
Mendengar sikap ketus kakaknya, Sariwati menghentikan sarapannya. Dia beranjak dari meja makan meninggalkan Habsari seorang diri.
"Mua kemana, Kau? dasar tak sopan! apa seperti ini ajaran yang kau dapatkan selama bergaul dengan manusia-manusia rendahan kelas bawah?" teriak Habsari, diapun terlihat meneguk air yang tak jauh di sampingnya dan menghentikan makannya.
"Sikapmu layaknya seorang Blandong, tak tau aturan dan unggah-ungguh!" seru Habsari kembali, di ikutinya Sariwati yang berjalan ke arah ruang tengah bangunan itu.
"Kalau kakak hanya ingin menghina dan bersikap arogan, silahkan pergi dari rumah ini. Kakak dari dulu tak pernah berubah, selalu sinis dan ketus padaku, padahal apa salahku padamu, Kak?" suara Sariwati mulai meninggi.
Gadis itu terlihat menahan kegeramannya dan dari sudut-sudut matanya mulai berlinang.
Habsari yang mendapati reaksi perlawanan adiknya semakin naik pitam.
"Dasar anak tak tau diuntung, sudah baik kau dirawat selama ini oleh keluarga Bendowo, diberikan derajad yang tinggi sebagai keluarga ningrat namun sikap dan perilakumu tak lebih layaknya sampah seperti ibumu! andai tau seperti ini lebih baik dulu kau mati saja sebelum papi memungutmu!"
ujar Habsari geram.
Bagaikan tersambar petir, Sariwati yang mendengar perkataan Habsari baru saja menoleh kaget.
"Apa maksud perkataan kakak barusan?"
"Tolong jelaskan padaku!" dengan mata berlinang gadis itu histeris dan melangkah mendekati Habsari.
"Apa kurang jelas perkataan ku?"
"Kau hanya anak pungut yang tak lebih hina dari ibumu!"
"Dasar anak ledek murahan!"
"Masih untung kau dirawat dengan baik oleh papi dan mami!"
"Tanyakan saja pada Paman tentang kebenaran perkataanku ini!" pungkas Habsari dengan wajah merah padam.
"Tidak!"
"Kakak pasti berbohong!" teriak Sariwati.
"Kakak hanya mengada-ada karena tak suka pada diriku! ujarnya kembali.
" Ya, Aku memang tak suka dan tak sudi memiliki saudara sepertimu!"
"Dari dulu kau hanya menjadi beban nama baik keluarga dinasti Harsuto dan bodohnya lagi, perhatian papi dan mami padamu terlalu berlebihan melebihi pada anak kandungnya sendiri!"
"Kakak jangan mengada-ada!" kini Sariwati semakin histeris, di goncang-goncangkannya pundak Habsari.
"Jangan sentuh aku! anak haram jadah sepertimu hanya akan mengotori bajuku! teriak Habsari sambil mendorong keras Sariwati.
Gadis itu terhuyung kebelakang setelah mendapat dorongan dari Habsari.
Sariwati berlari keluar Villa Sandat dan diambilnya kereta angin yang tersandar dibawah pohon jepun. Dikayuhnya kendaraan itu menuju kota Negeri Pantai sambil menangis.
Mek Iluh dan we Landep yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran kedua bersaudara itu hanya terdiam di balik dinding samping Villa Sandat.
"Pe, Bape segera susul non Wati! ***** takut disalahkan tuan gubernur bila terjadi apa-apa pada non Wati." kata mek Iluh pada suaminya, wajah wanita tua itu terlihat cemas dengan apa yang terjadi dan didengarnya baru saja.
"Ya mek, kamu juga tolong awasi non Habsari! karena pesan tuan gubernur, kita harus laporkan apa saja yang terjadi dan dilakukan non Habsari pada non Wati." ujar lelaki tua itu sebelum bergegas meninggalkan istrinya menyusul Sariwati.
__ADS_1
Sementara didalam rumah Habsari melangkah menuju kamar Sariwati. Di bukanya lemari pakaian yang ada di kamar itu dan mengeluarkan seluruh barang-barang yang ada didalamnya.
"Dimana anak sialan itu menyimpannya?" Habsari terlihat sibuk membongkar seluruh isi lemari maupun mengegeledah sudut-sudut ruangan kamar mencari benda yang dia maksud.
"Kurang ajar! dimana dia taruh kotak Giok Hujan itu?" gumamnya geram.
Wanita itu terus mencari benda yang dimaksud hingga ke seluruh ruangan di Villa Sandat, namun apa yang di cari tetap tak didapatinya.
***
Sementara di kediaman tuan gubernur Timoti, terlihat seorang gadis mengayuh kencang kerata anginnya memasuki halaman gubernuran.
Orang itu bergegas melangkah kedalam bangunan megah dengan Wajah yang sembab.
"Paman!"
"Paman dimana?" teriak orang itu yang tak lain Sariwati.
Terlihat gadis itu masih menangis dan mencari keberadaan tuan Timoti.
Sebuah pintu kamar terbuka dan seorang lelaki gagah keluar menuju arah suara teriakan Sariwati.
"Wati, ada apa?"
"Kenapa kamu teriak-teriak dan tiba-tiba datang kemari tanpa berkabar dulu?" seru sang gubernur pada gadis yang dihampirinya itu.
"Kakak, paman!"
"Kakak!" ujar Sariwati sambil menangis.
"Kenapa dengan kakakmu? apa yang dilakukannya padamu? tanya tuan Timoti merangkul bahu sang gadis dan membawanya ke sebuah kursi yang ada di ruangan itu.
" Apa yang terjadi, Wati? ceritakan pada paman!" ujar tuan Timoti kembali. Lelaki itu duduk disebelah Sariwati.
"Kakak, paman!"
"Apa benar aku bukan anak papi dan mami?" tanya Sariwati masih terisak. Di tatapnya lekat-lekat lelaki yang ada disampingnya.
"Bagaimana bisa Habsari berkata seperti itu padamu, Wati?" mata tuan Timoti terbelalak tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu dari Sariwati.
Dengan terbata-bata Sariwati menceritakan pertengkarannya dengan Habsari dan semua kejadian pagi tadi di Villa Sandat.
"Gadis itu memang tak pernah berubah!" gumam tuan Timoti geram, tangannya mengepal menahan kemarahan.
"Tak usah kau dengarkan perkataan kakakmu, Wati!"
"Mungkin dia hanya melampiaskan kekesalannya padamu dengan berkata seperti itu." bujuk sang gubernur.
"Tidak paman! aku dengar sendiri, bagaimana kakak berkata semuanya padaku dan paman harus ceritakan kebenarannya padaku!" ujar Sariwati.
"Aku tak terima dan tersinggung dengan perkataan kak Habsari. Selama ini aku sudah menghormatinya layaknya saudara tertua namun perlakuannya padaku sedari dulu tetap sama dan tak pernah berubah." imbuhnya kembali.
"Tolong ceritakan yang sebenarnya, Paman!" tanya Sariwati mengiba pada pamannya.
Tuan Timoti tak bisa menutupi kegelisaham dan kegeramannya, wajah lelaki itu yang biasanya tenang berwibawa berubah memerah dengan tatapan mata menerawang seolah menggambarkan pergolakan batin yang dialaminya.
__ADS_1
"Yang dikatakan kakakmu itu benar, Wati."
"Kau bukan anak kandung kang mas Bendowo dan mbak yu Warika." ujarnya lirih.
Sariwati yang sedari tadi terisak kini tambah tenggelam dalam tangisannya. Ditekuknya dalam-dalam wajahnya diantara kedua lengan tangannya yang terlipat. Sesenggukan gadis itu membuat perasaan tuan Timoti semakin tak karuan.
Lelaki gagah berwibawa itu kini pun tak kuasa melihat kesedihan gadis disampingnya.
"Apa yang Habsari katakan pada mu itu benar, Wati."
"Kau adalah anakku!" kini air bening keluar dari sudut-sudut kelopak mata sang gubernur.
"Tiga puluh tahun lalu, Aku mengenal seorang wanita baik dan bersahaja. Widyowati adalah anak seorang petani di desa terpencil dibawah kaki gunung Mahameru. Dia seorang penari ledek yang biasa tampil di acara-acara pelepasan tugas para Bhayangkara."
"Dan suatu saat kejadian tak sengaja telah mempertemukan kami kembali."
"Saat itu aku terluka parah akibat serangan gerombolan pemberontak yang bersembunyi di hutan lereng Mahameru. Pasukan Bhayangkara yang aku pimpin disergap oleh musuh pada saat hendak melaksanakan sembahyang subuh, semuanya gugur menyisakan aku seorang diri yang pada saat itu yang dalam keadaan antara hidup dan mati."
"Dan orang tuanya yang menemukan ku sekarat didalam hutan serta membawa dan merawatku ke rumahnya hingga pulih."
"Dan saat berada dalam perawatan keluarga Widyowati lah benih-benih cinta tumbuh diantara kami dan akhirnya kami menikah."
Namun keberadaanku yang hilang selama tiga tahun sejak penyergapan di hutan Mahameru itu akhirnya di temukan oleh telik sandi, sepekan setelah pernikahan kami, Aku di panggil kembali menghadap ke kesatuan Bhayangkara karena hampir tiga tahun tak pernah bertugas dan berkabar pada pusat kerajaan Negeri Zamrud.
"Selama hampir setahun aku tak pernah kembali pada ibumu karena kesibukan dalam bertugas dan pada saat itu kondisi dinasti Harsuto dalam masa peralihan kekuasaan, sehingga membuat keamanan kerajaan rentan oleh pemberontakan."
Tuan Timoti menghela nafasnya dalam-dalam dan Sariwati yang masih sesekali terisak hanya terdiam mendengarkan cerita sang gubernur.
"Tiba-tiba disuatu senja di musim penghujan, seorang lelaki tua yang tak lain adalah ayah Widyowati membawa mu dan menyerahkannya pada ku, saat itu usiamu baru sepasaran dan selesai selapan, sedangkan Widyowati ibumu meninggal pada saat melahirkanmu." ujar tuan Timoti. Lelaki itu tak kuasa menahan air matanya mengenang istrinya yang telah tiada.
Sariwatipun semakin terisak,
"Lalu bagaimana aku bisa menjadi anak papi dan mami?" tanya Sariwati.
Tuan Timoti melanjutkan ceritanya,
"Aku dan mbak yu Warika mamimu adalah saudara sepupu dan hubungan kami baik walaupun kadang kala aku tak sepaham dengan kebijakan dan ketamakan keluarga kang mas Bendowo."
"Pada saat itu mereka sudah memiliki anak diantaranya Habsari dan
Mecha."
"Karena kedekatan hubunganku dan mamimu sebagai saudara, mami dan papi mu memintamu untuk di rawat oleh mereka."
"Dan karena aku ditugaskan oleh kerajaan Zamrud menjadi gubernur di Negeri Pantai ini maka dengan berat hati, dirimu aku serahkan pada keluarga kang mas Bendowo."
"Taukah kau, Wati?"
"Dirimu dulu pernah diajak kemari oleh papi-mami mu waktu kau masih berusia satu tahun dan saat itu Habsari sudah berumur tujuh tahun."
"Dan pada saat kejadian penyerangan gerombolan Setyanto dua tahun lalu, aku mengenalimu dari kotak dengan simbol garuda emas sebagai tanda trah dinasti Harsuto." ujar Tuan Timoti.
"Jadi mulai sekarang, Kamu harus memanggilku ayah!" pungkas tuan Timoti memeluk putri semata wayangnya.
"Ayah!" seru Sariwati lirih diatara isakan tangisan nya.
__ADS_1