KAHANAN

KAHANAN
CH 97 - TERKUAKNYA DALANG KERUSUHAN PART III


__ADS_3

Kedua orang penjaga tetap membawa Wakil Prawira Utama Bhayangkara kedalam ruang tahanan, pria itu terus meronta dan berteriak untuk dilepaskan, namun orang-orang suruhan sang Gubernur tetap menyeretnya dan mengikat kedua tangan lelaki itu di langit-langit ruangan tahanan.


Sejurus kemudian tuan Timoti menyusul dari belakang dan lelaki itu terlihat memegang sebuah cambuk yang terdapat sebuah pisau kecil terikat di ujungnya.


"Kalian tinggalkan kami dan tetap berjaga di luar!" seru tuan Timoti pada kedua penjaga di dekatnya dengan suara dingin, keduanya pun melangkah keluar meninggalkan Penguasa Negeri Pantai itu bersama Wakil Prawira Utama Bhayangkara yang masih terikat ditengah ruangan tahanan tersebut.


Mata Wakil Pimpinan Bhayangkara itu terlihat nanar memandang kearah Sang Gubernur dengan wajah gelisah,


"Tuan, tolong dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu."


"Saya sungguh tak mengerti dengan maksud perkataan tuan tadi," ujar lelaki itu bergetar.


"Saya benar-benar berada di kediaman keluarga saya diluar kota dan kondisi kesehatan saya saat itu memang tidak memungkinkan untuk menjalankan tugas." imbuh Wakil Pimpinan Bhayangkara itu dengan suara terbata-bata berusaha mempengaruhi jalan pikiran tuan Timoti.


Namun tuan Timoti tak bergeming dengan suara mengiba lelaki di hadapannya.


"Kau tak perlu berbasa-basi lagi,"


"Katakan! apakah kau terlibat dengan semua kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini di Negeri Pantai terutama di banjar Manguntur?"


"Siapa orang yang menyuruhmu melakukan semua ini?"


"Dan imbalan apa yang dia janjikan pada mu sehingga dirimu berkhianat dan melanggar sumpah janji seorang Bhayangkara?" tanya tuan Timoti pada Wakil Pimpinan Bhayangkara yang masih terikat di hadapannya, wajah Sang Gubernur dingin dengan menahan kegeramannya.


"Saya tak tau yang tuan maksudkan."


"Semua sudah saya katakan pada, Tuan." jawab Wakil Pimpinan Bhayangkara itu dengan wajah pucat pasi.


Sebuah lecutan cambuk mendarat ditubuh lelaki itu.


Ctaaar!


"Ahhhhh!" suara erangan kesakitan terdengar dari bibir Wakil Pimpinan Bhayangkara itu tatkala ujung cambuk yang terikat pisau kecil mendarat di tubuhnya.


Ctaaarr!


kembali cambukan mendarat di tubuh lelaki itu dan erangan kesakitan terdengar kembali.


"Katakan dengan jujur!"


"Siapa yang menyuruhmu!" hardik tuan Timoti kembali.


Cambukan demi cambukan terus melayang di tubuh Wakil Pimpinan Bhayangkara dan tuan Timoti dengan dingin melakukannya dan tak menghiraukan suara jeritan menyayat dari lelaki di depannya.


Darah mulai merembes dari balik pakaian Wakil Pimpinan Bhayangkara, erangan kesakitan akibat cambuk bermata pisau di ujungnya yang mengoyak tubuh Wakil Pimpinan Bhayangkara itu terasa perih dan dengan dingin tuan Timoti terus mendaratkan lecutan cambuknya.


"Cepat katakan!"


"Siapa dalang semua ini!" hardik Pimpinan Negeri Pantai itu, pria itu terus mengayunkan cambuk ditangannya.


Teriakan kesakitan terus terdengar hingga ke luar ruangan tahanan yang tak begitu lebar itu.


Para penjaga yang berada diluar bergidik melihat perlakuan sadis tuan Timoti pada Wakil Pimpinan Bhayangkara.


Setelah sekian lama lecutan demi lecutan cambuk tuan Timoti membuat Wakil Pimpinan Bhayangkara yang menjadi pesakitan tersebut kini kehilangan kesadarannya, pria dengan tangan terikat itu lunglai dengan kondisi pingsan, namun hal itu tak menyurutkan siksaan yang diberikan oleh tuan Timoti pada dirinya.


Terlihat Gubernur Negeri Pantai itu melangkah ke sudut ruangan dan mengambil timba yang berisi air garam di dalamnya.

__ADS_1


Dengan sebelah tangannya, tuan Timoti menyiramkan air garam itu pada tubuh penuh luka Wakil Pimpinan Bhayangkara yang tak sadarkan diri.


Lelaki yang menjadi pesakitan itu tersadar dari pingsannya. Gelinjang tubuh dan erangan kesakitan terdengar dari bibirnya, sekujur badannya yang penuh luka, terasa perih tersiram air garam yang di lakukan oleh tuan Timoti, namun kembali Sang Gubernur tidak bergeming.


Kini tuan Timoti mendekat dengan memegang besi panas si tangannya.


"Katakan siapa dalang semua kekacauan ini!"


"Kau mau mengaku atau tidak!" hardik tuan Timoti dengan wajah dingin.


"Atau kau menginginkan siksaan yang lebih kejam lagi dariku?" imbuh tuan Timoti sambil mencengkram wajah Wakil Pimpinan Bhayangkara dengan menggunakan tangan kirinya.


Sang Pesakitan tetap saja dengan jawaban seperti semula, pria itu tetap tidak mau mengakui perbuatannya.


Hal itu membuat tuan Timoti semakin naik pitam, sang Gubernur kini menyundutkan besi panas yang di pegangnya pada pipi Wakil Pimpinan Bhayangkara, lelaki yang sudah tak berdaya dengan tubuh penuh luka itu, kini berteriak keras hingga terdengar sampai ke luar ruangan tahanan.


Para Penjaga tahanan yang ada di luar ruangan kembali bergidik mendengar suara rintihan kesakitan Wakil Pimpinan Bhayangkara akibat siksaan yang dilakukan oleh tuan Timoti, suara menyayat membuat meremang bulu tengkuk siapa saja yang mendengarnya.


Namun sang Gubernur tetap tak menghiraukan jeritan lelaki didepannya, pemimpin Negeri Pantai itu semakin dibuat meradang dengan bungkamnya Wakil Pimpinan Bhayangkara yang tetap tak mau mengakui perbuatannya.


"Aku ingin tau, sekuat apa dirimu menahan siksaan ku!" bisik tuan Timoti pada Wakil Pimpinan Bhayangkara.


Sang gubernur Negeri Pantai itu menghempaskan besi panas yang dipegangnya, kini dia melangkah ke arah tumpukan karung goni dan memungut salah satunya.


Lelaki yang biasanya terlihat tenang dan berwibawa itu, kini berubah drastis perangainya, tuan Timoti terlihat sangat dingin dan kejam tatkala menyiksa para tahanan, termasuk kini Wakil Prawira Utama yang berkhianat khususnya pada kesatuan Bhayangkara.


Sang pemimpin tanah kepingan Nirwana itu terlihat memotong setengah bagian karung yang dipungutnya, dalam setengah sadar Wakil Prawira Utama melihat apa yang dilakukan oleh tuan Timoti, lelaki pesakitan itu tak tau siksaan apa yang akan menimpanya kembali, dia hanya bisa mengira-ngira diantara sadar dan tidak dari pingsannya, tentang apa yang akan dilakukan oleh gubernur Negeri Pantai itu.


Sejurus kemudian tuan Timoti melangkah ke arah Wakil Prawira Utama dan tangannya dengan sigap menutup kepala pria pesakitan itu dengan karung goni yang dipotongnya, tangan pimpinan Negeri Pantai itu mengikat penutup wajah Wakil Prawira Utama yang kondisinya setengah sadar, pria pesakitan itu meronta tatkala bagian kepalanya ditutup karung goni oleh tuan Timoti.


Semua mata para penjaga yang ada di luar ruangan tak berani menatap tuan Timoti, mereka hanya diam membisu melihat sang Gubernur terus menyeret tubuh lunglai Wakil Prawira Utama ke bagian belakang penjara, dimana terdapat sebuah Blumbang berisi air bekas pembuangan dengan ukuran tak begitu besar.


"Penjaga, cepat kemari!" teriak tuan Timoti pada penjaga ruang tahanan.


Beberapa penjaga dengan tergopoh-gopoh berlari kearah tuan Timoti.


"Kau ikat kaki manusia pengkhianat ini ke arah tiang gantungan yang ada di tengah itu!" seru tuan Timoti sambil menunjuk ke arah tengah Blumbang dimana terdapat sebuah balok kayu melintang diatasnya.


Dengan sigap para penjaga menjalankan perintah sang Gubernur, kini tubuh Wakil Prawira Utama tergantung dengan posisi kepala berada di bawah dan wajah masih tertutup karung goni, pria pesakitan itu terus meronta dan berteriak memohon untuk di lepaskan, darah terus merembes dari tubuhnya yang penuh luka cambukan dan sundutan besi panas yang sebelumnya telah diterimanya.


"Turunkan!" perintah tuan Timoti pada dua orang penjaga yang memegang tali. Dengan perlahan tubuh Wakil Prawira Utama meluncur ke dalam Blumbang berisi air pembuangan yang ditampung didalamnya. Lelaki itu meronta kehabisan nafas tatkala tubuhnya berada di dalam air pembuangan.


"Tarik!" perintah tuan Timoti kembali. Para penjaga kembali menarik tubuh Wakil Prawira Utama hingga keluar dari dalam air.


"Apakah kau masih bersikeras tak mau mengaku, siapa yang menyuruhmu?" suara tuan Timoti kembali terdengar, namun Wakil Prawira Utama dengan nafas tersengal akibat air yang membasahi penutup kepalanya masih tak bergeming.


"Turunkan!" kembali perintah tuan Timoti pada para penjaga, tubuh lelaki pesakitan itu kembali meluncur kedalam air.


Berkali-kali tubuh Wakil Prawira Utama di turunkan dan di tarik dari dalam air, lelaki itu terlihat lemas dengan nafas yang memburu dan sesekali terbatuk akibat air memasuki tenggorokan hingga ke dalam tubuhnya.


Tiba-tiba terdengar rintihan lirih dari Wakil Prawira Utama,


"Lepaskan saya, saya akan katakan semuanya." ujar pria itu terbata-bata.


Kini tuan Timoti bangkit dari tempatnya duduk dan menghampiri lelaki pesakitan didepannya.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu!" seru tuan Timoti dingin. Pemimpin Negeri Pantai itu membuka penutup wajah Wakil Prawira Utama.

__ADS_1


Dengan nafas tersengal sang Pesakitan berkata,


"Ni Mas Habsari, Tuan." ujar Wakil Prawira Utama lirih sebelum tubuhnya kembali lunglai hilang kesadaran.


Bagaikan disambar petir disiang bolong mendengar pengakuan Wakil Prawira Utama itu membuat tubuh tuan Timoti bergetar, gerahamnya gemeretak dengan wajah merah padam menahan kemarahan.


"Kurang ajar!"


"Ternyata Habsari dalang kekacauan semua ini." gumamnya dalam hati. Tangannya mengepal menggambarkan kemarahan yang sudah tak tertahan.


"Penjaga, bawa manusia pengkhianat ini kembali ke ruang tahanannya, aku masih belum selesai dengannya!" ujar tuan Timoti pada para penjaga yang ada di depannya, pemimpin Negeri Pantai itu kemudian melangkah meninggalkan tempat itu dan menuju ke ruangan perawatan dimana Cokro sang Prawira Utama Bhayangkara dirawat.


***


Sementara di regol penjagaan pusat komando pasukan Bhayangkara, terlihat seorang petugas tergopoh-gopoh mengayuh kereta angin yang dikendarainya. Tak selang berapa lama pria berpakaian Bhayangkara itu menghampiri pos penjagaan dan memarkir kendaraan besi di sengker yang ada di depannya.


"Apa tuan Gubernur ada didalam?" tanya pria itu pada para penjaga setibanya di depan pos penjagaan.


"Ada apa, Kawan? Beliau ada di dalam." jawab penjaga pos pusat komando pasukan Bhayangkara.


"Aku harus segera bertemu Beliau, ada pesan penting dari rumah kediaman dari keluarga Beliau." jawab lelaki itu pada rekan sejawatnya.


Tanpa menunggu lama, pembawa pesan itu dihantarkan menghadap tuan Timoti yang berada di dalam. keduanya memasuki ruangan dengan langkah lebar mengesankan terburu-buru dan keadaan darurat.


Sesampainya di dalam, keduanya tak langsung masuk, salah satu penjaga pos meminta sang pembawa pesan untuk menunggu, lelaki itu kemudian melangkah kedalam tatkala melihat tuan Timoti berada di ruangan pengobatan dimana Cokro sang Prawira Utama Bhayangkara dirawat.


"Maaf Tuan, ada penjaga kediaman tuan ingin menghadap." ujar penjaga pos komando pada tuan Timoti.


Pimpinan Negeri Pantai itu menoleh dan terlihat menautkan alisnya,


"Ada apa?"


"Mengapa penjaga rumahku datang kemari?"


"Suruh dia masuk." jawab tuan Timoti pada penjaga pos komando.


Lelaki itu melangkah keluar ruangan dan tak selang berapa lama kembali bersama sejawatnya menghadap tuan Timoti.


Melihat kedatangan kedua Bhayangkara si depannya, sang Gubernur mengayunkan langkahnya dan mendekat.


"Ada apa kau kemari?" tanya pria itu pada salah seorang Bhayangkara yang tak lain penjaga di kediamannya yang baru saja tiba.


"Maaf Tuan, saya di perintah Ni Mas Sariwati untuk menjemput Tuan."


"Tuan besar Bendowo saat ini pingsan di rumah kediaman, Tuan." jawab pembawa pesan itu pada tuan Timoti.


Wajah sang Gubernur terlihat terkejut,


"Apa kau bilang, Wati anakku yang menyuruhmu ke mari?"


"Kapan dia datang dan apa yang terjadi dengan Kang Mas Bendowo?" tanya tuan Timoti.


Dengan singkat, pembawa pesan itu menceritakan apa yang telah terjadi di rumah kediaman gubernuran termasuk kedatangan Sariwatii dan pertengkaran Habsari dengan tuan Bemdowo.


Mendengar kabar dari anak buahnya itu, tuan Timoti segera melangkah meninggalkan ruangan perawatan diiringi oleh pembawa pesan itu menuju kediamannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2