KAHANAN

KAHANAN
CH 129 - DENDAM MASA LALU PART V


__ADS_3

Sepeninggal Seto, ruangan dimana Disya disekap dijaga ketat oleh para pengawal bangsawan dari Negeri tidar itu dari luar, hanya menyisakan pak Min dan Disya didalam.


Lelaki tua itu mendekati Disya yang masih duduk bersimpuh dilantai sambil menangis.


"Non, kau tak apa-apa?" ujar pak Min duduk disebelah gadis itu, pria paruh baya itu berusaha membantu Disya untuk bangkit namun uluran tangan pak Min ditepis oleh putri tuan Sirkun tersebut.


"Jangan sentuh aku!"


"Menjauh dari ku!" bentak Disya pada pak Min, dengan tatapan penuh kebencian matanya memandang lekat pria tua dihadapannya.


"Saya tak menyangka seperti ini jadinya."


"Mereka hanya memintaku memberikan informasi tentang pemuda penjaga surau itu dan berjanji tak akan menyakiti Non Disya."


"Andaikan saya tau kejadiannya akan seperti ini, walaupun Den Mas Seto momongan saya, tidak mungkin saya mau membantunya." ujar pak Min dengan tatapan penuh penyesalan, tangannya mengepal menaham amarahnya.


Sementara Disya terus menangis tersedu tak menghiraukan ucapan lelaki tua didekatnya, perasaannya hancur mendapati kenyataan yang menimpanya.


"Non, maafkan perbuatan bapak,"


"Untuk menebus kesalahan saya, non Disya harus pergi dari tempat ini."


"Saya akan membantu Non untuk mengalihkan perhatian para penjaga." ujar lelaki tua itu kembali.


Gadis itu mengangkat kepalanya, mata Disya yang sembab menatap pak Min tak percaya.


"Ayo cepat, Non harus segera pergi dari tempat ini sebelum Den Mas Seto kembali." ujar pak Min bergegas membantu memapah Disya yang masih bersimpuh.


"Cepat, kau lompat lewat jendela ini dan berjalanlah ke arah timur dari bangunan ini."


"Ikuti saja pinggiran hutan dibelakang rumah ini, nanti Non Disya akan bertemu anak sungai di balik bukit, susuri saja pinggirannya hingga Non bertemu sebuah jalan setapak yang mengarah ke Banjar Galuh."


Disya masih tertegun dengan apa yang dilakukan pria tua didekatnya itu.


"Ayo cepat, sebelum para penjaga memperketat bagian luar rumah ini!" seru pak Min kembali.


"Tapi bagaimana dengan dirimu, pak Min?" ucap Disya lirih sambil menyeka air matanya.


"Sudahlah, Non Disya tak perlu memikirkan saya, serahkan sisanya pada saya, yang penting Non segera pergi dari tempat ini."


"Tapi sebelum Non pergi, pukul saya dengan balok kayu ini." ujar pak Min sambil mengambil sebatang kayu yang tergeletak di sudut ruangan kamar diantara tumpukan kayu-kayu bekas."


"Ayo cepat lakukan!"


"Tunggu apa lagi?" ujar pak Min kembali.


Dengan ragu-ragu Disya mengambil batang kayu ditangan pak Min, sejenak gadis itu nampak terdiam namun isyarat mata pak Min meminta untuk segera memukulnya.


Dengan memejamkan mata dan sedikit memalingkan muka, Disya menghantamkan balok kayu itu tepat di kepala lelaki tua dihadapannya dan pak Min tersungkur ke tanah dengan darah meleleh di kepala akibat hantaman kayu ditangan Disya.


"Pak Min!" ujar Disya membuang batang kayu ditangannya, gadis itu bergegas mendekati tubuh pak Min, dia bersimpuh di sebelah pak Min yang tergeletak di lantai, air matanya kembali meleleh di pipinya,


"Cepat pergi!" seru pak Min setengah sadar dengan suara lirih, tangannya mendorong tubuh Disya yang bersimpuh disebelahnya.

__ADS_1


"Pergi!" ujar lelaki tua itu kembali.


"Maafkan aku pak Min." ujar Disya lirih sambil bangkit dan melangkah mendekat ke arah jendela, sesaat gadis itu menoleh kembali ke arah pak Min yang telah tak sadarkan diri sebelum melompat keluar melalui jendela ruangan itu.


***


"Ayo bangun!" bentak seorang laki-laki sambil menyiram air didalam gentong ke arah sosok tubuh yang terikat di tiang penyangga rumah.


"Bangun! hardiknya kembali sambil melempar tembikar itu ke arah pria yang kini sudah tersadar dari pingsannya, tubuhnya bersimbah darah dengan bercak merah di pakaiannya yang mulai terkoyak.


Ruangan temaram itu kembali sunyi, hanya erangan kesakitan terdengar dari mulut orang yang terikat di tiang, tak berapa lama dua orang mendekat ke arah tengah ruangan.


Seorang wanita melangkah dan berkata, " Bagaimana, Seto! apa lelaki ini membuka mulutnya." tanya sang wanita dengan tatapan dingin.


Lelaki berpakaian bangsawan itu menggelengkan kepala pada wanita yang baru saja datang,


"Bajingan ini tetap bungkam, kak." ujarnya yang tak lain adalah Seto pada wanita disebelahnya.


Wanita itu hanya mendengus, wajahnya tetap dingin mendekati lelaki yang terikat di tiang,


"Keras kepala juga dia." ujar sang wanita yang tak lain Habsari Bonawati. Dengan sebuah rotan ditangannya wanita itu mendongakkan kepala lelaki yang setengah tersadar dihadapannya.


"Katakan, dimana cincin itu kau simpan?" ujarnya pada sang pesakitan.


Pria yang terikat di tiang itu menatap wanita didepannya,


"Aku tak tau apa yang kalian maksud."


"Siapa kalian?" ujar lelaki itu lirih yang tak lain adalah Muhibbin. Pandangannya yang awalnya kabur dengan kepala terkulai, kini sudah mulai jelas melihat orang-orang disekelilingnya, sementara sekujur tubuhnya yang dipenuhi luka bekas cambukan terasa nyeri ditandai oleh suara erangan lelaki itu.


"hahaha, dasar pria bodoh!" ujar Habsari tertawa.


"Aku tak habis pikir, lelaki seperti ini yang membuat Wati hilang akal sehatnya."


"Apa sebetulnya kelebihannya sehingga Mami dan mendiang Paman pun melindunginya."


"Apalagi si tua bangka Sirkun dan putrinya." ujar Habsari.


Mendengar perkataan wanita didepannya, lelaki yang terikat dan tak lain Muhubbin itu pun berkata,


"Jadi anda adalah nona Habsari, kakak Sariwati?" ucapnya lirih.


"Apakah anda juga yang memerintahkan ini semua?" kembali Muhibbin berkata dengan pandangan mengarah pada Habsari didepannya.


"Hahaha!"


"Kenapa, kau terkejut?" ucap Habsari dengan tawa penuh kemenangan.


"Benar, ini semua aku yang memerintahkan."


"Aku tak menyukaimu!"


"Kehadiranmu dalam kehidupan keluargaku membawa dampak buruk dan semua berubah gara-gara dirimu!"

__ADS_1


"Orang-orangku juga yang telah membakar rumah ayah angkatmu."


"Dan tentang kekasimu ..." wanita itu menghentikan ucapannya sejenak,


"Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya, jangan khawatir."


"Katakan saja dimana cincin itu?" ujar Habsari kembali berusaha menjatuhkan mental lelaki dihadapannya.


Mata Muhibbin terbelalak, wajahnya berubah penuh amarah.


"Jadi kalian yang menculik tunanganku?"


"Kalian juga yang melakukan kekejaman pada keluargaku?"


"Kurang ajar, manusia biadab!"


"Lepaskan aku!"


"Tunjukkan dimana Disya!" pekik Muhibbin dengan perasaan geram sambil meronta dengan sisa-sisa tenaganya, tubuhnya yang penuh luka berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang melilitnya.


Seto tertawa sinis melihat musuh bebuyutannya tak berdaya, pria bangsawan itu melangkah mendekati Habsari yang masih menatap tajam pada Muhibbin yang terikat.


"Kak, boleh aku bermain-main kembali dengan bajingan ini?" bisik Seto pada Habsari, wanita itu memalingkan wajahnya ke arah Seto dan dilihatnya bekas iparnya itu tersenyum sinis.


"Lakukanlah apa yang kau mau!"


"Tapi ingat, jangan sampai laki-laki ini mati terlebih dulu."


"Sebelum aku mendapatkan benda yang dimilikinya." ucap Habsari dingin sambil berlalu dari tempat itu.


"Tenang saja, Kak."


"Aku hanya ingin tau, seberapa kuat dia menerima sedikit kekesalanku." ujar Seto menyeringai.


***


Matahari kian terik, angin pun enggan berhembus sehingga udara terasa panas.


Diantara semak-semak nampak seorang wanita mengendap-endap menjauhi rumah tua dipinggiran kota Negeri Pantai, wanita itu tak lain Disya Kumala Dewi.


Dengan menahan rasa sakit disekujur tubuhnya, gadis itu berjalan diantara onak dan perdu, dia melangkah kearah timur dari bangunan tempat dirinya disekap, nafasnya memburu dan tanpa alas kaki gadis itu mengikuti arah yang ditunjukkan pak Min padanya.


Setelah sekian lama berjalan, akhirnya Disya menjumpai anak sungai didepannya, dengan perlahan gadis itu menyusuri tepian sungai yang arusnya tak begitu deras, licinnya bebatuan membuat langkahnya sedikit terhambat.


Dengan meringis kesakitan, Disya terus berjalan perlahan, rasa sakit diantara bagian bawah perutnya kembali datang, gadis itu berusaha duduk ditepian sungai namun karena hampir tiga hari tak sesuap pun makanan masuk dan perlakuan yang didapatkannya di rumah tua itu membuat kondisi tubuhnya lemas tak bertenaga, pada akhirnya gadis itupun jatuh terkulai pingsan di pinggiran sungai.


Dari kejauhan nampak seseorang mendekat kearah Disya, tak selang berapa lama orang itu membopong tubuh Disya yang tergeletak pingsan.


*****


Note Author:


Terimakasih saya ucapkan kepada para sahabat dan pembaca setia KAHANAN yang selama ini telah mengikuti tulisan ini.

__ADS_1


Saya tetap berkomitmen untuk menyelesaikan tulisan ini hingga tamat, tidak ada kamus dalam diri saya lari dari hal yang diawali sebelum mengakhiri, jadi bersabar karena saya juga memiliki aktifitas RL yang juga jadi prioritas.


Salam🙏


__ADS_2