KAHANAN

KAHANAN
CH 62 - PERTUNANGAN PART VI


__ADS_3

Sementara di balai banjar Manguntur, suasana sore yang sejuk terasa panas. perdebatan demi perdebatan para warga yang hadir dalam Paruman yang di pimpin Jero Perbekel semakin sengit. Warga Manguntur diresahkan oleh pengambilan paksa tanah warga yang dilakukan oleh salah seorang kaya raya dari negeri manca yang telah membeli tanah warga secara sepihak dengan harga yang tidak sesuai dengan harga pasaran tanah di Negeri Pantai.


Kejadian ini di alami beberapa warga yang awalnya di iming-imingi harga selangit namun pada kenyataannya para warga tersebut di tipu mentah-mentah oleh orang suruhan pengusaha kaya yang mengaku sebagai anggota inti keluarga Dinasti Harsuto mantan penguasa Kerajaan Zamrud yang Negeri Pantai menjadi salah satu wilayah koloninya.


"Pe Sapat! tolong jelaskan pada ku bagaimana awalnya dirimu menjual tanah pada pengusaha itu melalui perantara Sanglir?" tanga Jero Mekel Nengah Wirata.


Lelaki yang di panggil Sapat dengan cucuran air mata bercerita tentang asal-muasal terjual tanah miliknya pada Jero Mekel.


"Saya di tipu mentah-mentah Jero, awalnya Sanglir datang ke rumah saya mengatakan bahwa tanah pekarangan milik saya yang ada di dekat pantai Purnama akan di beli oleh seorang pengusaha kaya dari Negeri Banjir dengan harga sesuai. Namun kenyataannya uang yang saya terima tidak sesuai dengan kenyataan yang saya terima." ujar Pe Sapat masih terisak.


"Bohong dia itu, Jero!"


"Dia sendiri yang membubuhkan teken pada surat perjanjian yang di sepakatinya." pekik  Sanglir naik pitam.


"Kau jangan memutar balikkan fakta, Sanglir!"


"Disini bukan cuma aku saja yang telah kau tipu bersama juragan mu itu!"


"Masih ada beberapa orang yang telah kamu perdaya pula hadir ditempat ini." sanggah Pe Sapat pada Sanglir.


Suasana ricuh tak terelakkan lagi, para korban yang terperdaya tipu muslihat Sanglir satu persatu angkat bicara dan Sanglir pun tetap bersikukuh bahwa dirinya tetap merasa tak bersalah. Lelaki berperawakan gemuk dan bogel itu menunjukkan bukti salinan surat yang di teken oleh beberapa warga yang mempermasalahkan kebenaran surat itu.


Pak Nengah selaku Jero perbekel menegahi debat kusir para warganya.


"Hentikan! tolong satu-persatu yang bicara,"


"Pe Sapat, tolong katakan yang gamblang semuanya padaku! dan kau Sanglir jangan memotong pembicaraan sebelum dirimu aku suruh bicara." seru Jero Mekel dengan sorot mata tajam penuh wibawa.


Pe Sapat menceritakan semua yang telah disepakati olehnya dengan Sanglir sebagai perantara pengusaha itu, awalnya tanah miliknya di hargai seribu lima ratus Ru per are nya, namun dalam kenyataannya hanya dibayar lima ratus Ru per arenya. Di samping itu surat perjanjian yang di tekennya awalnya hanya kertas kosong dengan dalih bahwa surat itu nantinya akan sama-sama di teken oleh juragannya setelah melihat lokasi tanah dan selaku pihak pemilik sebelumnya telah diberi uang panjer sebesar seribu Ru oleh Sanglir atas perintah juragannya dari Negeri Banjir.


Namun setelah lokasi dilihat oleh wakil pengusaha itu yang didampingi oleh Sanglir dan Pe Sapat selaku pemilik, sang juragan hanya melunasi sebesar lima ratus Ru sebagai sisa pembayaran dengan luas tanah tiga are yang seharusnya Pe Sapat selaku pemilik menerima tiga ribu Ru dan ketika di tanyakan pada perwakilan pengusaha itu dan Sanglir, bukannya uang yang di dapatkan melainkan perlakuan kasar dan ancaman  yang di terima Pe Sapat oleh pengawal-pengawal pengusaha itu. Hal itu juga di alami beberapa warga yang melakukan jual beli dengan pengusaha dari Negeri Banjir itu.


Mendengar penuturan para warganya, Jero Mekel Nengah Wirata  berusaha hati-hati mencermati dan mengambil keputusan yang terbaik untuk kedua belah pihak.Kini sorot mata Jero Mekel beralih ke Sanglir.

__ADS_1


"Sanglir! apa benar yang dikatakan Pe Sapat dan beberapa warga tadi?" tanya Jero Mekel pada lelaki dihadapannya.


"Semua itu tak benar, Jero!"


"Tanah mereka saja yang jelek lokasinya, sehingga juragan saya hanya mau membayar sesuai kondisi lokasinya." ujar Sanglir.


"Bajing*an kau, Sanglir!"


"Pandai kau bersilat lidah dan membalikkan fakta yang ada." pekik Pe Sapat geram.


Jero Mekel berusaha menenangkan kedua belah pihak yang saling bersahutan dengan argumen masing-masing.


"Cukup, hentikan!"


"Sudah ku katakan, satu persatu yang bicara!"


"Sanglir, teruskan!" hardik Jero Mekel pada orang-orang dihadapannya.


Sanglir menceritakan semua yang telah menjadi kesepakatan antara dirinya dan perwakilan pengusaha Negeri Banjir dengan pihak pemilik termasuk Pe Sapat, dan tentang pengancaman oleh pengawal-pengawal pengusaha itu hanya sebagai bentuk membela diri dari kengototan pihak pemilik tanah." dalih Sanglir berkelit.


"Coba tunjukkan padaku salinan perjanjian jual beli tanah yang engkau katakan tadi." seru Jero Mekel Nengah Wirata. Sanglir menyodorkan beberapa surat-surat pada pemimpin desa Batubulan itu. Dengan seksama  Jero Mekel membacanya, ada beberapa poin yang memang terlihat sangat merugikan pihak pemilik tanah terutama tentang lokasi tanah dan perubahan harga bila tak sesuai dengan kondisi lokasi tanah itu berada, apalagi telah dibubuhi teken sebagai tanda persetujuan kedua belah pihak.


Jero Mekel memandang lekat-lekat pada Sanglir di hadapannya.


"Kau tau apa konsekwensi memalsukan atau memanipulasi perjanjian seperti ini, Sanglir?"


"Bila ini terbukti kau memalsukannya, hukuman kerangkeng akan kau terima!" seru Jero Mekel Nengah Wirata mengintimidasi lelaki dihadapannya.


"Silahkan saja Jero Mekel berkesimpulan seperti itu, tapi aku dan juragan ku tetap pada pedoman surat perjanjian itu dan tak akan ada orang yang bisa merubah hasil kesepakatan itu, termasuk anda, Jero!" ujar Sanglir jumawa.


Mendengar perkataan Sanglir, darah Jero Perbekel bergolak.


"Kurang ajar kau, Sanglir!"

__ADS_1


"Di sangkanya aku bodoh dan buta tak bisa melihat permainan licik mu dan juragan mu!"  hardik pak Nengah Wirata.


"Siapa juragan mu, sehingga kau sangat jumawa berani melawan Perbekel mu?" imbuh lelaki itu masih dengan nada tinggi. Matanya memerah menahan amarah pada lelaki bogel di hadapannya.


Melihat perubahan sikap Jero Perbekel, Sanglir pun ciut nyalinya. Dia tau bagaimana gigih dan beraninya Jero Perbekel jika berada di pihak yang benar. namun akal bulus Sanglir dan merasa memiliki pelindung yang jauh dari jangkauan hukum membuat nyalinya kembali naik, dengan senyum licik dia berkata,


"Raden ayu Habsari Bonawati tak akan tinggal diam jika aku kau persalahkan, Jero!"


"Kau tak tau sedang berhadapan dengan siapa untuk kali ini?" ujarnya penuh kesombongan.


Jero Perbekel yang telah bergolak darahnya mulai bangkit, tangannya yang kekar menghantam muka Sanglir,


'Plakk'


"Kurang ajar, manusia tak tau di untung!" pekik Jero Mekel Nengah Wirata.


Darah merembes di bibir Sanglir, lelaki bogel itu tertelungkup setelah tangan pak Nengah mendarat di wajahnya.


"Jero Pecalang! seret bajing*an ini menjauh dari hadapanku, sangsi adat akan dia terima!" perintah pak Nengah pada kepala Pecalang. Jero Pecalang menggelandang Sanglir keluar dari balai banjar Manguntur. Teriakan penuh rasa tak puas dan sumpah serapah di lontarkan Sanglir pada Jero Perbekel.


"Kau akan tanggung akibatnya berani menentang dan mencari masalah dengan keluarga dinasti Garuda Emas, Jero!"


"Tunggu pembalasanku." seru Sanglir saat di seret keluar oleh Jero Pecalang.


Nengah Wirata mengatur nafasnya dan berkata kembali,


"Pe Sapat dan para warga! masalah ini akan aku bawa ke tuan gubernur, biar beliau dan para Bhayangkara yang akan menyelesaikannya, ini sudah di luar dari kekuasaan ku, pertemuan Paruman aku nyatakan selesai dan kalian bisa bubar meninggalkan tempat ini." ujar pak Nengah dengan suara berat, pikirannya berkecamuk antara marah dan kekhawatiran akan nasib para warganya.


"Baik Jero!" ujar para warga serentak termasuk Pe Sapat. mereka pun meninggalkan balai banjar Manguntur dengan perasaan tak puas.


------------------------------------------------------


*Ru : Mata uang koloni kerajaan Zamrud

__ADS_1


*Are : sepuluh meter persegi


__ADS_2