KAHANAN

KAHANAN
CH 108 - BARA DALAM SEKAM PART II


__ADS_3

Dengan geram Seto meninggalkan Sariwati seorang diri didalam kamar, Wanita muda itu hanya bisa melihat punggung suaminya dengan mata berkaca-kaca.


Perasaannya tak menentu setelah perdebatan yang terjadi antara dirinya dan Seto.


Sariwati kembali menatap langit di tepian jendela, tak selang berapa lama seseorang menghampirinya dan berkata,


"Kenapa kau, Nduk?"


"Kenapa kau tak ikut bersama Suamimu ke ruang tengah?"


"Mami Lihat wajah Suamimu murung dan menekuk mukanya."


"Apakah kalian bertengkar?


"Kenapa kau tak bergabung dengan kami untuk makan malam?"


"Papi dan Ayahmu menunggumu di sana."


"Begitupun dengan suamimu,"


"Ayo kita makan bersama." bujuk Nyonya Warika pada sang anak.


Sariwati tak bergeming dan tetap memandang keluar jendela.


Wanita muda itu menyeka air matanya, kemudian dengan terbata-bata dia berkata pada sang Ibu,


"Aku belum lapar, Mi."


"Kalian Makanlah terlebih dahulu,"


"Nanti jika aku lapar pasti aku akan mengambilnya sendiri." ujar Wanita muda itu singkat.


Nyonya Warika membelai lembut punggung anak gadisnya, wanita paruh baya itu kembali berkata,


"Jangan keras kepala, Wati."


"Apa kau tak memperhatikan kondisimu saat ini?"


"Cucu mami yang ada di kandungan mu itu juga memerlukan asupan makanan."


"Suatu saat nanti kau akan tahu, bagaimana rasanya menjadi seorang ibu." ujar Nyonya Warika kembali.


"Dan tentang pertengkaran mu dengan suamimu, kalian selesaikan baik-baik."


"Kalian sudah sama-sama dewasa dan sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua."


"Ayo ikut Mami," bujuk nyonya Warika kembali.


"Tapi Mi, aku belum lapar."


"Saat ini Aku hanya ingin menyendiri." jawab Sariwati pada ibunya.


"Sebetulnya ada apa padamu, Wati?"


"Katakan pada Mami, Siapa tahu dengan berbagi bisa meringankan beban yang saat ini kau alami."


kembali Nyonya Warika membujuk sang anak.


Sariwati hanya menggeleng ringan dari sudut matanya meleleh butiran bening air mata, bibirnya bergetar tak kuasa mengucapkan sepatah kata.


Melihat hal itu, nyonya Warika memeluk tubuh sang anak, Sariwati sesenggukan dalam pelukan sang ibu.


"Katakanlah Wati, apa yang terjadi?"


"Tak biasanya kau seperti ini?"


"Apakah Seto telah membuatmu bersedih?" tanya nyonya Warika sambil menuntun Sariwati duduk di tepian tempat tidur di ruangan itu.


"Tidak, Mi."


"Hal ini tak ada kaitannya dengan Seto"


"Dia sangat baik dan perhatian padaku, Mi." ujar Sariwati lirih.


Lalu apa Wati?" sergah nyonya Warika,


Sariwati memegang Kedua telapak tangan sang Ibu sambil sesenggukan,


"Maafkan Wati, Mi."


"Maafkan aku." Iba Wanita muda itu lirih.


"Maaf untuk apa, Wati?"


"Apakah kau telah melakukan kesalahan yang tidak kami ketahui?" tanyanya Warika kembali.


Sariwati hanya menggelengkan kepala,


"Bukan itu Mi, bukan itu maksudku."


"Lalu apa Wati?"


"Mami semakin tidak mengerti."


"Katakanlah yang sebenarnya." ujar nyonya Warika pada sang anak.


Dengan menghela nafas dalam-dalam, Sariwati pun berkata,


"Izinkan aku menemuinya Mi, hingga saat ini aku masih merasa bersalah atas semua yang telah terjadi." jawab Sariwati sambil menundukkan kepalanya.


Wanita tua itu mengamati sang anak dan kembali berkata,


"Apa yang kau maksud Pemuda penjaga Surau itu?" ujar Wanita paruh baya itu sambil mengerutkan dahinya.


Sariwati mengangguk ringan sambil menyeka air matanya.


"Untuk apalagi kau ingin bertemu dengan dirinya, Wati?"


"Bukankah kau pernah berjanji pada Mami dulu sebelum kau menikah dengan Seto, bahwa kau takkan pernah menemui pemuda itu lagi." ujar Nyonya Warika sambil terus memandang wajah Sariwati.

__ADS_1


"Aku hanya ingin minta maaf kepadanya Mi,"


"Walau bagaimana pun semua kekacauan ini sedikit banyak melibatkan diriku." ujar Sariwati pada sang Ibu.


"Tapi semua ini sudah lama terjadi Wati,"


"Lagi pula pemuda itu menolak uluran bantuan dari kita saat mami menemuinya di ruang tahanan."


"Sudahlah nak, lupakan pemuda itu."


ucap nyonya Warika masih dengan tatapan menelisik kearah putrinya.


"Saat ini kau adalah istri orang dan tak baik bagi dirimu menemui lelaki lain yang tidak ada hubungan sanak saudara. " kembali ujar nyonya Warika lembut memberi pengertian kepada sang anak.


"Tapi Mi-" ucap Sariwati tercekat tak melanjutkan kata-katanya karena tangan sang Ibu mengisyaratkan untuk dirinya tak melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.


"Tak ada tapi-tapian, Wati,"


"Mami tak akan izinkan mu, namun jika kau memaksa Mami akan kabulkan dengan satu syarat, kau harus ditemani Seto suamimu menemui pemuda itu."


ucap nyonya Warika pada Sariwati, Gadis itu berusaha protes namun sang Ibu memberi isyarat kembali dengan menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, lebih baik saat ini kau ikut Mami ke ruang makan, Mami tak ingin terjadi hal-hal yang akan memperkeruh suasana kembali," pungkas nyonya Warika sambil mengajak Sariwati menuju ruang tengah, keduanya melangkah keluar dari dalam kamar.


Suasana kediaman tuan Gubernur kembali lengang, hanya terlihat percakapan ringan para penghuninya diruang tengah bangunan megah itu.


***


Tak terasa waktu pun cepat berlalu, kehidupan masyarakat Negeri Pantai berjalan seperti biasanya, begitupun kehidupan Muhibbin bersama Keponakan dan Adik angkatnya.


Perlahan mereka telah sedikit melupakan kejadian-kejadian pahit yang di alami.


Sore itu di Surau An Nur, nampak seorang lelaki muda sedang memberi pelajaran mengaji pada anak-anak yang hadir ditempat itu. Suara riuh para santri bersahutan membaca Al Quran yang dipegangnya masing-masing. Anak-anak kecil itu adalah putra putri perantau yang ada di Negeri Pantai.


Sejak beberapa bulan terakhir Surau An Nur diramaikan oleh anak-anak yang sedang menuntut ilmu dimana tempat itu adalah tempat satu-satunya di Negeri Pantai yang mengajarkan ilmu agama.


Satu persatu para anak-anak kecil itu silih berganti maju untuk mendapatkan bimbingan lelaki tersebut yang tak lain adalah Muhibbin.


Dengan telaten Pria muda itu mengajari satu persatu muridnya, nampak pula Raya Suci membantu sang paman mengajari anak-anak sebayanya.


Ditengah keriuhan anak-anak mengaji, pintu Surau An Nur berderik dan beberapa orang menyeruak masuk kedalam halaman.


Melihat hal itu Muhibbin berbisik pada keponakannya Raya Suci,


"Nduk, kau lanjutkan mengaji mu bersama yang lain, rupanya kita kedatangan tamu."


"Pak Lik akan menemui mereka terlebih dahulu, kalian lanjutkan saja." ujar Muhibbin pada Raya Suci, Gadis kecil itu mengangguk dan melihat sang paman beranjak dari tempatnya meninggalkan dirinya dan murid-murid yang lain.


Tak berapa lama Muhibbin sudah berada di halaman Surau dimana dilihatnya seorang wanita berpakaian kebaya dengan kerudung jingga yang di kenakannya di apit oleh dua orang lelaki berperawakan tinggi besar.


Tatapan Wanita itu menyapu kesegala penjuru Surau An Nur dan pandangannya terhenti pada sosok lelaki muda yang mulai mendekat di hadapannya.


"Selamat Sore, Nona dan Tuan-tuan."


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya lelaki muda itu yang tak lain adalah Muhibbin.


"Apa betul ini Surau An Nur?" tanya Wanita itu pada Muhibbin.


"Betul Nona, ini Surau An Nur."


"Kalau boleh tau siapa Nona ini? apa yang bisa saya bantu?" jawab Muhibbin.


Wanita berkerudung jingga itu memandang lekat ke arah Muhibbin, diamatinya lelaki muda didepannya.


"Aku mencari orang yang bernama Muhibbin, apa dia ada disini?" tanya Wanita itu kembali pada Muhibbin, tatapannya datar kearah pemuda itu.


"Saya Muhibbin, Nona."


"Ada keperluan apa andika mencari saya."


"Saya perhatikan, Nona bukan orang Manguntur, kalau boleh tau siapa dan dari mana Nona ini?" ujar Muhibbin pada Wanita didepannya.


"Jadi dirimu yang bernama Muhibbin?" ujar Wanita itu sambil mengamati Pemuda didepannya.


"Namaku Habsari Bonawati, panggil saja Habsari."


"Ya, memang benar aku bukan orang sini."


"Tapi semua itu tak penting."


"Yang terpenting adalah kedatanganku kemari hanya ingin menemui mu dan menanyakan satu hal yang berkaitan dengan Sariwati." ujar Habsari datar.


Sontak Muhibbin terkejut dengan penuturan Wanita bernama Habsari dihadapannya.


"Maaf nona Habsari, mari kita duduk di sebelah sana." ujar Muhibbin sambil berlalu ke sebuah balai bambu yang ada di samping Surau, Habsari pun melangkah mengikuti Pemuda didepannya itu diiringi kedua lelaki berbadan tegap yang terus berada disampingnya.


"Martin, Sentot! kalian tunggu diluar."


"Biarkan aku berdua saja dengan Pemuda ini." seru Habsari pada kedua pengawalnya dan kedua lelaki itu dengan penuh hormat meninggalkan Wanita itu bersama Muhibbin.


Muhibbin terus memperhatikan tingkah orang-orang yang ada dihadapannya itu.


"Mari Nona, silahkan duduk."


"Maaf tempat saya ini sangat sederhana sekali." ujar Muhibbin basa basi pada Habsari walaupun dibenak Pemuda itu bertanya-tanya siapa sebenarnya orang-orang ini.


Pandangan Habsari terus lekat ke arah Pemuda didepannya, tatapannya dingin dan hal itu membuat Muhibbin salah tingkah,


"Nona, mungkin kita pertama kali bertemu, namun jika mendengar apa yang Nona katakan tadi, ada hal yang ingin anda sampaikan kepada saya apalagi tadi anda menyinggung nama Sariwati."


"Apakah anda masih ada hubungan kerabat dari Sariwati?" ujar Muhibbin pada Habsari yang terus memandangnya dengan dingin.


Tiba-tiba Wanita ayu itu bangkit dan tangannya melayang ke arah wajah Muhibbin.


Plaakk!!


"Nona! apa yang anda lakukan?" pekik Muhibbin terkejut sambil meraba wajahnya yang terasa panas akibat tamparan Habsari.


"Dasar lelaki tak bertanggung jawab!"

__ADS_1


"Mesum!"


"Dan tak tau etika!" hardik Habsari pada Muhibbin.


"Apa yang telah kau perbuat bersama adikku selama ini, hah!"


"Dasar manusia rendahan tak tau malu, Blandong!"


teriak Habsari kembali menumpahkan kemarahannya pada Muhibbin. Pemuda itu semakin bingung melihat Wanita didepannya yang baru dikenalnya tiba-tiba marah dan menamparnya.


"Cukup, Nona!"


"Saya tak mengerti yang anda maksud."


"Ada apa ini sebenarnya?"


"Saya pun sudah lama tak ada hubungan apa-apa dengan Adik Nona, sejak dia meninggalkan saya dan menikah."


"Jika anda hanya ingin membuat onar, maka silahkan anda keluar dari tempat ini." seru Muhibbin mulai terpancing emosinya.


"Aku ingatkan dirimu!"


"Jauhi adikku dan jangan mengganggunya kembali!" ujar Habsari lirih penuh kegeraman sambil mencengkeram kerah baju Muhibbin.


Pemuda itu mengibaskan tangannya melepaskan cengkraman Habsari pada pakaiannya.


"Anda ini aneh, Nona!"


"Bagaimana saya bisa mengganggu adik anda jika hampir setahun ini saya tak pernah berjumpa dengannya kembali?"


"Dan perlu anda ketahui bahwa tuduhan anda tentang rasa tanggung jawab salah besar!"


"Justru keluarga anda yang menolak dan mempermalukan keluarga saya tatkala kami sekeluarga berniat melamar adik anda."


"Hingga seluruh keluarga saya tewas setelah kedatangan kami ke rumah keluarga besar anda dan saya masih sangsi dengan hasil penyelidikan selama ini bahwa pelakunya tidak berkaitan dengan keluarga anda." ujar Muhibbin tajam.


Mendengar penyangkalan dan penentangan dari Pemuda didepannya, Habsari semakin naik pitam.


"Kau belum tau berhadapan dengan siapa, lelaki kampungan!"


"Kau akan menyesal telah membuat masalah dengan keluarga besar ku!" ujar Habsari sambil bangkit dan meninggalkan Muhibbin yang masih termangu di balai bambu di samping Surau An Nur itu.


Pandangan Pemuda itu terus lekat ke arah punggung Habsari hingga wanita itu hilang dibalik pintu.


"Dasar wanita aneh."


"Datang-datang hanya marah-marah."


"Justru semua kekacauan ini di sebabkan oleh adik dan keluarga besarnya." gumam Muhibbin sambil berlalu menuju kedalam Surau dimana Keponakan dan murid-muridnya berada.


***


Seminggu sebelum kejadian di Surau An Nur.


Terlihat dua orang sedang berbincang serius di sebuah Paviliun yang tak jauh dari kediaman gubernur Negeri Pantai.


"Apa benar yang kau sampaikan semua itu, Seto?"


"Jika begitu, selama ini Wati telah melakukan aib dengan lelaki lain."


ujar seorang Wanita pada lelaki yang duduk di hadapannya, wanita itu tak lain adalah Habsari dan lelaki yang berada didekatnya adalah Seto Nugroho suami Sariwati.


"Betul, Mbak Yu."


"Selama ini, Wati belum pernah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri."


"Sikapnya selalu dingin dan menolak keberadaan ku sebagai suaminya."


"Kesabaran ku ada batasnya, Mbak Yu."


"Aku tak terima dipermainkan seperti ini dan akan ku buat perhitungan dengan lelaki yang telah menodai istriku." seru Seto penuh kemarahan.


Habsari dengan tatapan dingin berkata,


"Apakah kau tau siapa lelaki itu?"


"Apakah Wati mengatakannya padamu?" ujar Habsari.


Seto menggelengkan kepala sambil menatap ke arah Habsari,


"Aku tak tau, Mbak Yu."


"Selama ini aku merasa hanya sebagai boneka untuk menutupi aib di keluarga kalian."


"Jika kabar ini sampai terdengar oleh keluargaku, kalian semua pasti tau apa yang akan terjadi." ujar Seto pada Habsari.


Habsari menghela nafas dan wanita ayu itu kembali berkata,


"Biarkan aku yang mengurus semua ini, untuk saat ini tak perlu kau libatkan keluarga besar kita dalam menyelesaikan masalah ini."


"Aku tau apa yang akan ku lakukan."


"Sekarang pergilah, temani Papi dan paman Timoti di ruang makan."


"Jangan sampai mereka curiga tentang kejadian yang kalian alami di keluarga kalian." pungkas Habsari pada Seto adik iparnya.


Lelaki itu mengangguk dan bangkit dari tempatnya duduk meninggalkan Habsari yang masih terpaku di serambi Paviliun itu.


"Ini pasti perbuatan Pemuda kampungan itu."


"Kurang ajar!" gumam Habsari sambil mengepalkan tangannya penuh rasa kemarahan.


*****


Note Author:


*Mohon maaf kepada seluruh pembaca KAHANAN karena beberapa hari ini tidak pernah update, karena ada yang terjadi dan sangat menyita pikiran dan perhatian untuk diselesaikan di RL, mohon di maklumi.


Salam*.

__ADS_1


__ADS_2