
Tok, tok, tok!
Suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" sebuah suara terdengar dari dalam ruangan.
Tak berapa lama seorang Lelaki berbadan tegap dengan sebuah bekas luka melintang diantara pelupuk mata dan pipinya menjura kedalam. Dengan langkah lebar dia mendekati wanita yang duduk di belakang sebuah meja kerja.
"Maaf, Ni Mas!"
"Saya menghadap pagi-pagi." ujar lelaki itu pada wanita yang masih duduk memunggunginya.
Tak lama kemudian, sang wanita membalikkan badan sambil meletakkan tumpukan kertas ditangannya, dengan wajah dingin wanita itu berkata,
"Ada berita apa, Martin!"
"Apa kau sudah berhasil menjalankan tugasmu?" ujar wanita itu pada lelaki yang baru saja datang.
"Maaf, Ni Mas."
"Sampai saat ini masih nihil."
"Kami terus berusaha mencarinya."
"Keberadaan benda itu masih belum ada titik terang." jawab lelaki bernama Matin tersebut dengan wajah menahan malu dan suara lirih penuh keraguan.
Bruuaakkk!
Sang wanita bangkit dengan wajah merah padam sambil menggebrak meja di dekatnya.
"Bodoh!"
"Bagaimana kau ini, Martin!"
"Sudah berulang kali kau membawa berita kegagalan di hadapanku!"
"Aku mulai ragu, apa kemampuanmu sudah menurun dan perlu kucari orang lain menggantikan dirimu! Seru wanita itu dengan penuh geram, ditatapnya sinis memandang lelaki dihadapannya.
"Maafkan saya, Ni Mas."
"Bukannya saya ingin mengelak dan mencari alasan."
"Tapi keberadaan cincin Sulaiman Madu itu serasa raib tanpa bekas."
"Kami sudah menelusurinya hingga ke Galuh dimana adik Ni Mas dan Pemuda itu pernah bersama terakhir kali."
"Mata-mata yang saya tempatkan di Griya Manuaba pun sudah menyisir kediaman Resi tua itu."
"Namun tetap keberadaan benda itu masih belum ditemukan." pungkas Martin dengan wajah tertunduk.
"Aku tak mau tau! apapun caranya benda itu harus jatuh ke tanganku!"
"Sudah terlalu lama aku bersabar dengan misi yang kalian kerjakan." dengus sang wanita menahan kemarahannya.
"Percuma reputasi sebagai pasukan terbaik Garuda Merah kalian sandang, jika pekerjaan sekecil itu tidak bisa kalian selesaikan!" imbuh wanita itu yang tak lain adalah Habsari Bonawati sambil memalingkan mukanya.
Ruangan itu sesaat kembali hening, namun tiba-tiba Martin kembali berkata,
"Tentang misi ini, kami masih berkomitmen untuk menyelesaikannya, Ni Mas."
"Tapi ada berita lain yang tak kalah penting dan perlu Ni Mas ketahui."
"Ini masih berkaitan dengan pemilik cincin itu." ucap Martin lirih dengan wajah menahan malu dihadapan majikannya.
Habsari mengernyitkan dahinya, Pandangannya menelisik kearah orang suruhannya itu,
Lelaki itu terlihat mendekat dan mengucapkan sesuatu pada Habsari dengan suara lirih.
"Apa benar yang kau katakan?"
"Dimana dia sekarang?"
"Antar aku menemuinya!" ujar Habsari setelah mendengar informasi dari pengawal setianya tersebut.
"Benar, Ni Mas."
__ADS_1
"Dia berada di pinggiran kota ini."
"Kita bisa menekan pemuda itu untuk menyerahkan benda yang Ni Mas inginkan."
"Orang-orang saya saat ini sudah berada di sana sejak semalam." jawab Martin pada Habsari.
Untuk sesaat Habsari terlihat berfikir, wanita ningrat itu memainkan pena yang ada ditangannya.
"Baiklah!"
"Kau siapkan kendaraan ku!"
"Kita segera temui gadis itu."
"Dan satu lagi ... "
"Buat serapi mungkin."
"Setelah benda itu aku dapatkan, singkirkan mereka berdua dan buat seolah-olah ini sebuah kecelakaan, aku tak mau semua pergerakan kita meninggalkan jejak dan diketahui orang lain, apalagi Papi!" pungkas Habsari.
"Baik, Ni Mas."
"Kami akan lakukan seperti yang di perintahkan Ni Mas Habsari." jawab Martin singkat. Sebelum pergi, lelaki itu membungkukkan badan dan berbalik meninggalkan ruangan kerja Habsari.
"Kena kau Sekarang!" gumam Habsari dengan senyum dinginnya.
***
"Bagaimana keadaan gadis itu, Seno?" ucap seseorang pada salah satu penjaga.
"Ketua!"
"Kapan anda tiba?"
"Gadis itu masih pingsan dan terikat didalam kamar." jawab seorang penjaga yang dipanggil Seno sambil memberi hormat pada orang yang baru datang tersebut.
"Aku semalam tiba di negeri ini." jawab lelaki berpakaian serba hitam itu pada Seno.
"Apakah aksi kalian ini tak ada yang mengetahui?"
"Dan apa kau sudah melakukan yang ku perintahkan?" ujarnya kembali.
"Sebagian anggota Garuda Merah juga sudah berada disini, ketua." jawab Seno pada orang yang dipanggilnya ketua itu. Lelaki berpakaian hitam itu menyapu pandangannya pada orang-orang yang ada di tempat itu.
"Bagus!"
"Kalian tunggu perintah selanjutnya dariku."
"Jangan bertindak diluar sepengetahuanku."
"Aku ingin lelaki kampungan itu merasakan penderitaan seperti yang kurasakan." ujarnya kembali.
Tampak terlihat gemeretak rahang pria berpakaian hitam itu beradu menggambarkan kegeraman, tak selang berapa lama dia melangkah kedalam kamar di ikuti Seno dibelakangnya.
Pandangannya tertuju pada sosok wanita yang terbaring di lantai dengan tangan dan kaki terikat.
"Jadi ini kekasih pemuda miskin itu."
"Lumayan, tak terlalu buruk seleranya." gumam lelaki itu sambil menyeringai dingin melihat gadis didepannya.
Nampak lelaki berpakaian serba hitam itu berjongkok disebelah tubuh yang terbaring dilantai dan pandangannya terus mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis yang tak sadarkan diri tersebut.
"Seno, tinggalkan aku sendiri."
"Kau berjagalah diluar!"
"Jangan biarkan siapapun masuk sebelum urusanku selesai." ujarnya tanpa menoleh pada anak buahnya dan Seno pun menganggukkan kepala sebelum melangkah keluar dari dalam kamar meninggalkan lelaki yang dipanggilnya ketua itu.
***
Pendar cahaya matahari mulai setinggi satu tombak, nampak terlihat lalu lalang penduduk Negeri Pantai disibukkan dengan segala aktifitas kesehariannya.
Disebuah rumah, nampak beberapa orang sedang tertegun dengan wajah penuh kecemasan, seorang wanita tengah melampiaskan kekesalannya pada seorang lelaki yang terus menundukkan wajah dihadapannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Bli?"
__ADS_1
"Seharusnya Bli lebih hati-hati menyampaikan sesuatu pada Disya."
"Apalagi saat ini kalian sedang mempersiapkan acara pernikahan."
"Siapapun akan merasakan seperti yang Disya rasakan."
"Bli bisa mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan semua tentang masa lalu Bli Ibbin padanya."
"Tak semua orang berfikiran sama dengan dirimu, Bli! yang menganggap sebuah kejadian sebagai takdir Dewata dan menerimanya begitu saja."
"Manusiawi jika reaksi Disya seperti itu." seru Sekar dengan wajah khawatir bercampur kecewa pada sang kakak.
"Sudahlah Gek, tak perlu kau menyalahkan Bli Ibbin."
"Semua sudah terjadi."
"Yang terpenting sekarang bagaimana kita menemukan Disya."
ujar Arsana menyela ucapan sang istri.
Cantrik Griya Manuaba itu pun berkata pada Muhibbin yang masih tertunduk lesu penuh rasa bersalah,
"Apa Bli sudah mencari dan menghubungi kawan-kawan Disya atau orang-orang yang mengenalnya?" imbuh lelaki itu pada Muhibbin.
Dengan menghela nafas dalam-dalam dan tatapan sayu, Muhibbin bangkit dari tempat duduknya, pandangannya menerawang menembus rimbunnya bunga alamanda yang menjalar di pagar rumah itu.
"Aku sudah mencarinya ke semua tempat, Ar."
"Ayah Sirkun juga sudah menghubungi pihak Bhayangkara untuk meminta bantuan mencari Disya."
"Aku juga akan meminta bantuan paman Jero Pecalang untuk membantu mencari." jawab Muhibbin dengan suara berat.
Arsana menatap wajah muhibbin sebelum berkata kembali.
"Bli, boleh saya memberi saran dan mohon persetujuan mu?"
"Bagaimana kalau kita meminta bantuan Bapa Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra?"
"Saya juga akan minta bantuan para cantrik di Griya Manuaba untuk mencari keberadaan Disya." ujar Arsana pada kakak iparnya.
Sejenak Muhibbin nampak berfikir mendengar penuturan Arsana dan lelaki itu pun berkata,
"Jika menurutmu itu lebih baik, aku tak keberatan, Ar."
"Semakin banyak orang yang membantu maka semakin luas jangkauan kita dalam pencarian." ucap Muhibbin pada Arsana.
"Kalau begitu, kita segera berangkat Bli."
"Bli menemui paman Jero Pecalang, sementara saya akan ke Galuh menemui Bapa Resi." ujar suami Sekar itu kembali.
Muhibbin menganggukkan kepala pada Arsana dan kini tatapannya mengarah pada Sekar dan Raya Suci yang sedang menggendong Lingga.
"Nduk, kamu disini dulu dengan Mbak Yu mu Sekar, ya!"
"Pak Lik akan mencari Bu Lik Disya kembali,"
"Kamu tak usah ke Surau dulu, tunggu disini sampai Pak Lik pulang." ujar Muhibbin pada Raya Suci.
Gadis remaja itu hanya menganggukkan kepala sembari menyeka air matanya.
"Iya, Pak Lik."
"Semoga Bu Lik Disya segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja." ujar gadis remaja itu pada sang paman.
Muhibbin memandang lekat wajah keponakannya sambil mengusap air mata di pipi Raya Suci.
"Sudahlah, kau jangan menangis lagi!"
"Doakan saja semoga Bu Lik mu seger ditemukan." ujar Muhubbin pada keponakannya.
Pandangannya beralih ke arah Sekar Jempiring adiknya,
"Kar, Bli berangkat, aku ajak suamimu dulu untuk menemaniku mencari Disya."
"Bli titip Raya padamu." ujar Muhibbin pada Sekar dan wanita itu hanya menganggukkan kepala tanpa bersuara dengan tatapan sendu pada sang kakak.
__ADS_1
"Ayo Ar, kita segera berangkat." pungkas Muhibbin sambil melangkah ke angkul-angkul rumah itu dengan Arsana yang mengekor dibelakangnya.
*****