
Jero Pecalang segera membawa Sariwati ke Balai Banjar Manguntur diiringi teriakan kegeraman para warga. Muhibbin dengan tatapan cemas memikirkan nasib Sariwati terduduk di serambi Surau.
"Ceroboh sekali kau ini, sifatmu tak pernah berubah!" hardik Disya pada Muhibbin.
Disya, Sekar mendekati Muhibbin yang masih terdiam.
"Dalam situasi kacau seperti tadi tak seharusnya kau berbuat seperti pahlawan kesiangan," ceramah Disya.
"Sekali-kali kau pikirkan dirimu sendiri, jika seperti tadi kamu kenapa-kenapa, apa kami dan keluargamu di kampung tak khawatir?" wajah memerah Disya penuh kemarahan pada Muhibbin.
"Bukan gitu Dis, apa kamu gak lihat tadi, bagaimana warga melempari Wati seperti itu!" sela Muhibbin.
"Justru seharusnya kita menolongnya, karena dia belum tentu bersalah," pungkas Muhibbin.
"Ya tapi bukan seperti tadi, toh di sana ada para keamanan desa dan ayah angkat mu, tak seharusnya kamu bertindak seperti tadi." Disya masih terus menceramahi sahabatnya.
Suara Disya semakin keras dan ketus pada Muhibbin, yang dimaksud Disya adalah tindakan Muhibbin memeluk Wati pada saat warga melempari gadis itu dengan batu.
"Ah sudahlah, aku gak mau berdebat. Sebaiknya kita segera ke Balai Banjar, aku takut warga semakin beringas dan menganiaya Wati di sana, bagaimanapun Wati adalah tanggung jawab ku!" ujar Muhibbin mulai tersulut emosi karena ocehan Disya.
"Tanggung jawab kau bilang? dia itu sudah dewasa, lagian dia disini hanya numpang dan segala perbuatannya tak ada hubungannya dengan mu!" jawab Disya tambah emosi.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita segera susul ke Balai Banjar, hentikan perdebatan kalian dulu," lerai Sekar pada keduanya.
Perasaan Muhibbin campur aduk begitupun Disya. Ketiganya melangkah ke kereta angin yang tersandar di sengker Surau.
"Aku bonceng kamu Kar," ujar Disya pada Sekar dengan suara masih terdengar gusar.
"Malas aku dengan orang ceroboh macam kakakmu itu," imbuh Disya.
Muhibbin hanya terdiam mendengar perkataan Disya walau dalam hatinya merasa dongkol disudutkan oleh sahabatnya akibat perbuatannya melindungi Wati tadi. Dia mengayuh sepeda anginnya tanpa berkata apa-apa.
"Lihat Kar, manusia keras kepala itu memang menjengkelkan," ujar Disya pada Sekar sambil tatapannya mengarah pada Muhibbin yang pergi tanpa sepatah katapun.
"Sudah- sudah, nanti aku akan bicara dengan Bli Ibbin," ucap sekar menenangkan Disya. Keduanya pun menyusul Muhibbin yang sudah semakin jauh.
********
Sementara di Balai Banjar Manguntur semakin riuh oleh teriakan beringas para warga. Para Pecalang kewalahan menenangkan amarah warga. Sejurus kemudian satu peleton pasukan Bhayangkara tiba di Balai Banjar Manguntur, terlihat tuan Timoti dan tuan Sirkun juga datang. Keduanya terlihat berdiskusi serius dengan pak Nengah Wirata selaku Perbekel Desa Batubulan dan sesepuh di Banjar Manguntur.
"Jero Mekel, Apa sebenarnya yang terjadi, apa benar ada seseorang yang melakukan praktik pengleakan kembali di wilayah kita?" tanya tuan gubernur Timoti pada pak Nengah.
"Situasi dan keadaan belum bisa dipastikan tuan, kejadian ini sangat cepat sekali dan hanya ada satu orang saksi di lokasi kejadian," jawab pak Nengah.
"Bawa kesini saksi tadi," perintah pak Nengah pada Jero Pecalang.
Tak berselang lama seorang lelaki didampingi oleh para pecalang mendekati pak Nengah dan tuan Timoti serta tuan Sirkun.
"Ki Sanak, Tolong ceritakan apa yang kamu lihat di Surau tadi!" ujar pak Nengah singkat.
Dengan terbata-bata lelaki itupun menceritakan awal mula kejadian, dimana dia sedang memancing di pantai Purnama dan terjadi ledakan serta semburat warna hijau kebiruan dari arah Surau yang berada di bukit tak jauh dari tempat dia memancing.
Semua yang ada ditempat itu mendengarkan kesaksian lelaki didepannya, namun tiba-tiba Jero Pecalang berkata sambil matanya tertuju pada lelaki pemancing itu.
"Sepertinya Ki Sanak bukan dari Desa ini, karena saya tau orang-orang desa ini," ujar Jero Pecalang penuh selidik, matanya lekat memandang lelaki muda didepannya.
__ADS_1
"Saya dari desa sebelah tuan," jawab lelaki itu terbata-bata.
"Desa mana? logat bicaramu serasa bukan dari Negeri Pantai," kembali Jero Pecalang bertanya.
"Emm.. Anu... anu tuan, saya pendatang disini," kembali lelaki itu menjawab dengan sedikit gelisah.
"Sejak kapan Ki Sanak ada di negeri ini?" kembali Jero Pecalang mencecar pemuda didepannya dengan pertanyaan. Pemuda didepannya semakin gelisah mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari Jero Pecalang.
"Saya rasa ada yang aneh ini Jero Mekel," bisik Jero Pecalang pada pak Nengah. Mata lelaki tua itupun menelisik kearah pemuda didepannya.
"Ada apa Jero Mekel?" tanya tuan Sirkun yang tepat berdiri di samping pak Nengah.
"Jero Pecalang mencium sesuatu yang aneh pada lelaki pemancing ini tuan," jawab pak Nengah setengah berbisik pada tuan Sirkun.
Tuan Sirkun manggut-manggut sambil matanya ikut terarah pada lelaki didepan mereka. Sejurus kemudian tuan Sirkun menghampiri tuan gubernur Timoti, terlihat keduanya berbincang serius.
"Amankan dulu lelaki pemancing ini," ujar tuan Timoti pada pasukan Bhayangkara di dekatnya setelah mendengar sesuatu dari tuan Sirkun.
"Apa-apaan ini tuan, saya mau dibawa kemana?" tanya pemuda pemancing setelah beberapa Bhayangkara menggelandangnya menjauhi tempat itu.
Lelaki itu di bawa oleh pasukan Bhayangkara dan beberapa Pecalang menuju ke ruangan keamanan Banjar Manguntur.
"Mari kita tanya gadis yang di duga pengamal ilmu pengleakan itu, dimana dia sekarang?" ujar tuan Timoti pada segenap yang hadir. Mereka berjalan ke luar dari bangunan Balai Banjar menuju halaman. Terlihat kerumunan warga masih berteriak penuh amarah, namun keadaan bisa di amankan oleh pasukan Bhayangkara yang telah hadir ditempat itu.
Terlihat seorang wanita terduduk dengan tangan terikat kebelakang di sebuah tiang yang berada di halaman Balai Banjar Manguntur. Kondisinya memprihatinkan dengan pakaian penuh bercak darah dan sebagian rambutnya yang berwarna keperakan tertutup kerudung tergerai menutupi sebagian wajahnya. Telihat wanita itu pingsan akibat rajaman para warga yang melemparinya dengan batu.
"Bhayangkara, bawa wanita itu kedalam!" perintah tuan Timoti pada pasukan Bhayangkara yang dibawanya.
Beberapa orang Bhayangkara membopong tubuh Sariwati menuju kedalam Balai Banjar Manguntur.
********
Dalam alam bawah sadarnya Sariwati merasa berada disebuah padang rumput yang menghijau, teriknya matahari terasa dikulitnya. Dia melangkah gontai dengan menahan rasa haus yang tak tertahan. Namun tiba-tiba didepannya terlihat sebuah danau yang amat jernih dengan airnya yang sejuk, Sariwati bergegas lari menuju tepian danau. Tangan lentiknya menangkup meciduk air yang ada di tepian danau dan mengarahkan kemulutnya, namun tiba-tiba sesosok lelaki berperawakan tinggi besar menghardiknya.
"Hentikan, Apa yang kamu lakukan ditempat ini," kata lelaki itu sambil menepis tangan wati yang terisi air danau.
"Lancang..!" ujar lelaki itu kembali sambil menyeret tangan Sariwati menjauhi danau itu.
"Tolong tuan, beri saya sedikit air. Biarkan saya meminumnya seteguk saja, saya sangat haus sekali." ujar Sariwati memelas.
"Tidak bisa, manusia kotor sepertimu tak boleh meminum air itu, Kamu tau danau apa itu?" kembali lelaki tinggi besar itu menghardik Sariwati.
Sariwati hanya bisa menggelengkan kepala menjawab pertanyaan lelaki misterius didepannya itu.
"Dasar manusia bodoh, seharusnya kau tak berada ditempat ini," ujar lelaki itu.
"Pergi kau dari sini!" kembali lelaki itu mengusir Sariwati.
Namun tiba-tiba dibelakang lelaki itu berdiri dua orang lelaki tua dan salah satu lelaki itu berkata pada sosok tinggi besar di sampingnya.
"Sudahlah tuan, biar kami yang akan mengurus gadis ini," ujar salah satu lelaki tua yang menggunakan pakaian sorjan motif liris dan tutup kepala hitam itu.
"Baiklah, aku serahkan wanita ini pada kalian, wanita ini harus segera pergi karena ini bukan tempatnya," ujar lelaki berbadan besar itu.
"Terimakasih atas kemurahan hati tuan," jawab lelaki tua lainnya yang menggunakan pakaian putih dan imamah di kepalanya.
__ADS_1
Tak berapa lama lelaki berbadan besar itupun berlalu. Kedua lelaki tua itu menuntun Sariwati ke sebuah pohon rindang.
"Kenapa kamu bisa berada ditempat ini Nduk?" tanya lelaki tua yang memakai sorjan motif liris itu pada Sariwati,
"Apa yang terjadi padamu."
"Entahlah Kek, tiba-tiba saya ada disini,"
"Seingat saya tadi berada di
Surau teman saya dan banyak orang yang melempari saya dengan batu setelah itu saya tak ingat apa-apa," jawab Sariwati.
Kedua lelaki tua itu manggut-manggut mendengar jawaban Sariwati.
"Kamu tau tempat apa ini dan telaga itu?" ujar lelaki tua berpakaian putih dengan imamah di kepalanya sambil menunjukkan telunjuknya pada telaga di depannya.
"Saya tak tau kek," jawab Sariwati singkat.
"Telaga itu dikenal dengan nama telaga Al Kautsar dan tempat ini bukan tempat manusia sepertimu," jelas lelaki tua itu.
"Pulanglah, belum saatnya kau berada disini!" imbuhnya kembali.
Sariwati masih kebingungan dengan penjelasan kakek di depannya itu, pandangannya beralih pada lelaki tua yang menggunakan sorjan itu.
"Lalu kakek ini siapa, mengapa bisa berada disini?" tanya Sariwati.
Kedua lelaki tua itu tersenyum mendengar pertanyaan wanita didepannya.
"Suatu saat kamu akan tau siapa kami dan alam yang kami tempati ini," jawab lelaki tua itu.
"Yang perlu kamu ingat dan kamu camkan, bahwa manusia hidup itu 'Sak Dermo' dan selalu berbuatlah kebajikan sesuai ketetapan Gusti Murbeng Dumadi," ujar lelaki tua itu kembali.
"Semua sudah ditulis di Lauhul Mahfuzd, Nak! kamu hanya perlu nerima dengan ketabahan dan ke ikhlasan segala sesuatu yang kamu alami." jawab lelaki tua satunya yang memakai imamah menyambung jawaban lelaki tua bersorjan.
Sariwati hanya bisa tertunduk mendengar wejangan kedua lelaki tua didepannya.
"Minumlah ini, terlihat kamu tadi kehausan," lelaki tua bersorjan mengeluarkan sebuah kendi kecil dari balik pakainya dan diulurkan pada Sariwati.
Sariwati menerima kendi itu dan meneguk air yang ada didalamnya, selepas itu dikembalikannya kendi itu pada lelaki tua didepannya. Rasa dahaga yang dari tadi ditahannya telah hilang seiring tegukan air di
tenggorokannya.
"Sekarang saatnya kamu pergi dan ingat suatu saat kamu akan bertemu dengan seseorang yang akan membantumu menyelesaikan semua yang kamu alami," jawab lelaki tua bersorjan setelah menerima kendinya kembali.
"Aku adalah Parameswara dan ini tuan Abdullah sahabatku," imbuh lelaki bersorjan itu pada Sariwati.
Tak sempat berterimakasih, silau cahaya keputihan
memudarkan pandangan Sariwati dan lamat-lamat terdengar teriakan orang-orang.
"Hai bangun, ayo cepat bangun!" ujar salah seorang Bhayangkara pada Sariwati.
Sariwati masih kebingungan dengan apa yang sedang dialaminya baru saja, di kerjapkannya kedua matanya dan dilihatnya sekeliling ruangan itu dipenuhi oleh para Pecalang dan pasukan Bhayangkara.
*******
__ADS_1