KAHANAN

KAHANAN
CH 99 - KEPUTUSAN BESAR PART II


__ADS_3

Sementara siang itu di balai pengobatan banjar Manguntur,


"Jero Kanta, bagaimana kondisi Gek Sekar dan anak kecil itu?" ujar Jero Pecalang sambil melangkah memasuki balai pengobatan banjar Manguntur itu.


Balian Kanta terlihat sumringah menyambut kedatangan Jero Pecalang, kedua lelaki itupun duduk di kursi yang ada disudut ruangan itu.


"Apa Nak Mas Muhibbin sudah kembali dari Surau An Nur setelah pakaman kakaknya kemarin?" tanya pimpinan keamanan desa Batubulan itu kembali.


"Belum, Jero."


"Sejak kemarin setelah penguburan Ni Mas Cahaya, aku tak melihatnya disini."


"Apa mungkin dia masih berkabung dan tak ingin meninggalkan pemakaman Ibu dan Kakaknya?" jawab Balian Kanta pada Jero Pecalang, Tabib tua itu menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Tentang Sekar dan keponakan Muhibbin, kedua anak itu sudah melalui masa kritisnya,"


"Cuma untuk Raya Suci, kondisi luka bakarnya masih perlu penangan lebih lanjut karena hampir sekujur tubuhnya mengalami luka bakar."


"Astungkara segala puja pada Dewata, anak itu masih bisa bertahan."


"Dan untuk Sekar, luka bekas hujaman tombak di dadanya sudah aku tangani, walaupun lukanya parah namun tak separah yang dialami oleh keponakan Muhibbin." ujar Balian menjelaskan keadaan Sekar dan Raya Suci pada Jero Pecalang.


"Syukurlah Jero Balian, kejadian ini sungguh memilukan dan kita harus meminta keadilan pada tuan Gubernur untuk mengusut semua ini."


"Dari apa yang kulihat dan dengar dari para anak buah ku, warga Manguntur tidak terima dengan apa yang telah menimpa pada Jero Mekel sekeluarga, saya khawatirnya para warga akan berbuat huru hara membalas semua kejadian ini, karena menurut informasi yang aku terima, kejadian ini melibatkan para Bhayangkara Negeri Pantai." ujar lelaki itu pada Tabib tua di dekatnya, tatapannya kosong memandang ke arah halaman balai pengobatan banjar Manguntur.


"Itulah yang sampai saat ini aku masih belum mengerti, Jero."


"Kita tau bersama, selama ini Jero Mekel adalah tokoh desa kita yang adil dan bijaksana."


"Selama ini mendiang Jero Mekel pun ku lihat tak memiliki musuh ataupun catatan buruk di masyarakat."


"Semua kejadian ini diluar nalar kita, hingga ada yang begitu tega membantai dan berbuat kejam para beliau sekeluarga."


"Aku memahami apa yang dirasakan warga Manguntur."


"Maka dari itu sebaiknya salah satu dari kita meminta pandangan serta nasihat orang yang lebih bijaksana untuk melihat semua ini dan untuk lebih gamblangnya, kau mintalah pendapat tuan Sirkun."


"Bagaimanapun selama ini mendiang Jero Mekel dekat dengan pengusaha dermawan dari Negeri Kelapa itu."


"Mungkin dari beliaulah kau akan dapatkan solusi terbaik untuk meredam gejolak warga." ujar Balian Kanta pada Jero Pecalang.


"Sebaiknya saat ini suruh anak buah mu menyusul Muhibbin di Surau An Nur, aku mengkhawatirkan keadaannya."


"Pemuda itu saat ini sedang tidak stabil kejiwaannya, aku takut terjadi hal-hal yang tak kita inginkan padanya." imbuh Tabib tua itu kembali.


Jero Pecalang menganggukkan kepalanya, wajah pimpinan keamanan desa Batubulan itu terlihat letih dan memendam beban akibat peristiwa yang terjadi di wilayahnya beberapa waktu terakhir ini.


"Kalau begitu, saya saat ini akan menghadap ke kediaman tuan Sirkun, Jero Balian."


"Biar anak buah ku yang menyusul Nak Mas Muhibbin di Surau."


"Jika ada perkembangan dengan kedua anak itu segera anda kabari saya. Sebagian anak buah saya biar menemani anda disini." ujar Jero Pecalang pada Balian Kanta sebelum lelaki itu beranjak meninggalkan balai pengobatan banjar Manguntur.


Balian Kanta mengangguk ringan dan mengantarkan Jero Pecalang di muka pintu, dilihatnya pimpinan keamanan desa Batubulan itu hingga punggungnya menghilang tak nampak di kejauhan.


***


Di kota Negeri Pantai,

__ADS_1


Terlihat tuan Timoti hendak beranjak keluar dari kamar tuan Bendowo setelah memastikan kondisi kesehatan pewaris Dinasti Garuda Emas tersebut,


"Kang Mas, Mbak Yu! aku pamit dulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya dan segera menghubungi Haryo serta Dewi untuk membicarakan pernikahan antara Seto dan Wati."


"Aku juga akan menemui tuan Sirkun untuk menyewa dan memakai gedung Selasar Rumah Budaya miliknya sebagai tempat pesta pernikahan Wati nanti." ujar pimpinan Negeri pantai itu pada tuan Bendowo dan nyonya Warika.


"Aturlah sebaik mungkin, Tim."


"Ini juga hajatan mu selaku orang tua kandung Wati." jawab tuan Bendowo lirih, tuan Timoti mengangguk dan tersenyum pada kakaknya yang sedang terbaring lemah.


Pemimpin Negeri Pantai itu melangkah keluar namun tiba-tiba nyonya Warika bangkit dan berkata,


"Tunggu, Tim!"


"Ada yang Mbak Yu ingin katakan padamu." ujar wanita tua itu menahan tuan Timoti.


"Pi, Mami keluar sebentar."


"Ada yang perlu Mami katakan pada Timoti."


"Dan kamu Wati, tolong jaga Papi mu sebentar ya, Nak."


"Ada yang perlu Mami sampaikan pada Ayahmu." imbuh nyonya Warika pada suaminya Bendowo dan Sariwati putrinya.


Nyonya Warika melangkah mengekor di belakang tuan Timoti, setelah tak berapa lama keduanya sampai di ruang tengah kediaman gubernuran tersebut.


"Tim, ada yang ingin aku katakan padamu." ujar nyonya Warika, wajahnya menelisik ke arah tuan Timoti dihadapannya.


"Ada apa, Mbak Yu?"


"Apa yang Mbak Yu akan sampaikan berkaitan dengan persiapan pernikahan Wati?" tanya pimpinan Negeri Pantai itu.


Nyonya Warika menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan adik lelakinya itu, tatapannya menerawang menembus sela-sela pepohonan yang terlihat di sebelah jendela ruangan tengah itu.


"Aku ingin sampaikan langsung pada dirinya dan keluarganya bahwa Wati akan segera menikah dengan Seto."


"Aku tak ingin terjadi kesalah pahaman seperti tempo hari saat pemuda itu bersama keluarganya datang kemari." ujar nyonya Warika lirih, kini pandangannya tertuju pada tuan Timoti yang duduk di hadapannya.


"Apakah pemuda yang Mbak Yu maksud Muhibbin?" tanya tuan Timoti sebelum melanjutkan perkataannya, nyonya Warika pun menganggukkan kepala.


"Benar, Tim."


"Aku ini seorang wanita, aku tau apa yang dirasakan Wati."


"Putri kita sangat mencintai Pemuda itu, walaupun kudengar dari bibirnya jika Wati tak punya perasaan apapun pada Pemuda itu.


" Aku ingin Pemuda itu juga bisa melepaskan Wati dengan suka rela demikian pula Wati." ujar nyonya Warika.


Tuan Timoti terlihat menghela nafas, lelaki paruh baya itu berdiri dan melangkah ke arah jendela ruangan tengah itu, tatapannya kosong memandang keluar jendela, tanaman anggrek dan bunga mawar dihalaman sedikit membuat sejuk penglihatannya.


"Aku tau yang Mbak Yu rasakan."


"Andai dari awal aku mengetahui bahwa Wati memiliki hubungan dengan Pemuda itu, mungkin aku tak akan meminta Kang Mas Bendowo menjodohkan Wati dan Seto, anak Haryo dan Dewi." ujar tuan Timoti penuh penyesalan.


"Aku tau ini tak mudah bagi Wati dan Pemuda itu, Mbak Yu."


"Aku pernah mengalaminya bersama Widyowati dulu, mungkin Mbak Yu masih ingat pernikahanku dengan anak seorang kepala desa di lereng Mahameru itu." imbuh sang Gubernur Negeri Pantai itu pada nyonya Warika.


"Iya Tim, aku ingat."

__ADS_1


"Maka dari itu, aku tak ingin Wati bersedih."


"Mungkin dengan keikhlasan Pemuda itu melepas Wati, maka kehidupan anak kita tak akan terbebani kedepannya bersama Seto, Tim." ujar nyonya Warika.


"Kau tau tempat Pemuda itu beserta Keluarganya?" imbuh wanita tua itu bertanya pada tuan Timoti.


"Pemuda itu saat ini berada di ruang tahanan pusat komando Bhayangkara, Mbak Yu."


"Dan keluarganya-" tuan Timoti menghentikan perkataannya,


"Apa yang terjadi pada Pemuda itu, Tim? hingga ada di ruang tahanan."


"Keluarganya kenapa, Tim? tanya nyonya Warika penasaran, mata wanita itu menatap tajam ke arah tuan Timoti.


Dengan helaan nafas berat, tuan Timoti menceritakan semuanya dengan lengkap, mulai peristiwa terbunuhnya keluarga Muhibbin hingga penyebab Pemuda itu meringkuk di ruang tahanan pusat komando Bhayangkara.


"Ya Allah, malang benar nasib anak itu."


"Lalu apakah kau sudah mengetahui dan menyelidiki siapa dalang kekacauan itu, Tim?" tanya nyonya Warika kembali, tak terasa air mata wanita tua itu berlinang dan dengan punggung tangannya dia menyekanya.


"Penyelidikan sementara semua ini mengarah pada Habsari, Mbak Yu." jawab tuan Timoti lirih.


Mendengar penuturan adiknya, sontak nyonya Warika terkejut dan tak menyangka,


"Bisa-bisanya Habsari melakukan semua ini."


"Apa yang sebenarnya merasuki pikiran anak itu? hingga dia bisa berbuat sekejam ini."


"Aku tak habis fikir dengan kelakuan Habsari." ujar nyonya Warika sambil menangis.


"Bagaimana jadinya kalau Kang Mas Bendowo mendengar semua ini? imbuh nyonya Warika kembali.


"Entahlah Mbak Yu, ini yang membuat posisiku dilema."


"Bagaimana pun Habsari itu keponakan ku, keluarga ku."


"Namun di satu sisi keadilan harus ditegakkan." seru tuan Timoti dengan wajah menaham geram.


"Tolong Tim, jangan kau hukum keponakanmu."


"Carilah solusi lain supaya Habasari tak ikut di hukum dalam insiden itu."


"Aku mohon, Tim!" iba nyonya Warika pada tuan Timoti.


"Aku tak janji Mbak Yu,"


"Semua ini tergantung keikhlasan Pemuda itu." ujar tuan Timoti.


"Antarkan aku padanya, Tim."


"Aku yang akan memohon padanya agar semua masalah ini tidak diperpanjang."


"Kalau perlu kita berikan dia harta untuk kompensasi atas semua yang telah terjadi." seru Wanita tua itu sambil menyeka air matanya.


Tuan Timoti hanya terdiam, pikirannya melayang tak tentu arah namu tiba-tiba lelaki itu berkata


"Mari Mbak Yu, aku akan antarkan Mbak Yu menemui pemuda itu."


"Sekaligus aku akan menemui tuan Sirkun untuk persiapan pernikahan Wati." pungkas tuan Timoti.

__ADS_1


Nyonya Warika melangkah mengikuti tuan Timoti yang terlebih dulu keluar menuju halaman depan.


*****


__ADS_2