KAHANAN

KAHANAN
CH 121 - KALAM CINTA SANG KEMBARA PART II


__ADS_3

"Disya! tunggu, Dis!" teriak Muhibbin pada Disya yang berlalu diantara pematang sawah, nampak gadis itu berlari sambil menangis di kejauhan.


Muhibbin segera menuju ke Surau An Nur yang tak jauh dari tempat tersebut, pemuda itu nampak bergegas mengambil kereta anginnya yang tersandar di pagar Surau putih itu.


Di kayuhnya tunggangan besinya sekuat tenaga untuk menyusul Disya yang telah hilang di balik pepohonan dipinggiran jalanan tanah berbatu.


Suasana Senja kian temaram menandakan Sandikala telah nampak di ujung barat dengan cahaya merah tembaga.


Gemeretak pedal dan rantai diantara roda kereta angin terdengar bergesekan, Muhibbin tetap saja mengayuh kereta anginnya dengan kencang tak menghiraukannya, sementara suasana petang mulai menggelayut menghalangi jarak pandang pemuda itu.


"Disya!"


"Dis!" Muhibbin masih berteriak di atas kendaraan besi yang ditungganginya namun tetap tak nampak sang kekasih di antara jalanan yang disusurinya.


Sejenak Muhibbin menghentikan kereta anginnya,


"Kemana Disya?"


"Apakah dia bisa berlari secepat itu, sehingga tak kulihat dirinya sepanjang jalan?" gumam Muhibbin dalam hati.


Pemuda itu terlihat membalikkan arah kereta anginnya menuju ke Surau An Nur kembali, di susurinya perlahan jalanan menuju ke Surau An Nur berharap bertemu sang pujaan hati.


Namun hingga dirinya sampai kembali di Surau An Nur, tetap tak didapatinya Disya.


"Ya Allah, kemana engkau, Dis?"


"Kau membuat ku khawatir." gumam Muhibbin kembali, dari wajahnya nampak kecemasan akan keberadaan Disya tunangannya.


Kembali pemuda itu menuruni bukit dimana Surau An Nur berada, hari semakin gelap, di kayuhnya kembali tunggangan besinya.


Sementara diantara rimbunnya semak-semak di balik pepohonan yang sempat dilalui Muhibbin dan tak disadari oleh pemuda itu, nampak beberapa orang bertudung menutupi wajah-wajah mereka mengendap-endap bersembunyi mengamati Muhibbin yang telah jauh berlalu.


Salah satu diantara orang-orang tersebut nampak mendekap mulut seorang wanita yang hanya bisa menangis dan meronta berusaha melepaskan diri.


***


Saat bersamaan di sebuah rumah megah dipusat kota Negeri Pantai,


"Bunda, kenapa bunda kembali menangis?"


"Apakah Tiara melakukan kesalahan, sehingga membuat Bunda bersedih?" ujar seorang gadis kecil yang tak lain adalah Mutiara Rahmani pada sang ibu.


"Andaikan bunda tak seperti ini dan kakek mu masih ada, mungkin kau tak akan menderita seperti ini, nak!" ujar wanita yang terbaring dan tak lain adalah Sariwati pada sang anak.


Buliran-buliran air mata jatuh di pipinya, wajahnya yang nampak pucat terlihat kurus dengan tonjolan tulang rahangnya yang nampak jelas namun tak menghilangkan kesan wajah ayunya.


Tiara hanya terpaku di samping Sariwati, diusapnya air mata sang ibu dengan sebuah saputangan yang di pegangnya.


"Tiara tidak apa-apa, Bunda."


"Bunda tak perlu mengkhawatirkan Tiara."


"We Landep dan Me Iluh selalu memperhatikan dan menyayangi Tiara." ujar gadis kecil itu polos.

__ADS_1


Sesaat suasana kembali hening, tak berapa lama Sariwati berkata,


"Nak, Bunda minta tolong!"


"Tapi sebelumnya kau kunci terlebih dahulu pintu kamar ini."


"Dan ambilkan kotak yang ada di bawah ranjang Bunda, apa kamu bisa?" pinta Sariwati pada sang putri.


Gadis kecil itu hanya mengangguk ringan, dia melangkah ke arah pintu dan menguncinya, kemudian tak berselang lama tubuh mungilnya jongkok dan mengamati ke arah bawah ranjang sang ibu.


"Tidak ada apa-apa, Bunda!"


"Apalagi sebuah kotak."


"Hanya ada sebuah tikar dibawah sini" seru Tiara dari arah bawah ranjang.


"Iya, kau singkap saja tikar itu, nak!"


"nanti akan kau lihat lubang yang tertutup papan kayu dibawahnya." ujar Sariwati pada Tiara.


Tiara pun mengikuti apa yang dikatakan oleh sang ibu, matanya berbinar senang melihat sebuah papan yang menutupi lubang seperti yang dikatakan sang ibu.


"Aku menemukannya, Bunda!" pekik Tiara kegirangan.


Mendengar suara kegirangan sang putri, Sariwati berkata,


"Lirihkan suaramu, Tiara!"


"Cepat ambil kotak yang bunda katakan." seru Sariwati.


"Bukalah, nak!" ujar Sariwati lirih.


Dengan hati-hati Tiara membuka kotak kayu yang ada di depannya, gadis kecil itu melihat sebuah kain tenun berwarna hijau terlipat rapi didalamnya dan sebuah kotak kecil disampingnya.


"Hanya ada kain dan kotak kecil ini, Bunda." ujarnya sambil mengankat kain tenun berwarana hijau dengan rajutan benang emas di setiap sisinya.


"Ada sebuah cincin, Bunda!" ujarnya kembali pada Sariwati.


Mata Sariwati nampak berkaca-kaca kembali, sebuah senyum tersungging di bibirnya sambil melihat sang putri.


"Dekatkan pada bunda, Nak!"


"Bunda ingin mencium kain itu." serunya pada sang anak, wanita ayu yang tak bisa menggerakkan tubuhnya itu hanya memandang benda yang ada di tangan Tiara.


Dengan perlahan, Tiara mendekatkan kain yang dipegangnya pada wajah sang ibu, sejurus kemudian nampak Sariwati memejamkan matanya sambil mencium kain tersebut.


Sejenak Sariwati teringat perpisahannya terakhir kali dengan sang kekasih dan mengulas kejadian sewindu yang lalu sebelum dirinya memutuskan pergi dari Griya Manuaba kediaman Resi Giri Waja.


"Bawalah cincin itu bersamamu."


"Dan sebaiknya kau serahkan sendiri pada Nak Mas Muhibbin."


"Jika kalian berjodoh, suatu saat akan dipertemukan kembali oleh Sang Hyang widhi."

__ADS_1


"Pergilah jika itu keputusan yang akan kau ambil, Ni Mas!"


"Arsana akan menemanimu sampai ke kota Negeri Pantai." ujar Resi Giri Waja pada Sariwati.


Sariwati hanya menunduk lesu dihadapan sang Resi.


"Muhibbin!" ujar Sariwati tanpa sadar, wanita itu masih menutup matanya dan menciumi kain hijau tersebut.


"Bunda!"


"Bunda!"


Suara Tiara membuyarkan lamunan Sariwati.


"Eh, emm! Iya, Tiara!" ujar Sariwati tatkala mendengar panggilan sang anak.


"Bunda, bunda kenapa lagi?"


"Baru saja bunda menyebut nama seseorang."


"Muhibbin!"


"Siapa Muhibbin, Bunda?" tanya Tiara pada sang ibu.


Sariwati terlihat salah tingkah dihadapan sang anak dan hanya bisa menjawab seadanya,


"Bukan siapa-siapa, cah ayu."


"Dia hanya kawan lama bunda." ujarnya terbata-bata.


"Tiara!"


"Kain sorban dan cincin itu bunda hadiahkan untuk kamu, cah ayu!"


"Namun bunda berpesan pada Tiara."


"Jaga baik-baik kedua benda tersebut."


"Terutama cincin itu, nak!"


"Cincin itu adalah peninggalan leluhurmu dan jangan sampai jatuh ketangan orang lain."


"Simpan baik-baik dan jangan Tiara perlihatkan pada siapapun!"


"Apa Tiara sanggup menjaga amanah dan permintaan bunda, nak?" seru Sariwati pada sang anak, ada rasa bersalah menggelayuti hati wanita ayu itu tatkala tak kuasa menceritakan yang sebenar pada putri semata wayangnya.


"Iya, bunda!"


"Tiara akan menjaga kedua benda ini sebaik-baiknya." jawab Mutiara dengan polosnya.


Sariwati mengulas senyum pada buah hatinya,


"Sekarang kamu kembalikan lagi kotak kayu itu pada tempatnya semula."

__ADS_1


"Tutup kembali seperti sediakala, nduk!" pungkas wanita itu dan sang buah hati menuruti apa yang dikatakan ibunya.


*****


__ADS_2