
Plak, plak, plak!
Terdengar orang bertepuk tangan dengan langkah mantab masuki ruangan.
"Akhirnya aku akan bisa melihat bagaimana pemuda kampungan itu akan merasakan penderitaan yang kurasakan selama ini." ujar salah seorang dari beberapa orang yang baru saja memasuki kamar tersebut.
Pandangan pak Min dan Disya mengarah pada datangnya suara,
"Den Mas!" sapa pak Min penuh hormat pada pria berpakaian layaknya bangsawan kerajaan Zamrud itu, lelaki tua tersebut membungkukkan badan dihadapan majikannya.
"Kerja bagus, pak Min."
"Aku membayangkan bagaimana saat pemuda itu bertemu dengan tunangannya ini,"
"Dia akan merasakan sakit hati jika tau calon istrinya sudah tak suci lagi." ujar pria bangsawan itu sambil menyeringai.
Sontak hal itu membuat Disya yang berada tak jauh dari para penyekapnya terkejut dan membelalakkan matanya kembali.
"Apa yang kau katakan?"
"Apa maksud semua ini?" ucapnya bergetar, matanya kembali berembun dan air mata pun jatuh diantara isakkan tangisnya.
"Pak Min, apa maksud perkataan orang ini?" kembali Disya berkata dengan suara parau.
Pak Min pun tak mengerti apa yaag dikatakan Seto majikannya, sejak dirinya memberi tau keberadaan Muhibbin dan Disya pada orang-orang juragan Yanto, pak Min tak terlibat langsung dengan aksi-aksi berikutnya dan berpura-pura mencari Disya bersama tuan Sirkun.
"Hahaha! nikmati saja apa yang terjadi, Nona!"
"Kalau perlu, aku juga mau merasakan nikmatnya tubuhmu seperti yang dilakukan Yanto padamu." ucap pria bangsawan itu kembali sambil tertawa penuh kemenangan.
"Tidak mungkin!"
"Tidak mungkin!"
"Pak Min katakan! semua yang diucapkan orang ini tak benar kan, pak Min?" suara Disya meninggi, tangannya merengkuh lengan pak Min dan menggoyangkannya, namun dengan wajah memerah menahan marah, pak Min membiarkan tangannya dari rengkuhan Disya.
Tatapan pak Min kebingungan mengarah pada Disya, apa yang baru saja didengarnya diluar perkiraannya, yang dia tau tugasnya hanya memberikan informasi siapa saja yang berhubungan dengan pria penjaga surau itu, termasuk aktifitas tuan Sirkun dan Majikannya Seto hanya meminta memberi tau keberadaan Muhibbin dan Disya disaat yang tepat.
Sementara pria bangsawan yang tak lain Seto Nugroho mantan suami Sariwati tersebut tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Disya.
"Kenapa?"
"Kau terkejut dan tak percaya dengan yang ku katakan?"
"Atau kau memang sudah tidak suci lagi sebelum kejadian ini dan tunangan mu itu sering menyentuhmu?" ucap Seto dengan pandangan sinis dan kembali tertawa lebar.
"Jaga ucapan mu?"
"Jangan samakan aku dengan bekas istrimu yang tak bisa menjaga kehormatannya itu!" seru Disya sambil menangis, tubuhnya gemetar menahan amarahnya, matanya yang sembab terus menatap Seto didepannya.
"Hahaha!"
"Oh ya! aku terkejut." jawab Seto dengan gestur mengejek Disya, lelaki itu meneruskan ucapannnya sambil tertawa,
__ADS_1
"Sekarang apa bedanya kau dengan bekas istriku saat ini?"
"Kalian para wanita gampang di kelabui."
"Sedikit janji manis dan pujian membuat kalian melayang lupa diri dan menyerahkan semua yang kalian miliki."
"Kau sama hinanya dengan Sariwati!" ujar Seto kembali.
"Jaga mulutmu!" hardik Disya penuh amarah, kini gadis itu melangkah dan hendak melayangkan tangannya ke arah pria yang masih tertawa didepannya, namun sebelum tamparan itu mendarat diwajahnya, Seto mencengkeram tangan Disya.
Ditariknya tangan gadis itu hingga membuat tubuh Disya jatuh dalam dekapan Seto dan dengan berbisik pria itu berkata,
"Percuma kau marah!"
"Sebentar lagi dirimu dan tunangan mu akan merasakan balasan yang tak pernah kalian bayangkan."
"Namun sebelum itu terjadi, aku akan menikmati tubuhmu terlebih dahulu." bisik Seto sambil meremas buah dada gadis di pelukannya itu, pandangan penuh birahi nampak pada mata Seto, tangan lelaki itu kembali beraksi menjamah bagian tubuh Disya. Gadis itu hanya bisa meronta dan menangis, sementara orang-orang yang ada di ruangan itu tertawa melihat bangsawan dari Negeri Tidar itu melakukan aksinya pada putri tuan Sirkun tersebut kecuali pak Min, pria tua itu memalingkan muka, wajahnya memerah menahan amarah melihat prilaku majikannya, bagaimanapun selama ini dirinya juga dekat dengan Disya dan ayahnya.
Aksi Seto semakin menjadi, kini pria itu berusaha mencium wajah Disya namun gadis itu memalingkan wajahnya menghindari ciuman Seto.
"Hahaha, lihatlah wanita ini."
"Dia masih berlagak jual mahal setelah apa yang Yanto lakukan."
"Dia kira dirinya masih memiliki nilai!" ujar Seto pada orang-orang disekelilingnya.
"Hai Nona! kau tau bagaimana botol yang telah hilang tutupnya?"
"Walaupun isinya manis memabukkan namun rusak kemasannya, itu membuat turun harganya."
"Terima saja, toh dirimu juga menikmatinya" ujar lelaki itu sambil menggerayangi tubuh Disya.
Disya terus meronta namun Seto tak memperdulikannya, lelaki itu berkata kembali,
"kalau perlu, kalian semua yang ada di ruangan ini boleh menikmati tubuhnya, setelah aku puas melakukannya." ujar Seto pada orang-orang disekitarnya, tawa kemenangan terus terlihat diwajah priyayi Negeri Tidar itu, perkataan pria bangsawan itu pun kembali disambut gelak tawa oleh orang-orang di dalam ruangan tersebut.
Disya semakin meronta berusaha melepaskan diri, namun gadis itu tak berdaya dalam dekapan Seto.
Tiba-tiba salah seorang anggota kelompok Garuda Merah menyeruak diantara orang-orang yang mengelilingi Seto dan Disya.
"Maaf tuan, Ni Mas Habsari memanggil tuan dan telah menunggu di ruangan tengah."
"Saya diperintahkan untuk menjemput tuan." ujar anggota Garuda Merah itu berbisik pada Seto.
Melihat kedatangan orang suruhan Habsari, wajah Seto terlihat berang karena aksi bermain-main dengan tunangan musuhnya itu diganggu oleh anggota Garuda Merah.
Dengan mendengus kesal pria itu mendorong keras tubuh Disya hingga terjerembab dilantai kamar.
Gadis itu hanya menangis dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Kalian awasi ruangan ini!"
"Aku belum selesai bermain dengannya." ujar Seto pada orang-orang disekelilingnya,
__ADS_1
"Dan kau pak Min, kau tetap berjaga disini."
"Ikat gadis ini sampai aku kembali." pungkas Seto pada pak Min sebelum melangkah keluar mengikuti anggota kelompok Garuda Merah untuk menghadap Habsari.
Pak Min tergagap dengan seruan majikannya dan hanya menganggukkan kepala, pria tua itu tertegun menyaksikan pemandangan yang baru saja terjadi dihadapannya, rahang lelaki tua itu gemeretak menahan kemarahan, sementara orang-orang suruhan Seto berjaga diluar ruangan seperti yang diperintahkan sang majikan.
***
Di ruangan tengah bangunan kuno tersebut, nampak seorang lelaki terikat di tiang bangunan dengan kepala ditutupi kain hitam, bekas darah masih terlihat di penutup kepalanya, semantara di bagian tiang yang lain sesosok tubuh tergolek tak bernyawa dengan beberapa luka tusukan di dadanya, aroma anyir darah yang mulai mengering dilantai masih tercium menyengat.
Seto melangkah mendekat kearah wanita yang duduk disebuah kursi kayu dengan pengawal setianya selalu berdiri di dekatnya.
Pria itu sedikit terkejut dan bergidik melihat sosok tubuh yang dikenalnya dengan penuh luka dan masih terikat di tiang,
"Kakak memanggil saya?" ujarnya pada wanita dihadapannya yang tak lain adalah Habsari.
"Beri dia kursi!" perintah Habsari pada anak buahnya, tak berapa lama seorang anggota kelompok Garuda Merah membawa kursi dan diserahkan pada Seto yang masih berdiri.
"Duduklah!"
"Ada yang perlu ku sampaikan padamu." ucap Habsari dingin.
Pria bangsawan itu pun duduk berhadapan dengan sang pewaris Garuda Emas.
"Kau tau, kenapa aku memanggilmu kemari?" tanya Habsari pada Seto dan pria itu hanya menggelengkan kepalanya.
Dengan senyum dingin Habsari berkata,
"Saat ini kau bisa melampiaskan kekesalan mu selama ini." ujar Hasari tanpa ekspresi sambil memberi isyarat pada Martin disebelahnya, Martin pun tau yang dimaksud oleh majikannya.
Lelaki berperawakan tinggi besar itu melangkah mendekati sesosok tubuh yang terikat dengan kain hitam menutupi kepalanya, disingkapnya penutup itu dan nampak seorang lelaki dengan keadaan pingsan tak berdaya.
Melihat hal itu, Seto terkesiap. Pria bangsawan itu kemudian menyeringai.
Habsari tersenyum dingin melihat reaksi bekas iparnya tersebut,
"Kau bebas melakukan apa saja sesuai keinginanmu setelah ku dapatkan apa yang kuinginkan dari lelaki kampungan itu."
"Namun sebelum benda yg kuinginkan itu berada dalam genggamanku, jangan sekali-kali kau berbuat diluar batasan mu termasuk pada kekasihnya!"
"Atau kau akan bernasib sama seperti Yanto."
"apakah kau mengerti?" ujar Habsari berubah dingin dengan sorot mata tajam mengintimidasi.
Seto sedikit bergidik melihat ketegasan dan perubahan wajah Habsari, namun dalam hati pemuda itu memiliki rencana lain, "Di sangkanya dirimu saja yang bisa berbuat kejam, Kak."
"Kau belum tau siapa diriku." gumamnya dalam hati.
Dengan anggukan kepala pemuda itu berkata, "Baik kak, saya akan selalu mengingat apa yang kakak sampaikan." ucap Seto pada Habsari.
"Bagus!"
"Dan seharusnya memang seperti itu." jawab wanita itu singkat.
__ADS_1
*****