
Pekatnya malam dan jalanan yang licin akibat guyuran hujan tak menyurutkan langkah Muhibbin dan Sariwati menuju kediaman Resi Giri Waja, sebuah angkul-angkul megah mulai nampak di depan mereka. Temaramnya penerangan obor sedikit membantu memudahkan kedua sejoli itu menaiki anak tangga Griya Manuaba.
"Kau tak apa-apa, Bin?"
"Kulihat sejak di bawah bukit tadi wajahmu selalu murung, apa yang kau pikirkan?" pandangan Sariwati tertuju pada Muhibbin di sampingnya, gadis itu merasakan perubahan drastis dari sikap kekasihnya.
"Entahlah, Wati."
"Perasaanku semakin tak enak, penyebabnya pun aku tak tau." jawab Muhibbin lirih, pemuda itu terlihat menurunkan tas dan buntalan yang di panggul di bahunya, tangannya mulai mengetuk pintu angkul-angkul Griya Manuaba, sedangkan Sariwati sesekali menatap wajah Muhibbin yang masih terlihat muram.
"Swastiastu!
"Swastiastu!" seru Muhibbin sambil terus mengetuk pintu angkul-angkul itu.
Dari sebuah lubang kecil berbentuk persegi panjang sepasang mata mengintip ke arah luar pintu gerbang, sejurus kemudian bunyi pintu berderik dan seorang pemuda berpakaian serba putih keluar dari dalam bangunan itu,
"Swastiastu."
"Ki Sanak dan Ni Sanak mencari siapa?" tanya pemuda itu pada kedua orang dihadapannya, matanya menelisik lekat memandang ke arah Muhibbin dan Sariwati.
"Maaf Ki Sanak, apa benar ini kediaman Sri Resi Giri Waja?" tanya Muhibbin sopan pada pemuda berpakaian putih di depannya.
"Benar Ki Sanak, kalau boleh tau kalian ini siapa dan ada keperluan apa mencari Guru?" ujar pemuda itu kembali, senyumnya tersungging ramah walaupun masih menyisakan tanya siapa gerangan kedua orang yang mencari gurunya malam-malam.
"Namaku Muhibbin, Ki Sanak."
"Dan ini tunangan ku, Sariwati." ujar Muhibbin pada pemuda dihadapannya, mendengar kata 'Tunangan' dari bibir Muhibbin, hati Sariwati berdegup kencang dan senyuman tipis tersungging di bibirnya dan pipinya pun merah merona.
"Kami dari banjar Manguntur."
"Kedatangan kami kemari ingin bertemu dengan sang Resi atas anjuran kenalan kami dari Banjar Gelumpang." imbuh Muhibbin kembali.
Pemuda berpakaian putih itu kembali bertanya pada tamunya.
"Kalau boleh tau siapa kenalan tuan Muhibbin yang menganjurkan datang menemui Guru?"
"Supaya saya bisa sampaikan pada beliau tentang kedatangan andika berdua, saat ini Guru sedang mengajar lontar pada para Cantrik di taman pustaka." imbuh pemuda itu.
"Kedatangan kami kemari atas saran dari Gus Aji Putra Narayana dari banjar Gelumpang, Ki Sanak." jawab Muhibbin sambil merogoh sesuatu dari balik pakaiannya dan menyerahkan sebuah pin berbentuk Cakra sudarsana pada pemuda itu.
Sang pemuda yang tak lain adalah salah satu cantrik dari Resi Giri Waja itu menerima pin yang di tunjukkan oleh Muhibbin pada nya, sekilas pemuda itu memperhatikan benda yang diulurkan oleh Muhibbin.
"Baiklah tuan, andika berdua tunggu di sini sebentar, saya akan menghadap pada Guru untuk menyampaikan kedatangan kalian." jawab cantrik itu pada Muhibbin dan Sariwati sambil mempersilahkan keduanya duduk di sebuah Balai Bengong yang berada di sebelah kanan pintu angkul-angkul Griya Manuaba dan setelah itu sang cantrik bergegas ke dalam bangunan meninggalkan Muhibbin dan Sariwati.
Keduanya pun duduk di balai bengong yang tak begitu besar itu. Sariwati memandang Muhibbin lekat.
"Ada apa Wati, kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Muhibbin pada kekasihnya.
"Kau bilang apa barusan pada cantrik itu?" seru Sariwati malu-malu, pipi gadis itu terlihat merona merah.
"Maksudmu, aku bilang apa?" Muhibbin bertanya kembali.
"Barusan yang kau bilang itu." ujar Sariwati kembali dengan senyum canggung menahan malu.
"Yang mana?" tanya Muhibbin pura-pura tak tau, pemuda itu menyadari bahwa Sariwati akan bertanya tentang kata 'Tunangan' yang di ucapkannya pada sang cantrik.
__ADS_1
"Ah, kamu!"
"Kau bilang kita tunangan, memangnya sejak kapan?" seru Sariwati lirih namun kalimat yang diucapkan gadis itu sangat jelas terdengar di telinga Muhibbin.
"Oh itu, apa kau keberatan Wati?"
"Kalau kau tak berkenan, biar nanti aku perkenalkan dirimu sebagai kawanku saja bila cantrik itu kembali." goda Muhibbin pada kekasihnya, pemuda itu tersenyum melihat kecanggungan Sariwati.
"Atau sekalian aku bilang kalau kamu ini adalah istriku." pungkas Muhibbin menggoda Sariwati kembali.
"Ah kamu bisa saja, Bin." wajah Sariwati semakin memerah, gadis itu tersenyum simpul sambil mencubit pinggang Muhibbin.
Keduanya pun tertawa lepas dan untuk beberapa saat seolah-olah beban yang mereka alami terasa menguap.
Selang beberapa waktu menunggu, sang cantrik kembali lagi menghampiri Muhibbin dan Sariwati. Pemuda itu tersenyum dan menghampiri keduanya yang masih menunggu di balai bengong Griya Manuaba.
"Tuan, andika berdua di persilahkan menunggu di balai Dangin kediaman pribadi Guru, beliau akan segera menemui kalian berdua."
"Mari saya antar." ujar Cantrik itu pada kedua tamunya.
Mereka pun melangkah menuju kediaman pribadi Resi Manuaba yang berada di bagian belakang Asram itu.
Ketiganya menyusuri bangunan megah itu dan melewati sebuah jembatan kecil yang dibawahnya terdapat sebuah kolam indah dengan bunga teratai tumbuh diatasnya sebelum tiba di kediaman pribadi sang Resi.
Muhibbin dan Sariwati menyapu pandangannya ke setiap sudut areal Griya Manuaba, ada kekaguman terlintas di benak keduanya. Arsitektur bangunan khas Negeri Pantai yang tertata rapi dengan berpedoman pada Asta kosala kosali sebagai ilmu dalam penataan bangunan yang bentuk arsitektur bangunannya dinamakan Sikut Satak.
Dari jarak beberapa meter, seorang lelaki tua dengan pakaian serba putih melekat di tubuhnya terlihat duduk di balai Dangin. Senyumnya yang sejuk menyambut kedatangan kedua tamunya yang di antar oleh salah satu Cantrik di Asram itu.
"Mari sini, Cening."
"Arsana, tolong siapkan hidangan untuk menjamu tamu kita." ujar lelaki tua itu kembali pada sang Catrik.
Lelaki tua itu tak lain adalah Resi Giri Waja pemilik Griya Manuaba itu dan Cantrik yang bernama Arsana itu menganggukkan kepala dan melangkah pergi menyisakan ketiganya di balai Dangin.
"Baik, Guru." ujar Cantrik itu sebelum berlalu dan menghilang di antara pekatnya malam.
Resi Giri Waja menganggukkan kepala dan senyuman ramah tersungging di bibirnya.
"Siapa kalian?"
"Apa yang bisa aku bantu untuk kalian berdua?"
"Dan apa hubungan kalian dengan Gus Putra?" ujar lelaki tua itu pada Muhibbin dan Sariwati. Diserahkannya kembali sebuah pin berbentuk Cakra Sudarsana yang tadi dibawa oleh sang Cantrik pada Muhibbin.
"Kalian tau apa arti pin itu?" tanya Resi Giri Waja kembali pada kedua orang tamu dihadapannya itu.
Muhibbin dan Sariwati menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan sang Resi.
Sebelum menjawab pertanyaan lelaki tua di hadapannya itu, Muhibbin menghela nafas dalam-dalam.
"Kami berasal dari Manguntur, Resi."
"Kedatangan kami kemari atas saran dari Gus Aji Putra Narayana yang telah menolong ibu saya kala itu."
"Saya diminta mencari yang mulya Resi jika suatu saat mengalami kesulitan dengan menunjukkan pin pemberian Gus Aji Putra yang telah Resi lihat sendiri." ujar Muhibbin menjawab pertanyaan lelaki tua di hadapannya dan dengan runut Muhibbin menceritakan semua yang telah dialaminya bersama keluarganya dan Sariwati.
__ADS_1
Resi Giri Waja hanya manggut-manggut mendengar penuturan pemuda itu, matanya yang teduh memandang kedua muda-mudi di hadapannya dengan senyum ramah diwajahnya.
Tak selang berapa lama Cantrik Arsana kembali membawa makanan dan minuman yang di letakkan di atas nampan kayu yang di bawanya.
"Mari kita nikmati dulu masakan Arsana, tentang ceritamu nanti bisa kamu lanjutkan setelah kita selesai makan." ujar sang Resi pada Muhibbin dan Sariwati.
Keduanya saling pandang meminta persetujuan satu sama lainnya dan Sariwati menganggukkan kepala pada Muhibbin sebagai tanda setuju akan tawaran sang Resi untuk menikmati hidangan makan malam yang disiapkan oleh Arsana sang Cantrik.
***
Sementara di banjar Manguntur tepatnya di kediaman pak Nengah, para warga berusaha memadamkan api yang melahap sebagian besar bangunan kediaman sang Perbekel.
Jero Pecalang dan anak buahnya terlihat berjibaku dan mulai merangsek masuk kedalam kediaman pak Nengah yang terbakar.
Alangkah terkejutnya mereka tatkala menemukan tubuh pak Nengah dan Sekar putrinya tergeletak di atas tanah dengan tubuh penuh luka dan tertancap senjata tajam.
Dengan cemas Jero pecalang memeriksa keadaan pak Nengah dan Sekar yang terlihat tak bergerak, dirabanya nadi kedua orang itu dan tak ada tanda-tanda kehidupan lagi.
"Jagad Dewa Batara!"
"Siapa yang telah melakukan semua kekejian ini pada Jero Mekel, sungguh biadap!" teriak Jero Pecalang penuh amarah.
Tubuh lelaki paruh baya itu bergetar dengan perasaan bergejolak melihat kekejaman yang telah menimpa pimpinan desa Batubulan itu beserta anggota keluarganya.
Lelaki itu memerintahkan anak buahnya untuk menyisir seluruh ruangan kediaman pak Nengah, sementara para anggota pecalang yang lainnya dan para warga berusaha memadamkan api yang semakin membesar.
"Jero Pecalang!"
"Jero Pecalang!"
"Tolong segera kemari!" teriak salah seorang warga pada pimpinan keamanan desa Batubulan itu."
Mendengar teriakan salah seorang warga, lelaki itu bergegas menghampirinya dan terlihat seorang anak kecil perempuan dengan kondisi mengenaskan dan luka bakar hampir di sekujur tubuhnya.
"Ayo cepat-cepat!"
"Segera bawa semuanya ke balai pengobatan banjar Manguntur!"
"Cepat hubungi Bhayangkara dan Jero Balian Kanta!"
"Dan untuk anggota keamanan yang lain, bantu para warga memadamkan api." ujar Jero Pecalang pada para anak buahnya dan warga Manguntur yang ada di tempat itu.
Semua anggota keamanan banjar Manguntur dan para warga bahu membahu mengatasi kebakaran rumah Jero Perbekel sesuai arahan Jero Pecalang dan lelaki paruh baya itu membawa tubuh anak kecil itu beserta pak Nengah, Sekar dan bu Suratmi ke balai pengobatan banjar Manguntur.
*****
**Cantrik : murid
*Balai bengong : ruang tunggu, gazebo tempat istirahat
*Asta Kosala Kosali : Ilmu tata ruang dan penempatan bangunan Negeri Pantai
*Sikut Satak : pedoman dan pakem dalam pembuatan bangunan rumah adat asli Negeri Pantai
*Cakra Sudarsana : senjata panah cakra milik Dewa Wisnu
__ADS_1
*Asram : tempat pembelajaran*