
"Bagaimana keadaannya , Ning?" tanya seorang lelaki paruh baya pada seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah kamar.
"Masih seperti sebelumnya, Yah."
"Bli masih tak ingat semuanya, diapun tak mau menyentuh makanan yang saya bawa saat saya suapi." jawab gadis ayu berkulit sawo matang itu dengan wajah lesu, sebuah nampan berisi makanan masih utuh terlihat ditangannya.
"Kasihan anak itu, diusianya yang begitu muda telah menanggung beban yang sangat berat."
"Rentetan peristiwa yang di alaminya seolah silih berganti tak henti-hentinya." gumam lelaki paruh baya itu dalam hati setelah mendengar jawaban sang gadis ayu.
"Ya sudah, kau kembali kebelakang."
"Wayah akan menemui Bapa Resi, ada yang harus wayah sampaikan kepada beliau." ujar lelaki tua itu pada cucunya, dia adalah Gus Aji Putra Narayana dan gadis ayu yang diajaknya berbincang adalah cucu semata wayangnya Ida Ayu Ketut Setyowati.
"Nggih yah, kebetulan saya juga akan menemui Raya dan Sekar." ujar gadis itu berlalu dari hadapan Gus Aji Putra.
Suasana Griya Manuaba banjar Galuh nampak sepi, Pasraman yang berada dipuncak bukit itu terlihat asri. Hampir tiga purnama sejak kejadian penyekapan di rumah tua oleh gerombolan Garuda Merah di perbatasan kota Negeri Pantai berlalu, semilir angin sore yang terasa dingin menandakan musim akan segera berganti.
Sepasang mata menatap kosong ke arah langit-langit kamar, tubuh kurus berbalut kulit dengan kondisi kedua kaki terbungkus Kluping pelepah kelapa tanpa ekspresi terbaring di atas ranjang bambu beralaskan tikar pandan, sekujur tubuhnya terdapat bekas luka-luka sayatan yang mulai mengering dan di kepalanya terbalut lilitan kain.
Lelaki yang terbaring itu adalah Muhibbin, kondisi tubuhnya sangat memprihatinkan. Sejak dirinya siuman, pemuda yang diselamatkan oleh Gus Aji Putra beserta Arsana dari penyekapan yang dilakukan Habsari dan gerombolannya tersebut seolah mayat hidup, tak sepatah katapun terlontar dari mulutnya, tatapannya kosong tanpa ekspresi namun diujung matanya sesekali buliran air mengalir tanpa disadarinya.
Gus Aji Putra berlalu menuju kediaman Resi Giri Waja, sementara Dayu Ketut melangkah ke tempat peristirahatan Sekar Dan Raya Suci yang sejak pembebasan Muhibbin berada di Griya Manuaba untuk merawat sang kakak.
Pintu diketuk dari luar dan dari dalam ruangan sebuah suara terdengar menyapa,
"Masuklah, Putra."
"Pintu tak aku kunci." ujar suara itu kembali.
Seorang lelaki tua berpakaian serba putih dengan rambut digelung sedang menghadap kesebuah altar, wangi aroma gaharu yang terbakar di atas stanggi semerbak di seluruh ruangan, dua buah pot berhias bunga tulasi tersemat di kanan kirinya.
"Mendekatlah kemari, Putra." pinta pria tua itu sambil membalikkan badannya menghadap kearah lelaki yang masih berdiri mematung di depan pintu yang mulai terbuka.
Dengan perlahan lelaki itu yang tak lain adalah Gus Aji Putra mendekat ke arah pria tua berpakaian putih.
"Maafkan jika kedatanganku mengganggu semadimu, kak." ujar Gus Aji Putra pada pria tua dihadapannya yang tak lain sang Resi Giri Waja pemilik Griya Manuaba.
"Tak perlu sungkan, dirimu adalah satu-satunya adikku."
"Kemarilah, duduk di dekatku." ujar pria tua itu lirih, wajahnya yang teduh dengan senyuman tersemat menyambut kehadiran adiknya.
"Bagaimana keadaan pemuda dari manguntur itu saat ini, Putra?" tanya sang Resi pada Gus Aji Putra.
Sebelum menjawab, pria paruh baya itupun duduk bersila dihadapan sang kakak yang terlihat membuka kotak kayu dan menjumput sirih pinang didalamnya.
"Tak ada perubahan, Kak."
"Aku terus berupaya menyembuhkannya."
"Kini luka-luka ditubuhnya sudah mulai mengering, tinggal penyembuhan tulang kakinya yang patah masih aku tangani."
"Pemuda itu sejak sadar dari pingsannya seolah tak mengenali orang-orang disekitarnya baik itu adik dan keponakannya." jawab Gus Aji Putra pada sang Resi.
"Ya ... memang tak mudah."
"Mengobati luka fisik mungkin kita bisa dengan berbagai ramuan tapi luka batin itu teramat sulit."
"Hanya perhatian orang-orang terdekatnya lah yang dapat membantu." imbuh Gus Aji putra kembali.
Sang Resi terlihat menganggukkan kepala dan tatapannya menerawang ke jendela kamar yang terbuka.
"Lalu bagaimana kelanjutannya urusan dengan pemerintah Negeri Pantai, apakah ada perkembangan, Putra?" tanya Resi Giri Waja pada adiknya.
Gus Aji Putra terlihat menghela nafas sambil menggelengkan kepala.
"Ya seperti yang kita ketahui, kak."
"Pemerintah Negeri Pantai maupun kerajaan Zamrud seolah tak berkutik jika bersinggungan dengan dinasti Garuda Emas."
"Hukum seolah-olah tumpul dan bisa mereka kendalikan."
__ADS_1
"Sama saat kejadian yang menimpaku dahulu, yang bersalah bisa bebas sedangkan yang menjadi korban malah tertimpa masalah." jawab Gus Aji Putra lirih.
"Entah sampai kapan negeri ini akan berubah."
"Rakyat jelata seolah ditakdirkan menjadi tumbal para penguasa." pungkas Gus Aji Putra kembali.
Dengan membelai janggut putihnya yang memanjang, Resi Giri Waja berkata,
"Kaliyuga." ucap sang Resi singkati.
Keduanya pun terdiam sesaat dengan alur pikiran masing-masing.
***
"Anak itu memang kurang ajar!"
"Selalu membuat masalah."
"Jika seperti ini mau ditaruh dimana mukaku bila bertemu yang mulya. paduka raja Kerajaan Zamrud "
"Untung saja masih ada Kusumo sebagai pengganti Timoti menjadi gubernur di negeri ini dan bertindak cepat menutup kasus ini."
"Jika tidak, keluarga kita akan terkena getahnya walaupun menyandang nama besar trah keturunan Harsuto." seru lelaki tua yang tak lain tuan Bendowo pada sang istri.
Pewaris dinasti Garuda Emas itu terlihat meradang akibat ulah perbuatan putri sulungnya Habsari.
"Papi tak habis pikir, Mi."
"Apa yang sebenarnya diinginkan Habsari?"
"Kurang apa selama ini, aku memberikan segalanya pada anak itu?"
"Masih beruntung dirinya menjadi tahanan rumah dan tak dihukum pancung dengan segala yang diperbuatnya, jika semua ini terkuak dan yang mulya mengetahuinya, nama besar keluarga kita tak akan bisa menolongnya." pungkas lelaki itu kembali.
"Entahlah, Pi."
"Mami semakin hari semakin bingung dengan sikap Habsari."
"Habsari yang mami kenal anak yang manis penuh perhatian pada adik-adiknya dan sangat hormat pada orang tuanya."
"Anak itu sedikitpun tak memiliki watak bengis dan sangat pemurah pada setiap orang."
"Namun semuanya telah berubah." ucap nyonya Warika lirih sambil menyeka air matanya.
Tuan Bendowo hanya terdiam mendengar ucapan istrinya, diwajahnya masih tersirat kemarahan melihat semua yang disebabkan oleh putri sulungnya.
"Semua Papi lakukan demi nama baik dan keberlangsungan trah dinasti Garuda Emas, Mi."
"Andaikan dirinya tak berhubungan dengan anak pemberontak itu, mungkin Papi tak akan mengirimnya ke negeri Angin." ujar Bendowo pada sang istri.
"Ya, seharusnya Papi tak melakukan itu!"
"Habsari tak ada hubungan apa-apa dengan peristiwa itu."
"Sebelumnya kita pun tak menyangka jika orang tua Angga adalah salah satu bagian dari kelompok pergerakan yang akan menggulingkan kekuasaan Romo Harsuto."
"Seharusnya Papi saat itu bisa membedakan mana politik dan mana hubungan keluarga." ucap nyonya Warika dengan sedikit meninggikan suaranya.
Tuang Bendowo memalingkan wajahnya ke arah nyonya Warika.
"Jadi Mami sekarang menyalahkan Papi?" seru tuan Bendowo menatap tajam kearah sang istri.
" Apa Mami lupa, semua itu Papi lakukan untuk kewibawaan dinasti ini!" pungkas tuan Bendowo tajam.
"Sudah ... cukup!"
"Ya, aku yang salah!"
"Timpakan semua kotoran keluarga ini padaku!"
"Apapun yang aku lakukan tak ada baiknya di mata Papi!" ujar sebuah suara memotong perdebatan antara tuan Bendowo dan nyonya Warika.
__ADS_1
Seorang wanita ayu keluar dari dalam kamar yang tak jauh dari ruangan tamu itu.
"Jaga bicaramu, Habsari!" seru tuan Bendowo sambil berpaling kearah putri sulungnya yang baru saja keluar kamar. Sorot mata lelaki tua itu seolah-olah ingin menelan sosok tubuh yang kini berdiri dihadapannya.
"Memang benar, aku hanya menjadi biang masalah di keluarga ini!"
"Tapi ingat, aku tak akan terima dengan semua perlakuan yang Papi lakukan padaku selama ini."
"Aku sudah berkorban banyak untuk trah ini!" ucap Habsari berapi-api.
"Kurang ajar!"
"Anak tak tau diri!" pekik tuan Bendowo berdiri dan sebuah tamparan melayang ke wajah Habsari.
"Papi ... cukup!"
"Hentikan, Pi!" teriak nyonya Warika melihat kemarahan suaminya pada putri sulungnya.
"Biarkan saja, Mi!"
"Biarkan papi puas dengan apa yang ditimpakannya padaku."
"Jika perlu, bunuh saja aku sekalian!" teriak Habsari sambil berkaca-kaca.
Mendengar balasan ucapan anaknya, amarah tuan Bendowo bukan merada malah semakin menjadi-jadi. Lelaki tua itu mengangkat tangannya kembali namun nyonya Warika menahannya sambil menangis.
"Cukup, Pi ... cukup!" seru wanita tua itu.
"Apa masih kurang masalah yang timbul di keluarga ini!"
"Apa papi lupa, bagaimanapun Habsari adalah darah daging kita!" ujar nyonya Warika menenangkan sang suami.
"Habsari, sekarang kau masuk kamar!" imbuhnya pada sang putri.
Dengan mendengus kesal, Habsari menuruti perintah sang ibu, wanita ayu itu melangkah ke dalam kamar dan pintu kamar ditutupnya dengan keras.
"Anak tak tau diri ... pembuat onar!"
"Kelakuanmu layaknya seorang Blandong yang tak tau aturan!" teriak tuan Bendowo melihat sang putri membanting pintu keras-keras.
Dari dalam kamar, Habsari pun berteriak membalas perkataan sang ayah,
"Ya! aku memang Blandong!"
"Namun tidak sebusuk Papi!"
"Jangan dikira diriku tak tau kebejatan yang Papi lakukan selama ini!" balas Habsari dari dalam kamar.
"Kurang ajar!"
"Jaga perkataanmu, anak tak tau diuntung!"
Balas tuan Bendowo kembali setelah mendapat reaksi perlawanan putri sulungnya, wajah lelaki tua itu memerah menahan amarah.
Nyonya Warika nampak terkejut setelah mendengar ucapan Habsari,
"Apa maksud Habsari itu, Pi!"
"Apa selama ini Papi menutupi sesuatu pada Mami?" tanya nyonya Warika sambil berderai air mata.
Tuan Bendowo duduk terdiam dan tak menghiraukan pertanyaan sang istri.
*****
Note Author:
**Kluping : Kulit ari pelepah muda daun kelapa yang biasa digunakan untuk membungkus patah tulang.
"Wayah : Kakek
" Jaman Kaliyuga : Jaman ketidak pastian, keangkara murkaan*.
__ADS_1