KAHANAN

KAHANAN
CH 26 - KEGADUHAN NEGERI PANTAI PART IX ( PENYERANGAN )


__ADS_3

Tuan Timoti beserta rombongan termasuk Sariwati segera menghampiri para Bhayangkara yang sedang menginterogasi seorang lelaki.


"Lapor tuan, Saya sudah mengorek keterangan dari pria ini namun dia masih bungkam," Prawira Utama Bhayangkara berbisik pada sang gubernur.


Terlihat pria yang duduk di sebuah kursi kayu didepannya masih terlihat tenang sesekali tersenyum sinis, sejurus kemudian sang gubernur menarik sebuah kursi dan dia duduk tepat di hadapan pria itu.


"Jadi kamu yang bernama Yanto?" tanya tuan gubernur.


"Kamu tau, mengapa anak buahku membawamu kemari?" pungkasnya.


"Maaf tuan gubernur, Saya belum paham maksud anda dan para Bhayangkara membawa saya kemari,"


"Sepengetahuan saya, belum pernah saya melakukan kejahatan yang merugikan negeri ini," jawab lelaki itu tenang yang tak lain adalah Yanto si pengusaha ikan.


Sang gubernur dengan tajam menatap lelaki didepannya.


"Jadi kamu belum sadar akan kesalahanmu?"


tanya tuan Timoti kembali pada lelaki itu.


"Bawa si Pemancing kemari!" perintah tuan Timoti pada salah seorang Bhayangkara.

__ADS_1


Tak berselang lama, seorang lelaki dengan wajah lebam datang di gelandang oleh salah seorang Bhayangkara menuju ke Balai Banjar Manguntur.


"Kamu kenal dengan lelaki ini?" tanya sang gubernur pada Pemancing itu setelah berada tepat di sampingnya. Sang Pemancing hanya menunduk dan terdiam setelah melihat lelaki di depan tuan gubernur.


"Baiklah, mungkin bila menggunakan kekerasan apakah kalian masih akan bisa diam?" kata tuan gubernur mengintimidasi, terlihat jari jemari sang gubernur mengetuk meja dan tatapan tajam lekat pada lelaki dihadapannya.


Namun tiba-tiba,


"ACCHHH... BUUUK"


"CRAAAIISSS.... BRUUAAAKKK"


Terdengar suara gaduh di luar Balai Banjar dengan pekikan kesakitan dan sabetan senjata tajam serta serangan puluhan anak panah.


Melihat serangan mendadak dari gerombolan tak dikenal kepala Bhayangkara dan Jero Pecalang segera mengerahkan anak buahnya untuk melakukan perlawanan.


Perkelahian dengan menggunakan senjata tajam tak terelakkan, saling serang antara kedua belah pihak terjadi. Kelebatan anak panah mengarah ke dalam Balai Banjar, tak selang beberapa lama terlihat dari pihak Bhayangkara mulai mendesak mundur dan berhasil melumpuhkan gerombolan penyerang.


"Aaaahh tolong, lepaskan saya!" tiba-tiba Sariwati berteriak dan meronta.


Tanpa di sadari salah seorang penyerang telah membekap wanita itu dan celurit yang di pegangnya terkalung di leher Sariwati.

__ADS_1


"Lepaskan pimpinan kami atau leher wanita ini putus!" salah seorang penyerang bersuara dengan tangan masih membekap dan menggelandang Sariwati yang terus meronta.


Suasana dalam ruangan menegang, tuan gubernur terlihat berdiri dengan keris terhunus ditangannya tak terkecuali seluruh yang ada di ruangan itu termasuk tuan Sirkun dan pak Nengah yang sedari tadi menghindari hujanan anak panah dari arah luar.


"Kurang ajar, berani-beraninya kalian berbuat onar dan melakukan penyerangan pada pasukan Negeri Pantai, apalagi di hadapanku!" suara tuan Timoti meninggi dengan penuh geram, dengan sigap sang gubernur memainkan keris dan menangkis serta menghindari hujanan anak panah.


"Lepaskan gadis itu!" hardik sang gubernur pada gerombolan bertudung yang menawan Sariwati.


Yanto yang awalnya duduk di kursi tiba-tiba sudah berada di samping gerombolan bertudung pada saat anak panah menghujani ruangan dalam Balai Banjar Manguntur.


Terlihat salah seorang lelaki bertudung menggunakan Sariwati sebagai tawanan dengan posisi celurit masih melingkar di leher wanita itu , amarah sang gubernur semakin tak tertahan. Sang gubernur menyergap Yanto dengan serangan yang mematikan namun lelaki itu sigap menghindar dari serangan sang gubernur.


Beberapa pasukan Bhayangkara melepaskan anak panah dan berhasil melumpuhkan para penyerang menyisakan Yanto dan dua orang disampingnya yang masih menggunakan Sariwati sebagai tameng hidup.


"HARAM JADAH, Lepaskan wanita itu atau kalian tak akan selamat keluar dari ruangan ini!" kembali sang gubernur berteriak ke arah Yanto dan gerombolan penyerang.


"Jangan harap tuan, sebelum kami bisa keluar dari tempat ini, kami tak akan melepaskan perempuan ini!" jawab Yanto.


"Kurang ajar, kalian pikir diri kalian siapa berani melawan aparat negara dan membuat keonaran disini!" kini kepala Bhayangkara ikut angkat suara.


para Bhayangkara gubernuran dan Pecalang mengepung sisa-sisa penyerang termasuk Yanto, Busur serta anak panah pasukan gubernuran mengarah pada ketiga orang itu.

__ADS_1


---------------


__ADS_2