
"Kau ..."
"Mengapa kau ada disini?"
"Untuk apa?" tanya Muhibbin dengan perasaan terkejut melihat sosok berkerudung merah jambu di hadapannya.
Wajah pemuda terlihat mengeras, tatapan matanya tajam penuh kemarahan."
"Aku ke sini hanya ingin menemuimu, Bin."
"Tak bolehkah aku peduli dan prihatin dengan apa yang kau alami?" ujar sosok itu terbata-bata, matanya yang sembab terlihat menatap Muhubbin.
"Cukup, Wati ... "
"Keluarlah kau, kehadiranmu justru akan menambah beban bli Ibbin, Wati." Sela Sekar sambil mendekat dan menarik lengan sosok itu yang tak lain adalah Sariwati.
"Tidak, Sekar."
"Aku harus berbicara dengan kakakmu." jawab Sariwati sambil mengibaskan tangannya dari rengkuhan Sekar.
"Disaat seperti ini kau masih saja membuat keributan."
"Apa kau tak berfikir perasaan Bli Ibbin dan Disya yang ada diluar!"
"Sungguh egois dirimu, Wati."
"Kau hanya mementingkan keinginanmu saja!" seru Sekar mulai diliputi emosi melihat prilaku Sariwati.
"Biarkan Kar, kau dan Raya keluarlah dulu sebentar."
"Aku ingin mendengar apa yang akan dia jelaskan." ujar Muhibbin pada Sekar. Dengan ragu-ragu Sekar mengajak Raya keluar dari kamar itu meninggalkan Muhibbin dan Sariwati.
"Apa yang akan kau jelaskan lagi?"
"Terakhir bertemu, justru diriku yang mengalami perundungan dari keluargamu." ucap Muhibbin lirih. Tatapannya tajam menghujam ke arah wanita yang berdiri ditepian ranjang itu.
"Semua tak seperti yang kau lihat selama ini, Bin."
"Kau harus mengerti apa yang selama ini aku lakukan."
"Semua kulakukan demi kebaikan kita bersama." ucap Sariwati lirih. Wanita itu nampak masih tenggelam dalam tangisannya.
"Selalu itu yang kau katakan ... demi kebaikan bersama!"
"Apakah tak ada penjelasan lain yang lebih masuk akal, agar nalarku menerima semua alasanmu." ucap Muhibbin dengan suara berat.
"Bagaimana percayanya Ibuku pada mu saat itu, namun kau balas dengan segala pengkhianatanmu."
"Kami sekeluarga bahkan membelamu mati-matian, namun apa yang kami dapatkan dari dirimu?"
"Dengan mudahnya kau ingkari janjimu sediri, dengan pergi tanpa pesan dan disaat kami mencarimu justru orang-orang suruhan keluargamu yang datang dan dengan kejam melakukan perbuatan biadab pada keluargaku."
"Apa itu yang kau katakan demi kebaikan bersama, Wati?" pekik Muhibbin menumpahkan segala ganjalan dihatinya selama ini.
Pemuda itu terlihat terbatuk-batuk dan tersengal-sengal dengan nafas yang memburu.
"Penjelasanmu tak masuk akal, Wati."
"Selama ini justru kepalsuan yang ku dapat darimu."
"Kau tega membohongi kami semua disaat kami sangat mempercayaimu."
"Tak sadarkah dirimu, apa yang kau lakukan telah menyakiti kami semua." ujar Muhibbin kembali.
Sementara Sariwati hanya terdiam berdiri sambil terus menangis dengan wajah tertunduk dihadapan Muhibbin.
"Ya, memang aku yang salah."
"Kau pantas menimpakan semua kesalahan itu padaku."
"Pada awalnya ketika aku berpikir setelah cinta kita tumbuh dan diriku pergi meninggalkanmu, akan cukup bagiku memandanginya dari kejauhan dan saat itulah aku mulai menyiksa diriku sendiri"
"Aku tak berdaya menolak keinginan orang tuaku."
"Karena jika ku menolak, dirimu dan keluargamu yang akan menjadi sasaran kemarahan keluargaku."
"Aku berusaha tak melibatkanmu dalam kerumitan ini."
__ADS_1
"Semua yang kulakukan demi keselamatan dirimu dan keluargamu."
"Ku korbankan cinta dan harapanku."
"Namun yang tak ku sangka adalah tindakan nekat kakak sulungku bersama orang-orang suruhannya, sehingga malapetaka itu pun terjadi."
"Ini memang semua salahku dan kata maaf rasanya belum cukup untuk menebus semua ini, Bin." ucap Sariwati terus terisak.
Muhibbin hanya mendengus kesal, kini dipalingkannya wajahnya membelakangi Sariwati.
"Ibbin ... ku mohon maafkan diriku." Iba Sariwati sambil memegang tangan Muhibbin. Wanita itu menangis tersedu.
"Tak ada yang perlu dibahas tentang hubungan kita." Ujar Muhibbin dingin.
"Sejak kau pergi tanpa pesan dan menikah dengan lelaki pilihan orang tua mu."
"Sejak itu pun ku kubur dalam-dalam tentang dirimu."
"Anggap saja kita tak pernah kenal dan bertemu selama ini."
"Aku sudah lelah membelamu dan menaruh kepercayaan padamu dengan balasan apa yang kau perbuat selama ini."
"Biarkan aku hidup tenang setelah ini, toh juga dirimu sudah memiliki suami yang sempurna dari golongan ningrat seperti keinginan keluargamu."
"Apalagi yang kau cari dan harapkan dariku."
"Apakah tak cukup selama ini kau sakiti aku dan keluargaku." Ujar Muhibbin kembali masih membelakangi Sariwati, hatinya hancur mengingat semua peristiwa yang dialaminya sejak berhubungan dengan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku paham dan sadar jika dirimu marah dan tak memaafkanku, Bin."
"Namun perlu kau ketahui, cintaku padamu tak pernah berubah hingga detik ini."
"Walaupun aku menikah dengan pilihan orang tua ku."
"Namun aku tak pernah menyerahkan kehormatan dan hatiku pada laki-laki lain selain dirimu."
"Hingga Ayah kandungku pun akhirnya meninggal gara-gara mengetahui bahwa selama ini diriku tak pernah menjadi istri sesungguhnya untuk bekas suamiku."
"Hinaan dan cacian dari kakak sulungku dengan ucapan-ucapan kasarnya pun aku tahan."
"Itu ku lakukan karena aku mencintaimu, Bin."
"Dan betapa sakitnya hatiku saat tau jika dirimu telah berpindah ke lain hati dan memilih untuk bersama Disya."
"Namun aku menyadari mungkin ini balasan yang setimpal yang harus kuterima dari semua kesalahan yang aku lakukan."
"Tak pernah sedetik pun diriku berkhianat pada cinta kita."
"Yang aku lalui Itu lebih perih dan menyakitkan, Bin." ucap Sariwati sambil terisak. Kini wanita itu duduk ditepian ranjang dimana Muhibbin masih berbaring membelakanginya.
"Kini kau menyalahkan aku karena aku memilih Disya untuk mendampingiku dan kau anggap diriku berkhianat pada cinta kita? apa itu maksud perkataanmu, Wati?"
"Tak sadarkah dirimu bahwa kaulah yang mempermainkan hubungan kita selama ini."
"Kau mengharap diriku setia padamu, sedangkan dirimu berada dipelukan orang lain."
"Apa itu yang dinamakan sebuah kesetiaan?" suara Muhibbin sedikir meninggi dan pemuda itu membalikkan badannya menghadap ke arah Sariwati dengan tatapan tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita didepannya.
"Andaikan kau sedikit bersabar, mungkin hubungan kita bisa kita bangun kembali,"
"Aku dan Seto memang terikat perkawinan, namun seperti yang kukatakan, bahwa sampai detik ini tak kubiarkan dirinya menyentuhku apalagi kuberikan cintaku padanya."
"Selama ini aku berusaha mencari cara agar kita dapat bersatu dan aku yakin lambat laun Papi-Mamiku akan menyetujui dan merestui hubungan kita."
"Aku ingin Tiara tau tentang ayahnya dan kita menjadi keluarga utuh untuk mengasuhnya bersama-sama, Bin." Seru Sariwati dengan suara meninggi pula.
Muhibbin terlihat mendengus menahan amarahnya. Dihelanya nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang bergejolak.
"Jadi benar kabar yang aku dapatkan itu bahwa anak itu adalah darah dagingku?"
"Bagaimana aku tau dan meyakini bahwa yang kau katakan saat ini bukanlah kebohongan yang selalu kau lakukan padaku?" ucap Muhibbin sinis.
"Demi Tuhan, Ibbin!"
"Aku berkata yang sejujurnya padamu."
"Tiara itu adalah anakmu!"
__ADS_1
"Harus bagaimana lagi dan pembuktian seperti apa agar dirimu percaya lagi padaku?" seru Sariwati sambil menatap tajam penuh kekesalan ke arah Muhibhin.
"Cermin retak bisa kembali di rekatkan, namun dari rekatannya masih berbekas sisa pecahannya."
"Demikian dengan hubungan kita, sudah banyak korban tak berdosa selama ini akibat ulah kita."
"Aku pernah mempercayai dan mencurahkan semuanya pada dirimu, namun apa yang aku lakukan itu keliru."
"Akhirnya kekecewaan yang kudapatkan."
"Aku pernah mabuk dalam lautan cintamu dan terlalu berharap pada selain Tuhan, namun pada akhirnya Tuhan merasa cemburu dan mengingatkanku dengan rasa sakit akan kehilangan semuanya."
"Kebohongan demi kebohongan yang kau lakukan bagaikan candu yang selalu membuaiku, namun ketika kuterjaga dari fatamorgana itu, hanya sayatan-sayatan luka yang kudapatkan."
"Kini kau memaksa diriku untuk mempercayaimu setelah semua pengkhianatan yang telah kau lakukan padaku?" ucap Muhibbin lirih, dari sudut matanya mengalir butiran bening air mata.
"Aku tak memaksa dirimu untuk mempercayaiku."
"Aku sadar semua yang kulakukan selama ini sangat melukaimu." ucap Sariwati lirih.
"Aku hanya ingin menyampaikan kebenaran yang selama ini ku pendam sendiri."
"Ku rela menelan empedu kepahitan dan menerima konsekwensinya hanya untuk dirimu."
"Dan kenyataan bahwa Tiara itu adalah anak kita harus kau ketahui, walaupun kau tak mempercayainya, itu hak mu."
"Tapi aku yang mengandungnya dan aku yang tau dia anak siapa." ujar Sariwati kembali dan mulai bangkit melangkah meninggalkan Muhibbin.
Suasana kamar itu hening sejenak, namun suara Muhubbin kembali terdengar,
"Dimana dia sekarang?" tanya Muhibbin lirih, sorot matanya sayu menatap punggung Sariwati yang melangkah membelakanginya. Ada perasaan iba takkala melihat wanita yang dicintainya itu berjalan tertatih-tatih.
"Untuk apa kau menanyakan keberadaannya jika dirimu tak mempercayai dan meragukannya sebagai darah dagingmu?" ucap Sariwati tanpa menoleh ke arah Muhibbin, suaranya bergetar dengan isakan tangis yang ditahannya.
"Kau tetap tak berubah ... keras kepala."
"Untuk apa kau menceritakan semuanya jika kau tak memberitahu keberadaannya?" Seru Muhibbin kembali.
"Sama halnya dengan dirimu, kau pun susah diajak bicara."
"Untuk apa aku mempertemukan dirimu jika dalam hatimu masih menyangsikan kebenarannya." balas Sariwati sambil membalikkan badannya menghadap Muhibbin kembali.
"Terserah apa yang akan kau katakan."
"Kau yang berkuasa."
"Dari dulu aku tak pernah menang melawanmu dalam bersilat lidah." ucap Muhibbin lirih sambil berpaling dan menatap ke arah jendela kamarnya. Pikirannya melayang membayangkan masa lalunya bersama Sariwati.
"Lalu maumu apa?"
"Bukankah kau tak mempercayaiku?" Ucap Sariwati kembali dan wanita itu mendekat ke arah Muhibbin.
Sementara Muhibbin sendiri terdiam tanpa menoleh ke arah Sariwati.
"Kau masih sama seperti dulu."
"Jika diajak berbicara hanya diam acuh tak acuh." Kembali wanita itu berkata.
"Apa aku harus bersorak kegirangan ataupun berteriak murka dengan apa yang kau katakan?" balas Muhibbin.
"Kau ..." mata Sariwati melotot gemas mendapat jawaban lelaki yang sangat dicintainya itu.
Sauasana kembali hening, tak sepatah katapun tetucap dari keduanya. Selang beberapa saat, Muhibbin memandang Sariwati,
"Bagaimana dengan kakimu? Ku dengar setelah melahirkan kau mengalami kelumpuhan." Tanya pria itu pada wanita didepannya.
"Untuk apa kau bertanya seperti itu? Bukankah dirimu sudah tak perduli padaku dan menganggap kita tak saling kenal?" kini Suara Sariwati mulai ketus seperti sifat aslinya yang manja dan tak mau kalah saat-saat bersama Muhibbin dahulu.
"Ya siapa tau kini kakimu berganti dengan kaki kuda atau mungkin tak menapak ke tanah lagi?" Jawab Muhibbin sekenanya.
"Saat seperti ini masih saja dirimu bercanda dan mengolok-olok ku."
"Kau anggap aku ini manusia setengah binatang atau hantu yang bisa terbang?" Ucap Sariwati makin kesal, namun kini perasaannya mulai sedikit lega.
Muhibbin hanya menaggapinya dengan senyiman kecut tanpa memalingkan wajah dan masih melihat keluar jendela.
"Kau memang seperti bocah."
__ADS_1
"Keluguanmu itu yang membuatku tak pernah bisa berpaling darimu, Bin." gumam Sariwati dalam hati, disekanya air matanya dengan ujung kerudungnya, seulas senyum mulai tersungging dibibirnya.
***