
Waktu tak terasa silih berganti, hampir sebulan lamanya sejak kepulangan Muhibbin ke Negeri Batu Ular, terlihat tiga orang sedang bercakap-cakap di dalam ruang tamu keputren pesantren Al Amin.
"Mbak yu yakin akan ikut putramu ke Negeri Pantai, kondisimu masih belum begitu baik, Mbak yu?" ujar kyai Basori pada Suratmi.
"Keadaanku sudah lebih baik, Adi Mas kyai. Ini tentang masa depan anakku, bagaimana tanggapan calon besanku bila aku tak mendampingi pernikahan Muhibbin?" ujar Suratmi bersikeras.
Keduanya terlibat perdebatan tentang keberangkatan menuju Negeri Pantai, Suratmi bersikukuh ikut ke Negeri Pantai setelah mengetahui bahwa putra bungsunya berniat melamar seorang gadis.
"Apa tak sebaiknya aku saja yang berangkat, Mak?"
"Rasanya sudah cukup bila kehadiran emak aku wakilkan!" kini Cahaya mulai angkat suara. Wajahnya mengiba pada sang ibu agar tak turut serta ke Negeri pantai bersama adiknya.
"Biarlah emak disini saja dulu bersama Raya, perjalanan ke Negeri Pantai itu memakan waktu beberapa hari , Mak!"
"Dengan keadaan emak yang baru sembuh apakah mampu melakukan perjalanan jauh?" bujuk Cahaya pada ibunya.
"Nggak, Nduk."
"Aku tak ingin melewatkan momen sakral dalam kehidupan adikmu, apalagi ini adalah pernikahannya."
"Aku sudah sehat, Insya Allah gak akan terjadi apa-apa dengan ku." ujar Suratmi bersikukuh.
"Lagi pula tak pantas rasanya bila acara lamaran sekaligus pernikahan adikmu hanya dihadiri oleh mu sedangkan aku masih ada dan sehat!" ujar Suratmi kembali.
Kedua orang yang berada di samping Suratmi terdiam, baik kyai Basori maupun Cahaya tau karakter Suratmi. Bila sudah memiliki niatan tak akan ada yang bisa mengubahnya.
"Tapi aku wanti-wanti pada mu, Mbak yu! jaga kondisi kesehatanmu."
"Biar nanti para santri yang akan persiapkan keperluan mu dan mengantarkan kalian ke stasiun Tawangalun menggunakan kereta kuda milik pesantren."
"Aku juga akan persiapkan beberapa jamu-jamuan untuk menjaga kondisi tubuh mbak yu dan di minum diperjalanan." seru kyai Basori.
"Maturnuwun sanget bantuan mu, Adi mas kyai."
"Entah jadi apa keluarga ku, bila tak ada kamu sejak kepergian kang mas Ahmad."
kini air mata wanita tua itu tak terbendung lagi, sejak kepindahannya dari dataran Ijen dan kembali ke kampung asal almarhum suaminya, kyai Basori selalu membantunya baik berupa materi maupun mendidik anak dan cucunya.
"Mbak yu tak perlu sungkan, apa yang aku lakukan tak sebanding dengan apa yang telah almarhum kang mas Ahmad serta mbah kyai sepuh berikan padaku."
ujar kyai Basori pada Suratmi.
Lelaki paruh baya itu memandang kedua wanita dihadapannya. Kyai Basori sendiri adalah yatim piatu dan santri dari kyai Abdullah Syakur ayah almarhum Ahmad suami Suratmi. Sejak berusia lima tahun, kyai Basori dirawat oleh almarhum kyai Abdullah Syakur yang lebih dikenal dengan sebutan mbah kyai sepuh dan meneruskan mengelola pesantren Al Amin dikarenakan putra dari mbah kyai sepuh sendiri yaitu Ahmad menikah dengan Suratmi yang masih keturunan priyayi Bumi Patria dan menetap di Negeri Patria hingga akhirnya Ahmad sekeluarga menetap di dataran Ijen sebelum meninggal.
"Aku hanya bisa mendoakan kalian selamat sampai ditujuan dan hajat Muhibbin berjalan lancar." pungkas kyai Basori.
Setelah sekian lama berbincang tentang hajat Muhibbin dengan Suratmi dan Cahaya, kyai Basori pamit undur diri dari keputren Al Amin saat terdengar adzan dhuhur dan bergegas menuju masjid yang tak jauh dari tempat itu.
Beberapa santri yang berpapasan dengan kyai Basori membungkuk ta'dzim memberikan jalan dan tak berani menatap wajah sang kyai.
Selang beberapa waktu setelah menunaikan sembahyang, kyai Basori memanggil Muhibbin ke kediamannya yang sejak tadi turut berjamaah dengannya.
__ADS_1
"Bin, Aku ingin berpesan padamu sebelum kepergian mu kembali ke Negeri Pantai." kyai Basori terlihat menggulung lintingan tembakau di atas kulit jagung dan menyalakannya, hembusan asap dari rokok klobot membubung di ruangan tamu.
"Kau sekarang akan menikah dan memiliki pasangan hidup." ujar kyai Basori sambil menghisap klobot yang terselip di jarinya.
"Kesinggihan dawuh, Mbah kyai." jawab Muhibbin masih tertunduk.
"Dalam menghadapi segala sesuatu, kau harus menyandarkan diri hanya kepada Allah dan apapun yang kau lakukan niatkan hanya untuk mencari ridhoNya."
"Segala sesuatu itu tak ada yang kebetulan ataupun tak sengaja, semuanya telah ditetapkan olehNya dan kita sebagai manusia hanya berserah diri dan tak putus dari pengharapan terhadap rahmatNya." ujar kyai Basori.
Muhibbin terdiam dan menyimak wejangan gurunya tanpa berani menatap wajah sang kyai.
"Akan datang masa dimana ketegaran dan keimanan mu akan di uji."
"Dan kamu tak boleh larut dan kalah dengan segala kejadian, baik itu yang akan membawa kebaikan ataupun membawa keburukan."
"Karena kebaikan dan keburukan sejatinya tak ada, hanya Allah lah yang memiliki kehendak atas semuanya."
"Pasrahkan dan tawakallah pada Sang Pencipta hidup."
"Wani ngalah bakal luhur wekasane, sak bejo-bejone wong kang lali luwih bejo wong kang iling lan waspodo." pungkas kyai Basori.
"Ngestoaken dawuh, mbah kyai." ujar Muhibbin lirih.
"Le, Aku akan ajarkan padamu sebuah amalan yang dapat kamu pergunakan untuk ketentraman batin mu,"
"Dan wasilah dari amalan ini pula akan memberi perlindungan padamu atas ijin Allah."
Sejurus kemudian kyai Basori mulai melantunkan sebuah doa yang disimak dengan seksama oleh Muhibbin, terlihat lelaki paruh baya itu mengucapkan doa-doa yang cukup panjang dan tangannya merengkuh kepala Muhibbin serta di tiupnya tiga kali."
"Bagaimana, apakah kau bisa memahami dan menghafalkan bacaan yang baru saja ku ajarkan." tanya kyai Basori pada Muhibbin.
"Insya Allah saya mengingatnya, Mbah kyai." jawab pemuda itu.
"Bagus, amalkanlah doa itu."
"Doa itu dulu diajarkan oleh mbah kyai sepuh padaku dan ayahmu."
"Bacaan itu dikenal dengan sebutan Hizib Nasr." pungkas kyai Basori.
"Matur sembah nuwun, mbah kyai. Insya Allah saya akan amalkan dan mengingat semua pesan mbah kyai." ujar Muhibbin."
"Baiklah, Aku rasa kau harus segera berkemas karena perjalanan mu besok sangat jauh dan pesanku jaga baik-baik ibumu, pergilah dan siapkan segalanya."
"Kesingihan dawuh, mbah kyai." ujar Muhibbin lirih sambil mencium tangan sang guru dan berlalu dari hadapannya.
***
Keesokan harinya, setelah subuh kereta kuda yang membawa rombongan Muhibbin beserta keluarganya meninggalkan pesantren Al Amin.
Terlihat wajah dan senyum sumringah tersungging di bibir Raya Suci, gadis kecil itu terlihat gembira karena ini perjalanan pertamanya keluar dari Negeri Batu Ular.
__ADS_1
"Pak lik, apakah Negeri Pantai itu indah?" tanya gadis kecil itu polos.
"Ya bagus, Nduk." jawab Muhibbin singkat.
Suratmi dan Cahaya hanya tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu.
"Sudah! nanti kamu akan tau sendiri, Nduk." ujar Suratmi pada cucunya.
"Ya, pastinya di sana beda dengan di kampung kita, Raya. Kamu gak boleh nakal bila sudah berada di sana, malu sama pak Nengah dan Sekar!" seru Cahaya pada gadis sepuluh tahun disampingnya.
"Gak Bu lik, Raya gak akan nakal dan ngeropoti di sana." ujar gadis kecil itu sambil tersenyum.
Muhibbin hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
"Pak lik! apa pak Nengah dan mbak Sekar baik orangnya, Pak lik? tanya Raya pada Muhibbin.
Muhibbin menganggukkan kepalanya, " Iya baik, malah baik sekali menurut Pak lik. Mereka orang-orang berjasa yang menolong pak lik saat pertama berada di Negeri Pantai." jawab Muhibbin.
"Oh ya, Bin! kau bilang Karina juga ada di sana?" kini Cahaya bertanya pada Muhibbin.
"Karina putri tuan Samarta, Le? Suratmi pun ikut bertanya.
Muhibbin kembali mengangguk,
"Dia di sana bersama pamannya sejak meninggalnya seluruh keluarganya akibat kecelakaan kereta kuda."
"Sekarang dia bernama Disya, Mbak yu. Sejak kejadian itu dia berganti nama dan tuan Sirkun merawatnya hingga sembuh serta membawanya ke Negeri Pantai." ujar Muhibbin.
"Kasihan anak itu!" gumam Suratmi.
"Ya Mak, Disya sangat terpukul dengan kejadian itu namun sekarang dia sudah bisa melaluinya." jawab Muhibbin kembali.
"Pak lik, lebih cantik mana antara Bu lik Sariwati dan Bu lik Disya?"
"Kenapa Pak lik gak nikah dengan Bu lik Disya saja?" tanya Raya Suci polos.
"Hus, anak kecil tau apa!" ujar Muhibbin mencubit hidung Raya Suci.
"Yang jelas keponakan Pak lik ini lebih cantik dari siapapun." imbuhnya kembali.
Semua yang ada di kereta kuda itu tertawa melihat tingkah lugu Raya Suci dan gadis kecil itu hanya bisa melongo sambil mengusap hidungnya yang panas akibat cubitan Muhibbin.
Tak terasa kereta kuda yang mereka tumpangi telah sampai di stasiun Tawangalun, Sais kuda yang juga merupakan santri dari kyai Basori membantu Muhibbin menurunkan barang-barang yang dibawanya.
"Maturnuwun nggih, Kang mas!" seru Muhibbin pada santri itu.
"Sami-sami, Adi mas. Semoga perjalanan kalian lancar dan selamat sampai tujuan." ucap sais itu pada Muhibbin dan keluarganya.
Kereta kuda itu berlalu kembali ke pesantren Al Amin di dusun Kemuning, sedangkan Muhibbin beserta keluarganya melangkah masuk menuju stasiun Tawangalun menunggu sepur yang akan mengantarnya hingga ke pelabuhan.
__ADS_1