
Sariwati masih duduk termangu di selasar balai Dauh, tatapan matanya kosong menerawang menembus sela-sela dedaunan pohon jepun didepannya.
Tangan lentiknya masih memegang surat titipan Muhibbin yang diberikan Arsana padanya, perlahan dibuka dan dibacanya kembali secarik kertas itu. Bait demi bait tak luput dari pandangannya.
'Wati, ku kabarkan padamu tentang berita yang mungkin membuat hari-hari kita tak akan sama lagi seperti kemarin maupun dulu.
Aku menitipkan surat ini pada bli Arsana agar kau mengetahui apa yang saat ini terjadi padaku dan pada keluargaku.
Lelayu,
Emak, Mbak Yu Cahaya dan Ajik Nengah saat ini telah tiada, sedangkan adikku Sekar dan Raya ketika kau menerima surat ini masih dalam keadaan tak sadarkan diri dengan kondisi mengenaskan korban dari orang-orang yang belum aku ketahui itu siapa.
Namun perasaanku mengatakan itu adalah perbuatan orang-orang yang tak menghendaki hubungan kita dan apa yang ku takutkan sejak awal, akhirnya telah terjadi.
Memang benar aku mencintaimu, memang benar rasa ini tak akan pernah berubah untukmu, namun jika apa yang ku curigai dan ku takutkan mengarah pada keluargamu, maka aku tak akan bisa memaafkan kebodohan dan kesalahanku hingga berakibat pralaya pada keluargaku.
Mungkin saat ini akulah orangnya yang paling berduka di atas bumi ini, kau tau aku hanya memiliki mereka dan demi dirimu ku pertaruhkan kehidupan keluargaku, mungkin ini terdengar naif dan kau tau bagaimana diri ku.
Mengenalmu adalah anugerah terindah dalam hidupku namun juga nestapa terberat yang pernah ku alami.
Wati, aku akan segera kembali dan saat ku datang nanti, aku akan mengantarkan mu pulang pada orang tua mu, aku tak ingin semua semakin kusut dan berlarut.
Cukup sudah rasa kehilangan ini ku alami, aku akan hadapi ini sebagai konsekwensi ku walau nyawaku taruhannya. Aku tak mau mengulangi kesalahan kembali, membawamu pergi tanpa sepengetahuan orang tuamu adalah kekeliruan yang tak seharusnya kita lakukan.
Namun nasi sudah menjadi bubur dan aku harus lakukan yang memang sejak awal seharusnya ku lakukan.
Kumohon pengertian mu.
Dari orang yang sangat mencintaimu '
Dengan wajah murung, Sariwati mencerna kata demi kata dari surat yang dikirimkan Muhibbin.
Sambil menghela nafas dalam-dalam terlihat gadis itu tercekat dengan apa yang dibacanya.
Mata Sariwati kembali berkaca-kaca, dilipatnya surat itu dan terlihat gadis itu bangkit dari tempatnya berada.
"Andai aku bukan darah trah Harsuto, mungkin ini tak akan terjadi."
"Bagaimana pun semua ini akulah penyebabnya, andai aku tak egois dan memaksakan kehendak ku, keluarga Muhibbin tak akan menanggung semua ini."
"Kak Habsari!"
"Ya, Aku yakin ini ulah kak Habsari."
"Sungguh keterlaluan!" runtuk Sariwati dalam hati, gadis itu terlihat gusar dan di sekanya air mata yang terus meleleh di pipinya.
"Aku harus segera kembali ke rumah ayah, aku harus meminta keadilan untuk semua kejadian ini."
"Pasti ini ulah kak Habsari." gumam gadis itu kembali.
Langkah kakinya menuju ke dalam kamar, Sariwati terlihat mulai mengemas barang-barangnya, tak selang berapa lama dia kembali keluar menuju balai utama dengan membawa buntalan di tangannya.
__ADS_1
Tepat didepan pintu bangunan utama Asram Manuaba langkahnya terhenti, tangannya terangkat hendak mengetuk pintu di depannya, namun Sariwati mengurungkannya dan menarik tangannya kembali, keragu-raguan menyeruak di hatinya. Lamunannya menguap saat sebuah suara menyapanya.
"Masuklah!"
"Akan sampai berapa lama kau berdiri didepan pintu itu." suara seorang lelaki tua terdengar dari dalam ruangan.
Dengan langkah pelan dan wajah tertunduk Sariwati memasuki ruang utama yang tak lain adalah ruang pemujaan tempat Resi Giri Waja berada.
"Maafkan saya malam-malam mengganggu Bapa Resi." ujar Sariwati lirih ketika berada di hadapan pemuka agama banjar Galuh itu.
Nampak seorang lelaki tua duduk bersila menghadap sebuah arca perwujudan Narayana dengan beberapa pot bunga tulasi di kanan kirinya dan dupa yang masih menyala membelakangi Sariwati, lelaki tua itu membalikkan tubuhnya dan menghadap pada gadis didepannya.
"Kau akan pergi kemana, Ni Mas?"
"Apakah kau hendak pergi dari tempat ini?" tanya lelaki tua itu pada gadis yang masih terpaku dengan wajah tertunduk dihadapannya.
"Kau akan pergi setelah semua ini terjadi?" ujar Sang Resi kembali, matanya yang teduh menelisik memandang Sariwati yang masih terdiam.
"Saya bingung, Bapa Resi."
"Entah mengapa semua ini terjadi pada saya dan Muhibbin." ujar Sariwati lirih, dari sudut matanya menetes bulir-bulir bening dengan iringan isakan yang tak dapat ditahannya.
Resi Giri Waja bangkit dari tempat duduknya, dia menghampiri gadis itu dan mengajaknya duduk di serambi balai utama itu. Lelaki tua itu menghela nafas dan mengambil kotak berisi sirih dan pinang yang ada di meja, tangannya yang keriput terlihat meracik benda yang dipegang dan mengunyahnya.
"Sekali lagi aku bertanya padamu, Ni Mas."
"Apakah keputusanmu telah bulat akan pergi meninggalkan kekasihmu?" tanya Sang Resi kembali.
"Ni Mas, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa dalam mengambil suatu keputusan kita harus jernih melihat kedalam diri kita." ujar Resi Giri Waja memecah keheningan malam.
"Manusia hidup dengan perasaan tetapi kadang-kadang untuk memenuhi kewajibannya seseorang harus menekan perasaanya." lanjut lelaki tua itu.
"Ketika pikiran menuruti hawa nafsu, ketenangan jiwa akan hilang. Seperti angin yang membawa kapal di atas air."
"Orang yang tak bisa mengendalikan hawa nafsu, tak akan memiliki budi, ia juga tak memiliki kemampuan berkonsentrasi. Tanpa konsentrasi tak ada kedamaian dan tanpa kedamaian bagaimana kebahagiaan bisa diperoleh?"
"Daripada berusaha untuk mengubah hidup ini, adaptasikan saja dirimu untuk mengubah keadaan sebagai satu-satunya jalan menuju keberhasilan dan kebahagiaan." imbuh Resi Giri Waja pada gadis di depannya.
Sariwati masih terdiam dengan cucuran air mata di pipinya, wajah gadis itu makin tertunduk dalam.
"Terbelenggu beratus-ratus ikatan hasrat keinginan, menghanyutkan diri dalam arus pusaran nafsu dan amarah."
"Apakah kau tahu yang terdapat pada masa depan? keadaan selalu bisa berubah, Ni Mas."
"Jika tidak suka dengan pantulan penampilan di kaca maka yang salah bukan kacanya tapi penampilannya."
"Terkadang perbuatan seseorang itu menyakiti orang lain, maka dari itu kita harus terkendali."
"Sungai yang menampung kotoran akan membuangnya ke laut. Limpahkanlah semua penderitaan, masalah yang membebani diri dan sebagainya kepada Yang Maha Kuasa dan Dia akan mendampinginya."
"Jangan mencoba mengetahui masa depan, lakukanlah yang terbaik untuk masa sekarang. Janganlah mencoba untuk mengetahui rencana sang maha kuasa. Jika kita meramalkan masa depan maka hanya kepastian yang tidak jelaslah yang kita dapatkan."
__ADS_1
Panjang lebar Sang Resi memberi pitutur pada Sariwati dan gadis itu masih tenggelam dalam isakan tangisnya.
"Saya bingung, Bapa Resi."
"Seolah-olah semua masalah tak pernah kunjung henti menghampiri kami berdua."
"Saya sangat mencintai Muhibbin melebihi hidup saya sendiri, Bapa Resi."
"Namun sepertinya takdir selalu memberi luka pada kami."
"Kejadian yang menimpa keluarga Muhibbin, sedikit banyak sayalah penyebabnya." ujar Sariwati lirih dalam tangisannya.
Resi Giri Waja hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan putri gubernur Negeri Pantai itu. Pemuka agama banjar Galuh itu kembali berkata.
"Takdir tidak membutuhkan sebuah undangan."
"Pepohonan hanya bisa disuburkan oleh air bukan susu, bahkan susu pun tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh air."
"Ketika pohon bertahan dari hantaman badai, pohon itu akan bertahan melindungi rantingnya. Ketika daun mulai menguning daun itu akan rontok dengan sendirinya."
"Bahkan orang yang menebang pohon lalu membakarnya, orang tersebut akan tetap menjaga buahnya agar tetap aman."
"Belajarlah tetap tegar di segala keadaan."
"Di mana ada ikatan akan ada perlawanan, di mana ada perlawanan akan ada kemenangan, di mana ada kehidupan pasti ada cinta."
"Saat keadaan sedang sulit, seseorang akan merasakan kesakitan."
"Ketakutan berasal dari hati manusia itu sendiri. Rasa takut hanya imajinasi."
"Takdirmu adalah sebuah akumulasi dari semua keputusanmu. Satu keputusan saja bisa merubah takdirmu sebagai manusia dan itu juga bisa mengubah masa depan."
"Sekarang terserah pada keputusanmu, Ni mas."
"Aku hanya dapat memberikan pandanganku yang mungkin bisa bisa kau cerna dan kau amalkan dalam kehidupanmu." tatapan Sang Resi lekat memandang Sariwati.
"Saya akan pulang, Bapa Resi."
"Saya akan meminta ayah untuk memberikan keadilan terhadap apa yang dialami Muhibbin dan keluarganya." ujar Sariwati lirih.
Kembali senyum menghiasi wajah teduh Resi Giri Waja.
"Jika itu keputusanmu, lakukanlah."
"Nanti sebelum fajar pergilah bersama Arsana, dia akan mengantarmu sampai ke kota."
"Sekarang istirahatlah dulu, kau terlihat letih sekali, aku akan melanjutkan kembali bermeditasi." ujar Resi Giri Waja sambil bangkit dan kembali memasuki ruangan pemujaan.
Sariwati hanya memandang punggung lelaki tua berpakaian serba putih itu dari tempatnya berada.
*****
__ADS_1