
Wanita ningrat itu menyusuri lorong tahanan bawah tanah menuju ke luar di dampingi beberapa penjaga.Sebelum meninggalkan pusat komando Bhayangkara, nyonya Warika berkata,
"Keluarkan Pemuda itu dan bawa dia ke ruang pengobatan."
"Udara di ruangan bawah tanah itu akan memperburuk kondisinya." ujar wanita paruh baya itu pada para penjaga.
Para penjaga saling berpandangan mendengar permintaan istri dari pewaris dinasti Garuda Emas itu, salah seorang penjaga yang terlihat lebih senior berkata,
"Maaf Nyonya."
"Kami tak berani melakukan hal itu tanpa perintah Pimpinan kami atau sepengetahuan tuan Gubernur." jawab Penjaga itu sambil membungkukkan badan.
"Kami takut dipersalahkan oleh Beliau, Nyonya." imbuhnya kembali.
Tatapan nyonya Warika dingin mengarah pada Penjaga di depannya, wanita itu mendengus kesal.
"Sudahlah, lakukan apa yang aku perintahkan."
"Katakan pada adikku ataupun Pimpinan kalian nanti, jika semua ini atas perintah nyonya Bendowo."
"aku yang bertanggung jawab penuh akan semua ini." ujar nyonya Warika ketus.
Penjaga itu terlihat berdiskusi sejenak dengan rekan-rekannya, lelaki itu kemudian berkata.
"Baiklah Nyonya, Pemuda itu akan kami pindahkan ke ruang perawatan."
"Namun saya dan beberapa rekan-rekan saya akan melakukan penjagaan di balai pengobatan."
"Bagaimanapun status Pemuda itu masih tahanan di pusat komando ini."
"Dan kami tak ingin mengambil resiko yang sekiranya membuat kami nanti dipersalahkan dalam menjalankan tugas." ujar Penjaga tersebut menjelaskan pada nyonya Warika.
Nyonya Warika menganggukkan kepala, terlihat beberapa penjaga bergegas kembali ke ruangan tahanan bawah tanah dimana Muhibbin berada.
"Begitu juga lebih baik."
"Katakan pada adikku dan Pimpinan kalian, aku yang memintanya."
"Sekarang aku akan kembali ke kediaman gubernuran."
"kalian tak perlu mengantarku." pungkas wanita paruh baya itu dan Penjaga didepannya mengangguk memberi hormat. Nyonya Warika bergegas melangkah keluar ruangan, beberapa saat kemudian terlihat di kejauhan, Wanita itu menghentikan sebuah Delman yang melintas di hadapannya.
***
Siang menjelang sore itu terlihat temaram, mega-mega di langit Negeri Pantai nampak menggelayut. Udara lembab yang dihantarkan angin semilir seolah memberi pesan bahwa sang hujan akan turun membasahi bumi kepingan Nirwana itu.
Di sebuah rumah megah di tengah kota Negeri Pantai, terlihat dua orang lelaki paruh baya berbincang di depan serambi bangunan itu, nampak di wajah keduanya gurat-gurat kesedihan dengan apa yang mereka diskusikan.
"Begitulah Tuan kondisi di Manguntur saat ini."
"Saya dan Balian Kanta mengkhawatirkan para warga,"
"Jika peristiwa ini tak segera diselesaikan, saya khawatir warga akan melakukan tindakan yang akan membuat huru hara di negeri kita ini." ujar lelaki berperawakan tinggi besar pada salah satu lelaki yang ada di depannya. Keduanya tak lain adalah Jero Pecalang pimpinan keamanan desa Batubulan dan tuan Sirkun sang pengusaha dermawan dari Negeri Kelapa.
Tuan Sirkun terlihat manggut-manggut mendengar apa yang dijelaskan Jero Pecalang kepadanya. Lelaki berwajah teduh itu masgul dengan peristiwa tragis yang menimpa Jero Mekel dan keluarga Muhibbin beberapa hari yang lalu. Peristiwa pembantaian oleh sekelompok orang tak dikenal dengan menggunakan atribut Bhayangkara terhadap tokoh dari Manguntur itu akan membuat goncangan di Negeri Pantai jika tak ditangani dengan hati-hati.
"Saya mengerti dan memahami kekhawatiran Jero Pecalang."
"Bagaimanapun Jero Mekel adalah tokoh panutan di desa Tuan."
"Secara pribadi, kami pun berhubungan dekat."
"Kejadian ini mengusik rasa kemanusiaan kita." ujar lelaki itu sambil menghela nafas.
__ADS_1
"Memang sebelum kejadian itu, saya dan mendiang Jero Mekel melakukan sebuah pembicaraan."
"Mendiang Jero Mekel meminta bantuan saya untuk menjembatani permasalahan yang terjadi antara Pemuda itu dan keluarga tuan Gubernur."
"Saya tak menyangka kejadian ini menimpa mereka dan itu berlangsung dengan cepat tanpa kita duga." ujar tuan Sirkun kembali.
"Apakah Tuan mencurigai keluarga tuan Gubernur yang melakukan ini?" tanya Jero Pecalang terkejut dengan apa yang dikatakan tuan Sirkun.
"Saya tak berani menyimpulkan seperti itu, Jero."
"Namun jika seperti yang kita ketahui selama ini bahwa Jero Mekel adalah pribadi yang baik dan tak memiliki musuh serta Pemuda itu pun selama ini bersikap wajar tak ada tanda-tanda selaku layaknya orang bermasalah, maka peristiwa perdebatan dan perselisihan saat melamar Putri tuan Gubernur itu bisa menjadi titik awal dalam penyelidikan ini."
"Apalagi ini melibatkan pasukan Bhayangkara Negeri Pantai."
"Ini Harus benar-benar ditangani secara hati-hati, Jero."
"Saya akan membantu semampu saya dalam menyelesaikan sengkarut semua ini." pungkas tuan Sirkun pada tamu didepannya.
Keadaan kembali hening, sejurus kemudian taun Sirkun kembali berkata,
"Lalu dimana Pemuda itu saat ini, Jero." tanya tuan Sirkun kembali.
Jero Pecalang terdiam sejenak, terlihat lelaki itu menghela nafas.
"Sejak pemakaman Kakak perempuannya, Muhibbin tak terlihat di Manguntur, Tuan."
"Kemungkinan dia masih berada di Surau An Nur dan saya sudah meminta anak buah saya untuk menjemputnya." jawab Jero Pecalang kembali.
Tuan Sirkun manggut-manggut,
"Saya memahami dan mengerti bagaimana perasaan Muhibbin."
"Kejadian ini sangat berat dan membuat kita semua merasa kehilangan terutama bagi Pemuda itu."
"Baiklah Tuan,"
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas berkenannya Tuan menerima kedatangan saya dan akan membantu warga saya di Manguntur." ujar Jero Pecalang penuh hormat pada tuan Sirkun. Pengusaha dermawan itu tersenyum lembut dan berkata,
"Jero tak perlu sungkan."
"Mendiang Jero Mekel dan warga Maguntur adalah saudara-saudara saya."
"Saya akan bantu semampu saya,Jero." jawab tuan Sirkun lirih, nampak ketulusan di wajah Pengusaha dermawan itu.
Jero Pecalang menganggukkan kepala mendapat jawaban menyejukkan dari orang didepannya.
"Sekali lagi terimakasih Tuan."
"Kalau begitu, saya mohon pamit."
"Karena di Manguntur Jero Balian Kanta beserta para warga menunggu saya." ujar lelaki itu sambil berdiri dan memberi hormat pada tuan Sirkun.
Tuan Sirkun menjabat tangan Jero Pecalang dengan senyuman hangat selalu tersungging di bibirnya, lalu keduanya melangkah ke arah pintu gerbang. Dari dalam rumah mewah itu nampak sepasang mata menatap dengan pandangan nanar kearah dimana tuan Sirkun dan Jero Pecalang berada, gadis itu adalah Disya Kumala Dewi putri semata wayang tuan Sirkun.
Dari wajah cantiknya nampak butiran-butiran air mata meleleh di pipinya, gadis itu tersedu di ruangan tamu dan wajahnya tertunduk pilu.
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya,
"Hai, anak ayah kenapa menangis?"
"Apa yang membuatmu bersedih, Nak?" tanya suara itu yang tak lain tuan Sirkun pada Disya.
Gadis itu menubruk tubuh ayahnya dan memeluknya, tangisannya semakin menjadi dalam rengkuhan sang Ayah.
__ADS_1
"Hai, kau kenapa, Dis?
"Apa yang terjadi?" tanya tuan Sirkun kembali.
Dengan terbata-bata dan muka sembab, Disya mengangkat wajahnya.
"Aku mohon pada ayah! tolonglah Ibbin,Yah."
"Bagaimanapun keluarga Ibbin dulu sangat dekat dengan kami waktu di perkebunan."
"Mendiang ayah Samarta dan Abahnya Ibbin adalah kawan dekat."
"Abah Ibbin meninggal pun juga karena kesalahanku, Yah."
"Kini Ibbin mengalami musibah dan itu pasti sangat memukul perasaannya."
"Aku mohon! Bantulah dia, Yah." ujar Disaya memberondong ayahnya dengan penuh iba.
Tuan Sirkun membelai rambut putri semata wayangnya, ya! Disya sebenarnya adalah anak dari adik kandungnya Samarta, sejak kejadian kecelakaan kereta kuda yang menyebabkan seluruh keluarga adiknya itu tak tertolong dan menyisakan Disya yang terluka parah, sejak saat itu tuan Sirkun merawat Disya layaknya anak kandungnya
"Ayah akan berusaha semampu ayah untuk menolong sahabatmu itu, Nak."
"Sekarang hentikan tangis mu."
"Semoga semua masalah ini segera terungkap dan sahabatmu itu bisa tabah menghadapinya." ujar tuan Sirkun menghibur anak perempuannya.
Tak selang berapa lama, seorang pelayan menghampiri mereka berdua.
"Maaf Tuan."
"Di luar ada tamu ingin bertemu Tuan." ujar Pelayan itu pada tuan Sirkun.
Pandangan mata Pengusaha itu menatap Pembantunya.
"Siapa yang bertamu, Pelayan?" tanya lelaki itu pada Pembantunya.
"Beliau tuan Gubernur, Tuan." jawab pelayan itu kembali.
Tuan Sirkun terperangah dan kembali berkata,
"Mengapa tak kau suruh masuk kedalam?"
"Dimana Beliau sekarang?" ujarnya terkejut sambil melepaskan pelukan Disya darinya.
"Saya sudah mempersilahkannya namun Beliau tidak mau, Tuan."
"Saat ini Beliau ada di serambi depan." jawab Pelayan itu kembali.
"Baiklah, sekarang kau siapkan minuman untuk tuan Gubernur. Aku akan segera menemuinya." seru tuan Sirkun pada Pelayannya dan Pelayan itu bergegas ke belakang mengikuti perintah majikannya.
"Nak, ayah akan menemui tuan Timoti di depan."
"Kau jangan bersedih terus."
"Nanti ayah akan meminta pada tuan Gubernur untuk mengusut tuntas kejadian ini."
"Kebetulan Beliau saat ini ada dirumah kita," ujar tuan Sirkun menenangkan Putrinya.
Disya mengangguk pelan, diseka air matanya dengan saputangan berwarna merah jambu yang dipegangnya. Sesaat kemudian tuan Sirkun berlalu ke serambi depan meninggalkan Disya seorang diri, sejenak gadis itu memandang kepergian ayahnya, tanpa terasa di ciumnya sapu tangan itu, ada perasaan haru dan penyesalan yang dirasakannya,
"Maafkan aku, Bin."
"Aku tak bisa berbuat banyak untuk menolong mu." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
*****