KAHANAN

KAHANAN
CH 72 - MELARIKAN DIRI PART III


__ADS_3

Kekesalan Cahaya seolah mewakili kekecewaan  perasaan keluarga besar Muhibbin dan pak Nengah terhadap perlakuan tuan Bendowo, gadis itu meluapkan kemarahannya pada gadis yang ada disebelah adiknya.


"Apa tujuanmu datang kemari?"


"Tak puas kau membuat keluarga kami tersakiti?"


"Apalagi yang kamu rencanakan setelah menyuruh orang menyerang kami dan orangtua mu menghina kami sedemikian rupa hingga membuat ibu kami sekarang tergolek sakit?"


Cahaya terus mencecar Sariwati dengan rentetan pertanyaan, wajah gadis itu terlihat merah padam,


"Menyuruh orang untuk menyerang kalian, apa maksudnya?"


"Saya tak mengerti maksud perkataan Mbak yu?"


"Kedatangan saya kemari ingin meluruskan keadaan dan meminta maaf terutama pada Emak dan Mbak Yu."


"Saya tak paham yang Mbak Yu katakan, apa maksud semua ini?"


"Ibbin, tolong jelaskan semua ini?" tatapan Sariwati mengarah pada Muhibbin di sampingnya.


Wajahnya yang pucat pasi semakin sembab dengan air mata. Muhibbin hanya terdiam melihat kakaknya menumpahkan segala kekesalannya.


"Kau tak perlu berpura-pura."


"Bukannya dinasti Garuda Emas yang melakukan penyerangan terhadap ku dan Emak saat di negeri kami dan kau adalah salah seorang anggota keluarga itu yang menjadi sumber masalah ini."


"Bukannya lelaki yang menghina kami kemarin itu adalah tuan Bendowo, ayahmu?"


"Dan dia yang memegang kendali dinasti Harsuto dengan gerombolan Garuda Merahnya?"


kini Cahaya tak dapat menahan dirinya, amarahnya seakan-akan menguap dan dilampiaskan pada Sariwati yang masih kebingungan di depannya.


"Demi Allah saya tak tau yang Mbak Yu maksud."


"Memang benar tuan Bendowo itu adalah papi saya dan pewaris dinasti Garuda Emas."


"Namun tentang penyerangan terhadap Emak dan Mbak Yu itu tak masuk akal."


"Tidak mungkin Papi akan berbuat sekejam itu." sanggah Sariwati, pandangannya sayu menatap wajah Cahaya yang masih dalam keadaan emosi.


"Kau tak perlu membawa-bawa nama Tuhan, apalagi berpura-pura terkejut dan sedih."


"Gerombolan Garuda Merah yang meracuni Emak hingga sakit, apa itu bukan sebuah bukti?"


"Semua orang disini sudah tau kalau itu suruhan keluargamu."


"Ini jelas kaitannya dengan penolakan keluargamu pada lamaran adikku."


"Apalagi yang perlu kamu luruskan?" pungkas Cahaya, gadis itu terlihat mendengus dan nafasnya memburu menahan kegeramannya.


"Tapi sungguh, Mbak Yu! aku tak tau masalah ini."


"Dan mengenai racun yang Mbak Yu katakan, bolehkah aku memeriksa keadaan Emak?" ujar Sariwati pada Cahaya, terlihat kecemasan di wajahnya."


"Bin, tolong Bin!"


"Percaya padaku, antarkan aku melihat kondisi Emak."


"Bagaimanapun aku seorang alkimia, mungkin aku bisa menyembuhkannya minimal mengurangi rasa sakit beliau."


Sariwati mengiba pada kekasihnya.


Muhibbin yang tau kemampuan Sariwati menatap wajah pak Nengah dan kakaknya untuk meminta persetujuan. Pak Nengah  hanya terdiam namun Cahaya dengan tatapan sinis terlihat tak senang dengan tingkah adiknya.


"apa kau sudah kehilangan kewarasanmu, memintaku untuk menyetujui perempuan mu ini mengobati Emak?"


"Bukannya malah sembuh tapi akan semakin memperparah keadaan Emak saat ini." gerutu Cahaya dengan sinis, tatapannya tajam mengintimidasi.


"Cukup Mbak Yu, tahan emosimu."


"Aku tau Mbak Yu marah dan kecewa pada Sariwati."


"Hal itu tak akan merubah situasi ini, Mbak yu."

__ADS_1


"Peluang sekecil apapun untuk menyembuhkan Emak harus kita ambil." sanggah Muhibbin pada kakaknya.


Pemuda itu berusaha meyakinkan Cahaya tentang kemampuan Sariwati.


"Ajik, saya mohon ijin membawa Wati ke kamar Emak."


"Dan Mbak Yu, tolong untuk saat ini saja tahan amarahmu." pinta Muhibbin pada pak Nengah dan Cahaya.


Pak Nengah mengangguk pelan tanda setuju, bagaimanapun lelaki paruh baya itu tau keterampilan Sariwati dalam ilmu pengobatan sebagaimana yang dilihatnya selama ini dalam menolong dan menangani para warga Manguntur yang sedang sakit.


Cahaya hanya terdiam melihat adiknya dan sariwati melangkah meninggalkannya  ke balai Dauh."


***


Sinar pagi yang semakin berpendar menggelayuti langit manguntur, di kediaman pak Nengah penghuni rumah terlihat mulai terjaga semua. Sariwati yang memeriksa kondisi Suratmi terlihat serius menganalisa apa yang diderita wanita tua itu.


"Bin, bisa kau siapkan susu hangat untuk Emak." ujar wanita ayu itu. Muhibbin tak habis pikir dengan metode pengobatan yang di lakukan kekasihnya,


"Susu?"


"Buat apa, Wati?" tanya pemuda itu penasaran.


"Sudahlah, siapkan saja."


"Aku tau apa yang aku lakukan."


tangan Sariwati masih memijit beberapa titik syaraf di tubuh Suratmi.


Tak berapa lama Muhibbin kembali ke dalam kamar dengan segelas susu di tangannya. Dengan telaten Sariwati mulai meminumkan susu hanyat pada suratmi.


"Di habiskan nggih, Mak." ujar wanita ayu itu.


Suratmi yang masih dalam keadaan lemas mengarahkan pandangannya pada suara didekatnya, di rabanya wajah sang gadis dengan kedua tangannya.


"Nduk, Emak tak bisa melihat wajah ayumu, tapi Emak tau kau orang baik." ujar Suratmi pada Sariwati.


"Siapa kamu, Nduk?"


"Wajahmu sepertinya cantik sekali." tanya wanita tua itu lirih pada Sariwati, tangannya masih memegang wajah gadis didepannya.


"Ini Wati, Mak."


"Putri tuan gubernur." ujar Muhibbin lirih.


Terlihat pandangan Suratmi tertuju pada wajah Sariwati walalupun dalam kebutaan wanita tua itu dapat merasakan gurat-gurat kesedihan di wajah Sariwati yang disentuhnya.


Linangan air mata mengalir di antara pipinya yang keriput. Ada kepedihan yang dirasakan wanita tua itu tatkala meraba wajah gadis didepannya, walaupun tak bisa melihat kini pandangan Suratmi beralih pada sang putra.


"Le, apa sudah kau pikirkan matang-matang perbuatanmu ini?"


"Apakah kau siap bila nanti kau akan dituduh melarikan anak orang." seru wanita tua itu lirih, deraiaan air matanya semakin deras tatkala mendengar suara Muhibbin yang ikut sesenggukan di depannya.


Pemuda itu hanya mengangguk kecil tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.


"Nduk, apa kau sudah siap menerima akibat dari perbuatan kalian ini?" kini Suratmi bertanya pada sariwati yang juga terlihat menangis didepannya.


"Emak tak tersinggung atas penghinaan keluargamu."


"Emak hanya prihatin dengan yang kalian alami ini."


"Emak tau, perjalanan kalian tak akan mudah setelah ini."


"Tapi apakah kau sudah berpikir matang-matang dengan keputusan yang kau ambil ini?"


"Kau pasti kabur dari rumahmu tanpa pamit pada orang tuamu." ujar wanita tua itu kembali.


Muhibbin dan Sariwati hanya diam tertunduk mendengar apa yang dikatakan suratmi.  Tanpa kata yang bisa terucap Sariwati kembali meminumkan susu hangat tadi pada wanita tua itu dan Suratmi terlihat tersenyum walaupun air matanya masih mengalir di pipinya.


"Emak tau, kau sangat mencintai anak Emak."


"Apakah kau siap menderita jika hidup dengan Muhibbin, Nduk?" tanya Suratmi lirih. Sariwati yang masih terisak hanya menjawab lirih, " Nggih, Mak," dan gadis itu terlihat menganggukkan kepalanya tak berani memandang wajah tua Suratmi.


Gadis itu terus menyibukkan diri dengan meminumkan susu yang ada di tangannya pada wanita tua itu. Namun tiba-tiba Suratmi bangkit dari tempatnya bersandar dan dari mulutnya keluar muntahan bercampur dengan susu yang baru saja di minumnya.

__ADS_1


Melihat hal itu terjadi kepanikan di kamar itu, Muhibbin segera menyandarkan ibunya di bahunya, matanya tajam menatap Sariwati,


"Apa yang kau lakukan pada Emak?"


"Mengapa kondisi emak bisa berubah drastis seperti ini?  hardik Muhibbin pada Sariwati, di dekapnya tubuh ibunya yang terlihat kesakitan dan nafas Suratmi kembali tersengal.


"Jawab, Wati!"


"Mengapa emak jadi seperti ini?" hardik pemuda itu pada kekasihnya. Sariwati hanya terdiam tak menanggapi  perkataan Muhibbin, di sentuhnya nadi suratmi dengan jarinya.


Orang-orang yang ada di luar kamar menyeruak masuk mendengar teriakan Muhibbin.


"Ada apa, Bin?"


"Kenapa Emak kondisinya seperti ini?" pekik Cahaya pada adiknya. Gadis itu mendekat ke arah Suratmi sang ibu menyibak Sariwati yang ada disampingnya, wajahnya tegang melihat kondisi Suratmi.


"Apa yang kalian lakukan pada Emak?"


"Jawab!"


Kini mata Cahaya mulai basah, wajahnya tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Pak Nengah, Sekar dan Raya pun tak kalah terkejutnya dengan perubahan reaksi tubuh Suratmi.


"Jawab Wati, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Muhibbin pada Sariwati, semua mata yang ada di ruangan itu tertuju pada gadis ayu berkerudung merah jambu itu.


"Tenanglah, Bin."


"Kondisi Emak akan baik-baik saja." ujar Sariwati singkat, tangannya terus memijat beberapa titik syaraf di tubuh Suratmi.


"Apanya baik-baik saja!"


"Kau lihat sendiri, Emak sekarang kesakitan!" hardik Muhibbin.


"Percaya padaku, Emak akan baik-baik saja."


"Terus minuman susu itu pada Emak sampai isi perut beliau kosong."


"Walaupun muntah, itu sudah biasa."


"berarti racun-racun itu mulai keluar dari tubuh Emak."


"Setelah ini kau berikan emak pil ini." Sariwati mengeluarkan beberapa pil dari dalam buntalan kain yang di bawanya, dia menyerahkan satu butir pil itu pada Muhibbin.


"Minumkanlah pada Emak, supaya semua racun yang ada di tubuh beliau keluar melalui muntahannya."


Dengan ragu-ragu pemuda itu mengikuti apa yang diperintahkan Sariwati, tak selang beberapa lama kondisi Suratmi mulai stabil, nafasnya mulai kembali teratur.


"Biarkan obat itu bereaksi, setengah jam lagi Emak akan muntah dan mengeluarkan semua racun yang ada ditubuh beliau." ujar Sariwati kembali.


Waktu berjalan terasa sangat lambat, kecemasan terlihat dari wajah-wajah di ruangan itu. Tepat setengah jam seperti perkiraan Sariwati, tubuh Suratmi mulai bereaksi kembali, dari mulutnya keluar cairan hitam kental bercampur bercak merah, wanita tua itu memuntahan semua yang ada dalam perutnya. Sariwati masih di sibukkan dengan menekan beberapa titik saraf yang ada di tubuh wanita tua itu.


Hampir dua jam mereka bergelut dengan kondisi Suratmi, dari wajah tua itu mulai terlihat rona merah dan nafasnya mulai teratur.


Semua yang ada di ruangan itu bisa bernafas lega melihat perkembangan yang terjadi pada Suratmi. Muhibbin takjub dengan apa yang dilakukan Sariwati pada ibunya, gadis itu hanya tersenyum tipis memandang Muhibbin,


"Setelah ini, rutin minumkan pada Emak rebusan air kunyit dan pada luka yang ada di bahunya borehkan dengan tumbukan daun kari."


"Pil yang ku berikan tadi minumkan sehari satu kali, sampai muntahan Emak tak berwarna."


"Aku yakin kondisi Emak akan pulih seperti semula." pungkas gadis itu.


"Bagaimana kau tau semua obat-obatan ini, Wati?" tanya Muhibbin penasaran. Pemuda itu tak menyangka kekasihnya memiliki kemampuan pengobatan yang terbilang unik, hanya dengan susu bisa menetralisir racun-racun yang ada pada tubuh ibunya.


"Kau lupa, Bin."


"Di Negeri Banjir aku belajar ilmu pengobatan dan alkimia."


"Dan tentang susu itu, bisa digunakan saat terdesak saja untuk mengeluarkan racun, atau kalau ada air kelapa muda bisa kamu gunakan."


"Selebihnya ada beberapa tanaman obat dengan takaran tertentu yang tak setiap orang bisa meramunya." jelas Sariwati pada orang-orang yang ada di ruangan itu. Suasana tegang telah mencair dan permasaahan dengan keluarga Garuda Emas seolah-olah hilang untuk sementara waktu.


Tak selang berapa lama Suratmi membuka matanya, senyuman wanita tua itu tersungging ke arah Sariwati.


"Bin, pak Jero, bolehkah saya berbincang bedua saja dengan Cah Ayu ini?"

__ADS_1


"Bisakah kalian tinggalkan kami berdua, ada yang ingin ku katakan pada Cah ayu ini." pinta Suratmi pada orang-orang yang ada di kamar itu. Semua yang ada di tempat itu mulai meninggalkan Bu Suratmi dan Sariwati.


__ADS_2