KAHANAN

KAHANAN
CH 68 - LEMBAYUNG SENJA DI LANGIT MANGUNTUR PART II


__ADS_3

Tak terasa Muhibbin dan Jero Balian Kanta sudah berada di depan kediaman pak Nengah Wirata, kedua orang itu terlihat bergegas memasuki rumah itu, dengan pakaian yang masih basah kuyup Jero Balian Kanta diantar Muhibbin menuju ruangan kamar balai Dauh.


"Bagaimana keadaan emak, Mbak yu?" pemuda itu bertanya pada sang kakak.


Mata Cahaya yang sembab akibat menangis menatap kedatangan adiknya, dengan suara lirih gadis itu berkata,


"Tubuh emak semakin panas, Bin."


"Nafasnya semakin tidak teratur." Cahaya beringsut memberikan ruang untuk Jero Balian Kanta memeriksa ibunya.


Dengan wajah serius, Balian Kanta menyentuh dahi ibu suratmi dan terlihat lelaki tua itu memeriksa pupil mata wanita renta itu. Di keluarkan beberapa jarum-jarum kecil dari kotak peralatan dan lelaki tua itu meminta sebuah Dimar pada Cahaya untuk memanaskan beberapa jarum yang akan dia gunakan.


Cahaya dibantu Sekar menyiapkan Dimar dan menyerahkannya pada Jero Balian Kanta, dengan cekatan lelaki tua itu memulai tahapan pengobatannya. Jarum-jarum kecil ditangannya mulai di panaskan di atas api yang menyala dari sumbu  Dimar yang di bawa oleh Cahaya, tak berapa lama Jero Balian Kanta mulai menusukkan jarum-jarum kecil ke beberapa titik di tubuh Suratmi, wanita tua itu mulai bereaksi setelah beberapa jarum menancap ditubuhnya. Erangan lirih terdengar dari bibirnya dan sang Balian mulai menyiapkan beberapa ramuan yang telah di bawanya, di tumbuknya beberapa bahan obat dan di bentuknya bulatan-bulatan kecil serta di letakkan di atas lepek tanah liat yang ada di tangannya.


"Bagaimana Jero?"


"Apa yang menyebabkan bu Suratmi seperti ini?" tatapan mata pak Nengah tertuju pada Jero Balian Kanta yang ada di depannya. Sementara yang lainnya pun dengan perasaan harap-harap cemas menyimak apa yang akan disampaikan Jero Balian Kanta, sebelum berkata lelaki tua itu menghela nafas dalam-dalam,


"Ibumu terkena Cetik, Nak Bagus."


"Aku lihat ada bekas menghitam di dadanya dan racun ini sangat halus sekali sehingga tak langsung terlihat reaksinya."


"Kondisi ini juga di perparah oleh kondisi kejiwaan ibumu, aku rasa bu Suratmi terlalu berfikir berat sehingga daya tahan tubuhnya semakin melemah dan racun itu mulai menyebar kembali."


Semua yang ada di ruangan itu terhenyak mendengar penjelasan Jero Balian Kanta.


"Cetik, Kau bilang Jero?" ujar pak Nengah terkejut dengan suara yang terdengar berat.


"Betul, Jero Mekel."


"Racun ini sangat unik, tanpa gejala namun cara kerjanya sedikit demi sedikit menyerang organ-organ vital bu Suratmi, terutama hatinya." imbuh Balian Kanta pada pak Nengah.


"Tapi bagai mana bisa emak terkena racun, Jero Balian?" suara Muhibbin bergetar dan kecemasan tampak diwajahnya.


"Apakah sebelumnya bu Suratmi mengalami benturan? ada sebuah bekas luka kecil di dadanya yang aku curigai di akibatkan sebuah benda kecil beracun karena bekas luka itu menghitam dan berbau menyengat." Balian Kanta menatap pemuda di depannya.


"Kalau itu aku tak tau, Jero."


"Yang aku tau sebelum keberangkatan kami ke Negeri Pantai ini, ibu saya sudah sakit."


"Dan kami sempat di tolong oleh orang yang baik hati sebelum tiba di Manguntur."


"Mungkin kakak saya bisa menjelaskannya." ujar Muhibbin


"Kami sempat di serang sekelompok orang dan ibu saya dipukul oleh penyerang itu hingga beliau sempat sakit sebelum kami berangkat ke negeri ini." jelas Cahaya pada Balian Kanta, gadis itu terlihat menangis mendengar apa yang didengarnya dari Jero Balian Kanta.


"Aku melihat penyebaran racun itu sempat tertahan dan melambat menyerang ke organ-organ vital."


"Apakah ibumu sempat berobat, Nak Bagus?" kembali Balian Kanta bertanya pada Muhibbin.


"Selama di kampung, ibu saya hanya mengkonsumsi jamu-jamuan yang dibuat oleh guru saya, Jero."


"Tapi saya ingat, apa mungkin reaksi melambatnya racun itu disebabkan pengobatan Balian tua dari banjar Gelumpang yang menolong kami saat menuju Manguntur  waktu itu?" ujar Muhibbin, Balian Kanta terlihat kaget mendengar nama banjar Gelumpang.


"Apa! Balian tua dari banjar Gelumpang kau bilang, Nak Bagus?" wajah Jero Balian Kanta terlhat terkejut mendengar jawaban Muhibbin. Pemuda itu hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan balik dari Jero Balian.


"Apakah namanya Ida Bagus Putra Narayana?" tanya Jero Balian Kanta pada pemuda itu.


"Betul, Jero."


"Jero mengenal beliau? tanya Muhibbin pada Jero Kanta.


"Pantas saja racun itu dapat di tahan penyebarannya."


"Beliau adalah kakak seperguruan ku, Nak Bagus."


"Dia seorang Balian yang baik hati dan pengetahuannya sangat luas."


"Kau sangat beruntung bertemu dengannya dan sakit ibumu di tangani oleh Gus Aji Putra."


"Andaikan terlambat, penyebaran racun itu akan menyerang organ-organ vital ibumu dan nyawanya mungkin akan sulit tertolong." pungkas Jero Kanta.

__ADS_1


"Lalu jenis Cetik apa itu, Jero?"


"Apakah bisa disembuhkan?" kini pak Nengah angkat suara.


"Dengan kondisi tubuh ibu Suratmi saat ini, terasa berat Jero."


"Racun ini campuran dari bahan Warang, Upas ular laut dan lendir bulu ****."


"Cetik ini biasa dipakai oleh pasukan-pasukan khusus Darmayudha dalam misi-misi tertentu." Jero Balian Kanta menjelaskan apa yang di alami Suratmi pada orang-orang di depannya.


"Yang terpenting kondisi kejiwaan bu Suratmi stabil, jangan sampai beliau berfikir terlalu berat karena semua itu akan membuat daya tahan tubuhnya menurun dan obat yang di berikan Gus aji Putra maupun obat ku tak akan bisa mencegah penyebarannya."


"Kuncinya di kestabilan jiwa bu Suratmi sendiri."


"Untuk saat ini baik obat dariku maupun Gus Aji Putra hanya bisa mengurangi penyebaran racun itu dan hanya orang-orang dari pasukan khusus Darmayudha yang memiliki penawarnya." pungkas Jero Kanta.


"Darmayudha?"


"Ada urusan apa pasukan khusus itu dengan dirimu dan keluargamu, Gus"


"Hingga ibumu mengalami hal ini." kini pak Nengah bertanya pada Muhibbin.


"Entahlah, Jik."


"Namun saya mencurigai pihak tertentu yang menyebabkan ini semua.'


"Nanti akan saya ceritakan lengkap pada ajik, apa yang saya ketahui dari Gus Aji Putra." jawab Muhibbin pada ayah angkatnya, pemuda itu terlihat masgul dengan apa yang dialaminya beserta keluarganya akhir-akhir ini.


Pak Nengah manggut-manggut mendengar jawaban Muhibbin, lelaki paruh baya itu berkata kembali,


"Jero Kanta, lalu apa yang harus kami lakukan untuk perkembangan kondisi bu Suratmi selanjutnya?" imbuh pak Nengah.


"Bu Suratmi tak boleh terlalu lelah dan banyak berfikir berat, Jero."


"Jika hal itu terjadi, aku tak bisa menjamin bahwa racun itu tak akan menyebar ke seluruh organ vitalnya."


"Aku akan berusaha mencari penawarnya." pungkas Jero Kanta.


Lelaki tua itu beranjak dari tempat duduknya dan sebelum keluar ruangan itu, Jero Kanta berkata kembali,


"Dua hari lagi aku akan kembali dan melihat perkembangan bu Suratmi." ujar lelaki tua itu kemudian meninggalkan ruangan di ikuti oleh pak Nengah di belakangnya.


Sementara Muhibbin masih di dalam ruangan bersama kakaknya, Sekar dan Raya Suci menemani bu Suratmi yang terbaring, nafas wanita tua itu mulai teratur dan panas tubuhnya sedikit demi sedikit menurun.


"Mbak yu,  aku akan antar Jero Balian Kanta pulang ke rumahnya dan aku akan mampir ke surau setelah antar Jero Kanta. ujar Muhibbin pada kakaknya. Gadis itu hanya menganggukkan kepala sambil mengangkat kain di dahi bu Suratmi dan di basahinya lagi dengan air yang ada di baskom.


Muhibbin melangkah keluar menuju balai Dangin dimana pak Nengah dan Jero Balian Kanta menunggunya.


"Gus, kemari dan duduklah." ujar pak Nengah ketika melihat Muhibbin keluar dari balai Dauh.


Pemuda itu duduk di hadapan pak Nengah dan Jero Kanta.


"Tadi kau sempat katakan bahwa dirimu mencurigai ada pihak-pihak yang sengaja melakukan ini pada mu dan keluargamu."


"Bisa kau jelaskan pada kami tentang yang kau ketahui itu." kini pak Nengah dan Jero Kanta menunggu jawaban Muhibbin.


"Saya mencurigai Garuda Emas berada dibalik semua ini, Jik."


"Saat penyerangan pada keluarga saya waktu di Negeri Batu Ular, Guru saya sempat melukai salah seorang penyerang itu dan sempat merobek logo yang ada di baju sang penyerang." terang Muhibbin pada pak Nengah, pemuda itu terlihat mengeluarkan sobekan kain dari dalam pakaiannya yang masih basah.


Sebuah logo kepala garuda dengan rajutan benang merah diserahkan pada pak Nengah, lelaki paruh baya itu mengamati dengan seksama sobekan kain itu kemudian diserahkannya pada Jero Balian Kanta.


"Jero Kanta, apa kau tau logo apa ini?" tanya pak Nengah pada Jero Kanta.


Lelaki tua itupun mengamati sobekan kain yang diserahkan pak Nengah padanya.


"Aku tak tau, Jero Mekel."


"Tapi yang jelas, logo ini adalah simbol sebuah kelompok ataupun sebuah lambang dinasti." seru Jero Kanta pada pak Nengah.


"Itu logo pasukan khusus Darmayudha dibawah kendali dinasti Garuda Emas, Jik." jawaban Muhibbin mengagetkan pak Nengah dan Jero Kanta.

__ADS_1


"Dari mana kau tau, Gus?" sorot mata penuh keterkejutan terpancar dari wajah pak Nengah.


"Gus Aji Putra Narayana yang memberi tahu saya, Jik."


"Jadi aku yakin semua ini adalah ulah dinasti Harsuto atau yang lebih dikenal dinasti Garuda Emas." pungkas pemuda itu.


Jero Kanta terlihat manggut-manggut mendengar jawaban pemuda dihadapannya.


"Aku paham sekarang."


"Berarti benar dugaan ku, Cetik yang menggerogoti tubuh ibumu disebabkan oleh orang-orang yang menyerang keluargamu pada saat di negerimu."


"Dan Gus Aji Putra mengetahui semua, karena beliau adalah salah satu mantan pimpinan pasukan khusus Darmayudha saat raja Harsuto berkuasa."


"Namun apa yang mereka inginkan dari mu dan keluarga mu, Nak Bagus?" ujar Jero Kanta kembali.


"Ini, Jero." Muhibbin kembali  terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Di serahkannya sebuah cincin bermata batu dengan warna kecoklatan pada Jero Kanta.


"Itu adalah Cincin Sulaiman Madu warisan keluarga kami."


"Menurut Mbak yu Cahaya, para penyerang itu menginginkan cincin itu untuk mereka."


"Namun ibu dan kakak saya tak menyerahkannya sehingga salah seorang penyerang itu memukul ibu saya hingga pingsan dan mungkin benda yang dikenakan penyerang itu mengandung racun yang sekarang menyerang ibu saya." ujar Muhibbin menceritakan pada kedua lelaki tua di hadapannya.


Baik Jero Kanta dan pak Nengah mengamati lekat-lekat cincin milik keluarga Muhibbin itu. Ada aura kewibawaan dan meneduhkan terpancar dari benda itu.


"Rupanya masalah ini tak sesederhana yang aku bayangkan."


"Kau harus berhati-hati setelah ini, Gus." pak Nengah menyerahkan cincin itu ke tangan Muhibbin kembali, pemuda itu kembali menyimpannya di balik bajunya.


"Gus Aji Putra berpesan pada saya, jika terjadi sesuatu yang di sebabkan oleh keluarga dinasti Garuda Emas, beliau menyuruh saya meminta bantuan pada Resi Giri Waja." ujar Muhibbin.


"Aku tau Kediaman Beliau, Resi Giri Waja adalah Pelingsir Griya Manuaba yang juga berada di banjar Galuh."


"Jika kau ingin Nangkil ke sana, aku akan mengantarkan mu." seru Balian Kanta pada Muhibbin.


Pemuda itu menganggukkan kepala dan menangkupkan kedua tangannya pada Jero Balian kanta.


"Sebelumnya saya haturkan terimakasih pada anda Jero Balian, yang telah membantu mengobati ibu saya dan bersedia mengantarkan saya ke kediaman Bapa Resi." mata Muhibbin terlihat berkaca-kaca.


"Kau tak perlu sungkan, Nak bagus."


"Aku akan membantumu, kau adalah anak angkat Jero Perbekel dan kakak seperguruan ku Gus aji Putra juga menganggap mu bagian dari keluarganya, maka kau adalah keluargaku pula." Balian Kanta terlihat mengusap-usap punggung Muhibbin di hadapannya.


"Ajik juga akan berdiri di pihak mu, Gus."


"Jika kita bersatu, sebesar apapun halangan di depan kita akan bisa kita atasi." seru pak Nengah pada anak angkatnya.


"Sekarang antarlah pulang Jero Kanta."


"Kau tak perlu merisaukan segala yang menimpa mu hari ini, anggap itu proses untuk pendewasaan bagi dirimu." pungkas pak Nengah.


"Saya mohon ijin setelah mengantar Jero Balian akan singgah di surau, Jik."


"Saya ingin menenangkan diri sejenak, mungkin besok pagi saya kembali." seru Muhibbin pada ayah angkatnya  lirih.


"Pergilah, hati-hatilah dijalan."


"Biar ibumu di urus Mbak Yu mu dan Sekar adikmu." pak Nengah membelai kepala Muhibbin dengan penuh kasih sayang.


Hujan pun mulai reda, Jero Balian Kanta berpamitan pada pak Nengah dan diantar oleh Muhibbin ke banjar Galuh.


 ********


*Dimar : penerangan yang  sumbunya terbuat dari lilitan kapas yang direndam di atas lepek berisi minyak kelapa.


*Nangkil : berkunjung, sowan


*Cetik :  racun


*Warang : sejenis bahan arsenik untuk mengeluarkan pamor sebuah keris

__ADS_1


*Upas : bisa, racun


*Pelingsir : sesepuh atau yang di tuakan


__ADS_2