KAHANAN

KAHANAN
CH 138 - RINAI HUJAN DI UJUNG KEMARAU PART II


__ADS_3

"Apa yang sedang terjadi diluar, Me Iluh?"


"Aku mendengar suara keributan diluar." tanya Sariwati pada sang pelayan setianya.


"Entahlah, Ni Mas."


"Sepertinya tuan dan nyonya besar bertengkar dengan Ni Mas Habsari."


"Meme sempat melihat tuan besar menampar Ni Mas Habsari." jawab Me Iluh pada majikannya yang terbaring di ranjang, sementara Tiara terlelap sambil memeluk tubuh sang ibu disampingnya.


"Begitu, ya."


"Apa lagi yang dilakukan oleh kakak sehingga Papi murka seperti itu." ujar Sariwati lirih.


Me Iluh yang duduk diseberang ranjang hanya terdiam mendengar ucapan majikannya.


"Me, benarkah saat ini rumah kita dijaga ketat oleh pasukan Bhayangkara Negeri Pantai?"


"Tadi Tiara sempat bercerita padaku mengenai hal itu." tanya Sariwati pada Me Iluh kembali.


Dengan rasa ragu, Me Iluh hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Sariwati.


"Apa yang terjadi, Me?"


"Maukah kau bercerita padaku?" kembali wanita itu bertanya pada pelayannya.


"Saya tidak begitu tau pasti, Ni Mas."


"Mungkin suami saya tau karena beberapa bulan lalu sempat mengantarkan tuan besar menjemput Ni Mas Habsari di markas Bhayangkara." jawab Me Iluh singkat.


"Begitu, ya."


"Apa ini ada kaitannya dengan penjagaan ketat di rumah ini oleh para Bhayangkara?" tanya Sariwati kembali, namun Me Iluh hanya menggelengkan kepala dengan wajah penuh keraguan menjawab semua pertanyaan majikannya.


"Me, bisakah kau angkat Tiara sebentar, tanganku terasa kesemutan."  pinta Sariwati pada Me Iluh.


Wanita tua itu mengernyitkan dahinya namun dia buru-buru mengangkat tubuh Tiara yang tertidur pulas sambil mendekap Sariwati.


"Ni Mas, apa yang Ni Mas Wati katakan baru saja?"


"Jangan-jangan ..." ucap Me Iluh keheranan setelah  mengangkat tubuh Tiara.


"Entahlah Me, mulai sepekan yang lalu punggung hingga leherku terasa panas dan tanganku mulai merasa kesemutan."


"Semua itu terjadi sejak aku rutin meminum jamu-jamuan yang dibawakan Papi padaku." balas Sariwati pada pembantunya.


"Tubuhku serasa terbakar dan tangan serta punggungku terasa panas namun di kaki masih belum bisa merasakan apa-apa."


"Tolong bantu aku untuk bersandar di ranjang, Me."


"Aku ingin duduk bersandar, rasa panas di punggungku kini mulai terasa."  pinta Sariwati kembali yang terlihat meringis menahan sakit.


Dengan wajah bercampur aduk antara gembira dan heran, Me Iluh membantu majikannya untuk duduk bersandar di ranjang.


"Mudah-mudahan Ni Mas segera sembuh seperti semula." ucap Me Iluh tak bisa menutupi rasa girangnya, wanita itu nampak mulai memijit betis Sariwati perlahan setelah menyandarkannya.


Sariwati hanya tersenyum melihat reaksi pembantunya itu.


"Doakan saja, Me."


"Aku sudah banyak merepotkan semua orang."


"Apalagi dalam mengurus putriku."


"Aku ingin menjadi ibu seutuhnya bagi Tiara, hanya Tiaralah penyemangat hidupku saat ini Me." ujar wanita yang masih terlihat ayu itu sambil tersenyum walaupun kini tubuhnya kurus dengan wajah pucat.


"Apa perlu saya panggilkan tuan dan nyonya besar, Ni Mas?"  tanya  Me Iluh kembali.


Sariwati hanya mengerjapkan matanya sambil tersenyum pada wanita tua dihadapannya.


Me Iluh segera keluar dari dalam kamar menuju ruang tamu dimana tuan Bendowo dan nyonya Warika berada.


Tak berapa lama, wanita tua itu menghadap dan menceritakan apa yang dialami Sariwati pada kedua majikannya.


Nyonya Warika yang masih terisak setelah menyaksikan pertengkaran antara suami dan putri sulungnya kini wajahnya terangkat, tatapan seolah tak percaya mendengar cerita Me Iluh, demikian pula tuan Bendowo.


"Pi ... Wati, Pi!" ujar nyonya Warika pada sang suami.

__ADS_1


"Iya, Mi ... ayo kita tengok putri kita." jawab tuan Bendoro sambil bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke kamar Sariwati diikuti oleh nyonya Warika dan Me Iluh dibelakangnya.


Tak selang berapa lama, ketiganya telah berada di kamar Sariwati.


Melihat putrinya duduk bersandar di ujung ranjang, nyonya Warika mempercepat langkahnya menghampiri Sariwati, dipeluknya erat-erat anak terkecilnya itu sambil sesenggukan menahan tangis.


"Benarkah yang dikatakan Me Iluh itu, Nduk?" tanya wanita tua itu pada sang putri sambil memegang pundak Sariwati.


Sariwati hanya tersenyum dan kini sang ibu memeluknya kembali, diciumnya kedua pipi Sariwati melampiaskan rasa suka citanya.


Tuan Bendowo pun mendekati kedua orang itu sementara Me Iluh hanya berdiri mematung sambil sesekali menyeka air matanya melihat pemandangan dihadapannya.


"Syukurlah, Wati."


"Akhirnya usaha Papi tak sia-sia mencari ke seluruh penjuru Negeri Zamrud obat untuk kesembuhanmu."


"Ternyata ramuan obat yang diberikan oleh Tabib wanita dari Galuh itu benar-benar bereaksi."


"Semoga setelah dirimu rutin meminumnya, kesehatanmu akan pulih seperti semula." ujar tuan Bendowo pada Sariwati disambut senyum kebahagiaan nyonya Warika yang terus memeluk putrinya seolah-olah tak ingin melepaskannya.


"Luh, mulai saat ini dirimu harus lebih memperhatikan kondisi Wati."


"Buatkan air hangat dan taburi dengan garam untuk merendam kakinya setiap hari." ujar tuan Bendowo pada Me Illuh yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.


"Baik tuan besar, saya akan lakukan dengan baik semuanya untuk kesembuhan Ni Mas." jawab Me Iluh sambil menganggukkan kepalanya penuh hormat pada tuan Bendowo.


***


"Kau istirahatlah dahulu, Ning."


"Seharian penuh kulihat dirimu bekerja, biarkan Niang yang akan melanjutkannya." ujar wanita tua berkebaya putih dengan gelungan rambut yang tersanggul rapi, wajah tuanya masih menyisakan guratan-guratan kecantikan.


Seorang wanita muda tersenyum melihat kehadiran orang yang sangat dihormatinya.


"Tak apa, Niang."


"Tanggung, sebentar lagi sudah selesai." jawab wanita muda itu terus mengulas senyum.


"Iya, Niang tau."


"Tapi kau juga harus perhatikan kondisi kandunganmu."


"Sini, biarkan tanaman obat itu Niang yang menjemurnya." kembali wanita tua itu berkata sambil meraih tampah yang terbuat dari anyaman bambu dari tangan si wanita muda.


"Tak apa, Niang."


"Justru badan Disya akan terasa pegal jika hanya berdiam diri tak beraktifitas."


"Lagi pula bahan obat itu akan segera diambil oleh pemesannya dan kita sudah kehabisan persediaan." jawab wanita berbadan dua itu kembali.


"Hai, kau ini."


"Dasar keras kepala."


"Ya sudah, ayo segera kita rampungkan pekerjaan kita, mumpung panas matahari sedang terik." ucap wanita tua itu yang tak lain adalah Gung Niang Mirah sambil mencubit hidung Disya gemas dan keduanya pun tertawa.


Sambil sesekali terlihat tertawa dengan obrolan ringan baik Gung Niang Mirah maupun Disya terus melanjutkan pekerjaannya, keduanya terlihat akrab layaknya seorang nenek dengan cucunya.


"Niang bangga padamu, Ning."


"Kau orang baik." ujar


Gung Niang Mirah pada Disya kembali, diliriknya perut gadis itu yang mulai membesar.


Dengan senyum kecut, wanita muda itu berkata.


"Mungkin ini suratan takdir saya, Niang."


"Tak ada gunanya disesalkan."


"Walaupun saya tak menginginkan semua ini terjadi, namun janin dalam kandungan saya ini tak bersalah."


"Dia adalah titipan Yang Maha Kuasa pada saya, yang harus saya terima walaupun caranya tidak saya harapkan." ucap Disya masih tersenyum kecut dan terlihat embun-embun tipis menggelayut di kelopak matanya.


Gung Niang Mirah meletakkan tampah ditangannya, wanita tua itu memeluk erat Disya yang ada didekatnya.


Tangis keduanya pun pecah, dituntunnya wanita muda itu menuju ke sebuah balai bambu yang berada di bawah pohon jepun tak jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Kau benar, Ning."


"Semua itu sudah suratan Dewata."


"Di usia senja ini, Niang sangat beruntung menjumpai wanita sepertimu."


"Semoga kelak kau akan menemukan kebahagianmu, Ning." ucap Anak Agung Estri Sumirah yang akrab di panggil Gung Niang Mirah oleh warga banjar Galuh.


Gung Niang Mirah adalah salah seorang Tabib yang cukup tersohor di banjar Galuh, selain itu dirinya adalah keturunan darah biru Pragusti Negeri Pantai.


Wanita tua itu membelai rambut Disya yang panjang sepinggang penuh kasih sayang.


Hampir delapan purnama Disya tinggal bersama dengannya sejak wanita tua itu menemukanya di pinggiran sungai dalam keadaan mengenaskan dan pingsan waktu itu.


"Oh ya, nanti sore utusan pemesan bahan obat itu akan mengambilnya ke mari, apakah sudah kau persiapkan, Ning? tanya Gung Niang Mirah pada Disya.


"Sudah, Niang."


"Semuanya sudah saya ikat seperti biasanya." jawab Disya sambil menyeka air matanya dengan ujung kerudung yang dipakainya.


"Baguslah kalau sudah kau persiapkan."


"Menurut utusan pemesan itu, saat ini keadaan anak majikannya sudah mulai ada perkembangan setelah rutin meminum racikan obat kita."


"Dan nanti sore, majikannya itu akan datang kemari mengambil sendiri." ucap Gung Niang Mirah sambil tersenyum.


"Syukurlah, Niang."


"Saya juga turut senang, jika apa yang Niang lakukan dapat membantu orang yang benar-benar membutuhkan." ujar Disya.


"Ya, itu semua juga berkat kerja kerasmu membantu Niang, Ning."


"Kabarnya, anak dari pemesan ramuan obat yang kita racik itu lama mengalami kelumpuhan semenjak dirinya melahirkan."


"Dan saat ini dia mulai bisa menggerakkan tubuhnya walaupun masih dibantu dengan tongkat saat berjalan." terang Gung Niang Mirah pada Disya.


Wanita berbadan dua itu pun kembali bertanya,


"Apakah kejadian seperti yang dialami oleh anak pemesan obat itu sering menimpa wanita yang melahirkan, Niang?


"Saya takut hal itu akan menimpa diri saya." tanya Disya.


"Tidak semuanya, Ning."


"Itu terjadi hanya pada kasus-kasus tertentu saja."


"Jika melihat keaktifanmu dan kondisi tubuhmu, hal itu tak akan terjadi." imbuh Gung Niang Mirah kembali, ditatapnya wajah Disya dengan lekat.


"Ada apa, Ning?"


"Kelihatannya ada yang mengganjal dalam hatimu."


"Ceritakanlah pada Niang, siapa tau sedikit meringankan bebanmu." ujar Gung Niang Mirah kembali.


Dengan perasaan ragu, Disya menundukkan wajahnya, jemari tangannya terlihat memilin ujung kerudung yang dipakainya.


"Saya rindu dengan Ayah, Niang."


"Sampai saat ini saya tak tau kabar tentang beliau."


"Dan saya tak mungkin pulang dengan kondisi seperti ini, bagaimana perasaan Ayah jika tau saya hamil?"


"Pasti beliau akan sangat sedih." ujar Disya lirih, kembali dari kelopak matanya mengalir butiran-butiran bening air mata.


Gung Niang Mirah menghela nafas, di belainya kembali rambut Disya yang tertutup kerudung tipis berwarna putih.


"Yang sabar, Ning."


"Niang akan meminta tolong We Lanus untuk mencari tahu kabar tentang ayahmu."


"We Lanus sering berkunjung ke kota Negeri Pantai sambil membawa ikan untuk dagangannya."


"Nanti Niang akan menemuinya." ujar Tabib wanita itu pada Disya.


***


Note Author :

__ADS_1


Niang : Nenek


Pragusti : Priyayi, golongan Bangsawan


__ADS_2