kang Mas Bendowo?"


"Dan setahuku, sejak meninggalnya Kang Mas Timoti, seluruh usahanya kini anda yang menguasai?" tanya sang Gubernur mengorek keterangan.


"Tidak sepenuhnya salah informasi yang Tuan dapatkan." jawab tuan Sirkun dengan sopan.


"Maksudmu?"


"Apa informasi yang ku dapat tidak sepenuhnya benar?" tanya sang Gubernur merasa tersinggung.


"Bukan begitu maksud saya, Tuan."


"Usaha yang kami rintis itu memiliki perjanjian yang bisa dipertanggung jawabkan."


"Dan tentang pengelolaan usaha itu sepenuhnya wewenang saya sebagai pemilik tiga perempat modal di usaha tersebut."


"Dan sisanya menjadi hak dari ahli waris mendiang tuan Timoti."


"Namun sepengetahuan saya sesuai surat perjanjian, usaha itu diwariskan dan jatuh ke tangan nona Sariwati selaku yang ditunjuk oleh almarhum, bukan pada nona Habsari."


"Dan saya selaku rekan kerja almarhum berhak menentukan siapa yang akan memimpin usaha tersebut, semuanya tertuang dalam perjanjian yang transparan dan adil, Tuan." pungkas tuan Sirkun pada sang Gubernur.


Tatapan tuan Gubernur semakin tajam ke arah tuan Sirkun yang masih bersikap tenang.


"Jadi seperti itu ..."


"Apakah tak sebaliknya, kekacauan ini sengaja dibuat untuk memuluskan rencana seseorang?" ujar Gubernur Negeri Pantai itu dengan dingin.


"Maksud Tuan?" kini pandangan tuan Sirkun menatap pimpinan Negeri Pantai.


"Aku mendengar sebaliknya, didalam perjanjian itu yang berhak mengelola semuanya adalah Sariwati dan karena kondisi bekas istri keponakanku itu yang sedang sakit, maka semuanya dilimpahkan pada kakaknya Habsari." ujar sang Gubernur sambil melirik ke arah Seto yang berdiri disampingnya. Pemuda itu hanya tersenyum kecil dengan ekspresi wajah liciknya.


"Tak benar itu, Tuan."


Sang Gubernur membaca secarik kertas yang diulurkan oleh tuan Sirkun padanya. Sejenak pria itu terlihat serius meneliti surat perjanjian yang dimiliki tuan Sirkun.


"Bentuk kertas dan capnya sama dengan yang dipegang oleh Seto."


"Seto, tunjukkan pada tuan Sirkun surat perjanjian yang dimiliki oleh mantan istrimu." pinta sang Gubernur pada Seto Nugroho keponakannya.


Priyayi Negeri Tidar itu menyerahkan selembar surat yang dimilikinya, dengan menyeringai pria itu mengulurkannya pada tuan Sirkun.


Lelaki flamboyan itu membaca surat yang mengatas namakan mendiang tuan Timoti dan isi surat itu memberi kuasa penuh pada Habsari selama Sariwati masih sakit. Di bawahnya juga terdapat cap resmi perusahaan yang sama persis dengan surat perjanjian yang dimiliki tuan Sirkun.


"Tidak mungkin."


"Tidak mungkin tuan Timoti membuat surat seperti ini."


"Apalagi isinya menyatakan bahwa semua aset usaha pengolahan kayu adalah miliknya dan diwariskan pada nona Sariwati." seru tuan Sirkun tak percaya.


"Surat ini pasti palsu karena saya sendiri yang menulisnya bersama mendiang tuan Timoti."


"Disurat asli menjelaskan bahwa sepertiga hak tuan Timoti diwariskan pada nona Sariwati dan tak ada poin yang menyatakan dikelola oleh nona Habsari selama adiknya sakit, apalagi poin tentang usaha itu sepenuhnya milik tuan Timoti." ujarnya sambil mengulurkan dua lembar perjanjian itu pada Cokro untuk membantu menelitinya.


Pimpinan Bhayangkara itu meneliti kedua surat yang sama persis namun isinya berbeda, sementara Seto terus menyeringai melihat tuan Sirkun kebingungan.


Dengan suara lirih Cokro berkata,


"Apakah saat Tuan membuat surat ini ada saksi yang menemani Tuan?" tanya pria itu pada tuan Sirkun.


Pengusaha itu dengan spontan berkata,


"Pak Min ..."


"Ya, dia yang menemani saya saat bertemu dengan tuan Timoti."


"Dia pula yang menyiapkan kertas saat membuat perjanjian itu." jawab tuan Sirkun dengan perasaan sedikit lega.


"Jadi ada saksi yang tau tentang perjanjian yang kalian buat?" kini sang Gubernur kembali bertanya.


"Betul, Tuan."


"Selama ini pak Min telah membantu saya." ujar tuan Sirkun dengan mata berbinar.


"Dimana orang itu saat ini?" tanya sang Gubernur kembali.


"Kebetulan dia berada disalah satu ruangan bangunan ini, Tuan."


"Saat ini lelaki bernama pak Min itu sedang terluka." jawab Cokro menjelaskan pada pimpinan Negeri Pantai itu.


Mendengar jawaban Cokro, Gubernur Negeri Pantai itu mengernyitkan dahinya, lelaki itu merasa ada yang aneh dengan keberadaan pak Min pembantu tuan Sirkun ditempat itu.


Tiba-tiba seorang Bhayangkara datang mendekat ke arah Cokro dan lainnya, dengan berbisik Bhayangkara itu menyampaikan sesuatu pada Cokro.


"Baik, pergilah!" ujar pimpinan Bhayangkara itu memberi perintah setelah mendapat informasi dari anak buahnya, Bhayangkara itu pun berlalu.


Cokro kemudian berkata pada tuan Gubernur dan yang ada di tempat itu.


"Kebetulan sekali ..."


"Menurut anggota saya, pak Min saat ini sudah sadarkan diri." ucap Cokro memberi tahu orang-orang disekitarnya.


"Bagus!"


"Kita bisa meminta penjelasan orang itu sambil memastikan mengapa dia berada ditempat ini dengan keadaan terluka." seru tuan Gubernur singkat.


***


"Jika kau mendapati rintangan yang tak bisa kau lalui, mundurlah selangkah untuk melihat dari sisi yang lain."


"Jangan paksakan ambisi mu yang pada akhirnya akan merugikan dirimu sendiri."


"Manusia itu harus realistis dan harus tau kapan mengambil keputusan yang tepat."


"Camkan itu!" ujar lelaki tua itu kemudian melangkah pergi.


"Eyang!"


"Eyang ... jangan tinggalkan Sari sendiri, Eyang!"


"Eyang!" teriak Habsari terjaga.


Tiga orang anggota Garuda Merah yang ada ditempat segera berlari ke arah Habsari.


"Ada apa, Ni Mas?"

__ADS_1


"Ni Mas tidak apa-apa?" tanya salah seorang pengawal itu pada majikannya.


Dengan mengatur nafas, Habsari terlihat menyeka keringat di dahinya.


"Aku tidak apa-apa."


"Kembalilah ke posisi kalian." ujar wanita itu lirih.


"Baik, Ni Mas." jawab anggota Garuda Merah itu meninggalkan Habsari yang masih duduk termangu.


Sejak pelariannya semalam, Habsari merasa tubuhnya lelah sekali dan wanita itu tertidur sambil bersandar di sebuah batang kayu.


"Rupanya aku bermimpi."


"Eyang, andai Eyang masih ada ..." gumam Habsari dalam hati, wanita itu masih memikirkan mimpinya bertemu sang kakek yang tak lain adalah mendiang raja Harsuto.


Semburat kekuningan mulai sedikit berpendar di ufuk timur, menandakan hari mulai berganti.


"Sudah mulai pagi rupanya."


"Apa mereka sudah menyelesaikan perbaikan jembatan itu?" gumam Habsari kembali.


Wanita itu bangkit dari tempat duduknya, dia melangkah mendekati sosok tubuh yang tergeletak dihadapannya.


Pandangan wanita itu tertuju pada sosok tubuh Muhibbin yang masih tak sadarkan diri tak jauh dari tempatnya berada, ada kebencian terpancar di wajah ayunya ketika melihat wajah Muhibbin yang lebam penuh luka.


"Pengawal, kemari!" teriak Habsari pada anggota Garuda Merah yang bersiaga tak jauh dari tempatnya.


Mendengar majikannya memanggil, ketiga orang itu bergegas mendekati Habsari.


"Kau periksa keadaan lelaki itu, apakah dia masih bernafas?" perintah Habsari pada salah satu pengawalnya.


Anggota Garuda Merah tersebut melangkah ke arah Muhibbin, dipegangnya pergelangan tangan pemuda itu, kemudian jemari nya diarahkan ke hidung Muhibbin.


"Dia masih hidup, Ni Mas."


"Tapi denyut nadinya terlihat melemah." ucap pengawal itu pada Habsari."


"Syukurlah, aku masih memerlukannya untuk menemukan benda yang aku cari." ujar Habsari singkat.


"Dan kau ..."


"Coba periksa rekan-rekanmu, apakah mereka telah selesai memperbaiki jembatan itu." perintah Habsari pada pengawalnya yang lain.


Dengan menganggukkan kepala lelaki itu bergegas menaiki bukit menuju ke arah rekan-rekannya sesuai perintah Habsari.


***


"Pak Min ..."


"Mengapa kau bisa berada ditempat ini?"


"Apa yang membuatmu sampai terluka seperti ini?" tanya tuan Sirkun duduk disebelah pembantunya itu.


Melihat kehadiran tuan Sirkun, wajah pak Min terkejut dan kebingungan, dengan posisi masih berbaring, pandangannya silih berganti menatap orang-orang dikamar itu dan beberapa saat terhenti pada sosok seseorang yang berada di samping tuan Gubernur, pria tua itu tak menghiraukan pertanyaan tuan Sirkun.


"Jawab, pak Min!"


"Mengapa kau bisa berada ditempat ini." kembali tuan Sirkun bertanya.


"Anu, Tuan ... anu." ujar lelaki itu terbata-bata dengan sorot mata gelisah menyembunyikan sesuatu.


"Jawab, pak Min." seru tuan Sirkun dengan suara mulai meninggi.


"Tuan, mungkin pak Min baru siuman dari pingsannya, dia mungkin masih belum ingat dan bingung untuk menjawab."


"Hendaknya Tuan sedikit bersabar." sela Cokro pada tuan Sirkun.


Lelaki itu terlihat mendekati ranjang bambu dimana pak Min terbaring.


"Pak Min, tolong ceritakan, apa yang terjadi padamu dan mengapa kau berada ditempat ini." ujar Cokro lirih.


Tatapan mata pak Min silih berganti melihat orang-orang di sekelilingnya.


"Anu, Tuan ..."


"Anu ..."


"Tuan Sirkun yang memerintahkan saya untuk membantu nona Habsari membawa Nak Mas Muhibbin ketempat ini." jawab pak Min terbata-bata sambil menatap bergantian ke arah tuan Sirkun dan Cokro.


"Apa maksudmu, pak Min?"


"Kapan aku menyuruhmu membawa Muhibbin dan membantu nona Habsari?" seru tuan Sirkun terkejut tak menyangka pembantunya berkata seperti itu.


Tuan Gubernur dan Cokro saling berpandangan, keduanya merasa ada kejanggalan yang terjadi pada lelaki yang terbaring itu, sementara Seto yang berdiri di samping tuan Gubernur terus menatap tajam ke arah pak Min dan pak Min pun membalas tatapan Seto seolah keduanya sedang berkomunikasi.


"Katakan yang jelas, pak Min!"


"Bukannya kau diperintah majikan mu untuk mencari putrinya?" kini tuan Gubernur ikut angkat suara.


"Benar pak Min, katakan sejujurnya!"


"Jangan kau membuat pengakuan palsu" sela tuan Sirkun masih kebingungan dengan apa yang diucapkan pembantunya tersebut.


Dengan suara lirih dan terbata-bata, pak Min mulai menjelaskan keberadaannya ditempat itu,


"Benar Tuan, saya yang membawa Muhibbin dan membantu nona Habsari menyekapnya."


"Nona Disya pun saya yang membawanya, semua itu atas perintah tuan Sirkun." jawab pak Min pada tuan Gubernur.


"Bohong!"


"Kau berdusta, pak Min!"


"Justru aku menyuruhmu mencari anakku."


"Jangan-jangan kau sendiri merupakan bagian dari orang-orang yang menculik anak dan menantuku?" pekik tuan Sirkun mulai tersulut emosi.


Melihat hal itu sang Gubernur menyela,


"Tenang, Tuan!"


"Biarkan pak Min menyelesaikan ceritanya."


"Ada saatnya nanti anda berbicara." hardik tuan Gubernur pada tuan Sirkun yang mulai kehilangan kendali.


"Saya diperintah untuk membuat alibi jika seolah-olah nona Disya hilang diculik."


"Dan penyekapan Muhibbin adalah salah satu siasat dari tuan Sirkun untuk menguasai usaha pengolahan kayu milik tuan Timoti dan membuat kesepakatan dengan nona Habsari selaku perwakilan yang ditunjuk oleh mendiang tuan Timoti, selama nona Sariwati sakit.


Karena tuan Sirkun juga mengetahui bahwa nona Habsari sangat menginginkan pemuda itu dan entah apa tujuannya."


"Yang pasti, Sepertiga bagian dari usaha pengolahan kayu milik mendiang tuan Timoti yang dipercayakan pada nona Habsari akan sepenuhnya menjadi milik tuan Sirkun jika ditukar dengan Muhibbin." pungkas pak Min sambil sesekali pandangannya tertuju pada Seto yang terus mengamatinya.


"Bohong!"


"Itu fitnah!"


"Tega sekali kau melakukan ini padaku, pak Min!" teriak tuan Sirkun.


"Tuan Sirkun, hentikan!" hardik tuan Gubernur.


"Cokro, amankan lelaki ini!" seru pimpinan Negeri Pantai itu kembali.


Cokro dengan berat hati memerintahkan anak buahnya untuk menggelandang tuan Sirkun keluar dari ruangan.


"Lepaskan ..."


"Lepaskan!" pekik tuan Sirkun sambil meronta berusaha melepaskan diri, namun anggota Bhayangkara tetap membawanya keluar.


"Sekarang sudah jelas, tuan Sirkun adalah dalang semua ini."


"Lakukan penyidikan menyeluruh."


"Kau segera proses lelaki itu, Cokro."


"Dan tentang keterlibatan Habsari, aku akan meminta pendapat Kang Mas Bendowo ayahnya."


"Aku tak ingin kejadian ini mencoreng nama baik dan kewibawaanku dimata yang mulya raja kerajaan Zamrud." dengus lelaki itu kesal.


"Ayo Seto kita kembali ke kota."


"Biarkan semua ini ditangani oleh Bhayangkara." pungkas sang Gubernur Negeri Pantai itu.


"Baik, Paman." jawab pemuda itu mulai melangkah keluar sambil menatap kembali ke arah pak Min yang kini terlihat merasa bersalah.


Sementara Cokro pun mengikuti dari belakang meninggalkan ruangan dimana pak Min dirawat.


"Maafkan saya, tuan Sirkun."


"Semua ini saya lakukan demi momongan saya, Den Mas Seto."


"Akan saya tebus kesalahan ini dengan nyawa saya sendiri." gumam pak Min dalam hati sambil menelan sebuah kapsul yang diambil dari kantong kecil yang terselip di pinggangnya. Tak berselang lama, lelaki tua itu memuntahkan darah segar dari mulutnya dan tubuhnya kejang sebelum akhirnya meregang nyawa.


*****

__ADS_1


__ADS_2