
Diluar hujan masih mengguyur banjar Galuh, ketiga orang itu masih berbincang di ruangan tengah kediaman Gung Niang Mirah.
"Rasanya hujan masih lama akan reda, sebaiknya kalian bermalam disini." seru Gung Niang Mirah pada kedua muda mudi di depannya.
Dengan sopan Muhibbin menolak tawaran wanita tua itu.
"Tak perlu repot, Niang."
"Sebaiknya kami melanjutkan perjalanan."
"Karena kami harus segera sampai di Griya Manuaba kediaman Sri Resi." balas Muhibbin pada sang pemilik rumah. Tatapannya mengarah pada Sariwati disampingnya untuk minta persetujua.
"Benar, Niang." sela Sariwati menimpali.
Gung Niang Mirah menghela nafas, wanita tua itu tersenyum pada kedua orang muda mudi itu.
"Ya sudah, kalau kalian memaksa."
"Tunggulah sebentar sampai hujan reda."
"Nanti, bawalah obor di depan rumahku itu karena jalanan menuju kediaman Resi Giri Waja gelap gulita." pungkas Gung Niang Mirah kembali.
Muhibbin dan Sariwati hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum pada wanita tua di hadapannya.
Tak selang berapa lama, hujan pun mulai mereda dan senyum sumringah tersungging di bibir Muhibbin.
"Wati, rasanya hujan sudah mulai reda, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan kita?" tanya pemuda itu pada kekasihnya. Sariwati mengangguk dan sejurus kemudian keduanya berpamitan pada Gung Niang Mirah sang pemilik rumah.
"Niang, kami pamit dulu untuk melanjutkan perjalanan kami."
"Terimakasih atas kebaikan Niang yang telah memberikan tempat berteduh pada kami."
"Suatu hari, kami akan singgah lagi ke rumah ini jika diperkenankan." ujar Muhibbin pada Gung Niang Mirah. Muhibbin dan Sariwati bangkit sambil menyalami wanita tua itu.
"Kalian tak perlu sungkan."
"Jika melalui banjar ini lagi, mampirlah."
"Aku akan selalu menerima kalian dengan senang hati." balas wanita tua itu sambil mengantarkan tamunya di depan pintu.
"Bawalah dan gunakan ini, lumayan untuk menutupi kepala kalian dari rintik air hujan." imbuh Gung Niang Mirah sambil menyerahkan dua buah caping pada Muhibbin dan Sariwati, keduanya menerima caping itu sambil tak henti-henti mengucapkan terimakasih akan kebaikan yang diberikan wanita tua dihadapannya.
Merekapun berlalu meninggalkan rumah Gung Niang Mirah menuju Griya Manuaba.
***
Sementara di banjar Manguntur hujan masih mengguyur daerah itu, kilatan petir menyambar diangkasa.
Pak Nengah masih berbincang dengan Cahaya dan Sekar di serambi balai Dauh tempat Suratmi berbaring.
"Ni Mas, bagaimana kondisi ibumu sekarang?"
"Apakah ada perkembangan setelah ditangani Ni Mas Sariwati?" tanya pak Nengah pada Cahaya, sorot mata lelaki tua itu nampak lelah dengan guratan-guratan di wajahnya.
"Sudah lebih baik, pak Jero."
"Dan beberapa ramuan obat yang diberikan Wati terlihat memberi dampak positif pada kondisi Emak." balas Cahaya penuh hormat pada pak Nengah yang duduk dihadapannya.
"Syukurlah kalau begitu, semoga efek racun itu bisa dikeluarkan semuanya dari tubuh ibu mu." ujar pemimpin desa Batubulan itu.
"Lalu apa adikmu sudah kembali?" tanya pak Nengah pada gadis didepannya, Cahaya hanya menggelengkan kepala demikian pula Sekar ikut mengamininya.
"Seharusnya tadi siang mereka sudah sampai di dusun Galuh, karena jika menaiki kereta angin hanya membutuhkan waktu setengah hari ke tempat itu."
"Aku sudah berpesan pada adikmu agar segera kembali setelah mengantar Ni Mas Wati di kediaman sang Resi."
"Atau jangan-jangan?"
Ujar pak Nengah menghentikan ucapannya.
Wajahnya berubah cemas, Cahaya dan Sekar saling berpandangan melihat perubahan sikap dan gestur pak Nengah.
__ADS_1
"Jangan-jangan apa, Jik?" tanya Sekar pada ayahnya, gadis muda itu terlihat memandang lekat pada orang tuanya itu.
"Tadi saat aku ke kota Negeri Pantai untuk bertemu tuan Sirkun, aku melihat pemeriksaan pasukan Bhayangkara di setiap perempatan jalan, seolah-olah mencari sesuatu."
"Aku yakin, tuan gubernur sudah tau dan menyadari kepergian tanpa pamit putrinya dan memerintahkan para Bhayangkara untuk menemukan Ni Mas Wati."
"Mudah-mudahan Ibbin dan Ni Mas Wati tidak menemukan masalah selama perjalanannya tadi." seru pak Nengah pada dua gadis didepannya.
Mendengar perkataan tokoh Manguntur itu, wajah Cahaya pucat pasi dan pikirannya menerawang jauh membayangkan keselamatan dan apa yang akan terjadi pada adik lelakinya.
"Apakah tindakan kita ini tepat, pak Jero?"
"Apakah hal ini tak akan menambah masalah baru pada Ibbin?" gumam Cahaya lirih pada lelaki paruh baya itu. Ada rasa penyesalan menyeruak direlung hatinya melepas sang adik untuk mengantar Sariwati ke banjar Galuh.
Pimpinan desa Batubulan itu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Cahaya. Lelaki itu terlihat mengusap wajahnya.
"Sebetulnya apa yang kau pikirkan sama dengan yang ku pikirkan, Ni Mas."
"Namun ini adalah permintaan ibumu, bu Suratmi yang mengijinkan Ibbin mengantar Ni Mas Wati sampai di banjar Galuh,"
"Aku pun juga merasa kasihan dengan beban yang dipanggul adikmu, bagaimanapun Muhibbin sudah seperti anakku sendiri."
"Masalah yang di hadapi oleh kalian, merupakan masalahku juga."
"Aku ke kota menuju tempat tuan Sirkun dan meminta pendapat padanya untuk mencari jalan terbaik memecahkan masalah ini."
"Semoga tuan Sirkun dapat membujuk tuan gubernur dan tak mencurigai atau pun mengira Muhibbin melarikan Ni Mas Wati." ujar pak Nengah pada Cahaya.
Kini air mata gadis itu tak bisa dibendung membayangkan apa yang akan terjadi dan akan di alami adiknya.
Dengan terisak Cahaya berkata,
" Saya tak bisa melarang Muhibbin, pak Jero."
"Apalagi ini semua atas ijin ibu saya,"
"Saya sangat mengenal Muhibbin, walaupun dia pendiam tapi rasa tanggung jawabnya besar terutama pada keluarganya."
"Dia rela mengorbankan masa-masa mudanya hanya demi menghidupi kami dan mengambil tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga."
"Dia lebih memilih menepati janji setianya dari pada berkhianat pada apa yang diyakininya walaupun pada akhirnya dia yang akan menerima sakitnya."
"Itulah adik saya, pak Jero."
"Mungakin itu juga yang menjadi salah satu pertimbangan ibu saya." pungkas Cahaya pada pak Nengah dihadapannya.
Pak Nengah menganggukkan kepalanya mendengar cerita tentang Muhibbin dari Cahaya, bagaimanapun lelaki paruh baya itu tau sifat Muhubbin, karena hampir satu dasa warsa pemuda itu hidup dengannya.
Dimatanya, Muhibbin adalah sosok pemuda yang mandiri dan penuh tanggung jawab, anak itu juga tak pernah berbuat hal-hal aneh ataupun menyakiti orang lain, Muhibbin adalah sosok pemuda bersahaja yang selalu Nerimo dengan apa yang di dapatkannya.
Ketiga orang itu terdiam dengan jalan pikiran di dalam kepalanya masing-masing, gemericik hujan masih mengguyur bumi Manguntur.
Tiba-tiba pintu angkul-angkul kediaman pak Nengah terdengar ada yang mengetuk dengan keras dan suara beberapa orang riuh dari luar rumah.
"Buka!"
"Cepat buka!"
terdengar suara seseorang menghardik dari luar sambil mengetuk daun pintu dengan kencang.
Pak Nengah yang duduk bersama Cahaya dan Sekar di balai Dauh terkesiap, tak pernah ada orang yang berani bertamu dengan menggedor pintu apalagi berteriak tak sopan di rumah seorang perbekel yang sangat disegani di desa Batubulan itu.
Lelaki paruh baya itu berlari ke arah kamarnya sedangkan Cahaya dan Sekar tertegun penuh ke khawatiran. Tak selang berapa lama pak Nengah keluar dengan keris terselip di pinggangnya dan orang-orang di luar rumah masih berteriak membuat kegaduhan.
"Cahaya, Sekar, masuklah kalian ke kamar bu Suratmi."
"Kunci pintu kamar dari dalam."
"Jangan pernah keluar sebelum ajik menyuruh kalian keluar." seru pak Nengah pada Cahaya dan Sekar, wajahnya terlihat tegang.
Kedua gadis itu bergegas masuk ke dalam kamar bu Suratmi setelah pak Nengah beranjak ditengah guyuran hujan menuju keluar kediamannya.
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu membuka pengait pintu dengan wajah geram.
"Kurang ajar, apa kalian tak bisa sopan sedikit jika hendak bertamu ke rumah orang?" hardik pak Nengah tatkala membuka pintu pada beberapa orang di hadapannya.
"Kalian tau disini rumah siapa?" tegur pak Nengah dengan lantang.
Matanya menyapu kearah beberapa orang berbadan tegap di hadapannya. Terlihat pakaian dan atribut yang digunakan tamu tak diundang itu sangat dikenal olehnya.
"Kalian para Bhayangkara apa tak tau berhadapan dengan siapa?"
"Apa Prawira Utama tak pernah mendidik kalian sopan santun?"
imbuh lelaki paruh baya itu penuh kemarahan.
"Anda tak perlu bertele-tele, Tuan!"
"Jangan halangi kami dalam menjalankan tugas."
"Katakan dimana Ni Mas Sariwati dan pemuda itu!"
"Jangan sampai anda dituduh memberontak dan menghalangi tugas abdi negara." ujar salah seorang dari orang-orang itu dengan pandangan mengintimidasi.
"Apa kalian pikir aku takut dengan ancaman kalian, hah?"
"Tunjukkan surat perintah dan tanda pengenal kalian!"
"Jangan dikira dengan berpakaian Bhayangkara kalian bisa seenaknya saja berbuat sesuatu pada orang lain."
"Ni Mas Sariwati tak ada disini dan pemuda yang kalian maksud itu sedang aku utus ke rumah saudaraku di lain desa." seru pak Nengah yang terlihat geram dengan sikap para Bhayangkara di hadapannya.
"Tolong kerjasamanya, Tuan."
"Atau kami akan bertindak kasar pada tuan." ujar salah seorang yang terlihat sebagai pimpinan dari pasukan itu.
"Kau mengancam ku?"
"Sebelum kalian tunjukkan surat perintah penugasan kalian, jangan harap kalian bisa masuk ke dalam rumahku." hardik pak Nengah kembali.
"Tuan yang memaksa kami bertindak kasar."
"Pasukan, geledah rumah ini dan temukan apa yang kita cari!" perintah pimpinan orang-orang berpakaian Bhayangkara itu.
Beberapa orang terlihat merangsek masuk ke dalam rumah, namun pak Nengah tak memberikan jalan pada orang-orang itu.
"Berani satu langkah lagi kalian masuk ke rumahku, maka kalian akan menerima resikonya." hardik pak Nengah pada orang-orang di hadapannya. Pemimpin desa Batubulan itu terlihat menghunuskan keris yang terselip di pinggangnya.
"Tuan, kau terlalu memaksa."
"Saya sudah memberi anda kesempatan, jangan pernah menghalangi tugas abdi negara."
"Serang orang tua ini!" pimpinan Bhayangkara itu memberi aba-aba.
Beberapa orang mulai merangsek menerjang ke arah pak Nengah, Lelaki paruh baya itu dengan lincah menghindar dari terjangan para penyerangnya. Sabetan parang dan tombak mengarah ke tubuh Jero Perbekel dapat di hindarinya dengan mudah
Gerakan pak Nengah lincah memainkan keris yang ada di tangannya, terjadi saling tukar menukar serangan antara beberapa penyerang yang bersenjatakan parang dan tombak dengan pak Nengah.
Sabetan dan kelebatan keris yang dipegang pak Nengah semakin cepat, membuat para penyerangnya yang berjumlah empat orang keteteran dan mulai terdesak, salah saru penyerang mengerang kesakitan tatkala keris yang di pegang pak nengah menghunjam perut lawannya. Tak membutuhkan waktu lama keempat penyerang itu tergeletak dengan luka sabetan dan tusukan keris di tubuhnya.
Melihat anak buahnya terkapar tak berdaya, pimpinan Bhayangkara memerintahkan anak buahnya yang lain masuk menggeledah rumah itu dan sebagian menolong anggotanya yang terluka akibat sabetan dan hunjaman keris pak Nengah, pemimpin Bhayangkara melompat maju menerjang ke arah pak Nengah yang masih menggenggam keris di tangannya.
Pertukaran jurus demi jurus di praktikkan kedua orang itu, gerakan keduanya semakin cepat, pimpinan Bhayangkara dengan belati di kedua tangannya menyerang ke arah pak Nengah bagaikan gelombang laut yang tak henti-henti, namun lelaki paruh baya itu dengan sigap dan trengginas berhasil mengimbangi serangan pimpinan Bhayangkara, bahkan kini terlihat pimpinan prajurit mulai terdesak oleh serangan pak Nengah yang berfariasi.
Hal itu tak disia-siakan oleh pak Nengah yang bertarung melawan pimpinan Bhayangkara,
"Kurang ajar, lelaki tua ini ternyata cukup terampil dan sulit ditaklukkan," gumam pemimpin Bhayangkara dalam hati , namun tiba-tiba beberapa orang yang membantu pimpinan Bhayangkara berteriak histeris.
"Hentikan!"
"Atau aku tebas leher gadis-gadis ini!" teriak salah satu prajurit Bhayangkara dengan menodongkan belati pada leher kedua gadis yang tak lain Cahaya dan Sekar.
Melihat Cahaya dan Sekar dalam bahaya, konsentrasi pak Nengah terpecah dan sabetan belati pimpinan Bhayangkara mengenai lambungnya.
__ADS_1
Pak Nengah tersungkur dengan luka sabetan belati dan terduduk diam menahan cedera di lambungnya.
*******